Tag: barang murah china

  • AS Perketat Rantai Pasokan: Impor China Kena Tarif Baru 12,5%

    AS Perketat Rantai Pasokan: Impor China Kena Tarif Baru 12,5%

    Perang tarif AS-China kembali memanas. Pemerintahan Trump memberlakukan tarif baru terhadap impor China, menghidupkan kembali agenda perdagangannya setelah Mahkamah Agung membatalkan tarif yang diberlakukan sebelumnya.

    Tarif baru ini menggantikan tarif global yang berakhir hari Jumat dan mencakup tarif 12,5% untuk produk China.

    Pemerintahan Trump menyatakan tarif tersebut menargetkan impor dari 60 mitra dagang atas kekhawatiran terkait kerja paksa dalam rantai pasokan.

    China menyatakan AS telah berkomitmen bahwa tarif pengganti tidak akan melebihi 20%. Tarif 12,5% saat ini masih berada di bawah ambang batas tersebut, sehingga masih ada ruang untuk kenaikan tambahan.

    Washington sendiri belum memberikan komentar secara terbuka mengenai klaim Beijing tentang batas tarif 20% ini. Perwakilan Perdagangan AS menyatakan bahwa tindakan ini merupakan kelanjutan dari upaya Presiden Trump sejak masa jabatan pertamanya untuk memberantas perbudakan modern dari rantai pasokan global.

  • Tolak Perpanjang USMCA, AS Desak Kanada-Meksiko Blokir China

    Tolak Perpanjang USMCA, AS Desak Kanada-Meksiko Blokir China

    USMCA, perjanjian dagang AS, Meksiko dan Kanada, memasuki masa peninjauan bersamanya dan ketiga negara menggelar pertemuan virtual hari Rabu. Washington telah secara resmi menolak perpanjangan perjanjian selama 16 tahun.

    Pemerintahan Trump mendesak amandemen agresif dengan dua tujuan utama. Pertama, mobil. AS ingin lebih banyak suku cadang otomotif diproduksi di dalam negeri. Sebuah kendaraan harus mengandung setidaknya 50% suku cadang buatan AS agar memenuhi syarat bebas bea. Kedua, menutup celah yang dimanfaatkan China untuk masuk ke pasar AS. Perwakilan Perdagangan AS Jamieson Greer menuntut agar Meksiko dan Kanada sejalan dengan Washington dalam hal kontrol ekspor dan pembatasan investasi agar China berhenti menggunakan Meksiko atau Kanada sebagai celah untuk menghindari tarif AS.

    Presiden Meksiko telah menandatangani surat untuk perpanjangan 16 tahun. Sementara Kanada juga mendesak perpanjangan, namun terbuka untuk melakukan perbaikan.

    Walau AS menolak memperpanjang, perjanjian perdagangan USMCA tidak akan berakhir dan tetap berlaku hingga kadaluwarsa pada 2036.

    Perwakilan Dagang Greer dijadwalkan akan berangkat ke Mexico City akhir bulan ini untuk negosiasi tatap muka. Isu-isu utama meliputi aturan asal barang otomotif, reformasi energi, dan investasi China yang membanjiri pabrik-pabrik di Meksiko.

    Sementara itu, akses ke pasar produk susu Kanada tetap menjadi titik perselisihan utama, ditambah dengan tarif tambahan yang diberlakukan Washington terhadap baja, mobil, dan kayu Kanada. Jadwal resmi untuk negosiasi AS-Kanada belum ditetapkan.

  • Afrika Selatan, Meksiko dan Iran Masa Depan: Mengetes Posisi ‘Lebih Keras’ ke China

    Afrika Selatan, Meksiko dan Iran Masa Depan: Mengetes Posisi ‘Lebih Keras’ ke China

    Seiring meningkatnya persaingan antara dua negara adidaya dunia, AS dan China, di berbagai bidang ekonomi, strategis, dan politik, oportunisme mungkin bukan lagi strategi yang layak. Banyak negara mendapati diri mereka dalam situasi serupa, menghadapi kebutuhan untuk mengambil sikap yang lebih jelas tentang apakah akan berpihak pada Washington atau Beijing. Afrika Selatan, Meksiko, dan calon pemimpin Iran di masa depan sudah menyesuaikan kebijakan mereka terhadap China.

    Afrika Selatan telah menyetujui tarif 75% untuk impor baja struktural China, bahan utama yang digunakan dalam bangunan dan infrastruktur. Keputusan tersebut dibuat pada hari Rabu dan mulai berlaku keesokan harinya. Thailand juga terkena tarif baru, tetapi dengan tarif yang jauh lebih rendah daripada China. Pemerintah menuduh negara-negara Asia, terutama China, melakukan dumping produk murah ke negara tersebut dan merusak industri domestiknya. Perlu dicatat, Afrika Selatan dan China mempertahankan hubungan dekat dengan Afrika Selatan sebagai mitra kunci dalam kelompok BRICS Beijing. Baru bulan lalu, China memberikan Afrika Selatan perlakuan tarif nol. Jadi kenaikan tarif terhadap China merupakan langkah yang mengejutkan. Hal ini terjadi di tengah ketegangan antara Afrika Selatan dan AS. Pada hari Senin, perwakilan perdagangan AS membuka penyelidikan pasal 301 terhadap 60 negara, termasuk Afrika Selatan, atas potensi praktik perdagangan yang tidak adil. Steven Gru, seorang ahli geopolitik di sebuah lembaga think tank Afrika Selatan, memperingatkan bahwa ekspor seperti motor, anggur, dan produk pertanian masih sangat bergantung pada pasar AS.

    Bagi Meksiko, pengenaan tarif terhadap China bukanlah hal baru, dan mereka dapat melakukannya lagi. Menurut laporan media Meksiko, seorang pejabat senior mengatakan negara itu sedang mempertimbangkan untuk meninjau investasi China. Pejabat tersebut menambahkan bahwa langkah ini mengikuti tuduhan AS bahwa Meksiko mentransit barang-barang murah dari China. Namun, AS juga mendukung kenaikan tarif Meksiko baru-baru ini terhadap China. Meksiko memberlakukan tarif hingga 35% pada barang-barang China yang mulai berlaku pada awal tahun. Juru bicara Beijing menanggapi pada hari Jumat, mendesak Meksiko untuk tidak melanjutkan kebijakan tersebut.

    Selanjutnya, mantan Putra Mahkota Iran, Reza Pahlavi, memberi sinyal bahwa ia akan mengurangi hubungan Iran dengan Rusia dan China jika ia menjabat. Pahlavi telah memposisikan dirinya sebagai pemimpin untuk memimpin pemerintahan transisi jika rezim Islam jatuh. Ia menerbitkan rencana pemerintahan tiga bulan yang menyerukan agar Iran beralih dari ketergantungan pada Beijing dan Moskow menuju kemitraan yang lebih seimbang. Ia menambahkan bahwa semua perjanjian dengan kedua negara tersebut harus ditinjau dan investasi China harus dibatasi.

    Kepala stafnya mengatakan pada hari Kamis bahwa Iran yang bebas dan demokratis di masa depan tidak akan mencari konflik dengan China, tetapi akan membangun hubungan dengan semua negara demi kepentingan rakyat Iran. Pernyataan tersebut menunjukkan pergeseran Iran dari Beijing.

  • Surplus Perdagangan China Capai Rekor Tertinggi

    Surplus Perdagangan China Capai Rekor Tertinggi

    Surplus perdagangan China tahun 2025 mencapai rekor tertinggi, hampir 1,2 triliun dolar. China merilis data itu pada hari Rabu. Sementara ekspor China ke AS turun 20%, terutama karena tarif Presiden Trump.

    Upaya China melakukan diversifikasi di luar AS membuahkan hasil, karena ekspor ke pasar non-AS meningkat pesat. Para produsen telah berupaya membangun skala global dan melawan tekanan perdagangan dari pemerintahan Trump. Mereka mengalihkan fokus ke Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin, melindungi perekonomian dari tarif AS.

    Namun Beijing akan menghadapi banyak tantangan lain tahun ini, seiring meningkatkan kekhawatiran global tentang praktik perdagangan dan kelebihan kapasitas China. Para ekonom memperkirakan China akan terus mendapatkan pangsa pasar global, didukung oleh berbagai perusahaan China yang mendirikan pusat produksi di luar negeri untuk melawan tarif AS dan Uni Eropa, serta permintaan kuat pada chip kelas bawah dan elektronik lainnya.

    Di sisi lain Beijing masih menghadapi masalah di pasar properti dan permintaan domestik yang lemah.

    Negara-negara Eropa menentang masuknya barang-barang China dengan harga dumping. Uni Eropa juga menargetkan kendaraan listrik dari China. Berdasarkan aturan baru, produsen mobil China harus membatasi jumlah mobil listrik yang diekspor ke Eropa serta menyepakati harga minimum, atau menghadapi tarif.

    Agustus lalu, Uni Eropa mengenakan bea anti-dumping hampir 30% pada impor kertas dekorasi China, yang digunakan dalam desain interior, konstruksi dan industri lainnya. Penyelidikan menemukan impor dari China dijual dengan harga dumping, yang merugikan persaingan di seluruh Eropa.

  • Goldman Sachs & IMF Minta China Perkuat Yuan

    Goldman Sachs & IMF Minta China Perkuat Yuan

    Kini mari kita bahas senjata yang digunakan China yaitu mata uang. Goldman Sachs dan Dana Moneter Internasional sama-sama menyoroti mata uang China. Mereka berpendapat mata uang China mungkin diperdagangkan jauh lebih rendah dari yang ditunjukkan kekuatan ekonomi ekspornya. Ini dapat menciptakan tekanan keuangan besar bagi negara-negara yang sangat bergantung pada China untuk perdagangan dan pinjaman.

    Hari Rabu, Goldman Sachs berkata mata uang China sekitar 25% lebih rendah dari yang seharusnya. Banyak ekonom berspekulasi Beijing sengaja menjaga Yuan tetap lemah untuk membantu meningkatkan ekspor. Surplus perdagangan global China melonjak melewati satu triliun dolar tahun ini, didorong oleh ekspor murah dan praktik dumping barang ke pasar luar negeri. Hal ini memicu kritik dari AS, Uni Eropa, dan mitra dagang lainnya yang berpendapat bahwa barang-barang murah China merusak industri dalam negeri. IMF mendesak China untuk membiarkan mata uangnya menguat, dengan alasan negara tersebut perlu lebih mengandalkan pengeluaran konsumen di dalam negeri daripada ekspor ke luar negeri.

    Mata uang China yang lebih kuat akan membuat ekspornya lebih mahal dan mengurangi keunggulannya di pasar luar negeri. Namun, dengan Yuan yang masih lemah, pembiayaan China tampak menarik, tidak hanya untuk perdagangan, tetapi juga untuk proyek-proyek di bawah inisiatif Belt and Road. Negara-negara yang ingin membangun infrastruktur penting dapat beralih ke China untuk mendapatkan bahan baku, tenaga kerja, dan pendanaan murah. Namun, banyak negara-negara ini sekarang merasakan tekanan.

    Dengan pendapatan yang masuk lambat, utang-utang semakin sulit untuk dibayar. Beberapa analis memperingatkan jika China terus mempertahankan nilai mata uangnya yang rendah, negara-negara berkembang dapat terjerumus lebih dalam ke dalam utang.

  • Rekor $1T Surplus Perdagangan China oleh Pasar Non-AS

    Rekor $1T Surplus Perdagangan China oleh Pasar Non-AS

    Untuk pertama kalinya dalam sejarah, surplus perdagangan China mencapai 1 triliun dolar karena negara itu mengalihkan pengiriman ke pasar non-AS. Bulan November, ekspor ke negara-negara Eropa, Australia, dan Asia Tenggara melonjak, sementara pengiriman ke AS turun tajam. Para ekonom berkata tarif tinggi Washington terus membebani margin keuntungan eksportir China, hingga mereka meningkatkan upaya untuk mendiversifikasi pasar ekspornya sejak Trump kembali menjabat. China telah mengupayakan hubungan perdagangan lebih erat dengan Asia Tenggara dan Uni Eropa.

    Data bea cukai menunjukkan pada Senin bahwa ekspor China tumbuh 5,9% tahun ke tahun. Data itu menunjukkan pengiriman China ke AS turun 29% pada November dibandingkan tahun sebelumnya, walau AS-China telah sepakat saling mengurangi sebagian tarif mereka.

    Ekspor ke Uni Eropa tumbuh 14,8% per tahun bulan lalu, sementara pengiriman ke Australia melonjak lebih dari sepertiganya.

    Seiring ekspor China mencapai rekor 1 triliun dolar, negara-negara Eropa menyuarakan kekhawatiran atas kesenjangan perdagangan yang semakin besar.

    Ekspor naik lebih dari 5% tahun ini, mencapai sekitar 3,4 triliun dolar. Para pemimpin Eropa berkata ketidakseimbangan ini makin sulit untuk diabaikan. Pada hari Minggu, Presiden Prancis Macron memperingatkan bahwa Eropa dapat mengenakan tarif yang lebih tinggi pada impor China seperti AS.

    Ia mengatakan Eropa kehilangan momentum di bidang-bidang seperti mobil, teknologi, dan barang-barang mewah. Menurut Wall Street Journal, China kini menyumbang sekitar 15% dari ekspor global, yaitu hampir sepertiga dari semua barang yang dikirim ke seluruh dunia berdasarkan volume.

    Dengan kata lain, untuk setiap kontainer yang datang dari Eropa, empat kontainer meninggalkan China. Sementara itu, China memperluas ekspornya ke luar pasar Barat, mengirim lebih banyak barang ke Afrika, Asia Tenggara, dan Amerika Latin. Di enam negara ekonomi terbesar di Asia Tenggara, ekspor China telah melonjak lebih dari 20% dibandingkan tahun lalu, menurut Financial Times.

    Para ekonom mengatakan sebagian lonjakan tersebut berasal dari dumping, di mana Beijing membanjiri pasar luar negeri dengan barang-barang yang lebih murah dan mengekang produsen lokal. Hal itu kini mendorong aturan impor yang lebih ketat dan diskusi tarif di seluruh negara Asia dan Eropa.

  • Perusahaan Induk Temu Hadapi Tantangan di Dalam & Luar China

    Perusahaan Induk Temu Hadapi Tantangan di Dalam & Luar China

    Raksasa e-commerce China, PDD Holdings, perusahaan induk Temu, menghadapi berbagai tantangan baik di dalam maupun di luar China. Di dalam negeri, Temu menghadapi persaingan ketat dengan Shein dan Alibaba di tengah kemerosotan ekonomi China. Sementara di luar negeri, Temu berjuang setelah AS menutup celah pajak, saat Eropa juga bersiap melakukan hal yang sama.

    Di China, Temu mengalami penurunan konsumen. Data ekonomi Jumat lalu menunjukkan perlambatan yang berkelanjutan. Hal ini menekan semua peritel daring utama China, sementara pesaing seperti Alibaba meningkatkan layanan seperti pengiriman yang cepat.

    Sementara, Temu telah bersaing dengan Shein di luar negeri sejak Washington mengakhiri pengecualian pajak. Aturan itu memungkinkan peritel China mengirim paket kecil ke pelanggan AS bebas pajak. Sejak celah tersebut ditutup awal tahun ini, pendapatan Temu menurun tajam dengan jumlah pengguna aktif bulanan turun hingga 46%.

    Sebagai kompensasi, Temu berusaha memompa lebih banyak barang murah ke Eropa. Namun, Uni Eropa juga sedang berupaya menghapuskan pembebasan pajak untuk paket berbiaya rendah, dan ingin menerapkannya dua tahun lebih awal dari rencana.

    Para menteri keuangan setiap anggota Uni Eropa telah setuju, dan aturan mungkin akan berlaku paling cepat tahun 2026.

  • A.S. Cekal Jalur Pengiriman Lintas China dengan Bea 40%

    A.S. Cekal Jalur Pengiriman Lintas China dengan Bea 40%

    Langkah Beijing membatasi ekspor tanah jarang ke AS membuat pemerintahan Trump berusaha mengurangi risiko rantai pasokan yang terkait rezim otoriter tersebut. Kini Gedung Putih meluncurkan kebijakan tarif baru yang akan mulai berlaku minggu depan. Kebijakan ini mengenakan bea masuk hingga 40% pada barang pengiriman lintas. Meskipun China adalah target yang jelas, aturan baru tersebut tidak menyebutkan negara-negara tertentu.

    Setelah Presiden Trump memberlakukan tarif pada China selama masa jabatan pertamanya, para produsen China dengan cepat membangun gudang di luar negeri kemudian mengirim barang melalui negara lain untuk menghindari tarif AS.

    Namun kini celah itu akan segera ditutup. Pada hari Kamis, Gedung Putih mengumumkan aturan baru yang menargetkan pengiriman lintas. Dalam tujuh hari, bea cukai AS akan mulai mengenakan tarif tambahan sebesar 40% untuk barang yang menghindari bea masuk melalui negara lain.

    Jika suatu produk tidak mengalami perubahan substansial di negara transit, produk itu akan dianggap sebagai produk kiriman jalur transit dan dikenakan sanksi. Perubahan substansial berarti suatu produk harus diubah secara signifikan di negara lain agar dianggap dibuat di sana. Jika hanya berupa perubahan kecil, produk tetap dianggap berasal dari negara asal dan tarif berlaku.

    Aturan ini didasarkan pada ketentuan yang sudah termasuk dalam perjanjian dagang AS-Vietnam. Serupa dengan perjanjian AS-Meksiko-Kanada, aturan ini akan mewajibkan, misalnya, setidaknya 75% mobil atau komponen suku cadang otomotif berasal dari Amerika Utara. Hal ini diperlukan untuk memenuhi syarat penyeberangan perbatasan bebas bea.

  • Eropa Melihat China Sebagai Potensi Risiko

    Eropa Melihat China Sebagai Potensi Risiko

    Uni Eropa dan China memperingati 50 tahun hubungan diplomatik minggu ini, tetapi kepala Uni Eropa memperingatkan China menimbulkan risiko yang semakin besar bagi ekonomi dan keamanan benua itu. Koresponden internasional NTD David Vives melaporkan dari Paris.

    Menjelang peringatan 50 tahun hubungan diplomatik bilateral Uni Eropa dan China, Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen merefleksikan hubungan itu. Ia mengawali dengan memuji China yang selama 50 tahun terakhir telah menjadi kekuatan global utama. Meskipun berkata ingin menjalin hubungan baru dengan China, ia mengkritik diplomasi Beijing baru-baru ini.

    Pada 3 Juni, Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyatakan di Berlin bahwa China tidak dapat menerima kekalahan Rusia di Ukraina itu dapat memungkinkan Amerika Serikat sepenuhnya berfokus ke China.

    [Ursula von der Leyen]:

    “Dukungan China yang gigih terhadap Rusia menciptakan ketidakstabilan dan ketidakamanan yang semakin meningkat bagi Eropa. Kita dapat mengatakan bahwa China secara de facto memungkinkan ekonomi perang Rusia, dan kita tidak dapat menerima hal ini. Dan saya selalu mengatakan bagaimana China yang terus berinteraksi dengan perang Putin akan menjadi faktor penentu bagi hubungan Uni Eropa-China ke depannya.”

    Di bidang ekonomi, von der memperingatkan ketergantungan Uni Eropa pada bahan baku China telah meningkat. Ia juga menunjuk praktik Beijing yang terus-menerus membanjiri pasar global sambil mengabaikan perjanjian perdagangan internasional sebagai risiko besar.

    [Ursula von der Leyen]:

    “China menjalankan surplus perdagangan terbesar dalam sejarah umat manusia. Surplus perdagangannya dengan serikat kita telah melampaui 300 miliar euro tahun lalu. Dan ini terjadi saat semakin sulit bagi perusahaan Eropa untuk berbisnis di China.”

    Beberapa negara Uni Eropa dalam beberapa bulan terakhir telah meminta serikat untuk melindungi mereka dari banjir barang dari China.

    Sejak pemerintahan Trump menerapkan tarif baru hingga 55% untuk impor China, Bank Sentral Eropa telah melaporkan peningkatan ekspor barang China ke Eropa sebesar dua hingga tiga persen. Meskipun jumlahnya kecil, trennya semakin cepat hingga mengancam industri-industri di blok Uni Eropa.

    Menteri Keuangan Prancis, Eric Lumbar, mengatakan pada hari Senin, “Kita harus melindungi industri kita. Jika tidak, kebijakan China yang memiliki kapasitas produksi lebih dari 50% pangsa pasar global di setiap sektor akan mematikan industri kita.”

    Pada KTT J7 di Kanada bulan Juni, Ursula Von Der menyalahkan praktik perdagangan Beijing sejak bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia pada tahun 2001. Ia menuduh China menggunakan model dominasi, ketergantungan, dan pemerasan terhadap mitra dagangnya.

    David Vives, NTD News, Paris.