Tag: antri

  • Memberi Teladan dengan Perilaku Diri Sendiri

    Memberi Teladan dengan Perilaku Diri Sendiri

    Saya pernah membaca dua buah kisah yang hingga sekarang masih teringat jelas, berikut kisahnya:

    Kisah pertama, suatu hari Kaisar Yao turun ke desa untuk mengadakan perjalanan inspeksi, kebetulan berjumpa dengan dua anak muda yang sedang digiring oleh petugas.

    Melihat hal tersebut, Kaisar Yao segera menghampiri dua anak muda itu dan bertanya, “Kalian telah melakukan kesalahan apa? Dan mengapa kalian melakukan kesalahan itu?”

    Dua anak muda tersebut berkata, “Karena musim kemarau panjang, kami sudah tidak ada bahan makanan lagi, orang tua kami di rumah juga tidak ada makanan, oleh sebab itu kami terpaksa mencuri makanan milik orang lain.”

    Selesai mendengarkan, Kaisar Yao segera berkata kepada petugas, “Kalian lepaskan dua tawanan ini dan tangkaplah saya.”

    Petugas yang mendengarkan perkataan Kaisar Yao, menjadi tercengang, mana boleh menangkap dan memenjarakan seorang kaisar? Kaisar Yao lalu berkata, “Saya telah melanggar dua kesalahan besar, mereka sebenarnya tidak bersalah. Kesalahan saya yang pertama adalah tidak menanamkan moral rakyat dengan baik, sehingga mereka mencuri milik orang lain. Kesalahan saya yang kedua adalah, saya kurang mengurus irigasi sehingga dalam musim kemarau amat panjang dan tidak turun hujan ini, sawah petani kekurangan air. Dua hal ini adalah kesalahan yang saya lakukan.”

    Mawas diri yang tulus keluar dari lubuk hati Kaisar Yao ini, telah mengharukan langit dan bumi, maka saat itu juga hujan segera turun.

    Kisah kedua, ada seorang guru yang baru mengajar. Setelah membaca peraturan tata tertib murid, dia berpikir bisa menggunakannya untuk memberi pelajaran kepada murid-muridnya. Mulai saat itu, dia bertindak bak seorang satpam. Begitu melihat murid  tidak mengikuti peraturan, dia segera memberi teguran dan kritikan, seperti “Kelas ini begitu kotor, apakah anak-anak piket sudah melakukan tugasnya?” “Mengapa mejamu tidak diatur dengan rapi? Semua benda mempunyai letak yang sudah ditentukan, sembarangan menaruh akan menyebabkan kacau dan nampak kotor.”

    Setelah berjalan satu bulan lebih, dia merasa bahwa melakukan pembenahan tersebut sangat sulit dan capai, karena tidak menghasilkan apa-apa.

    Lalu ada guru lain yang mengatakan padanya, sebagai seorang guru yang terpenting bukan menggunakan perintah untuk memaksa murid-muridnya melakukan dengan baik, melainkan diri kita sendiri lebih dulu yang bisa melakukan, harus menjadikan diri sendiri sebagai teladan.

    Setelah mendengarkan nasihat orang tersebut, dia mulai mengubah cara mengajarnya. Dalam setiap hal, dia akan menuntut dirinya untuk melakukan sendiri. Suatu hari ketika dia sedang merapikan dan mengelap meja, dia melihat ada dua tiga muridnya turut merapikan meja, kemudian seluruh kelas ikut bersama membersihkan meja masing-masing. Pernah juga ketika giliran jam pelajarannya, dan saat ia masuk ke kelas, menemukan lantai kelas yang penuh guntingan kertas bekas pelajaran prakarya di jam sebelumnya, tanpa berkata apa-apa ia mengambil sapu, dan belum sempat menggerakan sapu, ada anak murid yang maju kedepan, menawarkan diri untuk menyapu kelas.  

    Dalam hati, ia merasa sangat terharu dan benar-benar merasakan kekuatan memberi teladan dengan mempraktekkan sendiri, sangat besar sekali.

    Setelah membaca dua kisah tersebut di atas, membuat hati saya sungguh tersentuh. Kebanyakan ketika kita sedang mengajarkan sesuatu kepada anak, murid atau bawahan, kita selalu menggunakan “kata-kata” untuk membicarakan, jarang sekali menggunakan tindakan, untuk menjelaskan mana yang benar dan salah kepada orang lain. Jika hanya menggunakan kata-kata, mudah sekali membuat orang lain tidak bisa mematuhinya.

    Sebagai seorang guru atau pemimpin, hendaknya bisa selalu mawas diri, segala sesuatu ditangani sendiri, menjadikan teladan bagi orang lain. Dapat dipastikan bisa membuat orang lain merasa sangat yakin, kesalahan dan kekurangan yang tidak baik akan segera mendapatkan koreksi dan perbaikan.

    Maka, lebih baik memberikan teladan dengan melakukan sendiri daripada hanya menjelaskan dengan kata-kata.  (epochtimes/lin)

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Etika di Tempat Publik

    Etika di Tempat Publik

    Sebagian orang mungkin pernah merasa diacuhkan, seolah tidak tampak. Saya pikir ini adalah salah satu efek negatif modernisasi yang semakin memperbesar sifat individualisme masyarakat dan mengecilkan norma kesopanan. Hal yang tidak mengenakkan ini juga pernah saya alami.

    Suatu sore, saya mengajak seorang teman untuk makan bersama di function room apartemen tempat tinggal kami. Di setiap lantai apartemen tempat kami tinggal selalu disediakan ruangan untuk memasak atau sekedar menikmati makanan yang baru diorder lewat aplikasi. Ruangan masih sepi ketika kami tiba.

    Ketika kami sedang sibuk menyiapkan makanan, masuklah dua gadis remaja. Mereka duduk dan langsung ngobrol seolah tidak ada orang lain di sana. Kami berdua menjadi sangat heran, walaupun umumnya penghuni apartemen itu walaupun tidak saling mengenal, minimal jika bertatap muka pasti saling menyapa. Namun dua gadis itu sepertinya tidak melihat keberadaan kami, hanya sibuk berceloteh mengeluhkan perusahaan penerbangan mana yang pelayanannya kurang bagus dan topik lain semacam itu.

    Di dalam ruangan itu terdapat dua meja makan berukuran sedang yang digabungkan jadi satu meja panjang. Saat masuk kami meletakkan dua buah piring di salah satu meja, lalu kami meninggalkan meja itu sebentar untuk membuat makanan. Setelah makanan siap, kami berjalan menuju ke meja tadi untuk makan. Kami agak terkejut melihat makanan yang dibawa oleh kedua gadis itu telah memenuhi meja satunya dan sebagian lagi menjulur ke meja yang akan kami gunakan. Sebenarnya hal itu tidak menjadi masalah bagi kami asalkan mereka sekedar basa-basi permisi kepada kami, siapapun tidak berniat memonopoli meja itu.

    Sepertinya dua gadis itu akan mengadakan makan bersama dengan beberapa teman mereka. Teman saya memberi isyarat mata agar kami segera makan dan meninggalkan tempat itu. Benar juga, tidak lama kemudian datang sekitar 7 hingga 8 pemuda. Sekejap ruangan yang cukup lega itu terasa sempit bagi kami. Sebenarnya hal itu tidak menjadi masalah, karena tempat ini memang disediakan untuk umum. Tetapi kami agak terganggu dengan suara mereka yang terlalu keras. Walaupun kami duduk berdampingan, kami kesulitan mendengar suara satu sama lain. Jika saat itu kami pergi begitu saja, tentu akan sangat tidak sopan. Karena itu kami memaksakan diri untuk tetap melanjutkan makan.

    Di tengah mereka, kami ibarat tidak ada, kami seperti manusia yang tidak tampak. Suasana yang sepi dan nyaman pun berubah menjadi bising dan ribut. Lantas saya berkata kepada teman saya untuk pulang dan bertemu kembali di lain waktu.

    Tiba di rumah, saya masih memikirkan kejadian tadi. Menjadi orang yang tidak tampak sungguh tak mengenakkan. Namun saya juga balik bertanya pada diri sendiri, apakah juga terkadang menganggap orang lain sebagai orang yang tak tampak. Teringat dulu saya pernah beberapa kali berkenalan dengan teman baru, dan ternyata teman baru  itu mengatakan kepada saya, “Sebenarnya kita sudah saling mengenal, waktu itu Anda sedang asyik berbincang dengan teman Anda, dan tidak melihat saya …” 

    Memang benar, ketika seseorang terlalu fokus dengan urusan sendiri, akan sangat mudah sekali mengabaikan orang lain. Sehingga munculah sifat memandang sebelah mata, mengacuhkan kehadiran orang lain, dan lain-lain. Kita harus menghormati dan lebih memperhatikan sekeliling kita. Jangan sekali-kali menganggap orang lain sebagai manusia yang tidak tampak.  (epochtimes/lin)

    Dibawah ini ada tips dari pakar etiket yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari dan bagikan juga pada anak-anak kita, agar dunia menjadi tempat yang lebih baik buat semua orang:

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.