Tag: tuai

  • PODCAST Penyebab Kemalangan adalah Diri Sendiri

    PODCAST Penyebab Kemalangan adalah Diri Sendiri

    Roy adalah seorang salesman. Umurnya telah melewati setengah baya, namun entah kenapa bisnis yang dikelolanya tidak sesuai dengan harapan. Berkali-kali, ia mengalami kegagalan.

    PODCAST

    Semangatnya pun menurun, sehingga dia menjadi stress. Roy sering kali marah-marah tanpa sebab dan selalu mengeluh bahwa orang lain telah merugikannya.

    Suatu hari, Roy bertekad ingin pindah rumah karena ia merasa rumahnya yang lama membawa kesialan padanya. Ia pun berhasil menemukan rumah kecil yang bagus untuk ditinggali, lalu memindahkan semua barang-barangnya ke rumah barunya itu.

    Namun baru saja ia pindah, pada malam harinya, mendadak listrik di rumah tersebut padam sehingga seluruh ruangan menjadi gelap gulita. Roy mengumpat kesal dan berpikir bahwa rumah kedua itu pun pasti akan membawa kesialan padanya.

    Karena sadar ia tidak memiliki lilin atau sumber penerangan lain, Roy hanya bisa duduk termenung, marah pada dirinya dan semua orang.

    Saat itu tiba-tiba di luar pintu terdengar ada suara ketukan. Roy berjalan dalam kegelapan menuju ke arah pintu sambil meraba-raba, lalu berkata:

    “Siapa itu?”

    Rupanya, di depan pintunya berdiri seorang gadis kecil. Gadis kecil itu berkata:

    “Ma..maaf Tuan, saya adalah tetangga Anda, apakah Anda punya lilin?”

    Roy menjawab dengan nada marah.

    “Tidak ada!”

    Ia pun membanting pintu dihadapan gadis kecil itu. Dengan menggerutu, ia berkata pada dirinya sendiri:

    “Bah! Baru saja pindah, sudah ada yang datang untuk pinjam barang. Memang dimana-mana orang sama saja kelakuannya!”

    Ketika ia sedang menggerutu tak berkesudahan, tiba- tiba di pintu terdengar lagi suara ketukan.

    Roy segera membuka pintu rumahnya, dan dia melihat gadis kecil yang sama sedang berdiri disana, kali ini membawa dua batang lilin yang menyala di tangannya.

    Gadis kecil itu berkata:

    “Tuan, Nenek bilang, kami telah kedatangan penghuni baru dan mungkin tidak membawa lilin, jadi lalu Nenek meminta saya agar membawakan dua batang lilin ini untuk Anda.”

    Seketika itu juga Roy tertegun. Dengan diam ia menyambut lilin dari tangan si gadis kecil itu dan mengucapkan terima kasih dengan terbata-bata. Gadis kecil itupun pamit dari hadapannya.

    Sejak saat itu, tiba-tiba Roy menyadari banyak hal. Ia telah menemukan akar permasalahan dari kemalangan yang kerap menimpa dirinya, yaitu terletak pada sikapnya yang kasar, suka menggerutu, dan suka mengeluh. Ia berjanji bahwa ia akan mencoba untuk mengubah dirinya demi nasib yang lebih baik.

    Dalam kehidupan ini, banyak orang mengira kemalangan adalah hasil dari nasib yang buruk atau kesialan. Dengan mengubah sudut pandang atau kacamata kita saat melihat suatu situasi, berhenti mengeluh dan menganggap semua kejadian sebagai hal baik, niscaya kita akan selalu ‘bernasib baik.’

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

  • PODCAST Pak Tua dan Mangkuk Kayu

    PODCAST Pak Tua dan Mangkuk Kayu

    Suatu ketika, ada seorang kakek tua yang menetap bersama keluarga putranya.

    PODCAST

    Karena sudah sangat tua, kesehatannya mulai menurun, tangannya sering gemetaran dan langkah kakinya juga tertatih-tatih.

    Saat makan malam bersama, tangannya gemetaran dan penglihatannya yang kabur, membuat sang kakek kesulitan untuk makan dengan benar.

    Hal ini membuatnya seringkali tanpa sengaja, menjatuhkan piring kaca keluarga tersebut pecah sehingga makanannya jatuh berserakan di lantai.

    Selain itu, sang kakek juga sering menumpahkan susu ke lantai, saat ia minum susu.

    Seiring berjalannya waktu, sang menantu pun menjadi merasa kerepotan dan kesal dengan ayah mertuanya tersebut.

    Suatu hari, sang istri berkata:

    “Suamiku, kita harus berbuat sesuatu, saya sudah jenuh dengan segala kekacauan yang dibuat oleh Ayahmu!”

    Kemudian sang suami berkata:

    “Hmmm…baiklah istriku. Ayahku sudah banyak merepotkanmu. Jadi mulai hari ini, kita minta Ayah makan pakai mangkuk kayu dan makan di kamarnya saja! Bagaimana menurutmu?”

    Sang istripun tersenyum dan mengangguk setuju.

    Sejak itu, si kakek makan sendirian dengan mangkuk kayu di kamarnya, sedangkan putra beserta keluarganya menikmati makanannya di meja makan.

    Sang kakek seringkali menangis diam-diam karena merasa sakit hati dan dikucilkan. Namun, tanpa diduga, cucu nya yang baru berusia enam tahun ternyata memperhatikan kejadian tersebut.

    Suatu malam, sang cucu sedang bermain dengan beberapa potongan kayu.

    Ayahnya memperhatikannya dan dengan lembut bertanya:

    “Lagi main apa Nak?”

    Dengan polosnya, anak itu menjawab:

    “Oh, saya sedang membuat mangkuk kayu kecil seperti kepunyaan Kakek, untuk tempat makan Ayah dan Ibu, saat aku besar nanti.”

    Ayah anak tersebut terkejut oleh ucapan putrinya, dan tidak sanggup berkata apa apa lagi. Ia merenungkan kata-kata polos itu, lalu menceritakannya pada istrinya.

    Sang istri yang juga merasa bersalah, akhirnya setuju untuk berdamai dengan sang mertua.

    Malam itu juga, suami istri tersebut meminta maaf pada kakek tua tersebut, lalu membawanya kembali ke meja untuk makan malam bersama lagi.

    Akhirnya, di sisa hidupnya, sang kakek tua itu bisa menikmati lagi makan bersama anggota keluarganya di meja makan dengan bahagia.

    Sementara sang istri, tidak peduli lagi dengan susu yang tumpah, makanan yang jatuh, maupun piring yang pecah lagi, karena ia telah menyadari satu hal: apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai.

    Selama orangtua masih hidup, kita harus menghormati, merawat, dan mencintai mereka dengan sepenuh hati. Singkirkan perasaan malas dan kesal saat merawat orangtua bagaimanapun keadaan mereka. Yakinlah bahwa sikap Anda pada orangtua saat ini, adalah sikap anak atau menantu pada Anda, ketika Anda telah tua nanti.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

  • Penyebab Kemalangan adalah Diri Sendiri

    Penyebab Kemalangan adalah Diri Sendiri

    Roy adalah seorang salesman, umurnya telah melewati setengah baya, masalah bisnisnya tidak sesuai dengan harapan, berkali-kali ia mengalami kegagalan. Semangatnya amat sangat rendah, acap kali marah-marah tanpa sebab yang jelas, selalu mengeluh bahwa orang lain telah merugikannya.

    Akhirnya pada suatu hari, ia berkata pada istrinya, “Kota ini membuat saya sangat kecewa, saya ingin meninggalkan kota ini, pindah ke tempat lain.”

    Ketika Roy dan istrinya sedang menata kamar di kontrakan barunya di kota lain, mendadak listrik padam, seketika itu seluruh ruangan menjadi gelap gulita.

    Roy sangat menyesal mengapa ketika datang ia tidak membawa lilin, karena itu ia hanya bisa duduk tak berdaya di lantai dan mengeluh. Saat itu, di luar pintu terdengar suara ketukan pintu yang agak ragu dan perlahan, memecah kesunyian malam.

    “Siapa itu?” Di kota tersebut Roy tidak punya kenalan, ia juga tidak ingin diganggu orang malam-malam. Ia berdiri dengan terpaksa. Susah payah Roy meraba ke arah pintu, dan membuka pintu itu dengan tidak sabar.

    Di depan pintu berdiri seorang gadis kecil, yang dengan nada ketakutan berkata pada Roy, “Tuan, saya adalah tetangga Anda. Tolong tanya apakah Anda memiliki lilin?”

    Roy menjawab dengan nada dongkol: “Tidak ada.” lalu menutup pintu dengan keras. “Sungguh merepotkan!” keluh Roy pada istrinya. Roy berkata lagi, “Tetangga yang menyebalkan, kita baru pindah kemari sudah datang untuk pinjam barang, kalau begini terus akan bagaimana jadinya nanti!”

    Ketika ia sedang menggerutu tak berkesudahan, di pintu terdengar lagi suara ketukan. Pintu dibukanya, si gadis kecil itu masih berdiri di sana, hanya saja kali ini di dalam tangannya membawa dua batang lilin, bercahaya terang.

    Gadis kecil itu berkata: “Nenek bilang, kami telah kedatangan penghuni baru, mungkin tidak membawa lilin, lalu nenek menyuruh saya agar membawakan dua batang lilin ini untuk Anda.”

    Seketika itu juga Roy tertegun, ia terperangah dengan kejadian di depan matanya ini. Dengan sangat tidak mudah ia tersadarkan kembali, “Terima kasih kepada engkau dan nenekmu, semoga Tuhan melindungi kalian.”

    Seketika itu juga, tiba-tiba Roy menyadari banyak hal, ia sepertinya telah menyadari tentang akar permasalahan dari kemalangan yang kerap menimpa dirinya, yaitu terletak pada kekasaran dan ketidakacuhannya pada orang lain.

    Di dalam kehidupan ini yang bisa menipu kita acap kali bukanlah orang lain, melainkan adalah sepasang mata kita yang telah dikelabui oleh dinginnya hati kita sendiri. (Mingxin/The Epoch Times /lin)

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

    https://youtu.be/WA-V58qoG1M