Di pegunungan Nara, Jepang, berdiri Hase-dera, sebuah kuil Buddha kuno yang didedikasikan untuk Avalokiteśvara (Bodhisattva Guan Yin). Selama periode Heian di Jepang (794–1185), para peziarah melakukan perjalanan ke sana dari ibu kota, dan kunjungan ke Hase-dera menjadi tema yang sering muncul dalam sastra Jepang, dan kuil ini masih banyak dikunjungi pezirah dan wisatawan yang pergi ke Nara.
Di antara berbagai kisah yang terkait dengan kuil tersebut, terdapat sebuah cerita yang tidak biasa tentang seorang pria miskin yang nasibnya berubah berkat sebatang jerami. Kisah ini tercatat dalam Konjaku Monogatari-shū (Kisah-kisah Masa Lalu) dan kemudian dikenal sebagai “Si Jutawan Jerami”, atau Warashibe Chōja dalam bahasa Jepang.
Pria yang tinggal di Kyoto itu sudah yatim piatu dan sebatang kara, tidak ada seorang pun yang dapat diandalkan untuk membantunya. Karena hampir tidak ada harapan untuk keluar dari kemiskinan, ia pergi ke Hase-dera dan memohon pertolongan kepada Avalokiteśvara.
Sebuah mimpi dan sebatang jerami
Sambil berlutut di hadapan patung Avalokiteśvara, pria itu bersumpah bahwa ia akan tetap tinggal di kuil itu sampai ia menerima petunjuk, sekalipun ia harus mati kelaparan di sana. Karena prihatin akan keselamatannya dan takut ia akan meninggal di dalam kuil, para biksu bergiliran memberinya makan. Namun, ia tetap menolak untuk pergi.
Dua puluh satu hari telah berlalu. Tepat sebelum fajar, ia bermimpi bahwa seorang biksu muncul dari balik tirai. Sosok itu adalah Avalokiteśvara, yang menampakkan diri dalam wujud manusia dan menjelaskan bahwa kemiskinan dan kepahitan hidup pria itu berkaitan dengan konsekuensi dari perbuatan-perbuatan di masa lalu, dan menasehatinya agar dalam masa melunasi pembayaran karma di kehidupan ini, tetap harus memiliki hati yang baik.
Meski demikian, Avalokiteśvara merasa iba kepadanya dan memberikan petunjuk yang tampaknya sederhana: Saat ia meninggalkan kuil, ia harus menyimpan apa pun yang pertama kali ia pegang, sekecil apa pun kelihatannya, dan menganggapnya sebagai anugerah.
Setelah bangun, pria itu mendapat sedikit makanan dari para biksu lalu pergi. Di gerbang kuil, ia tersandung dan terjatuh. Saat ia bangkit, ia menyadari ada sesuatu yang dipegangnya: sebatang jerami.
Dia bertanya-tanya apakah sesuatu yang begitu biasa benar-benar bisa menjadi anugerah. Namun, mengingat mimpinya, dia tetap menyimpannya dan melanjutkan perjalanannya menuju Kyoto.
Tiga jeruk dan sebuah perbuatan baik
Saat fajar mulai menyingsing, seekor lalat kuda mulai berdengung-dengung di sekitar wajahnya. Ia mencoba mengusirnya dengan sebatang ranting, tetapi serangga itu terus kembali. Akhirnya, ia menangkapnya dan menggunakan seutas jerami untuk mengikatnya ke ranting itu. Lalat itu berkibar-kibar di ujung ranting, menjadi mainan kecil yang aneh.
Tak lama kemudian, ia menjumpai sebuah kereta yang ditarik sapi yang mengangkut seorang wanita yang sedang dalam perjalanan menuju Hase-dera. Seorang anak di dalam kereta itu melihat lalat kuda yang beterbangan diikat jerami dan ingin memilikinya. Seorang pelayan lalu menghampiri pria itu dan memintanya untuk menyerahkannya.
Pria itu menjelaskan bahwa ia menganggap sebatang jerami itu sebagai hadiah dari Avalokiteśvara. Meski begitu, ia setuju untuk memberikan mainan itu kepada anak itu. Sebagai ungkapan terima kasih, ibu si anak didalam kereta memberinya tiga buah jeruk mandarin untuk menghilangkan dahaganya selama perjalanan.
Tak lama kemudian, ia bertemu dengan sekelompok peziarah lainnya. Seorang di antara mereka, yang tampaknya merupakan tokoh terhormat, sudah begitu lelah dan kehausan hingga hampir tak sanggup melanjutkan perjalanan. Para pengawalnya mencari air dengan putus asa, tetapi tak menemukan air di sekitar sana.
Ketika pria itu mengetahui apa yang terjadi, ia menawarkan ketiga jeruknya. Sang pengelana memakannya, kembali bertenaga, dan mengucapkan terima kasih. Ia berkata bahwa tanpa buah-buahan itu, ia mungkin saja pingsan di pinggir jalan.

Peziarah yang penuh rasa syukur itu mengeluarkan makanan dari persediaannya dan mengajak pria itu untuk makan. Kemudian ia memberinya tiga gulung kain halus sebagai tanda terima kasih telah menyelamatkan hidupnya.
Pria itu tercengang. Batang jerami yang nyaris ia buang itu telah membawanya pada tiga buah jeruk, dan kini pada kain yang berharga. Ia yakin Avalokiteśvara sedang membimbingnya, namun kesediaannya untuk melepaskan apa yang telah diterimanya juga turut membantu mewujudkan pertukaran-pertukaran tak terduga ini.
Malam itu, ia menginap di sebuah gubuk di pinggir jalan. Keesokan paginya, ia melanjutkan perjalanannya.
Di tengah jalan, pria itu melihat seorang penunggang kuda mendekat dengan menunggangi seekor kuda. Saat ia sedang mengagumi hewan itu, tiba-tiba kuda itu ambruk dan mati. Dengan hati yang hancur, pemiliknya melepas pelana, menunggangi kuda lain, lalu pergi, sementara seorang pelayannya ditinggalkan untuk menguburkan kuda tersebut.
Pelayan itu menjelaskan bahwa kuda itu berasal dari Mutsu, di timur laut Jepang, dan sangat dihargai sehingga pemiliknya menolak tawaran-tawaran yang sangat menggiurkan untuk membelinya. Kini, pelayan itu berharap setidaknya bisa menyelamatkan kulitnya, meskipun melakukannya saat dalam perjalanan akan sulit.
Pria itu mulai bertanya-tanya apakah Avalokiteśvara mungkin bisa menghidupkan kembali kuda itu. Ia mengatakan kepada pelayan itu bahwa ia tinggal di dekat sana dan bisa memanfaatkan kulit kuda itu, lalu menawarkan satu gulungan kain sebagai ganti hewan yang sudah mati itu. Pelayan itu menerimanya dan pergi.
Pria itu mencuci tangannya, berkumur, lalu dengan penuh khidmat mengarahkan pandangannya ke arah Hase-dera. Ia berdoa agar, jika keberuntungan yang baru-baru ini dialaminya benar-benar berkat pertolongan Avalokiteśvara, kuda itu dapat hidup kembali.
Menurut cerita tersebut, kuda itu membuka matanya, mengangkat kepalanya, dan berusaha keras untuk berdiri. Pria itu membantunya berdiri dan membawanya ke tempat yang sepi untuk beristirahat. Tak lama kemudian, hewan itu pun kembali bertenaga.

Dari dua gulungan kain yang tersisa, ia menukar satu gulungan dengan sebuah pelana. Kemudian, ia menggunakan gulungan yang lain untuk membeli pakan kuda dan makanan untuk dirinya sendiri. Dengan menunggangi kuda itu, ia melanjutkan perjalanannya menuju Kyoto.
Namun, saat ia mendekati kota, ia mulai merasa gelisah. Seorang pengelana yang berpakaian lusuh namun menunggangi kuda sebagus itu bisa saja dituduh mencuri, terutama jika ada yang mengenali kuda tersebut. Ia pun memutuskan untuk menjualnya sebelum memasuki ibu kota.
Di dekat Jalan Kesembilan Kyoto, ia menemukan sebuah keluarga setempat yang sedang bersiap-siap untuk berangkat bepergian. Keluarga itu membutuhkan seekor kuda dan sangat senang setelah mencoba kudanya. Mereka tidak memiliki kain atau sutra untuk dijadikan pembayaran, tetapi mengusulkan untuk menjual sawah mereka di dekat situ dan sejumlah beras dengan hewan tersebut.
Pria itu menyetujuinya. Ia mengurus akta kepemilikan ladang tersebut, hidup dari beras yang diterimanya, dan menugaskan orang lain untuk menggarap tanah itu dengan imbalan sebagian hasil panen. Dengan adanya sumber makanan dan penghasilan yang dapat diandalkan, kehidupannya pun perlahan-lahan membaik. Seiring berjalannya waktu, ia pun berhasil membangun rumah sendiri.
Kesejahteraan tanpa melupakan rasa syukur
Kisah ini termuat sebagai Cerita ke-28 dalam Jilid 16 Konjaku Monogatari-shū. Hingga kini, Hase-dera masih menceritakan kisah tersebut kepada para pengunjung.
Nama dalam bahasa Jepangnya, Warashibe Chōja, merupakan gabungan dari kata warashibe, yang berarti sebatang jerami, dengan chōja, yang berarti orang sejahtera. Pria dalam cerita ini tidak pernah disebutkan namanya, tetapi tindakannya membuat kisah ini tak terlupakan. Ia mengikuti petunjuk yang pada awalnya tampak tidak masuk akal, memberikan benda yang disukai seorang anak, dan menawarkan buah yang dimilikinya kepada seseorang yang sedang dalam kesusahan. Ia juga mengenali peluang dan bertindak berdasarkan peluang tersebut, dengan keyakinan bahwa bantuan Avalokiteśvara tidak berakhir hanya dengan pemberian pertama.
Kisah ini bukan sekadar tentang menukar sesuatu yang tak berharga dengan sesuatu yang berharga. Kisah ini mencerminkan pemahaman tentang welas asih, karma, dan pertolongan yang mungkin datang melalui keyakinan. Kekayaan pria itu bertambah melalui serangkaian pertemuan di mana ia tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga memberikan bantuan kepada orang lain.
Setelah menjadi makmur, ia kerap mengunjungi Hase-dera untuk memberikan penghormatan. Ia tidak melupakan bimbingan yang ia yakini telah diterimanya di sana, yaitu untuk terus memiliki hati yang baik sampai akhir hayatnya.
Ketika ia masih miskin, ia berdoa memohon pertolongan. Ketika akhirnya keberuntungan menghampirinya, ia pun tidak lupa untuk bersyukur.
Keadaannya memang telah berubah, tetapi rasa syukurnya tetap sama.
