Tag: impor china

  • Trump Akan Ijinkan 600.000 Pelajar China Kuliah di AS

    Trump Akan Ijinkan 600.000 Pelajar China Kuliah di AS

    Presiden Trump mengatakan bahwa sekitar 600.000 pelajar asal China diijinkan untuk melanjutkan kuliah di AS. Simak berikut.

    [Donald Trump, Presiden AS]:

    Saya dengar banyak rumor soal kami tidak akan mengizinkan pelajar mereka atau kami akan mengizinkan pelajar mereka masuk. Kami akan mengizinkan, ini penting.. 600.000 pelajar.

    Presiden Trump tidak memberikan spesifikasi terkait bidang apa saja yang diperbolehkan bagi ribuan pelajar asal China tersebut.

    Bidang Teknologi dan sains telah menjadi topik sensitif , seiring dengan semakin banyaknya peneliti asal China, termasuk pelajar yang diduga memindahkan teknologi AS ke China.

    Mei lalu, AS mengumumkan rencana untuk mencabut visa bagi warga negara China yang bekerja di bidang-bidang sensitif ini.

    Saat ini, sekitar 270.000 pelajar China terdaftar di berbagai universitas di AS. Visa yang ditawarkan Trump bakal menggandakan jumlah tersebut. Dalam pidato hari Senin, Trump berkata bahwa presiden Xi menginginkan dirinya mengunjungi China.

    [Donald Trump, Presiden AS]:

    Presiden Xi ingin saya datang ke China. Ini hubungan yang sangat penting. Seperti yang Anda ketahui, kami menerima banyak uang dari China dari tarif dan berbagai hal lainnya. Dan ini hubungan yang sangat penting. Kami akan berhubungan baik dengan China.

    Awal tahun ini, pemerintahan Trump memberlakukan tarif 145% atas seluruh impor China. China menerapkan tarif balasan sebesar 125% untuk produk AS. Angka tersebut ditangguhkan sementara pada Mei setelah pembicaraan dagang. Namun, Trump terus memperingatkan kemungkinan sanksi tambahan.

  • AS dan China Kembali Perpanjang Gencatan Tarif

    AS dan China Kembali Perpanjang Gencatan Tarif

    Senin kemarin, AS dan China kembali memperpanjang gencatan tarif 90 hari ke depan, menunda pemberlakuan tarif tiga digit atas masing-masing impor. Para pemain ritel AS bergegas menimbun stok barang jelang musim liburan akhir tahun. Simak selengkapnya.

    Selang beberapa jam mendekati batas waktu Selasa kemarin, Beijing dan Washington sepakat memperpanjang gencatan tarif 90 hari ke depan, menunda pemberlakuan bea masuk tiga digit atas masing-masing barang, dimana tarif AS atas impor China akan naik menjadi 145%, dan tarif China untuk barang AS menjadi 125%, yang mana bisa menjadi embargo virtual antara kedua negara. Penundaan ini dinilai krusial khususnya bagi pemain ritel AS disebabkan lonjakan impor jelang akhir tahun.

    Presiden AS, Donald Trump mengumumkan penangguhan tarif tinggi hingga November melalui akun media sosialnya pada Senin. Sementara itu, kementerian dagang China juga mengumumkan penangguhan tarif tambahan serta menunda penambahan beberapa perusahaan AS yang masuk dalam target sejak April ke dalam daftar pembatasan perdagangan dan investasi mereka. Menurut China, langkah ini bertujuan untuk menjaga stabilitas ekonomi global sesuai kesepakatan kedua negara pada 5 Juni.

    Mei sebelumnya, kedua pihak telah menyepakati gencatan tarif 90 hari di Jenewa, guna memberi ruang untuk pembicaraan. Pertemuan lanjutan kembali digelar di Swedia akhir Juli, di mana tim delegasi AS kembali ke Washington dan mengusulkan presiden Trump untuk memperpanjang batas waktu

    Data terbaru departemen perdagangan menunjukkan impor dari China melonjak di awal tahun, dan mengalami penurunan tajam pada Juni. Akibatnya, defisit perdagangan AS dengan China turun drastis menjadi $9,5 miliar, ini merupakan angka terendah sejak 2004. Defisit ini telah menyusut lebih dari 70% dalam setahun terakhir. Selain masalah tarif, AS juga mendesak China untuk berhenti membeli minyak Rusia guna mengakhiri konflik Rusia-Ukraina, bahkan mengancam akan memberlakukan tarif tambahan jika China menolak.

    Meski AS dan China berhasil menunda tarif tiga digit, namun tarif AS saat ini agaknya masih membebani China. Para ekonom menyebut bahwa tingkat pengangguran di China memburuk selain karena tarif juga karena kelebihan kapasitas industri. Kondisi ini menekan pendapatan pekerja, mengurangi percaya diri mereka akan masa depan, yang berujung pada menurunnya belanja. Akibatnya, kepercayaan konsumen di China rendah dan penjualan ritel melambat.

  • Eropa Melihat China Sebagai Potensi Risiko

    Eropa Melihat China Sebagai Potensi Risiko

    Uni Eropa dan China memperingati 50 tahun hubungan diplomatik minggu ini, tetapi kepala Uni Eropa memperingatkan China menimbulkan risiko yang semakin besar bagi ekonomi dan keamanan benua itu. Koresponden internasional NTD David Vives melaporkan dari Paris.

    Menjelang peringatan 50 tahun hubungan diplomatik bilateral Uni Eropa dan China, Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen merefleksikan hubungan itu. Ia mengawali dengan memuji China yang selama 50 tahun terakhir telah menjadi kekuatan global utama. Meskipun berkata ingin menjalin hubungan baru dengan China, ia mengkritik diplomasi Beijing baru-baru ini.

    Pada 3 Juni, Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyatakan di Berlin bahwa China tidak dapat menerima kekalahan Rusia di Ukraina itu dapat memungkinkan Amerika Serikat sepenuhnya berfokus ke China.

    [Ursula von der Leyen]:

    “Dukungan China yang gigih terhadap Rusia menciptakan ketidakstabilan dan ketidakamanan yang semakin meningkat bagi Eropa. Kita dapat mengatakan bahwa China secara de facto memungkinkan ekonomi perang Rusia, dan kita tidak dapat menerima hal ini. Dan saya selalu mengatakan bagaimana China yang terus berinteraksi dengan perang Putin akan menjadi faktor penentu bagi hubungan Uni Eropa-China ke depannya.”

    Di bidang ekonomi, von der memperingatkan ketergantungan Uni Eropa pada bahan baku China telah meningkat. Ia juga menunjuk praktik Beijing yang terus-menerus membanjiri pasar global sambil mengabaikan perjanjian perdagangan internasional sebagai risiko besar.

    [Ursula von der Leyen]:

    “China menjalankan surplus perdagangan terbesar dalam sejarah umat manusia. Surplus perdagangannya dengan serikat kita telah melampaui 300 miliar euro tahun lalu. Dan ini terjadi saat semakin sulit bagi perusahaan Eropa untuk berbisnis di China.”

    Beberapa negara Uni Eropa dalam beberapa bulan terakhir telah meminta serikat untuk melindungi mereka dari banjir barang dari China.

    Sejak pemerintahan Trump menerapkan tarif baru hingga 55% untuk impor China, Bank Sentral Eropa telah melaporkan peningkatan ekspor barang China ke Eropa sebesar dua hingga tiga persen. Meskipun jumlahnya kecil, trennya semakin cepat hingga mengancam industri-industri di blok Uni Eropa.

    Menteri Keuangan Prancis, Eric Lumbar, mengatakan pada hari Senin, “Kita harus melindungi industri kita. Jika tidak, kebijakan China yang memiliki kapasitas produksi lebih dari 50% pangsa pasar global di setiap sektor akan mematikan industri kita.”

    Pada KTT J7 di Kanada bulan Juni, Ursula Von Der menyalahkan praktik perdagangan Beijing sejak bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia pada tahun 2001. Ia menuduh China menggunakan model dominasi, ketergantungan, dan pemerasan terhadap mitra dagangnya.

    David Vives, NTD News, Paris.

  • Impor China ke AS Jatuh Drastis di Tengah Perang Tarif

    Impor China ke AS Jatuh Drastis di Tengah Perang Tarif

    Impor China yang mengalir ke AS menurun drastis di tengah perang tarif, menurut bisnis yang berbicara ke Financial Times, yang menangani pengiriman antara China dan AS baik lewat laut maupun udara. Barang antar kedua negara utamanya dikirim melalui kontainer. Hingga pertengahan April pemesanan kontainer pengiriman standar dari China ke AS turun 45% dibandingkan tahun sebelumnya.

    Data berasal dari layanan pelacakan kontainer Vizian. Pelabuhan juga merasakan dampaknya. Pelabuhan Los Angeles adalah titik masuk utama AS untuk impor China. Pelabuhan itu memperkirakan bahwa mulai minggu depan, jumlah pengiriman China akan turun sepertiga dari angka tahun lalu.

    Pengangkut kargo yang mengirimkan barang dari Asia ke pelabuhan LA juga telah membatalkan 20 kunjungan pelabuhan pada bulan Mei. Hapag Lloyd adalah salah satu jalur pengiriman kontainer terbesar. Mereka berkata para pelanggan China telah membatalkan sekitar 30% pesanannya.

    Perusahaan pengiriman peti kemas Taiwan yang disebut TS Lines telah menangguhkan salah satu layanannya dari Asia ke Pantai Barat AS. Perusahaan itu memberitahu Financial Times bahwa tidak ada permintaan layanan saat ini. Situasi serupa terjadi pada barang yang diangkut melalui udara.

    Asosiasi Pengangkut Udara adalah kelompok industri yang mengelola pengiriman barang melalui udara. Asosiasi itu berkata banyak anggotanya yang baru saja berhenti menerima pesanan dari China, dan pesanan dari negara itu turun sekitar 30%. Para eksekutif logistik berkata importir AS bermaksud menghabiskan persediaan mereka sebelum mengimpor lebih banyak dari China.

    Itu karena kedua negara terkunci dalam pertikaian tarif. AS mengenakan tarif 145% untuk barang-barang China. Dikombinasikan dengan tarif sebelum masa jabatan kedua Trump, beberapa impor China menghadapi tarif hingga 245%. Trump memberlakukan bea masuk demi mengembalikan pekerjaan ke AS dan menyetop praktek perdagangan tidak adil Beijing.

    Pencurian kekayaan intelektual AS oleh rezim China merugikan AS hingga 600 miliar dolar setiap tahun. Ekspor AS ke China menghadapi tarif 125%. Banyak yang sedang mengamati untuk melihat apakah AS dan China akan mencapai kesepakatan. Trump telah berulang kali memberikan tawaran kepada Beijing untuk bernegosiasi, tetapi rezim China belum tertarik.

    [Karoline Leavitt, Jubir Gedung Putih]:

    “Ia yakin bahwa China ingin membuat kesepakatan dengan Amerika Serikat. Ia yakin China harus membuat kesepakatan dengan Amerika Serikat. China melakukan kesalahan dengan membalas.”

    Beijing berkata pada hari Senin bahwa pemimpin China Xi Jinping belum berbicara dengan Trump melalui telepon, meski Trump berulang kali mengatakan Xi telah meneleponnya.