Sebuah laporan dari Center for Advanced Defense Studies, sebuah lembaga riset nirlaba bidang keamanan global menunjukkan bagaimana China dan Rusia menjadi saling terkoneksi satu sama lain pasca-invasi Ukraina. Kerja sama perusahaan pertahanan Rusia dengan perusahaan China meluas hingga ke produksi dan rantai pasok, termasuk semikonduktor, komponen vital untuk pembuatan amunisi dan drone. Data perdagangan Rusia mencatat lebih dari separuh dari 625.000 pengiriman prioritas semikonduktor pada Februari 2022–Desember 2024 berasal dari China. Perusahaan mikroelektronika militer Rusia, PJSC Element, bahkan mendirikan empat anak usaha di China pada musim panas 2025 guna mendongkrak industri chip domestiknya.
Ada indikasi bahwa Rusia memindahkan produksi komponen kedirgantaraan, rudal, dan senjata ke China. Selain itu, perusahaan seperti Microbor dan Vargus sangat bergantung pada China untuk pasokan material dasar, dengan meningkatkan impor bahan baku manufaktur dan alat pemotong. Kerja sama Rusia dan China kini bahkan menjangkau level yang lebih tinggi, seperti pengembangan mesin kapal dan teknologi kedirgantaraan bersama. Data perdagangan mencatat lembaga riset China telah menguji material penerbangan dari Rusia, termasuk lapisan enamel khusus pesawat militer.
Melalui kerja sama ini, Rusia memperoleh sistem anti-drone China untuk melawan Ukraina. Sebaliknya, China memperoleh keahlian teknis Rusia guna meningkatkan sistem komando dan kontrol udara serta kemampuan drone.
Kolaborasi China dan Rusia juga merambah ke teknologi kapal selam. Kerja sama ini membantu Rusia dalam mengembangkan teknologi otomatisasi dan China memperbaiki kemampuan navigasi senyap. Laporan juga menyebut universitas riset pertahanan Rusia kini membuka pintu lebar bagi mahasiswa asal China. Namun hubungan ini bukan tanpa riak. China masih menahan diri untuk tidak memberikan desain chip termutakhir, sementara Rusia khawatir spionase China atas rantai pasok elektroniknya. Meski demikian, kolaborasi taktis ini menjadi alarm serius bagi Barat atas masifnya upaya Beijing dan Rusia dalam mengimbangi dominasi global.
