Tag: pembantaian tiananmen

  • Viral Rekaman Video Seorang Jenderal China Tolak Bunuh Warga Sipil

    Viral Rekaman Video Seorang Jenderal China Tolak Bunuh Warga Sipil

    Beredar cuplikan video dari persidangan rahasia seorang jenderal China 30 tahun lalu. Video yang viral dan ditonton jutaan kali segera menyebar ke luar China. Hal yang sangat langka bagi informasi semacam itu bisa tersebar luas.

    Klip tersebut mengungkap perpecahan dalam militer China sebelum dikerahkan untuk menembaki para pengunjuk rasa dalam pembantaian Tiananmen 1989. Tragedi berdarah itu merupakan salah satu topik paling disensor di China dan hingga kini masih banyak warga China yang tidak sepenuhnya paham situasi saat itu. Jenderal itu bernama Xu Qinxian.

    Xu menjadi dikenal karena menolak perintah rezim untuk memimpin pasukan ke Lapangan Tiananmen guna menumpas aksi mahasiswa yang menuntut demokrasi dengan senapan mesin dan amunisi. Saat itu, Xu memimpin salah satu pasukan paling elit yang ditempatkan dekat Beijing, Angkatan Darat ke-38. Baginya, itu merupakan keputusan hidup dan mati. Xu menjalani persidangan tanpa rasa takut, ia memaparkan keprihatinannya di hadapan para hakim.

    Xu Qinxian:

    “Para pengunjuk rasa itu diselimuti emosi tinggi, maka pasti akan terjadi konflik antara mereka dan pasukan kami. Saat itu terjadi, konflik berdarah tidak akan terhindarkan karena pasukan kita membawa senjata.”

    Xu khawatir penembakan itu berpotensi melukai warga sipil.

    [Xu Qinxian, Jenderal China yang diadili] :

    “Mereka yang jahat dan yang baik semua ada disana. Tentara militer dan warga sipil tidak dapat dibedakan. Bagaimana saya bisa melakukan misi ini? Siapa yang harus saya tembak?”

    Ia menyebut keputusan krusial butuh diskusi di kalangan pejabat tinggi. Xu juga mempertanyakan mengapa perintah itu bersifat lisan tanpa dokumentasi tertulis.

    [Xu Qinxian, Jenderal China yang diadili] :

    “Saat itu, saya berkata ke atasan, mereka bisa mengangkat atau memberhentikan saya. Jika saya melakukannya dengan baik, saya adalah pahlawan, jika saya tidak melakukannya dengan baik, saya akan menjadi penjahat seumur hidup.’”

    Pernyataannya itu sontak mengejutkan semua yang hadir. Salah seorang hakim membacakan kesaksian:

    Hakim :”

    Setelah pernyataan Xu, seketika itu ruangan hening dalam waktu yang cukup lama, kedua atasan itu terpaku.”

    Segera setelah rezim mengganti posisi Xu dengan komandan lain, Angkatan Darat ke-38 bergerak masuk ke Beijing dan melepaskan tembakan ke arah mahasiswa dan warga sipil, menjadikannya batalion paling mematikan yang merenggut banyak jiwa pada 4 Juni. Ribuan diperkirakan tewas dalam pembantaian Tiananmen. Jumlah korban jiwa sesungguhnya tidak diketahui.

    Sementara Xu mendekam dalam tahanan selama 5 tahun dan menghabiskan sisa hidupnya sebagai tahanan rumah. Ia meninggal pada 2021 di usia ke-85. Sebelum meninggal, Xu berkata tidak menyesali keputusannya. Ia lebih memilih kepalanya dipenggal daripada tercatat sebagai penjahat dalam sejarah.

  • Pengkhianatan Pembangkang China: Aktivis Pro-Demokrasi Jadi Mata-mata Beijing

    Pengkhianatan Pembangkang China: Aktivis Pro-Demokrasi Jadi Mata-mata Beijing

    Seorang anggota lama komunitas pembangkang China di New York mengaku telah memata-matai sesama aktivis untuk Beijing. Yuanjun Tang mengaku bersalah pada hari Selasa karena bekerja sama dengan dinas intelijen China, sambil secara terbuka menampilkan dirinya sebagai kritikus Partai Komunis.

    Tang adalah peserta tetap dalam protes di luar konsulat Tiongkok di Manhattan, bahkan mendirikan kelompok pro-demokrasi di Queens, tetapi jaksa federal mengatakan di balik layar, ia mengumpulkan informasi tentang aktivis Tionghoa-Amerika, bahkan memotret para demonstran.

    Pihak berwenang yakin Tang bekerja sama dengan pejabat Tiongkok dengan harapan diizinkan mengunjungi keluarganya di kampung halaman.

    FBI menyebut tindakannya sebagai pengkhianatan terhadap nilai-nilai Amerika dan cita-cita yang pernah diklaim Tang untuk diperjuangkan. Sebelumnya Tang pernah dipenjara 12 tahun di China atas perannya di demonstrasi Tiananmen, sebelum melarikan diri ke Taiwan, kemudian ke AS.

  • Slogan Protes Anti-Komunis Muncul di China: Rakyat Bangkit Melawan Rezim

    Slogan Protes Anti-Komunis Muncul di China: Rakyat Bangkit Melawan Rezim

    Slogan-slogan yang mendesak rakyat China untuk bangkit melawan rezim komunis dan menyerukan kebebasan bermunculan di kota-kota besar China. Ini terjadi walaupun negara menerapkan penyensoran dan pengawasan ketat.

    Banyak dari spanduk ini difoto dan disebarkan di berbagai platform media sosial.

    Seorang pengguna China di X mengatakan bahwa ia melihat tiga spanduk terpisah pada hari Rabu, dan dua di antaranya terlihat di Beijing. Salah satu spanduk tampaknya terinspirasi oleh gerakan-gerakan di Suriah, Bangladesh, dan Nepal.

    Slogan itu menunjukkan bahwa rakyat China selalu diam, berbunyi, “Kita perlu memberi tahu mereka bahwa semua manusia diciptakan sama.” Slogan juga menyinggung bahwa, “Kita harus membuktikan pada dunia bahwa mereka yang menghancurkan kita, mengeksploitasi kita, memperbudak kita, dan mengambil organ kita juga memiliki rasa takut.”

    Slogan lain berbunyi, “Tank tidak dapat menghancurkan kebenaran, kebebasan pada akhirnya akan mengalahkan otokrasi.”

    Slogan itu mengutip sejarah PKC dalam menggunakan tank untuk menghancurkan pengunjuk rasa selama pembantaian Tiananmen. Spanduk ketiga muncul di Shenyang, China Utara, menekankan bahwa Partai Komunis China tidak mewakilkan China.

    Komentator China dan host China Insider David Zhang berkata bahwa kebencian ini tidak muncul tiba-tiba dan telah tertumpuk dalam jangka waktu lama.

    [David Zhang, Host China Insider with David Zhang]:

    “Ada perasaan muak secara umum di antara banyak anak muda China, terutama mereka yang berhasil mendapatkan akses ke informasi, meskipun adanya firewall dan sensor yang meningkat di China. Dengan melakukannya, mereka benar-benar melihat adanya pemisahan antara kenyataan dari apa yang diberitakan oleh media pemerintah China dengan yang di dunia nyata di luar sana.”

    Dua slogan besar diproyeksikan di sebuah gedung di universitas di China selatan, hanya beberapa hari sebelum parade militer China. Slogan itu berbunyi, “Hanya tanpa Partai Komunis, akan ada China baru.” Serta, “Tiada lagi kebohongan, kami ingin kebenaran”. “Tiada lagi perbudakan, kami ingin kebebasan”.

    Ini bukan pertama kalinya protes seperti ini muncul di China.

    [David Zhang, Host China Insider with David Zhang]:

    “Di China, karena pengawasan digital dan besarnya sumber daya yang diinvestasikan untuk apa yang disebut stabilisasi kekuasaan, banyak protes terjadi dalam bentuk terdesentralisasi dan sangat terlokalisasi, seperti bagaimana Anda bisa menulis di dinding. Walaupun ini hanyalah gambar tunggal atau contoh tunggal, mereka sebenarnya diperkuat melalui berbagai saluran, oleh media sosial di luar China, dan di dalam China dalam tingkat tertentu, bahkan di obrolan grup.”

    Baru lewat seminggu sejak rezim China memamerkan kekuatan militernya di jalan-jalan Beijing. Narasi tentang komunis China yang kuat muncul di seluruh negeri, tetapi slogan-slogan tanpa sensor ini mengungkapkan perasaan dari banyak rakyat China.