Tag: simbol

  • Sejarah Teddy Bear

    Sejarah Teddy Bear

    Banyak orang yang dibesarkan dengan cinta dan perhatian memiliki setidaknya satu boneka beruang.

    Boneka beruang (Teddy bear) telah menjadi simbol cinta, nostalgia, dan kenyamanan global, menjadi pendamping bagi anak-anak kecil dan membentuk kenangan masa kecil mereka.

    Banyak orang dewasa yang masih tidur dengan boneka beruang kesayangan mereka sejak kecil, tetapi sedikit yang tahu bahwa boneka beruang pertama dibuat untuk menghormati Theodore Roosevelt.

    Siapakah Theodore Roosevelt?

    Theodore Roosevelt adalah Presiden ke-26 Amerika Serikat. Setelah William McKinley meninggal pada tahun 1901, Roosevelt mengambil alih sebagai seorang Republikan. Dia mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 1904 dan menang dengan 366 suara elektoral. Roosevelt kuliah di Universitas Harvard, di mana dia menghabiskan waktu libur sekolahnya dengan berolahraga dan melakukan perjalanan berburu.

    A 1902 political cartoon in The Washington Post spawned the teddy bear name.
    Kartun politik tahun 1902 di The Washington Post menjadi awal nama boneka beruang. (Gambar: dari Domain Publik)

    Belas kasihan Roosevelt untuk beruang

    Di Negera Bagian Sharkey selatan, Roosevelt mengunjungi perkebunan Tuan Mangrum, dan disana ia bertemu dengan Holt Collier, seorang pemburu beruang terkenal, yang membimbingnya untuk berburu.

    Roosevelt dan temannya, Huger Foote, mendengar anjing-anjing mengejar seekor beruang, dan ketika mereka kembali ke kemah untuk makan siang, beruang itu kembali lagi dan muncul dari pepohonan.

    Holt Collier menangkap beruang itu dan mengikatnya ke pohon, tetapi Roosevelt menolak untuk menembaknya dan memerintahkan mereka untuk melepaskannya.

    Clifford Berryman, seorang kartunis politik, mendengar cerita tersebut dan membuat kartun di surat kabar tentang tindakan belas kasihan presiden. Morris Michtom, pemilik toko permen di Brooklyn, melihat kartun itu dan membuat boneka binatang untuk menghormati presiden: boneka beruang.

    A teddy bear is thought to be made by Morris Michtom in the early 1900s; donated to the Smithsonian Museum of Natural History by Theodore Roosevelt's grandson, Kermit Roosevelt Jr., in 1964.
    Boneka beruang diperkirakan dibuat oleh Morris Michtom pada awal 1900-an; disumbangkan ke Museum Sejarah Alam Smithsonian oleh cucu Theodore Roosevelt, Kermit Roosevelt Jr., pada tahun 1964. (Gambar: dari Wikipedia)

    Boneka beruang: Simbol kemanusiaan

    Boneka beruang melambangkan sportivitas dan kemanusiaan Roosevelt yang baik. Saat ini, boneka beruang diberikan sebagai hadiah untuk mengingatkan orang akan cinta, kebebasan, dan kepolosan yang mereka alami saat masih anak-anak.

    Boneka beruang adalah salah satu hadiah paling baik dan terindah yang bisa anda berikan. Boneka ini membawa kegembiraan yang luar biasa pada wajah penerima dan mengingatkan kita akan nilai-nilai yang kita butuhkan dalam masyarakat. (nspirement)

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini

    Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

    VIDEO REKOMENDASI

  • Matematika Pada Anak: Bisa Menghitung Mengapa Sulit Memahami Soal Cerita?

    Matematika Pada Anak: Bisa Menghitung Mengapa Sulit Memahami Soal Cerita?

    Pada artikel sebelumnya telah dibicarakan tentang mental block yang menyebabkan sebagian anak memiliki ketakutan tersendiri saat berhadapan dengan matematika.

    Di sisi lain, bagi sekelompok anak lainnya, matematika dianggap sebagai mata pelajaran biasa layaknya menghadapi mata pelajaran lainnya. Mereka tidak merasakan adanya perbedaan yang berarti. Namun demikian, meski matematika tidak menjadi “momok” bagi kelompok anak ini, menghadapi soal cerita dalam matematika merupakan hal yang berbeda.

    Soal cerita dalam matematika bisa menjadi hal yang cukup rumit bagi siswa-siswi sekolah, meski mereka tidak memiliki mental block terhadap matematika. Mengapa? Karena, dalam soal cerita mereka harus dapat membaca cerita yang disampaikan, kemudian memahami isi cerita tersebut, lantas harus mencari tahu operasi matematika mana yang tepat digunakan, dan terakhir perlu melakukan perhitungan dengan benar. Hanya salah satu saja dari rangkaian proses itu tidak dipahami atau tidak dilakukan dengan benar, akan dapat menyebabkan permasalahan untuk mendapatkan jawaban yang benar,

    Jika dilihat dari sisi neurosains, menurut Irene Phiter dalam Brainfit Talks, soal cerita lebih susah dipahami karena melibatkan banyak brain region. Karena bagian otak yang mengurus jumlah atau quantity tidak terletak pada bagian yang sama dengan bagian otak yang mengenali simbol.

    Bagian otak yang mengenali simbol berada di bagian visual, sementara bagian otak yang mengenali jumlah atau quantity terletak pada penyeberangan antara visual dan parietal lobe. Parietal lobe sendiri merupakan bagian otak yang mengurus gerakan atau motorik.

    Lebih lanjut Irene menyampaikan, “Sedangkan soal cerita dalam matematika memerlukan kemampuan untuk membaca dan memahaminya yang notabene berada pada bagian otak yang bertanggung jawab pada membaca atau language brain. 

    Maka jika diilihat dari sisi ini, wajar jika soal cerita tidak mudah dipahami, karena dia harus mengaktifkan beberapa brain region sekaligus.”

    Oleh karena itu, bagi anak-anak yang baru mulai menginjakkan kakinya di sekolah dasar, soal cerita memiliki tantangan tersendiri. Karena di usia tersebut, umumnya mereka baru saja mempelajari bagaimana cara membaca dan sedang berada dalam tahap memahami suatu kalimat. Lebih rumit lagi bagi mereka yang belajar di sekolah yang menggunakan bahasa pengantar bukan bahasa ibunya. Kerumitannya akan berkali-kali lipat.

    Namun, kerumitan-kerumitan tersebut bukan tidak bisa diuraikan. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai orangtua untuk membantu anak atau mendorong anak menjadi lebih baik menghadapi soal cerita dalam matematika.

    Dalam artikel Why some kids struggle with math word problems, Bob Cunningham membagikan lima tip cepat bagi para orangtua yang melihat sang anak kesulitan dalam menghadapi soal matematika.

    Tip 1: Tandai akar permasalahnya.

    Mintalah anak-anak untuk membacakan soal cerita satu kali. Kemudian, mintalah mereka membacanya sekali lagi. Lingkari kata-kata dan frasa-frasa penting. Ini dapat membantu anak-anak tetap fokus dan menghindari mereka terburu-buru mengerjakan tanpa memahami isi ceritanya.

    Tip 2: Tutup yang tidak perlu.

    Gunakan potongan kertas coretan kosong untuk menutupi soal cerita lainnya yang sedang tidak dikerjakan oleh anak-anak. Ini akan membantu anak fokus hanya pada soal cerita yang sedang dihadapi.

    Tip 3: Buat daftar periksa.

    Buatlah daftar hal-hal yang harus diperiksa ulang oleh anak-anak saat memecahkan masalah, seperti melingkari kata-kata kunci dan menuliskan kalimat matematikanya.

    Tip cepat 4: Gunakan kartu indeks.

    Pada kartu indeks, tuliskan kata-kata kunci yang digunakan dalam soal cerita tersebut berikut simbol yang mewakilinya. Gunakan satu kartu untuk setiap kata kunci. (Satu kartu mungkin menunjukkan kata kunci “semuanya” di sebelah tanda “+”.) Dorong anak-anak untuk mencocokkan masing-masing kartu dengan setiap kata kunci dalam suatu soal cerita.

    Tip 5: Berikan bantuan membaca.

    Jika anak masih kesulitan dalam hal membaca, bantu anak membacakan soal ceritanya. Perubahan sederhana ini dapat membantu anak-anak terus belajar matematika meskipun dia masih menghadapi kesulitan saat membaca.

    Kelima tip tersebut mungkin dapat membantu orangtua mendampingi anak-anak agar mereka tetap merasa nyaman saat mengerjakan soal cerita, meskipun mereka merasa kesulitan.

    Jika membaca memang masih menjadi masalah bagi si anak, mungkin orangtua juga perlu mencari cara-cara menyenangkan lain agar dapat membantunya meningkatkan kemampuan membaca. (ntdindonesia/averiani)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini

    VIDEO REKOMENDASI