Tag: fast fashion

  • Goldman Sachs & IMF Minta China Perkuat Yuan

    Goldman Sachs & IMF Minta China Perkuat Yuan

    Kini mari kita bahas senjata yang digunakan China yaitu mata uang. Goldman Sachs dan Dana Moneter Internasional sama-sama menyoroti mata uang China. Mereka berpendapat mata uang China mungkin diperdagangkan jauh lebih rendah dari yang ditunjukkan kekuatan ekonomi ekspornya. Ini dapat menciptakan tekanan keuangan besar bagi negara-negara yang sangat bergantung pada China untuk perdagangan dan pinjaman.

    Hari Rabu, Goldman Sachs berkata mata uang China sekitar 25% lebih rendah dari yang seharusnya. Banyak ekonom berspekulasi Beijing sengaja menjaga Yuan tetap lemah untuk membantu meningkatkan ekspor. Surplus perdagangan global China melonjak melewati satu triliun dolar tahun ini, didorong oleh ekspor murah dan praktik dumping barang ke pasar luar negeri. Hal ini memicu kritik dari AS, Uni Eropa, dan mitra dagang lainnya yang berpendapat bahwa barang-barang murah China merusak industri dalam negeri. IMF mendesak China untuk membiarkan mata uangnya menguat, dengan alasan negara tersebut perlu lebih mengandalkan pengeluaran konsumen di dalam negeri daripada ekspor ke luar negeri.

    Mata uang China yang lebih kuat akan membuat ekspornya lebih mahal dan mengurangi keunggulannya di pasar luar negeri. Namun, dengan Yuan yang masih lemah, pembiayaan China tampak menarik, tidak hanya untuk perdagangan, tetapi juga untuk proyek-proyek di bawah inisiatif Belt and Road. Negara-negara yang ingin membangun infrastruktur penting dapat beralih ke China untuk mendapatkan bahan baku, tenaga kerja, dan pendanaan murah. Namun, banyak negara-negara ini sekarang merasakan tekanan.

    Dengan pendapatan yang masuk lambat, utang-utang semakin sulit untuk dibayar. Beberapa analis memperingatkan jika China terus mempertahankan nilai mata uangnya yang rendah, negara-negara berkembang dapat terjerumus lebih dalam ke dalam utang.

  • Rekor $1T Surplus Perdagangan China oleh Pasar Non-AS

    Rekor $1T Surplus Perdagangan China oleh Pasar Non-AS

    Untuk pertama kalinya dalam sejarah, surplus perdagangan China mencapai 1 triliun dolar karena negara itu mengalihkan pengiriman ke pasar non-AS. Bulan November, ekspor ke negara-negara Eropa, Australia, dan Asia Tenggara melonjak, sementara pengiriman ke AS turun tajam. Para ekonom berkata tarif tinggi Washington terus membebani margin keuntungan eksportir China, hingga mereka meningkatkan upaya untuk mendiversifikasi pasar ekspornya sejak Trump kembali menjabat. China telah mengupayakan hubungan perdagangan lebih erat dengan Asia Tenggara dan Uni Eropa.

    Data bea cukai menunjukkan pada Senin bahwa ekspor China tumbuh 5,9% tahun ke tahun. Data itu menunjukkan pengiriman China ke AS turun 29% pada November dibandingkan tahun sebelumnya, walau AS-China telah sepakat saling mengurangi sebagian tarif mereka.

    Ekspor ke Uni Eropa tumbuh 14,8% per tahun bulan lalu, sementara pengiriman ke Australia melonjak lebih dari sepertiganya.

    Seiring ekspor China mencapai rekor 1 triliun dolar, negara-negara Eropa menyuarakan kekhawatiran atas kesenjangan perdagangan yang semakin besar.

    Ekspor naik lebih dari 5% tahun ini, mencapai sekitar 3,4 triliun dolar. Para pemimpin Eropa berkata ketidakseimbangan ini makin sulit untuk diabaikan. Pada hari Minggu, Presiden Prancis Macron memperingatkan bahwa Eropa dapat mengenakan tarif yang lebih tinggi pada impor China seperti AS.

    Ia mengatakan Eropa kehilangan momentum di bidang-bidang seperti mobil, teknologi, dan barang-barang mewah. Menurut Wall Street Journal, China kini menyumbang sekitar 15% dari ekspor global, yaitu hampir sepertiga dari semua barang yang dikirim ke seluruh dunia berdasarkan volume.

    Dengan kata lain, untuk setiap kontainer yang datang dari Eropa, empat kontainer meninggalkan China. Sementara itu, China memperluas ekspornya ke luar pasar Barat, mengirim lebih banyak barang ke Afrika, Asia Tenggara, dan Amerika Latin. Di enam negara ekonomi terbesar di Asia Tenggara, ekspor China telah melonjak lebih dari 20% dibandingkan tahun lalu, menurut Financial Times.

    Para ekonom mengatakan sebagian lonjakan tersebut berasal dari dumping, di mana Beijing membanjiri pasar luar negeri dengan barang-barang yang lebih murah dan mengekang produsen lokal. Hal itu kini mendorong aturan impor yang lebih ketat dan diskusi tarif di seluruh negara Asia dan Eropa.

  • Peritel Prancis Tolak Keras Pembukaan Toko Pertama Shein

    Peritel Prancis Tolak Keras Pembukaan Toko Pertama Shein

    Raksasa fesyen cepat China, Shein, berencana membuka toko pertamanya di Prancis pada November ini, tetapi para peritel Prancis menolak keras. Mereka berkata pakaian Shein yang super murah buatan China dikirim langsung ke pelanggan, merugikan bisnis lokal dan membanjiri pasar dengan fesyen sekali pakai.

    Bahkan Galleries Lafayette, yang mitra waralabanya menjadi tuan rumah toko Shein, mengatakan pihaknya menentang rencana itu. Shein menjaga harga tetap rendah dengan mengirimkan paket-paket kecil dari China yang tidak perlu membayar bea cukai.

    Pemotongan pajak yang direncanakan Uni Eropa akan segera berakhir. Aturan Uni Eropa saat ini membebaskan bea masuk untuk pengiriman di bawah $176. Anggota parlemen Prancis juga sedang menyusun aturan baru yang dapat menghentikan Shein beriklan di Prancis. Para kritikus khawatir bahwa setelah toko Shein dibuka, toko-toko lokal akan semakin kesulitan bersaing.