Tag: sepanjang masa

  • PODCAST Serigala di Kandang Ayam

    PODCAST Serigala di Kandang Ayam

    Seekor serigala menemukan sebuah kandang ayam, dan dia ingin memakan ayam tersebut.

    PODCAST

    Tapi perutnya terlalu besar, sehingga  dia tidak bisa melewati pagar menuju kandang ayam tersebut.

    Jadi dia memutuskan tidak makan selama 3 hari agar menjadi kurus dan bisa melewati pagar.

    Setelah 3 hari kemudian, barulah dia bisa masuk ke kandang ayam tersebut dan memakan ayam yang ada di sana.

    Setelah memakan ayam, perutnya menjadi buncit, dan dia tidak bisa keluar melewati pagar.

    Akibatnya, dia kembali harus tidak makan apapun selama 3 hari agar badannya kembali menjadi kurus.

    Setelah 3 hari barulah dia bisa keluar kandang melewati pagar yang sama.

    Setelah keluar, dia menyesal, dia berpikir bahwa apa yang dia lakukan adalah tidak berguna, kecuali hanya memuaskan nafsu keinginannya.

    Bukankah kehidupan manusia itu juga sama?

    Ketika dilahirkan, manusia tidak membawa apa-apa, dan saat meninggal, juga tidak membawa benda materi apapun.

    Ketika meninggal, kita tidak bisa membawa segala kekayaan dan ketenaran yang kita peroleh semasa hidup.

    Kita menghabiskan hidup untuk mengejar uang, namun uang tidak bisa membeli kehidupan.

    Kita merelakan kebahagiaan untuk ditukar dengan uang, namun uang tidak bisa membeli kebahagiaan.

    Kita menggunakan waktu untuk memperoleh uang, namun uang tidak bisa membeli waktu.

    Jadi, ketika Anda harus bekerja, bekerjalah!

    Ketika harus beristirahat, beristirahatlah!

    Ketika harus bersenang-senang, bersenang-senanglah!

    Hari yang menyenangkan adalah bagian dari hidup.

    Hari yang tidak menyenangkan, juga adalah bagian dari hidup.

    Jadi, hargai semua yang ada dalam kehidupan ini, dan jalanilah hidup dengan bahagia, baik itu menyenangkan maupun tidak menyenangkan!

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

  • PODCAST Gadis Kecil dan Penjual Kue

    PODCAST Gadis Kecil dan Penjual Kue

    Seorang Ibu dan putrinya yang berusia 7 tahun melakukan perjalanan dengan kereta api. Tidak lama setelah mereka duduk, seorang pria penjual kue, bertubuh kurus dan berpenampilan kumal, mendekati mereka dan menawarkan dagangannya.

    PODCAST

    Dia berkata: “Ayo kuenya, Nyonya, dipilih saja! Enak-enak semua!”

    Sang putri lalu berkata:

    “Bu, saya ingin makan kue ini, boleh ya Bu, kita beli satu buah saja?”

    Namun sang Ibu, yang pernah mengalami kecopetan di dalam kereta api oleh pedagang asongan, merasa curiga pada si penjual kue. Ia menolak permintaan putrinya, dan berkata pada si penjual: 

    “Pergi saja sana Pak! Kami tidak mau beli kue!”

    Namun si penjual kue tidak marah. Dia malah tersenyum ke putri si Ibu, dan berkata,

    “Yah! Sayang sekali ya Nak! Mungkin lain kali ya!”

    Si gadis kecil tersenyum balik ke si penjual kue, dan membuat hati ibunya menjadi kesal. Ia segera menarik tangan putrinya itu dan berbisik,

    “Hush, jangan senyum-senyum ke dia Put! Sudah, ayo kita pergi.”

    Tak lama kemudian, kereta api tiba di stasiun. Ibu menggandeng tangan putrinya bergegas menuju ke pintu keluar. Turun dari kereta, mereka kembali bertemu dengan si penjual kue yang sama, berdiri di samping pintu sambil menjajakan kuenya.

    Gadis kecil itu kembali memohon pada Ibunya dan berkata:

    “Ibu, bapak itu kelihatannya pucat sekali Bu, boleh tidak kita kasih uang sedikit kepadanya?”

    Namun Ibunya menjawab:

    “Put, sudahlah, jangan mendekati Bapak itu lagi ya! Nanti kamu diculik lagi! Kelihatannya dia bukan orang baik tau!”

    Ibu pun memimpin maju dengan putrinya mengekor di belakangnya. Ketika hendak menyebrang jalan, sang Ibu menjadi gelisah, karena melihat si pria penjual kue menguntitnya. Ibu mengira pria itu berniat jahat. Ia segera memanggil taksi di dekat sana lalu buru-buru mendorong putrinya masuk ke dalam taksi, menyuruh supir taksi untuk segera jalan.

    Namun, si penjual kue berhasil tiba sesaat sebelum taksi itu jalan. Ia langsung mengetuk jendela taksi sambil menunjukkan sesuatu di tangannya.

    Sang Ibu terkejut melihat barang yang ada di tangan penjual kue tersebut. Ternyata itu adalah gelang emas milik putrinya. Ia pun langsung membuka pintu taksi.

    Si penjual kue menyodorkan gelang emas itu dan berkata,

    “Maaf Nyonya, ini… tadi tiba-tiba putri nyonya memberikan ini pada saya di depan pintu keluar kereta api. Saya tahu Nyonya pasti tidak tahu tindakan putri Anda, dan saya tahu saya tidak bisa menerima gelang emas yang berharga ini.”

    Ibu menerima gelang emas tersebut dengan terdiam. Saat sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba si penjual kue itu menyorongkan sebungkus plastik berisi kue.

    (Penjual kue): “Dan ini, Nyonya, tadi putri Anda ingin makan kue ini! Saya berikan satu ya, dia pasti kepingin makan! Saya sudah lama tidak melihat senyuman secerah senyuman putri Anda.”

    Ibu dengan terbata-bata mengucapkan terima kasih. Otaknya berpikir keras dengan cepat, sebelum akhirnya dia mengatakan:

    (Ibu): “Maafkan saya Pak, sudah berprasangka buruk pada Bapak! Saya juga sudah lama tidak merasakan hati sehangat hati Bapak. Ini, saya mohon, terimalah gelang emas putri saya ini sebagai tanda terima kasih atas pelajaran yang berharga ini!”

    Jangan biarkan pengalaman buruk Anda menghilangkan kepercayaan Anda pada kemanusiaan. Dan jangan biarkan pikiran negatif Anda menutupi kebaikan orang terhadap Anda.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

  • PODCAST Janji yang Terkenang Sepanjang Masa

    PODCAST Janji yang Terkenang Sepanjang Masa

    Sita adalah seorang gadis kecil yang baru saja lulus dari sekolah taman kanak-kanak.

    PODCAST

    Hari ini adalah hari perayaan kelulusan, jadi akan diadakan sebuah pertunjukan seni di sekolah.
    Sita mendapat peran, dia akan menjadi seorang peri kecil dalam sebuah drama seni.

    Pagi hari, di hari pertunjukan, Sita berkata kepada Ayahnya:
    “Ayah, saat pertunjukan nanti, Ayah hadir ya, untuk melihat aku berperan sebagai peri!”

    Ayahnya menjawab:
    “Ya Sita, Ayah pasti hadir, Ayah akan melihat penampilan kamu.”

    Kemudian setelah bersiap, mereka sekeluarga pergi ke sekolah.
    Ternyata drama dimana Sita berperan akan ditampilkan di bagian akhir acara.
    Jadi Ayah dan Ibu Sita duduk bersama para wali kelas, sambil menyaksikan pertunjukan satu persatu.

    Tiba-tiba, telepon sang Ayah berbunyi, ternyata itu adalah bosnya, bos berkata di telepon: “Kamu harus segera datang ke kantor, ada rapat mendadak, kita akan mulai rapat jam 1 siang ini!”

    Lalu telepon ditutup.

    Sang Ayah kebingungan, karena Sita akan tampil di akhir acara.
    Jika dia pergi sekarang, dia akan mengingkari janji kepada putrinya, jika dia menunggu hingga putrinya selesai tampil, dia akan terlambat menghadiri rapat.

    Dia kebingungan, namun akhirnya dia memutuskan, segera pergi untuk menghadiri rapat.
    Jadi dia berkata kepada istrinya, bahwa ada rapat mendadak, dan dia harus pergi sekarang juga.

    Tepat ketika sang Ayah meninggalkan gedung pertunjukan, Sita tampil.
    Di atas panggung, Sita melihat Ibunya duduk sendirian di barisan kursi penonton, dan dia tidak berhasil menemukan Ayahnya.

    Setelah acara selesai, Sita bertanya kepada Ibunya:
    “Ibu, Ayah dimana?”

    Ibunya menjawab:
    “Oh, Ayah ada keperluan mendadak yang sangat penting, jadi dia harus segera pergi.”

    (Sita): “Tapi, Ayah kan sudah janji akan melihat aku tampil, kenapa Ayah ingkar janji?”

    Sepuluh tahun yang akan datang, tidak akan ada yang ingat kalau sang Ayah terlambat menghadiri rapat, namun sepuluh tahun, dua puluh tahun, tiga puluh tahun, bahkan lebih lama lagi, ada seorang putri yang akan ingat, bahwa Ayahnya pernah ingkar janji padanya, di saat kelulusan sekolahnya dulu.

    Hargailah momen yang ada disaat ini, karena waktu untuk merayakan momen itu, tidak akan terulang untuk kedua kalinya.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu