Tag: khamenei

  • Menlu China: ‘Penggunaan Kekuatan Tanpa Pandang Bulu’ Tak Dapat Diterima

    Menlu China: ‘Penggunaan Kekuatan Tanpa Pandang Bulu’ Tak Dapat Diterima

    Saat operasi Epic Fury memasuki hari kelima, Beijing mulai memberi tanggapan. Hari Rabu Menlu China Wang Yi menelepon rekan-rekannya di Arab Saudi dan Uni Emirat Arat, menyerukan penghentian segera serangan dan mengatakan bahwa penggunaan kekuatan tanpa pandang bulu tidak dapat diterima.

    Ia memperingatkan garis merah untuk melindungi warga sipil tidak boleh dilanggar, serta menyerukan perlindungan jalur pelayaran vital.

    Namun, para kritikus menunjukkan adanya standar ganda. Sepanjang invasi Rusia ke Ukraina selama empat tahun, Beijing tidak pernah mengeluarkan kecaman serupa terhadap Moskow. Mengenai garis merah, para pejabat AS, termasuk Presiden Trump, Menlu dan Menteri Perang telah berulang kali menekankan bahwa situs-situs sipil tidak menjadi sasaran dalam operasi.

    Sementara itu, Wang mengkonfirmasi bahwa China akan mengirim utusan khusus ke Timur Tengah untuk upaya mediasi.

  • Sekutu AS di Asia Khawatir Sumber Daya AS Teralihkan ke Perang Iran

    Sekutu AS di Asia Khawatir Sumber Daya AS Teralihkan ke Perang Iran

    AS berada di posisi sulit antara Timur Tengah dan China ketika Israel melancarkan serangan baru ke Iran. Sekutu AS di Asia menyatakan kekhawatirannya, tentang apakah perang di Iran akan mengalihkan sumber daya AS yang dibutuhkan untuk menghadapi China. Seorang anggota parlemen di Taiwan mendesak Washington untuk mengalihkan fokusnya kembali ke kawasan Asia-Pasifik.

    [Chen Kuan-Ting, Anggota Parlemen DPP Taiwan]:

    “Kami harap operasi di Iran akan berlangsung cepat dan terbatas, dan sumber daya militer AS dapat segera dialihkan kembali ke Asia.”

    Chen menyatakan kekuatirannya bahwa rezim China dapat meningkatkan pelecehan pada Taiwan saat AS berfokus ke Timur Tengah. Kekhawatiran serupa muncul di kalangan anggota parlemen Jepang, yang bertemu hari Senin untuk membahas serangan AS-Israel pada Iran. Seorang politisi memberitahu Reuters bahwa kekuatiran muncul tentang bagaimana pertahanan Asia Timur jika Washington mengalihkan aset militer yang ditempatkan disana ke Timur Tengah. Ia juga berkata Tokyo telah meminta jaminan dari Washington tentang hal ini.

    Saat ini sekitar 40% kapal perang AS yang siap beroperasi ditempatkan di Timur Tengah. Kapal induk yang ditempatkan di Asia sedang menjalani perawatan. Brian Clark seorang mantan pejabat pertahanan AS berkata Angkatan Laut AS kekurangan sumber daya dan jika perang di Timur Tengah berlarut-larut, AS dapat mengurangi sumber dayanya di Asia untuk memperkuat operasi melawan Iran.

    Sementara perang di Iran juga menguras amunisi AS. Beberapa ahli berkata serangan AS ke Iran dapat membendung China dengan melemahkan dua sekutu Beijing: Iran dan Venezuela. Namun yang lain berpendapat semakin lama perang di Iran berlangsung, semakin banyak keuntungan yang diperoleh Beijing.

    Dan di Taiwan, seorang diplomat AS berpangkat tinggi mengunjungi pulau itu hari Senin dan Selasa. Casey Mace mewakili AS sebagai pejabat senior AS untuk pertemuan APEC, yang akan diadakan akhir tahun ini di China. Beijing telah menolak mengizinkan Taiwan berpartisipasi sebagai negara berdaulat, dan selalu memblokir atau membatasi partisipasinya di banyak konferensi internasional lainnya.

  • Ahli: PKC Tidak Akan Bantu Iran, Sekutu Terbesarnya di Timur Tengah

    Ahli: PKC Tidak Akan Bantu Iran, Sekutu Terbesarnya di Timur Tengah

    Serangan AS-Israel ke Iran telah melenyapkan hampir semua pemimpin senior di rezim tersebut. Namun sekutu terdekat Iran, China dan Rusia, belum menawarkan dukungan apapun selain gestur diplomatik. Analis urusan China Tang Jingyuan memberikan ulasannya tentang langkah Beijing selanjutnya serta apa arti serangan tersebut pada agenda Partai Komunis China.

    China, Iran, Rusia dan Korea Utara secara luas dipandang di Barat sebagai poros kejahatan baru. Aliansi ini telah lama berupaya menggulingkan tatanan dunia yang dipimpin AS. Pemimpin rezim China Xi Jinping berulang kali menekankan agenda globalnya sejak 2021, menyatakan timur sedang bangkit dan barat sedang melemah, dan bahwa Iran adalah sekutu terbesar China di Timur Tengah.

    Analis urusan China Tang Jingyuan berkata serangan ke Iran bisa menghancurkan rencana Beijing mencapai dominasi global.

    [Tang Jingyuan, Analis Urusan China]:

    “Iran adalah pijakan utama Beijing di Timur Tengah dan pengaruh utamanya pada AS. Perubahan rezim di Iran, terutama ke pemerintahan pro-AS, adalah pukulan besar bagi PKC, membatalkan investasi regional bertahun-tahun. Serangan AS dan Israel yang mengancam rezim Iran dapat menandai awal fragmentasi poros ini.”

    Beralih ke energi, China sangat bergantung pada impor minyak. China adalah pembeli minyak terbesar dari Venezuela, Rusia, dan Iran, yang semuanya menghadapi sanksi Barat yang serius. Data resmi menunjukkan 80% ekspor minyak Iran menuju China. Serangan pada Iran telah mempertaruhkan keamanan energi China, setelah pengambil-alihan minyak Venezuela oleh AS. Tang berkata pengetatan kontrol atas pasokan energi China dapat mengurangi kemampuan Beijing memperluas agresi globalnya.

    [Tang Jingyuan, Analis Urusan China]:

    “PKC tidak swasembada energi dan telah lama mengejar strategi diversifikasi demi menghindari ketergantungan pada satu pemasok tunggal. Pendekatan pemerintahan Trump bertujuan secara sistematis membatasi saluran impor energi China. Jika jalur dipersempit ke satu atau dua sumber, keamanan pasokan Beijing akan sangat melemah. Tanpa akses energi yang stabil, kapasitas PKC untuk ekspansi eksternal akan sangat dibatasi.”

    Tetapi akankah Beijing memberikan dukungan militer ke Iran? Tang berkata dia percaya peluangnya sangat kecil, karena China tidak ingin meningkatkan ketegangan dengan AS menjelang kunjungan Presiden Trump ke China bulan depan. Ditambah lagi sekarang sedang terjadi pembersihan militer skala besar dan terjadinya peningkatan pertikaian politik internal PKC.

    [Tang Jingyuan, Analis Urusan China]:

    “Xi Jinping menghadapi tekanan domestik dan internasional yang telah melemahkan posisinya. Undangannya ke Trump untuk mengunjungi China menunjukkan ia berharap menggunakan kunjungan itu demi memperkuat kedudukannya. Jika ia membantu Iran, ini berisiko menyebabkan keretakan langsung dengan Trump, bahkan berpotensi Trump membatalkan perjalanan tersebut. Di saat yang sama, PKC paham bahwa serangan terbaru AS-Israel ke Iran mencerminkan tekad yang kuat. Jika Trump bertindak, kemungkinan besar ia bertekad mengamankan hasil yang menentukan. Dukungan militer China yang terbatas ke Iran sepertinya tidak akan mengubah situasi, bahkan menjadi bumerang bagi Beijing.”

    Tang berkata PKC pasti akan memprioritaskan kelangsungan hidupnya sendiri daripada sekutunya di saat-saat kritis. Hanya beberapa minggu yang lalu, Beijing juga menahan dukungan bagi teman dekatnya diktator Venezuela Nicolas Maduro saat ia ditangkap oleh pasukan AS.

    Flora Hua, NTD News.