Pada tahun 1984, para arkeolog yang bekerja di Chengdu, Provinsi Sichuan, Tiongkok, menemukan sesuatu yang terasa sangat familier: sebuah sikat gigi. Gagangnya yang ramping diukir dari tulang hewan, dan dua baris rapi lubang-lubang kecil pernah menopang bulu-bulu sikatnya, tampak sangat mirip dengan sikat gigi yang ada di wastafel kamar mandi anda saat ini. Namun, benda ini telah terkubur di dalam tanah selama lebih dari 1.000 tahun, sebuah peninggalan sunyi dari Dinasti Tang (618-907).
Jauh sebelum adanya pasta gigi dalam kemasan dan sikat gigi elektrik, praktik membersihkan gigi di Tiongkok kuno merupakan kegiatan yang dilakukan dengan cermat dan tergolong sangat maju pada masanya, yang dibentuk oleh tradisi pengobatan tradisional Tiongkok (TCM) selama berabad-abad. Catatan sejarah menunjukkan bahwa sangat sedikit orang pada masa itu yang menderita bau mulut. Lantas, bagaimana cara mereka melakukannya? Jawabannya merupakan perpaduan antara ritual sehari-hari dan kearifan herbal. Berikut adalah enam cara yang telah teruji oleh waktu yang dilakukan masyarakat Tiongkok kuno untuk menjaga kebersihan gigi dan kesegaran napas, beserta filosofi lembut di baliknya, serta beberapa kebiasaan yang layak diterapkan kembali saat ini.
Masyarakat Tiongkok kuno membersihkan gigi dengan cara berkumur menggunakan air garam dan teh pekat, menyikat gigi menggunakan ranting pohon willow yang ujungnya telah diserabutkan, mengoleskan pasta gigi herbal, serta menyegarkan napas dengan buah-buahan dan rempah-rempah aromatik. Kebiasaan-kebiasaan ini, yang telah dipraktikkan selama lebih dari 2.000 tahun, didasari oleh keyakinan TCM bahwa gigi yang sehat mencerminkan tubuh yang sehat. Akar tradisi ini sangatlah dalam. Book of Rites (Kitab Tata Krama), yang disusun pada masa Dinasti Zhou (1046-256 SM), mencatat bahwa setiap pagi anggota keluarga akan bangun saat fajar menyingsing untuk membasuh wajah dan berkumur. Dengan kata lain, perawatan mulut telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Tiongkok selama lebih dari dua milenium, sebuah sejarah yang diulas secara rinci oleh publikasi budaya seperti The World of Chinese dan menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi kesehatan Tiongkok yang lebih luas. Apa yang bermula sebagai kegiatan berkumur sederhana perlahan berkembang menjadi beragam sarana perawatan yang lengkap, mencakup sikat, pasta, dan berbagai ramuan.
Cara masyarakat Tiongkok kuno membersihkan gigi:
1. Garam: Ritual harian untuk gigi yang lebih kuat
Garam merupakan unsur utama dalam perawatan mulut sehari-hari, yang dihargai karena kemampuannya membersihkan mulut dan menguatkan gusi. Setiap pagi, orang-orang menggosokkan sejumput garam pada gigi mereka atau berkumur dengan air garam hangat—sebuah tindakan sederhana yang dipercaya dapat memperkuat gigi dan mencegah kerusakan gigi. Kebiasaan ini menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Dalam novel klasik yang disukai, Dream of the Red Chamber (Impian Paviliun Merah), bangsawan muda Jia Baoyu digambarkan sedang membersihkan giginya menggunakan garam setiap pagi; sebuah gambaran kecil mengenai rutinitas penuh tata krama di sebuah keluarga kaya.
Tabib ternama pada masa Dinasti Tang, Sun Simiao (581–682), yang sering dijuluki sebagai Raja Pengobatan, memberikan panduan paling jelas mengenai praktik ini. Dalam karya medis klasiknya, Qianjin Fang (atau Thousand Golden Prescriptions / Seribu Resep Emas), ia menyarankan untuk memasukkan sejumput garam ke dalam mulut setiap pagi hari, berkumur dengan air hangat, dan membersihkan gigi secara menyeluruh. Jika kebiasaan ini terus dilakukan, ia menjanjikan bahwa dalam beberapa hari gigi akan menjadi kokoh dan kuat. Daya tarik utama garam terletak pada kemudahan aksesnya. Harganya murah, tersedia di setiap dapur, dan tidak menuntut apa pun selain sedikit waktu untuk perawatan harian. Semangat tersebut, yakni perubahan bermakna yang dibangun dari tindakan-tindakan kecil namun konsisten, masih terus mengalir dalam praktik kesehatan masyarakat Tiongkok hingga saat ini.
2. Teh pekat setelah makan
Jika garam mendominasi rutinitas pagi, teh menjadi andalan setelah waktu makan. Teh biasa yang diseduh kental dan pekat digunakan untuk berkumur setelah makan guna meluruhkan sisa lemak dan melepaskan sisa makanan yang terselip. Penyair sekaligus negarawan Su Shi (1037–1101), yang lebih dikenal dengan nama pena Su Dongpo, termasuk salah satu penggemar berat teh. Ia mencatat metodenya sendiri dalam berkumur menggunakan teh pekat setelah makan, serta memuji bagaimana kebiasaan itu membuat giginya bersih dan mulutnya terasa segar. Bagi sosok yang begitu terkenal karena kecintaannya pada makanan, ritual ini merupakan kebiasaan praktis yang sangat tepat.
Ada benang merah di sini yang dapat diapresiasi oleh ilmu pengetahuan modern. Penelitian menunjukkan bahwa polifenol dalam teh mengandung sifat antibakteri alami, yang dapat membantu mengendalikan mikroba penyebab masalah. Orang-orang zaman dahulu tidak dapat menyebutkan nama senyawa-senyawa ini, namun melalui pengamatan yang sabar, mereka mengembangkan kebiasaan yang masih bertahan. Anda mungkin menganggapnya sebagai versi awal dari kebiasaan setelah makan yang penuh perhatian saat ini. Dan bagi pembaca yang menikmati secangkir teh setiap hari, ritual ini dipadukan secara alami dengan kenyamanan tenang teh tradisional Tiongkok lainnya.
3. Ranting willow: sikat gigi pertama di Tiongkok
Jauh sebelum sikat berbulu, ranting willow yang sederhana sudah melakukan tugasnya. Pada masa Dinasti Tang, dahan pohon willow segar direndam dalam air semalaman, lalu dikunyah salah satu ujungnya di pagi hari hingga kayunya terkoyak menjadi serat lembut seperti sisir. Serat-serat itu membersihkan gigi. Praktik ini tersebar luas sehingga mendapat nama puitisnya sendiri, chen jiao chi mu (晨嚼齿木), yang berarti mengunyah kayu saat fajar.

Dari sana, keahlian mengambil alih. Sikat gigi era Tang yang ditemukan di Chengdu menunjukkan sejauh mana kemajuan desainnya: gagang tulang panjang dengan dua baris lubang yang dibor, siap untuk dijalin dengan bulu kaku dari ekor kuda. Pada masa Dinasti Song (960-1279), sikat gigi telah menjadi produk komersial. Sarjana Wu Zimu, yang menulis dalam memoarnya A Dream of Millet, mengenang toko-toko di ibu kota Lin’an (sekarang Hangzhou) yang khusus membuat dan menjualnya, sebagian dari tulang, sebagian lagi dari tanduk, bambu, atau kayu.
Ini adalah garis waktu yang mengejutkan. Seperti yang dilaporkan South China Morning Post, Tiongkok telah memproduksi sikat gigi modern berabad-abad sebelum menjadi umum di Eropa. Di dunia kuno yang lebih luas, orang-orang mengikis gigi mereka dengan tongkat yang sudah usang dan mengunyah ranting, namun hanya sedikit budaya yang menyempurnakan alat tersebut secara menyeluruh atau sedini yang dilakukan Tiongkok. Pilihan pohon willow juga pas. Dalam pengobatan TCM, kulit pohon willow dikaitkan dengan sifat mendinginkan dan anti-inflamasi, menjadikannya obat alami untuk gusi yang sakit atau bengkak.
4. Pasta herbal, poria, dan pil penyegar nafas
Tiongkok kuno tidak berhenti pada menyikat dan membilas. Mereka mengembangkan pasta dan bubuk gigi awal yang tidak asing lagi bagi dokter gigi modern. Salah satu resepnya adalah dengan merebus buah belalang madu, jahe, foxglove, dan daun teratai menjadi pasta yang dimaksudkan untuk menyembuhkan gusi yang meradang, meredakan sakit gigi, dan mencerahkan gigi. Pada masa Dinasti Song, pasta yang terbuat dari poria (茯苓, fu ling), jamur obat berwarna pucat, menjadi sangat populer. Orang-orang menyebarkannya ke seluruh gigi dengan ujung jari atau ujung dahan pohon willow yang berjumbai. Poria tetap menjadi bahan TCM yang familiar hingga saat ini, dihargai karena kualitasnya yang lembut dan harmonis.
Lalu ada pil penyegar nafas, keajaiban kecil dari kerajinan herbal. Satu permen yang rumit paduan dari sebanyak 15 bahan, termasuk cengkeh dan musk, dan diikat menjadi satu dengan madu. Dimasukkan ke dalam mulut, dimaksudkan untuk membunuh kuman, mengurangi pembengkakan, dan membuat nafas terasa menyenengkan. Ini adalah nenek moyang dari penyegar nafas modern, dibuat bukan di pabrik tetapi di apotek, mengikuti prinsip-prinsip yang disempurnakan dari generasi ke generasi. Yang menyatukan solusi-solusi ini adalah niat. Setiap bahan dipilih karena alasan tertentu dalam kerangka TCM, apakah untuk mendinginkan panas, mengurangi pembengkakan, atau meredakan stagnasi. Perawatan mulut tidak pernah menjadi sebuah pikiran sambil lalu. Itu adalah salah satu cabang kecil dari tradisi medis yang luas dan dipikirkan dengan matang.
5. Buah-buahan, rempah-rempah, dan seni menyegarkan nafas
Untuk mendapatkan nafas segar sesuai permintaan, orang Tiongkok kuno beralih ke isi dapur yang harum. Jeruk mandarin, peterseli, lada Sichuan, dan adas semuanya dikunyah atau dibawa untuk mempermanis nafas, terutama sebelum acara sosial. Minyak alaminya menutupi bau dan meninggalkan aroma yang menyenangkan. Nafas segar lebih dari sekadar kenyamanan pribadi. Ini adalah soal kesopanan, dan terkadang soal etiket formal. Laki-laki yang berperilaku baik dikenal membawa kantong kecil berisi rempah-rempah aromatik, dan menggunakannya sebelum berkumpul. Salah satu kebiasaan lama menyatakan bahwa para pejabat akan memasukkan cengkeh ke dalam mulut mereka sebelum berbicara kepada kaisar, sehingga kata-kata mereka akan tersampaikan dengan aroma harum. Berbicara di hadapan takhta dengan mulut pengap sungguh tidak terpikirkan.
Cengkeh mendapat tempat khusus dalam seni ini. Kaya akan minyak aromatik, mereka menyegarkan nafas, sementara dalam pengobatan TCM, menghangatkan tubuh dengan lembut dan mengurangi ketidaknyamanan. Adas dan lada Sichuan memainkan peran ganda yang serupa, menyenangkan indera sekaligus bermanfaat bagi tubuh. Di sinilah pembersihan gigi Tiongkok kuno mengungkapkan karakter penuhnya. Ini bukan hanya tentang menghilangkan plak. Ini tentang menampilkan diri dengan bermartabat, menunjukkan rasa hormat kepada orang lain, dan memperlakukan mulut sebagai bagian dari diri yang utuh dan seimbang.
6. Praktik mengetuk gigi dan akar TCM dalam tradisi pembersihan gigi Tiongkok kuno
Untuk benar-benar memahami praktik pembersihan gigi Tiongkok kuno, kita harus melihat lebih dalam pada filosofi medis yang mendasarinya. Dalam TCM, gigi tidak dipandang sekadar sebagai alat untuk mengunyah. Menurut istilah klasik, gigi dianggap sebagai “kelebihan dari tulang” (chi wei gu zhi yu). Karena ginjal dipercaya menguasai kesehatan tulang, kondisi gigi mencerminkan esensi ginjal atau jing seseorang—yakni vitalitas mendalam yang tersimpan di dalam tubuh. Dengan sudut pandang ini, gigi yang kuat menandakan kondisi fisik yang prima, sedangkan gigi yang goyah atau rusak mengisyaratkan berkurangnya energi ginjal. Oleh karena itu, merawat gigi pada dasarnya merupakan salah satu cara menjaga cadangan energi vital tubuh. Hal ini pula yang menjadikan berbagai makanan peningkat umur panjang dalam tradisi Tiongkok—mulai dari wijen hitam hingga kacang kenari—sangat dihargai sebagai tonik ginjal; semuanya merupakan bagian dari tradisi kesehatan yang sama dengan jamur lingzhi yang legendaris sebagai simbol keabadian.
Filosofi ini melahirkan salah satu praktik yang paling bertahan lama: mengetuk-ngetukkan gigi (叩齿, kou chi). Sun Simiao menganjurkan untuk mengetuk-ngetukkan gigi atas dan bawah secara perlahan setiap pagi, beberapa sumber menyebutkan 36 kali, sementara yang lain menyarankan hingga 300 kali, sebelum menelan air liur yang terkumpul, yang secara puitis disebut sebagai “cairan giok.” Jika dilakukan secara rutin, praktik ini dipercaya dapat menguatkan gigi, menyehatkan ginjal, dan mendukung umur panjang. Dari sudut pandang modern, hal ini bisa dijelaskan sebagai stimulasi lembut yang melancarkan aliran darah ke gusi dan jaringan hidup di sekitar gigi. Bagaimanapun juga, praktik ini tidak memakan biaya dan hanya butuh waktu kurang dari satu menit; ini adalah salah satu dari sekian banyak kebiasaan kesehatan sederhana tanpa biaya yang berasal dari praktik tradisional Tiongkok.
Pertanyaan umum seputar perawatan gigi Tiongkok kuno
Kapan bangsa Tiongkok menciptakan sikat gigi?
Sikat gigi dari ranting pohon willow sudah umum digunakan pada masa Dinasti Tang, dan tak lama kemudian muncul versi sikat berbulu dengan gagang tulang. Sikat gigi yang ditemukan di Chengdu berasal dari era tersebut, dan pada masa Dinasti Song, sudah terdapat toko khusus yang menjual sikat gigi di ibu kota.
Apakah orang Tiongkok kuno mengalami gigi berlubang?
Ya, mereka mengalaminya, sebagaimana manusia pada umumnya. Namun, catatan sejarah menunjukkan bahwa perawatan mulut yang rutin membuat masalah gigi berlubang dan bau mulut menjadi hal yang relatif jarang terjadi. Garam, teh pekat, dan pasta herbal semuanya bermanfaat; bahkan pada masa Dinasti Tang, tabib gigi sudah bisa menambal gigi berlubang menggunakan pasta campuran perak dan timah cair.
Apakah teknik mengetuk-ngetuk gigi benar-benar efektif?
Dalam TCM, teknik mengetuk-ngetuk gigi dipercaya dapat memperkuat gigi dan menutrisi esensi ginjal. Pandangan modern melihatnya secara lebih sederhana, yakni sebagai stimulasi lembut yang melancarkan aliran darah ke gusi. Praktik ini tidak memakan biaya dan minim risiko, namun sifatnya melengkapi kebiasaan menyikat gigi sehari-hari, bukan sebagai penggantinya.
Kearifan kuno yang tetap relevan
Di balik kecanggihan penggunaan herbalnya, kearifan kuno Tiongkok dalam menjaga kebersihan gigi sesungguhnya berlandaskan pada beberapa gagasan sederhana. Bersihkanlah gigi secara lembut dan rutin. Pilihlah alat-alat alami yang mudah didapat. Serta rawatlah mulut sebagai bagian kecil dari kesehatan tubuh secara menyeluruh. Hal yang luar biasa adalah betapa banyak dari praktik tersebut yang masih efektif hingga kini. Anda tidak perlu ahli obat zaman Dinasti Tang untuk mengadopsi tradisi ini. Beberapa kebiasaan sederhana, yang akarnya telah ada sejak dua ribu tahun silam, sangat mudah untuk diterapkan:
- Berkumur dengan air garam hangat di pagi hari untuk membersihkan mulut dan menyamankan gusi.
- Secangkir teh tanpa gula setelah makan—sambil dikumur-kumur sejenak untuk membersihkan sisa lemak.
- Melakukan teknik mengetuk-ngetuk gigi selama satu menit; ketukkan gigi atas dan bawah secara perlahan, lalu telan air liur yang terkumpul.
Seperti halnya dalam urusan kesehatan lainnya, dokter gigi modern tetaplah pihak yang paling tepat untuk menangani masalah gigi yang serius. Namun, ritual-ritual kecil ini tidak memakan biaya, hanya butuh waktu singkat, serta meneruskan warisan perawatan yang telah lama ada. Selama berabad-abad, masyarakat Tiongkok kuno memperlakukan hal yang tampak biasa, seperti menjaga kebersihan gigi, dengan penuh perhatian dan rasa hormat. Mungkin itulah pelajaran yang lebih mendalam: bahkan ritual harian yang paling sederhana sekalipun, jika dilakukan dengan penuh kesadaran, dapat menutrisi tubuh dan menenangkan jiwa. Ternyata, senyum yang cerah dan sehat senantiasa menjadi wujud sederhana dari sikap menghargai diri sendiri.
