Di sebuah
restoran di kota Maastricht, Belanda, sekelompok staf baru yang tidak biasa
telah dipekerjakan untuk menolong kota ini dalam transisi menuju ke “normal
yang baru”.
Trio robot
pelayan bernama Amy, Aker dan James ini bekerja keras hilir mudik membawa
makanan dan minuman, dan mengurangi jumlah kontak antara staf dan tamu demi
‘social distancing’ di dalam restoran.
Setiap robot
memiliki sosok humanoid sederhana, dan para pelanggan diharuskan mengambil
makanan atau minumannya sendiri sebelum robot bergerak menjauh secara otomatis
dalam 20 detik.
Para pelanggan terlihat terkesima
akan robot pelayan ini.
[Sofia Nigrisoli, Pelajar dari Venice, Italia]:
“Saya tidak
tahu… ini seperti di dalam film, seperti Matrix. Saya tidak tahu…. Rasanya
sangat aneh, situasi yang aneh. Menurut saya, saya tidak tahu mengapa
orang-orang agak ekstrim pada hal ini, menurut saya virus itu tidak terlalu
berbahaya, tapi itu hanya opini saya sendiri.”
[Alex Jakubowski Smith, Pelajar dari Inggris]:
“Saya senang
kita boleh ke restoran sekarang, tapi menerima makanan dari robot sepertinya
agak aneh, saya lebih suka manusia.”
Sementara
pihak restoran berkata, para pelayan mereka senang dengan staf baru ini.
[Paul Seijben, Staf Restoran Dadawan]:
“Tim kami
sangat senang dengan robot-robot ini. Berjalan dari bar ke meja, dan dari dapur
ke meja tidak lagi diperlukan. Ini memberikan tamu-tamu kami ruang tambahan,
sehingga mereka mendapatkan pengalaman yang lebih baik.”
Restoran-restoran di Belanda tutup dari pertengahan Maret hingga 1 Juni, dan kini diizinkan buka kembali dengan syarat maksimum 30 orang dan menjaga jarak setidaknya 1,5 meter antar meja. (reuters/lia)
Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.
Liu Bowen (1311-1375), seorang bijak zaman Dinasti Ming, terkenal karena memprediksi masa depan. Sama dengan orang bijak lain seperti Zhuge Liang dan Shao Yong, Liu juga meninggalkan ramalan, termasuk Songbing Song, Prasasti Monumen Pagoda Jinling, dan Prasasti Monumen Gunung Taibai.
Prasasti
Monumen Gunung Taibai ditemukan setelah gempa bumi dan tidak diketahui publik
sampai beberapa tahun yang lalu. Bagian dari apa yang dikatakannya sepertinya
relevan dengan epidemi coronavirus yang kita hadapi.
Wabah Akan Bertahan Sepanjang Tahun Babi dan Tikus
Liu
tampaknya telah meramalkan epidemi dalam puisi berikut:
“Jika Anda bertanya kapan wabah akan datang,
Saya akan mengatakan tentang musim dingin, sekitar bulan September
dan Oktober”
“Orang khawatir mayat-mayat dibiarkan tanpa pengawasan,
dan orang khawatir tentang kesulitan menyeberang dari tahun babi ke
tahun tikus.”
Menurut
penanggalan kalender Tiongkok, 2019 adalah Tahun Babi dan 2020 adalah Tahun
Tikus. Transisi dari tahun Babi ke tahun Tikus terjadi pada Tahun Baru Imlek,
yaitu 25 Januari 2020.
Kasus
pertama yang didiagnosis seseorang dengan coronavirus Wuhan terjadi pada
tanggal 1 Desember 2019. Mengingat masa inkubasi 14 hari, orang itu kemungkinan
terinfeksi pada akhir November, yaitu Oktober di penanggalan kalender Tiongkok.
Meskipun
terdapat banyak indikasi tentang adanya wabah baru, Pusat Pengendalian dan
Pencegahan Penyakit Tiongkok (CCDC) tidak mengumumkan bahwa virus tersebut menyebar
melalui penularan manusia ke manusia hingga tanggal 20 Januari 2020. Pada saat
itu, penyakit tersebut sudah menyebar ke daerah lain.
Menyusul
Thailand, Jepang, Korea Selatan, dan kawasan Asia lainnya, kasus pertama di
Amerika Serikat dikonfirmasi pada tanggal 21 Januari 2020. Dua hari kemudian,
Tiongkok memutuskan untuk menutup Kota Wuhan. Pada tanggal 25 Januari, 15 kota
di Provinsi Hubei telah diisolasi, membuat Tahun Baru Imlek ini sangat sulit
bagi semua keluarga.
Sebagai
hasil dari peringatan yang tertunda dan terus ditutup-tutupi oleh Partai
Komunis Tiongkok (PKT), semua provinsi di Tiongkok telah mengkonfirmasi kasus,
dimana Tibet melaporkan kasus pertamanya pada tanggal 4 Februari 2020, dan
menjadi provinsi terakhir dengan verifikasi infeksi. Ini bertepatan dengan
kalimat berikut dalam ramalan Liu:
“Orang khawatir tentang timbulnya bencana di Huguang (wilayah
di Tiongkok yang mencakup Hubei), yang kemudian menyebar ke semua provinsi di
seluruh Tiongkok.”
Jalur Keselamatan
Ramalan
itu, secara menarik, juga meresepkan penawar wabah: “Hanya mereka yang
tetap lurus yang bisa selamat,” tulis Liu.
Di
akhir ramalan, dia menjelaskannya lebih terinci:
Tujuh
(七) orang (人) berjalan dalam satu baris (一),
pemandu (引) ke kanan (诱/ 右) ke dalam mulut (口); Tiga titik ditambahkan ke pengait (勾), dengan delapan (八) raja (王) diikuti oleh 20 (廿) mulut (口); Ini membuat semua orang bahagia, yang hidup dengan aman
setelahnya.
[Catatan:
“Mulut” dalam bahasa mandarin juga merujuk pada jumlah orang yang
akan diberi makan.]
Ini
adalah permainan membongkar goresan dalam karakter Tiongkok dan mengatur ulang
untuk membentuk karakter baru. Dua baris pertama dari puisi di atas mengatakan
bahwa ketika karakter 七(tujuh), 人(orang), 一(satu), 引(penuntun), dan 口(mulut) dipisahkan
dan disusun ulang dengan cara tertentu, mereka membentuk karakter tradisional
Tiongkok untuk sejati (眞). Pada baris
ketiga, ketika tiga titik ditambahkan ke bagian 勾yang berbeda dan disusun kembali, karakter baru sabar (忍) terbentuk. Pada baris keempat, ketika 八(delapan), 王(raja), 廿(dua puluh), dan 口(mulut) berbaris
dalam urutan tertentu, mereka membentuk karakter untuk Baik atau “Shan” (善).
Tiongkok
memiliki sejarah panjang 5.000 tahun. Selama masa itu, orang-orang percaya pada
nilai-nilai tradisional, seperti bersikap baik dan berbudi luhur. Berdasarkan
budaya dewa, orang-orang percaya bahwa “berbuat baik mendapat balasan baik
dan berbuat jahat mendapat ganjaran buruk.”
Namun
semenjak Partai Komunis Tiongkok 70 tahun yang lalu, ia hampir melenyapkan nilai-nilai
tradisional ini melalui pencucian otak secara terus menerus berdasarkan paham
komunisme yang anti-Tuhan dan anti-agama. Budaya tradisional pun dihancurkan,
dan lama kelamaan arti nilai “Kebaikan” dalam masyarakat Tiongkok modern telah
tergantikan oleh konsep lain yang tidak murni dan berdasarkan pengejaran
keuntungan semata.
Dalam
ramalannya, Liu memperingatkan orang-orang mengikuti hati nurani mereka untuk
hidup yang aman dan bahagia:
“Orang-orang baik dapat melihat masa depan, sementara orang-orang
yang melakukan kejahatan akan disingkirkan;
Di era ketika beberapa orang menyebarkan belas kasih besar, tidak ada gunanya tetap masa bodoh dan kehilangan masa depan.” (minghui/kar/lia)
Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.