Tag: ketidakadilan

  • Belas Kasih Terhadap Diri Sendiri? Untuk Mempertahankan Empati, Mulai Dengan Diri Sendiri

    Belas Kasih Terhadap Diri Sendiri? Untuk Mempertahankan Empati, Mulai Dengan Diri Sendiri

    Kebijakan dan praktek spiritual kuno dari setiap kebudayaan menganjurkan belas kasih, atau ekspresi empati terhadap orang lain terhadap penderitaan mereka; tetapi bagi sebagian dari kita, belas kasih tampaknya tidak datang secara alami.

    Entah itu akibat pengabaian masa kanak-kanak, kekerasan dalam rumah tangga, atau peristiwa memilukan lainnya, banyak orang sudah mengabaikannya.

    Dengan mengembangkan belas kasih terhadap diri sendiri, kita dapat secara bertahap memulihkan kedamaian dan kesejahteraan didalam hati kita sendiri, dan membukanya untuk merasakan orang lain, sehingga membawa makna dan tujuan yang mendalam bagi hidup kita.

    Komponen kunci dari belas kasih terhadap diri sendiri adalah menjinakkan kritik didalam untuk mengakui bahwa kita adalah berguna dan berharga, walaupun kita memenuhi harapan kita sendiri atau tidak.

    Mungkin ada banyak keragu-raguan seseorang untuk menerima diri sendiri “apa adanya”, tetapi dengan beberapa latihan yang gigih dalam niat baik, kita dapat memprogram ulang pemikiran kita untuk memungkinkan cinta kasih tanpa syarat bagi kita sendiri.

    Penghalang Umum untuk Belas Kasih terhadap Diri Sendiri

    Sejumlah emosi negatif bisa cukup kuat untuk menurunkan rasa sayang terhadap diri sendiri. Rasa bersalah, kemarahan, frustrasi, dan kebencian dapat dengan cepat merusak pikiran positif kita jika kita tidak tahu bagaimana mengendalikannya.

    Mempraktikkan menjaga kesadaran atas emosi, pikiran dan pengalaman dapat membantu kita mengenali dan mengakui emosi-emosi ini tanpa dikendalikan olehnya.

    Seseorang yang merasa bersalah atau menyesal dari masa lalu mungkin sangat takut untuk bertindak, karena takut melakukan kesalahan. Belajar untuk memisahkan masa lalu dari masa kini dan menerima bahwa setiap orang membuat kesalahan adalah bagian penting dari bergerak menuju hati yang welas asih dan kebebasan untuk menjalani hari esok yang baru.

    Demikian juga kemarahan, berakar dimasa lalu. Seseorang mungkin telah mengalami kekecewaan pada orang lain atau merasakan ketidakadilan hidup yang akut, tetapi amarah tidak membawa dampak positif bagi tubuh atau jiwa. Alih-alih membiarkan kemarahan menggerogoti hati, perasaan itu bisa diubah menjadi kendaraan untuk perubahan.

    Frustrasi sering kali datang dari perasaan bahwa seseorang tidak mampu mencapai sesuatu yang seharusnya bisa mereka lakukan. Penghakiman ini keras dan tidak adil. Setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Belajar menerima bahwa beberapa hal akan menjadi tantangan dan mengembangkan kesabaran untuk mengatasi kesulitan adalah alat yang berharga di jalan menuju belas kasih terhadap diri sendiri.

    Kesedihan, yang disebabkan oleh kehilangan besar atau keputusasaan, dapat melumpuhkan. Belajar mengamati perasaan ini tanpa terpuruk didalamnya adalah langkah penting untuk melepaskan diri anda darinya. Meskipun kita tidak dapat mengontrol emosi, kita dapat mengontrol bagaimana kita bereaksi terhadapnya. Dengan menerima dan melepaskan, kita dapat melangkah maju.

    Menjinakkan Kritik Batin

    Salah satu atau semua emosi ini dapat menyebabkan seseorang menjadi terlalu kritis terhadap diri sendiri. Kritikan yang keras jarang memberikan efek yang baik dan seringkali mendukung sikap negatif yang ada. Menempatkan kritik batin anda ditempatnya sangat penting untuk belas kasih terhadap diri sendiri.

     “Orang-orang berkembang dengan penguatan positif. Mereka hanya dapat menerima sejumlah kritik tertentu dan anda mungkin kehilangan mereka sama sekali jika anda mengkritik pribadi mereka. Anda dapat menyampaikan maksud tanpa menyentuh pribadi. Jangan menghina atau meremehkan orang-orang anda, karena alih-alih mendapatkan lebih banyak dari mereka, anda akan mendapatkan lebih sedikit”—(Bill Walsh, pelatih sepak bola)

    Ingatlah bahwa tidak ada dari kita yang sempurna. Faktanya, setiap orang memiliki beberapa kekurangan utama. Jika kita semua hanya melihat kekurangan satu sama lain, kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Lepaskan gagasan bahwa “tidak sempurna itu tidak cukup baik”. Keyakinan tradisional menyatakan bahwa kita datang ke dunia manusia untuk berkultivasi ke atas ditengah delusi. Jika kita sudah sempurna kita tidak akan termasuk dalam alam manusia.

    Kita semua memiliki suara batin yang terus-menerus mengoceh. Suara itu bisa mendukung atau mengecilkan hati, baik atau kejam, membuat semua perbedaan di dunia.

    Dengan menumbuhkan rasa penerimaan diri, kita dapat mengakhiri pelecehan verbal dan psikologis kita sendiri yang mencegah kita berkembang. Jika tidak, persepsi negatif kita bisa menjadi ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya.

    Membersihkan jalan untuk belas kasih terhadap diri sendiri

    Dengan mengubah cara anda memproses emosi, anda dapat mengalaminya tanpa dikendalikan olehnya. Ada sejumlah pendekatan yang dapat anda gunakan untuk mengubah cara berpikir anda.

    Jadilah teman terbaik anda sendiri

    Jika anda ditakdirkan untuk menghabiskan seluruh hidup anda bersama satu orang, tidakkah anda akan mencoba untuk tetap berhubungan baik? Perlakukan diri anda sebagai seseorang yang bergantung pada dukungan dan persahabatan anda, dengan pengertian dan kesabaran.

    Tulislah surat yang penuh dengan kebaikan untuk diri anda sendiri. Pegang tangan anda sendiri untuk mendapatkan dukungan, atau peluk diri sendiri jika anda membutuhkannya.

    Katakan pada diri sendiri: “Itu wajar dan baik untuk bersikap baik pada diri sendiri. Saya layak dan pantas mendapatkan kasih sayang dan empati”.

    Maafkan dirimu

    Tidak perlu menghukum diri sendiri atas kesalahan anda. Bersabarlah dan pemaaf seperti anda terhadap seorang anak, karena kita semua terus-menerus dalam proses belajar.

    Ingatlah bahwa tidak ada orang yang sempurna, dan bahwa membuat kesalahan adalah bagian alami dan dapat diterima dari kehidupan, yang dengan melaluinya kita belajar dan tumbuh.

    Kenali apa yang bisa anda lakukan dengan lebih baik dan bersiaplah untuk menerapkannya dilain waktu. Kemudian lanjutkan. Beri diri anda kebebasan untuk merasakan kegembiraan lagi.

    Katakan pada diri sendiri: “Saya memaafkan diri sendiri karena saya manusia dan tidak ada yang sempurna. Saya melepaskan penyesalan dan menerima tantangan di depan tanpa takut gagal”.

    Pertahankan mindset yang berkembang

    Hadapi kesulitan sebagai tantangan, bukan hambatan yang membuat frustrasi. Dengan menerima tantangan, kita dapat menemukan peluang dan makna didalamnya daripada menyerah dan merasa kalah.

    Jangan membandingkan dan mengkritik diri sendiri dengan orang lain yang mungkin menangani tugas dengan lebih mudah. Alih-alih, lihatlah mereka untuk mendapatkan inspirasi dan lihat bagaimana anda dapat mengembangkan kekuatan seperti milik mereka untuk diri anda sendiri.

    Katakan pada diri sendiri: “Setiap kesalahan adalah kesempatan untuk tumbuh dan belajar. Saya tidak akan membiarkan mereka mengecilkan hati saya”.

    Latih menjaga kesadaran atas emosi, pikiran dan pengalaman

    Menjaga kesadaran atas emosi, pikiran dan pengalaman adalah keadaan aktif yang mengharuskan anda hidup pada saat ini dan memperhatikan, alih-alih menghindari, reaksi emosional anda terhadap apa yang terjadi.

    Akui emosi-emosi itu tanpa terlalu terlibat. Begitu kita dapat mengenali emosi kita dan menerima bahwa emosi itu mungkin mengungkapkan perasaan kita, tetapi tidak mendefinisikan siapa diri kita, kita dapat mengambil langkah-langkah untuk keluar dari kendali mereka.

    Sebagai tanggapan atas pengakuan penuh kesadaran atas perasaan anda, bersikaplah lembut dan baik pada diri sendiri, daripada menyangkal atau menghakimi emosi anda.

    Biarkan emosi anda keluar dengan cara yang sehat, seperti menangis, berbicara dengan teman, atau menulis surat ekspresif kepada diri sendiri atau seseorang yang ingin anda ajak berkomunikasi, meskipun anda tidak pernah mengirimkannya. Menempatkan perasaan anda diatas kertas dapat memiliki efek pelepasan yang luar biasa.

    Cobalah berwawasan luas untuk membayangkan perasaan orang lain, terutama dalam konflik. Ini dapat sangat mengurangi intensitas emosi anda sendiri.

    Ambil bagian dalam kemanusiaan yang sama
    Ingatlah bahwa kita adalah individu dalam komunitas yang luas. Hidup kita tidak terpisah atau terisolasi dari orang lain. Perasaan kesepian, kesedihan, kepahitan, dan keputusasaan bersifat universal.

    Ketika kita menyadari bahwa kita tidak sendirian dalam perasaan ini, perasaan itu menjadi bahan pengikat dan bukan alasan untuk menarik diri dari masyarakat untuk merenungkannya.

    Menjangkau orang lain untuk membicarakan perasaan kita membangun rasa keterhubungan, membantu kita melihat sesuatu dari perspektif lain yang lebih besar, dan mendorong terbangunnya jaringan pendukung yang berharga.

    Katakan pada diri sendiri: “Saya bukan orang pertama atau terakhir yang merasa seperti ini. Banyak orang lain pernah merasakan hal ini sebelumnya. Sulit untuk menanggung sendiri tetapi sharing dapat membuatnya lebih mudah”.

    Pertahankan perspektif yang tepat

    Anda tidak perlu penilaian dari luar. Jangan biarkan harga diri anda bergantung pada bagaimana orang lain memandang anda, atau lebih buruk lagi, bagaimana anda berpikir orang lain memandang anda.

    Tekanan sosial untuk melihat atau berperilaku dengan cara tertentu dapat menyebabkan citra diri yang negatif, kemarahan, dan frustrasi. Latih kemandirian untuk memisahkan diri anda dari harapan dan jebakan orang lain tersebut.

    Katakan pada diri sendiri: “Saya menerima siapa saya, dengan segala kesalahan dan kelemahan saya. Saya tidak terikat oleh penilaian orang lain”.

    Tumbuhkan Sikap Bersyukur

    Daripada merasa putus asa tentang apa yang tidak benar dalam hidup anda, anda dapat menghitung hal-hal baik, atau “menghitung berkat anda”, seperti kata pepatah.

    Pergeseran fokus ini dapat membantu seseorang memandang dunia sebagai teman, bukan musuh, dan memungkinkan keindahan dan kedamaian memasuki kehidupan kita.

    Rasa syukur dapat diungkapkan dalam jurnal harian, dirasakan dalam hati saat berjalan-jalan di alam, ditulis dalam kartu atau surat kepada teman, atau diam-diam diamati dalam pikiran.

    Catat momen-momen positif yang terjadi sepanjang hari, lalu ingat dan bagikan untuk membuatnya tetap hidup.

    Katakan pada diri sendiri: Saya bersyukur atas semua kekuatan saya dan untuk setiap kesempatan yang diberikan kehidupan kepada saya untuk tumbuh dan berkembang.

    Belas kasih pada diri sendiri adalah perjalanan yang mungkin membawa anda melalui beberapa emosi yang gelap dan tidak nyaman. Kunci untuk bergerak maju adalah menjadi sadar dan rasional tentang perasaan anda tanpa terbenam padanya.

    Perlakukan diri anda sebagai teman, dan pelihara kebaikan dengan menerima bahwa anda tidak sempurna dan melepaskan penyesalan yang dalam.

    Dengan mengenali nilai anda sendiri di tengah kesulitan, anda akan segera melihat bahwa kita semua menghadapi perjuangan yang sama, dan empati secara alami akan muncul.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini

    VIDEO REKOMENDASI

  • Shen Yun “Mencerminkan Nilai-Nilai Masyarakat,” Kata Seorang Profesor

    Shen Yun “Mencerminkan Nilai-Nilai Masyarakat,” Kata Seorang Profesor

    DENVER, Kol.—Tuan dan Nyonya Hess sangat menghargai budaya kuno. Semangat ini menarik mereka untuk menghadiri pertunjukan siang Shen Yun Performing Arts hari Minggu.

    Jean Hess adalah seorang kepala suku di Saint Andrews Society of Colorado, sebuah masyarakat Skotlandia, dan seorang konselor kesehatan mental. Suaminya Richard Hess adalah profesor Perjanjian Lama dan Bahasa Semit di Denver Seminary. Mereka berasal dari Glasgow, Skotlandia.

    Nyonya Hess menggambarkan pertunjukan Shen Yun sebagai “elok, luar biasa, indah” dan bahkan “mendebarkan”.

    Shen Yun adalah fenomena tarian Tiongkok klasik yang telah menyapu dunia sejak tur dunia tahunannya dimulai pada tahun 2006. Berbasis di New York, misi mereka adalah untuk mempersembahkan kepada dunia “Tiongkok Sebelum Era Komunisme.”

    Nyonya Hess adalah seorang ahli dalam tarian Skotlandia. Dia terkesan dengan “kesenian dan penggambaran keanggunan” tarian Tiongkok klasik.

    “Setiap [gerakan] kecil dan elastisitas tubuh mereka—ya ampun,” katanya. “Benar-benar luar biasa. Senang sekali kami bisa datang.”

    “Saya percaya bahwa seni adalah penciptaan nilai, dan saya pikir ini mencerminkan nilai-nilai masyarakat,” kata Tuan Hess.

    Budaya Tiongkok memiliki sejarah 5.000 tahun yang berkelanjutan, mencakup lusinan dinasti, masing-masing memiliki gaya berpakaian serta kebiasaan uniknya sendiri.

    “Senang sekali bisa melihat hal itu terungkap dalam banyak hal,” kata Tuan Hess. “Dan dalam banyak hal, kami beresonansi dengan banyak nilai yang diwakili dalam tarian dan musik, dalam lagu, jadi kami merasa sangat diberkati untuk melihat dan mendengarnya.”

    Ketika Tuan Hess mengajar di Hong Kong, dia memiliki kesempatan untuk belajar tentang latihan spiritual Tiongkok kuno Falun Dafa—yang mempromosikan nilai-nilai universal Sejati, Baik, dan Sabar—serta penganiayaan Partai Komunis Tiongkok terhadapnya di Tiongkok daratan. Banyak pemain Shen Yun berlatih Falun Dafa, dan menceritakan kisah mereka mengatasi ketidakadilan yang mereka alami, selama pertunjukan.

    “Saya menghargainya karena menyoroti kenyataan pelecehan dan penganiayaan PKT dengan cara yang sangat indah dan efektif,” kata Nyonya Hess. “Tentu saja, banyak orang tidak tahu bahwa itu adalah situasi nyata. Saya tidak berpikir itu cukup sering ada di berita.”

    Sebagai peneliti sejarah Kristen, Tuan Hess menambahkan bahwa misi Shen Yun untuk menegakkan nilai-nilai tradisional sangat berharga.

    “Saya piker, sangat penting untuk [melestarikan budaya], karena [jika] kita kehilangan nilai-nilai, kita kehilangan pemahaman tentang nilai pribadi manusia. Dan ketika itu hilang, maka itu hanya masalah kekuasaan dan keserakahan serta disintegrasi masyarakat, sedihnya.”

    (Mary Mann, The Epoch Times)

    Saksikan Shen Yun Performing Arts Intro:

    Lebih banyak informasi tentang Shen Yun silahkan kunjungi: shenyun.com

    Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Salju Turun di Bulan Juni: Ketidakadilan Atas Dou E

    Salju Turun di Bulan Juni: Ketidakadilan Atas Dou E

    Dou E Yuan, umumnya diterjemahkan sebagai Ketidakadilan Atas Dou E, adalah karya besar Guan Hanqing, seorang penulis pada masa Dinasti Yuan (1271-1368). Judul lengkap dari drama Tiongkok itu adalah Gan Tiang Dong Di Dou E Yuan, yang diterjemahkan menjadi Ketidakadilan Atas Dou E yang Menyentuh Langit dan Bumi.

    Kisah ini adalah tentang Dou E, seorang wanita muda dari Chuzhou, yang secara salah dihukum mati oleh pejabat pengadilan yang korup. Dou E Yuan adalah drama tradisional Tiongkok yang dipentaskan di sekitar 86 opera Tiongkok.

    Ada versi yang mengatakan bahwa ini adalah kisah nyata yang terjadi pada masa Dinasti Han. Saat ini, ungkapan “turun salju di bulan Juni” masih banyak digunakan di kalangan penutur bahasa tradisional Tiongkok sebagai metafora untuk keadilan yang gagal ditegakkan.

    Ada banyak versi mengenai kisah Dou E ini, berikut adalah salah satunya:

    Dou E kehilangan Ibunya ketika dia masih kecil. Ayahnya, Dou Tianzhang, adalah seorang sarjana yang miskin. Agar mendapatkan uang untuk perjalanannya ke ibukota dan mengikuti ujian kekaisaran, dia terpaksa meminjam 5 keping emas dari seorang janda, Cai Po.

    Setelah satu tahun, hutang 5 keping emas meningkat menjadi 10 keping. Dou Tianzhang tidak dapat membayar hutangnya dan dipaksa untuk menjual putrinya ke keluarga Cai sebagai pengantin anak. Setelah Dou E tumbuh dewasa, dia dinikahkan dengan putra keluarga Cai. Suami Dou E meninggal dua tahun setelah pernikahan mereka, meninggalkan Dou E dan Ibu mertuanya hanya berdua. Sejak itu, Dou E sang janda merawat Ibu mertuanya. Dia terkenal di Chuzhou karena kebaikan hatinya.

    Suatu hari, Dou E dan Ibu mertuanya diintimidasi oleh seorang dokter yang tidak bermoral dan secara kebetulan diselamatkan oleh Zhang Luer dan Ayahnya. Zhang menawarkan untuk “melindungi” mereka dan pindah ke rumah mereka di luar kehendak mereka. Zhang kemudian mencoba memaksa Dou E untuk menikah dengannya, namun Dou E menolak.

    Suatu hari, Cai Po jatuh sakit dan Dou E menyiapkan sup untuk Ibu mertuanya. Zhang Luer berencana membunuh Cai Po dengan memasukkan racun ke dalam sup tersebut, sehingga ketika Ibu mertuanya itu meninggal, dia bisa memaksa Dou E untuk menikahi dengannya. Namun, Cai Po muntah dan tidak jadi meminum sup beracun tersebut. Justru Ayah Zhang tanpa sengaja meminum sup itu dan akhirnya mati keracunan. Zhang kemudian menjebak Dou E atas tuduhan membunuh Ayahnya.

    Dou E ditangkap dan dibawa ke hadapan pejabat setempat, yang telah disuap oleh Zhang. Dia menerima siksaan kejam dalam upaya untuk memaksanya agar mengakui kejahatan. Dikisahkan bahwa pejabat itu juga kemudian menyiksa Ibu mertua Dou E. Dou E yang baik hati tidak ingin Ibu mertuanya terlibat, jadi dia membuat pengakuan atas pembunuhan itu dan dijatuhi hukuman mati dengan cara dipenggal.

    Pada bulan keenam penanggalan Imlek (pertengahan musim panas), Dou E dibawa ke tempat eksekusi.

    Ketika akan dieksekusi secara tidak adil, dia melihat ke atas dan bersumpah bahwa dia akan terbukti tidak bersalah, dia berkata:

    “Tolong beri saya sepotong sutra putih. Jika saya telah salah dihukum, tidak setetespun darah saya akan jatuh ke tanah namun hanya ke sepotong sutra putih itu.” Dan Dou E kemudian meminta agar kain itu digantung di atas tiang.

    Dou E berkata lagi: “Jika saya telah salah dihukum, akan ada salju di bulan keenam menutupi seluruh tubuh saya yang sudah mati.”

    “Jika saya telah salah dihukum, kota Chuzhou ini akan menderita kekeringan selama 3 tahun.”

    Pejabat itu menggelengkan kepalanya sambil berkata: “Betapa bodohnya! Betapa omong kosongnya! Bagaimana bisa ada salju di pertengahan Juni? Dan darah akan selalu mengalir ke bawah, bukan ke atas.”

    Pejabat itu lalu memerintahkan untuk menyerahkan sehelai sutra putih.

    Ketika Dou E dieksekusi, peristiwa pertama terjadi: Darahnya hanya tumpah ke selembar sutra putih, dan tidak setetes pun yang jatuh ke tanah.

    Sumpah keduanya menjadi kenyataan: Di tengah musim panas, tiba-tiba salju turun.

    Dan dalam 3 tahun ke depan, Chuzhou mengalami kekeringan yang serius.

    Alam semesta telah mendengar sumpah Dou E, alam semesta telah melihat ketidakadilan yang terjadi atas Dou E.

    Bertahun-tahun kemudian, ketika Ayah Dou E, Dou Tianzhang menjadi pejabat senior Anhui, dia kembali ke wilayah asalnya untuk menyelidiki kembali kasus tersebut.

    Setelah melakukan penyelidikan Dou E dinyatakan tidak bersalah. Zhang Luer dihukum mati dan pejabat yang terlibat waktu itu diberhentikan dari jabatannya.

    Seorang pejabat berkata: “Kami tidak melakukan apa-apa. Mengapa kami harus menderita selama 3 tahun?”

    Ayah Dou E dengan tenang menjawab: “Kalian semua tahu dia tidak bersalah tetapi menolak untuk mengatakan yang sebenarnya. Itu adalah tindakan yang salah!”

    “Lebih buruk lagi, beberapa memihak pejabat korup tersebut dan ikut menghinanya, sungguh tidak manusiawi”.

    “Alam semesta telah mendengar sumpahnya. Orang yang tidak benar dan tidak manusiawi telah menerima hukuman yang pantas mereka terima!”

    Selama ratusan tahun, orang-orang Tionghoa masih ingat cerita Dou E. Mereka mengagumi kisah tradisional, yang mengungkapkan konsep moral yang penting antara perbedaan dan konsekuensi dari perbuatan baik dan jahat, fitnahan, serta sumpah. (berbagai sumber literatur/an)

    Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.