Tag: sopir

  • Sang Penolong

    Sang Penolong

    Setelah rumah sepasang pasangan yang baru menikah selesai direnovasi, nyonya rumah merasa sangat gembira, lalu memberi bonus kepada buruh bangunan.

    Tetapi tuan rumah merasa tidak senang, dia beranggapan istrinya terlalu berlebihan, dan memarahi istrinya.

    Istrinya berkata, mereka melakukan pekerjaan dengan baik, memberi bonus kepada mereka adalah hal yang wajar. Suaminya berkata, terhadap pekerja kasar ini tidak seharusnya berbaik hati.

    Istrinya mendengar suaminya berkata demikian. Merasa tidak gembira dan berkata, hanya demi uang yang sedikit ini tidak seharusnya menghina orang! Sebenarnya sesama manusia, mempunyai hak yang sama. Tuan rumah mendengar perkataan istrinya merasa tidak masuk akal memandang ke istrinya dan berkata, “Kenapa engkau membela mereka? Terhadap buruh kasar ini tidak seharusnya terlalu baik terhadap mereka! Sekarang keamanan di kota sangat rawan semuanya gara-gara mereka..”

    Nyonya rumah berkata: “Jangan karena nila setitik rusak susu sebelanga.”

    Tuan rumah lalu membantah istrinya memberi contoh beberapa kasus, beberapa hari yang lalu di komplek A, di rumah si anu masuk pencuri, setelah diselidiki ternyata dilakukan oleh buruh bangunan; di komplek B rumah dibongkar orang, setelah diselidiki ternyata juga dilakukan oleh buruh bangunan; dan masih banyak lagi….

    Nyonya rumah menghentikan perkataan suaminya berkata, “Benar..benar, semua yang engkau katakan adalah kenyataan. Tetapi tidak semua pekerja bangunan semuanya sama!”

    Tuan rumah berkata lagi. “Apakah semua kenyataan ini tidak membuktikan kebenaran seperti yang saya katakan?

    Melihat suaminya tidak mau mengalah akhirnya istrinya berkata, “Sudahlah, saya tidak ingin bertengkar denganmu! Apakah engkau ingin mendengar kejadian nyata yang menimpa diri saya sendiri?”

    Istrinya berkata demikian, membuat suaminya merasa heran, memandang ke arah istrinya tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun.

    Istrinya bertanya lagi, “Mau mendengar atau tidak? Ini berhubungan dengan buruh bangunan, tapi saya tidak pernah cerita kepadamu selama ini.”

    Di wajah suaminya merasa heran, sambil memandang ke wajah istrinya yang serius, akhirnya dia menganggukkan kepalanya.

    Istrinya sambil menghela nafas dalam-dalam, lalu mulai bercerita.

    Kejadian tersebut terjadi ketika saya masih duduk di sekolah menengah, pada hari itu  saya naik travel ke kota menjenguk teman saya yang sakit. Ketika berada dalam bis perjalanan kami harus melewati gunung, ketika bis sedang berjalan menanjak gunung, hari telah gelap. Pada saat ini, seluruh penumpang bis yang hanya berjumlah beberapa orang hampir tertidur. Saya juga mulai tertidur.

    Tiba-tiba saya merasa ada orang yang memegang saya. Saya terbangun dengan rasa terkejut. Tiba-tiba ada dua lelaki yang duduk disamping saya berusaha menjamah saya. Saya langsung menjerit, dengan marah memaki mereka.

    Berandalan yang duduk disamping saya makin berani, salah seorang dari mereka malah mengeluarkan pisau dari pinggangnya dan ditujukan ke arah leher saya sambil mengancam berkata, “Jangan menjerit, jika menjerit lagi saya akan menggorok lehermu.”

    Pada saat ini, penumpang yang lain ketakutan tapi tidak berani bergerak karena berandalan yang satunya menatap mereka dengan mengancam sambil menghunus pisau. Seorang penumpang yang duduk di belakang, mengambil telepon genggamnya, dan menekan nomor sambil berkata, “Hallo, kantor polisi? Ada beberapa berandalan yang berada didalam bis malam mengganggu penumpang wanita, kalian harus cepat datang….”

    Mendengar ada orang yang menelpon polisi, dua berandalan ini melepaskan saya, berlari ke barisan belakang. Mereka berdua menarik orang yang menelpon, dijatuhkan ke gang lalu dengan kejam mulai menghajarnya. Lalu terdengar suara jeritan sakit orang….

    Nyonya rumah bercerita sampai disini tidak dapat melanjutkan lagi, air matanya sudah membasahi seluruh wajahnya.

    Tuan rumah menundukkan kepalanya.

    Nyonya rumah sambil terisak menghapus air matanya, melanjutkan ceritanya.

    Orang yang menelpon polisi itu, berbuat demikian demi menolong saya! Pada saat itu saya menangis dengan suara keras sambil berteriak, tolong, kalian cepatlah menolong dia!”

    Pada saat ini supir memijak rem mendadak, 2 berandalan ini terjatuh. Saya mendengar supir dengan suara keras menjerit, “Kalian kenapa masih diam, ayo bergegas tangkap mereka!” serta menyalakan semua lampu bis segera bis terang benderang.

    Semua penumpang seperti baru tersadar dari mimpi, semuanya bekerja sama melawan dua berandalan ini, akhirnya mereka bisa mengalahkan, mengikat berandalan ini.

    Orang yang menelpon tersebut berlumuran darah. Pada saat ini mereka semua baru sadar, penelpon tadi adalah seorang buruh bangunan, diatas bajunya yang penuh darah, terlihat bekas cat dan semen. Penumpang bis mengangkatnya didudukkan ke kursi, wajahnya pucat pasi dan darah segar terus mengalir.

    Sopir bis tancap gas ke kantor polisi, dan setelah itu buruh bangunan yang luka berat tersebut diantar ke rumah sakit, tetapi karena pendarahan sepanjang jalan akhirnya buruh bangunan ini meninggal di rumah sakit.

    Di tubuh buruh bangunan ini tidak ada kartu identitas. Karena ingin menghubungi anggota keluarganya, polisi akhirnya mengambil telepon genggamnya, pada saat ini mereka menyadari, rupanya telepon genggam tersebut adalah telepon mainan anak-anak!

    Akhirnya mereka tahu, bahwa buruh bangunan ini ke kota bekerja sebagai buruh bangunan,  salah satu anaknya berusia 3 tahun, sangat ingin telepon genggam. Telepon genggam mainan ini adalah hadiah untuk anaknya!

    Setelah bercerita sampai disini, nyonya rumah tidak bisa bersuara lagi, air mata telah membasahi seluruh wajahnya. Suaminya berjalan ke hadapannya memeluknya dengan erat.

    Sambil menghapus air matanya nyonya rumah melanjutkan: Buruh bangunan ini adalah penolong saya! Jika tidak ada dia, saya tidak akan tahu apa yang akan terjadi terhadap diri saya lagi! Oleh sebab itu setiap tahun saya akan berziarah ke makamnya, serta menjenguk istri dan anak-anaknya.

    Tuan rumah memeluk istrinya lebih erat serta berkata, lain kali saya akan menemanimu menjenguk mereka. (minghui school)

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • PODCAST Jangan Berprasangka Buruk!

    PODCAST Jangan Berprasangka Buruk!

    Seorang pengusaha kaya, Robert, baru saja mengikuti sebuah acara di sekitar pemukiman kumuh. Saat dalam perjalanan pulang, dia baru menyadari bahwa dompetnya telah hilang.

    PODCAST

    Asisten sekaligus supirnya berkata: “Wah tuan, jangan-jangan dompet Anda dicuri saat berada di pemukiman kumuh tadi?” 

    Pengusaha itu menjawab: “Hei, kita tidak boleh berprasangka buruk dulu, mungkin saja dompet saya terjatuh, atau saya yang ceroboh, telah lupa menaruhnya.”

    Supir: “Jadi, bagaimana tuan? Kita lapor polisi saja?”

    Robert: “Ada kartu nama saya di dompet itu, kita tunggu dulu saja, mudah-mudahan orang yang menemukan dompet itu akan menghubungi saya.”

    Sore harinya, telepon di rumah pengusaha itu berbunyi.

    “Selamat sore, apakah benar ini rumah Bapak Robert?” 

    Robert: “Benar, ada keperluan apa Anda menelepon?”

    “Begini Pak, saya tidak sengaja memungut sebuah dompet, dan menemukan kartu nama Bapak di dalamnya, jadi saya pikir ini dompet Bapak, saya berniat mengembalikannya.”

    Suara di telepon itu kemudian menjelaskan lokasi tempat dia akan menunggu si pengusaha tersebut.

    Robert: “Baiklah, terima kasih, saya akan datang ke sana sekarang.”

    Di perjalanan sang supir berkata: “Betul kan tuan? Alamat yang orang itu berikan ada di daerah pemukiman kumuh, saya yakin dia pasti sudah mengambil isi dompet Anda.”

    Robert: ”Hei, kamu tidak boleh berprasangka buruk, dia mau menghubungi saya dan berniat mengembalikan dompet saya. Itu artinya, dia adalah orang yang baik.”

    Sesampainya di lokasi, ternyata orang yang menelepon adalah seorang pria berbaju kumal.

    Si supir berkata: “Tuan, lihat, penampilannya saja seperti itu, pasti dia yang mencuri dompet Anda.”

    Robert: “Hus, sudah, hentikan omong kosongmu, uang di dompet saya tidak seberapa, namun kartu-kartu di dalamnya lebih berharga, saya sudah sangat bersyukur jika bisa mendapatkan kartu-kartu itu kembali.”

    Kemudian, Robert pun menghampiri pria tersebut.

    “Selamat sore Pak, apakah Anda yang menemukan dompet saya?”

    Pria itu menjawab: “Ya tuan, tadi saat saya sedang berjalan, saya menemukan dompet Anda.”

    Pria itu kemudian memberikan dompet yang dia temukan, dan supir Tuan Robert langsung memeriksanya. Ternyata isinya utuh. Dia tahu kalau tuannya selalu membawa uang tunai sejumlah satu juta rupiah di dompetnya.

    Dia pun berbisik kepada tuannya: “Tuan, jumlah uangnya utuh.”

    Tuan Robert tersenyum lalu berkata: “Nah, benar kan apa yang saya bilang, kamu tidak boleh berprasangka buruk.”

    Tapi kemudian, pria ini berkata: “Tuan, boleh saya minta uang?”

    Sambil tersenyum sinis, supir berkata: “Tuh benar kan, dia pasti mau minta uang, saya tidak mungkin salah.”

    Tuan Robert lalu berkata kepada supirnya: “Hei, cukup, kamu jangan bicara lagi!”

    Tuan Robert kemudian berbalik kepada si pria: ”Berapa yang Anda inginkan?”

    “Seribu rupiah saja tuan.”

    Pengusaha dan supirnya sama-sama terkejut, lalu pengusaha itu bertanya lagi:

    “Seribu rupiah? sedikit sekali, untuk apa uang itu?”

    “Saya menemukan kartu nama Anda di dalam dompet, dan ingin menelepon, namun saya tidak punya uang, jadi saya terpaksa meminjam uang seribu rupiah kepada pemilik toko di ujung jalan, untuk menelepon Anda. Dan sekarang, saya ingin mengembalikannya.”

    Mendengarnya, si supir merasa malu pada dirinya sendiri.

    Lalu tuan Robert berkata: “Pak, Anda sangat jujur dan tulus.” 

    Dia lalu mengeluarkan semua uang di dalam dompetnya sejumlah satu juta rupiah.

    “Ini Pak, semua uang ini untuk Anda.”

    “Tapi tuan, itu terlalu banyak, saya hanya perlu seribu rupiah saja.”

    (Robert) ”Ya, seribu rupiah untuk mengganti uang yang Anda pinjam, sisanya adalah hadiah untuk kejujuran dan ketulusan Anda.”

    Sering kali, kita mudah untuk berprasangka buruk, curiga dan salah paham terhadap sikap seseorang ataupun sesuatu hal, sebelum kita terlebih dahulu mencari fakta sebenarnya.

    Padahal, sesuatu yang tampak buruk di permukaan, belum tentu kenyataannya buruk juga, maka dari itu, penting bagi kita untuk belajar membiasakan diri berpikir secara positif dan rasional.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu