Kisah

Sebuah Renungan Tentang Arti Kebesaran Sejati

Akhir musim semi lalu, beberapa teman mengajak saya berkemah ke Custer State Park di South Dakota bagian barat. Beberapa renungan muncul dari kunjungan kami ke Mount Rushmore (Gunung Rushmore dengan pahatan wajah George Washington, Thomas Jefferson, Theodore Roosevelt, dan Abraham Lincoln).

Pahatan patung kepala para presiden Amerika itu memang luar biasa, tapi yang lebih menginspirasi lagi adalah makna di balik ukiran wajah-wajah itu. Saya sangat terkesan dengan kutipan di patung Thomas Jefferson, yang diambil dari surat yang ditulisnya menjelang akhir masa jabatannya sebagai presiden:

“Tak pernah ada seorang tahanan pun yang merasa begitu lega setelah bebas dari rantai seperti saya saat melepaskan belenggu kekuasaan.”
Alam menciptakan saya untuk mengejar ilmu pengetahuan yang tenang, karena itulah kesenangan terbesar saya. Namun keburukan zaman di mana saya hidup memaksa saya untuk melawannya dan menempuh lautan penuh gejolak politik.”

Saya pun berpikir, betapa langkanya sudut pandang seperti ini di dunia politik masa kini. Jarang sekali kita melihat politisi yang dengan sukarela meninggalkan kekuasaan; justru sebaliknya, banyak yang berlomba-lomba meraih posisi lebih tinggi demi keuntungan materi atau pengaruh yang lebih besar.

Namun tidak dengan Jefferson. Ia justru tak sabar ingin kembali ke kehidupan tenang di desa pertaniannya, membangun keluarganya, memperdalam pengetahuan lewat buku-buku yang dicintainya.

Bagi Jefferson, menjadi presiden dan tokoh penting politik bukanlah kehormatan, melainkan beban. Tapi ia rela menanggungnya karena sadar bahwa ia hidup di masa dan keadaan yang menuntut pengorbanan pribadi demi kebaikan banyak orang. Menolak untuk menggunakan kemampuannya demi orang lain akan menjadi tindakan egois.

Hal ini membuat saya berpikir—bukankah banyak dari kita juga berada di posisi yang serupa?

Mungkin itu yang akan kamu katakan: “Saya sama seperti Jefferson, presiden AS?
Tidak mungkin! Hal-hal yang saya lakukan tidak berpengaruh besar seperti yang ia lakukan.”

Saya pun kadang berpikir seperti itu. Seperti Jefferson, kita semua punya mimpi dan ambisi. Namun sering kali, keadaan membatasi kita untuk menjalani kehidupan yang terasa biasa saja, mengecewakan, dan jauh dari impian.

Bayangkan seorang ibu rumah tangga. Ia mungkin merasa bahwa mengurus rumah, memasak, membersihkan, dan menyeka hidung anak-anak yang pilek jauh lebih tidak berarti dibandingkan karier sukses yang pernah ia jalani.

Namun wanita karier lajang pun bisa merasa hal yang sama. Apakah pekerjaannya di kantor benar-benar lebih berarti daripada mendidik anak-anak yang  bisa memengaruhi generasi masa depan?

Atau pikirkan tentang para pekerja kasar—tukang kayu, sopir truk, tukang kebun. Mungkin mereka punya pikiran yang cemerlang namun merasa bakatnya sia-sia. Namun mereka tetap bekerja demi menghidupi keluarga.

Ada juga kakek-nenek yang seharusnya menikmati masa pensiun, tetapi malah harus mengasuh cucu. Atau programmer yang mendambakan hidup sederhana di pedesaan. Dan masih banyak contoh lain.

Kita semua, cepat atau lambat, bisa melihat bagian hidup kita yang tak sesuai harapan. Seiring bertambah usia, kita melihat impian masa lalu yang tak tercapai dan merasa gagal—seolah kita hidup demi kebutuhan orang lain.

Jefferson juga mungkin pernah merasa begitu. Dalam kerasnya dunia politik, ia bisa saja bertanya-tanya apakah semua perjuangannya sepadan. Namun ia tetap menjalani jalannya, karena tahu bahwa pengorbanannya layak dilakukan.

Hal serupa ditampilkan dalam akhir trilogi Lord of the Rings. Frodo dan Sam kembali ke Shire setelah petualangan panjang. Sam kecewa saat tahu bahwa Frodo tak bisa menikmati hasil perjuangan mereka. Frodo akan pergi, meninggalkan semua yang ia cintai.

Namun Frodo sadar, kehilangan mimpinya adalah harga yang harus dibayar agar orang lain bisa hidup bebas dan damai.

“Aku mencoba menyelamatkan Shire, dan Shire telah terselamatkan, tapi bukan untukku,” kata Frodo. “Sering kali memang begitu—seseorang harus mengorbankan segalanya agar orang lain bisa mempertahankannya.”

Kita pun begitu. Sama seperti Frodo dan Jefferson, kita sering melakukan hal-hal yang  mungkin bukan merupakan kesenangan kita, namun bermanfaat untuk sekitar kita. Pengorbanan seperti itu jarang dihargai.

Jefferson adalah bukti nyata bahwa jalan hidup yang penuh pengorbanan pun bisa meninggalkan warisan besar—sebesar Gunung Rushmore. (Annie Holmquist/theepochtimes/feb)