Site icon NTD Indonesia

Bodhisattva Avalokitesvara | Legenda Kwan Im (14)

Bodhisattva Avalokitesvara

Berikut adalah cerita legenda putri dari Raja Miao Zhuang, yaitu putri Miao Shan, yang berhasil kultivasi menjadi Bodhisattva Avalokitesvara (Guan Yin / Kwan Im), dikutip dari catatan literatur Dinasti Qing. Dengan sakral dijadikan sebagai referensi.

(Baca Bagian 1 disini)

********

Bab 14: Menaiki Puncak berhasil Tercerahkan, Berbicara mendalam tentang Masa Lalu

Maha Guru Miao Shan melakukan Heshi dan berpamitan, naik ke punggung gajah, dengan pengasuh dan Yong Lian mengikuti di sebelah kanan dan kiri, meninggalkan orang-orang yang baik hati, dan sepanjang perjalanan menuju ke arah utara. Dari pagi hingga siang, mereka telah berjalan lebih dari 30 Li, melalui sebidang padang pasir yang luas berwarna kuning, bukan saja tidak ada tanda-tanda kehidupan manusia, bahkan air atau rumput pun tidak terlihat, melihat ke kejauhan, hanya terlihat kaki langit tak berujung.

Yong Lian berkata: “Jalan di depan begitu luas, tampaknya tak berujung hingga beratus-ratus Li, juga tak ada tempat untuk berteduh. Mulai dari saat ini, kita terus berjalan hingga senja, paling jauh juga tidak lebih dari 50 Li, bagaimana kita akan bermalam malam ini?”

Maha Guru Miao Shan berkata: “Kamu tidak perlu khawatir terlebih dahulu, ada jalan di depan kita jalani saja, jika bisa melangkah satu langkah ya satu langkah saja, anggap saja sampai senja tiba masih belum menemukan tempat berteduh, harus bermalam di tengah padang pasir ini, itu juga tidak masalah. Saat ini walau khawatir terlebih dahulu, juga tidak akan berguna, sangatlah tidak mungkin hanya karena kita khawatir, lantas di depan muncul sebuah tempat untuk berteduh.”

Yong Lian mendengarkan, dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Mereka bertiga dan seekor gajah, dengan hening tanpa suara melanjutkan perjalanan.

Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan, hingga matahari terbenam di balik gunung barat, masih belum ada tanda-tanda hutan atau pun desa. Maha Guru Miao Shan duduk di punggung gajah, menggunakan mata Bijaknya untuk melihat ke depan, melihat beberapa Li ke depan, sepertinya ada manusia dan ternak berlalu, tahu dengan jelas itu adalah sekelompok penggembala, dia pun berkata: “Bagus, bagus! Lihatlah kalian, di depan bukankah ada sekelompok penggembala? Mari kita melangkah lebih cepat, ketika tiba di sana bisa meminta bantuan.”

Pada awalnya pembantu dan Yong Lian karena jarak yang terlalu jauh, tidak bisa melihat apa-apa. Setelah mereka berjalan lebih jauh, mereka mulai melihat sesuatu yang samar-samar, kemudian semakin mereka berjalan semakin dekat, barulah terlihat jelas di sana ada manusia-ternak dan tenda-tenda. Ketiganya sangat bersuka cita! Ketika mereka mendekat, matahari mulai perlahan terbenam.

Maha Guru Miao Shan turun dari punggung gajah, berjalan beberapa langkah ke depan, dan melakukan Heshi sebagai hormat kepada seorang yang tampaknya seperti kepala suku, menjelaskan tujuan kedatangannya. Kebetulan, kelompok orang tersebut adalah suku Gala yang berasal dari wilayah timur Kerajaan Xinglin, mereka selalu berpindah-pindah tempat, hidup nomaden, setelah mendengar penjelasan Maha Guru Miao Shan, tahu bahwa itu adalah orang kerajaan yang menjalani kultivasi, tentu saja mereka sangat menaruh hormat, mereka bertiga pun diundang masuk ke dalam tenda, duduk bersila di tanah, gajah putih pun berbaring di luar tenda berjaga-jaga.

Suku Gala itu sangat menghormati mereka ketiga, setelah berbicara ringan, langsung ada seseorang membawakan sebuah botol air jernih, sepiring besar daging sapi untuk mengisi perut ketiga orang tersebut. Bagi mereka itu adalah niat baik, tapi sayangnya ketiga orang tersebut tidak makan daging sedikit pun, apalagi daging sapi yang begitu banyak?

Begitu melihatnya, Maha Guru Miao Shan mengucapkan “dosa” berkali-kali, dan mengucapkan terima kasih kepada orang itu: “Saya sejak lahir, sudah tidak memakan daging, menjalani vegetarian. Bahkan mereka berdua, sejak mengabdikan hidup kepada Sang Buddha, juga telah berhenti makan daging, daging-daging ini terimalah kembali, manfaatkanlah untuk diri kalian sendiri, saya hanya meminta segelas air jernih ini sudah cukup!”

Kepala suku berkata, “Kalian telah melakukan perjalanan sepanjang hari, pastinya merasa lapar, di sini selain daging tidak ada lagi makanan yang dapat mengenyangkan perut, bagaimana baiknya kita mengatasi situasi ini?”

Yong Lian berkata: “Tidak masalah, hari ini ketika kami berangkat dari Benteng Saishi, Tuan Penjabat Sun memberikan kami sekantong mantou, itu seharusnya cukup untuk beberapa kali makan!”

Maha Guru Miao Shan berkata: “Kapan dia memberikannya padamu? Mengapa saya tidak tahu?”

Yong Lian berkata: “Sebelum meninggalkan benteng, saya khawatir setelah Maha Guru mengetahui tentang itu, akan menolaknya tidak mau menerima, ini sebabnya diam-diam saya telah menerimanya, untuk persiapan di saat mendesak. Tak disangka kita akan menggunakannya hari ini.”

Maha Guru Miao Shan berkata: “Kenapa kamu tidak mengatakannya lebih awal? Saya bisa mengucapkan terima kasih kepada Tuan Pejabat Sun juga.”

Yong Lian menjawab: “Saya sudah menyampaikan ucapan terima kasih atas nama Maha Guru.” Sambil berbicara, dia mengambil beberapa mantou dari kantongnya, semua orang memakannya, dan meminum air untuk membasahi tenggorokan. Pada saat itu tenda gelap dan tanpa lampu, hanya cahaya redup bulan yang tertutupi debu, menyusup melalui celah-celah, memberikan sedikit cahaya. Ketiga orang itu duduk bermeditasi memasuki kondisi Ding, sementara para penggembala yang berkelompok tidur dengan nyenyak, tanpa berpanjang lebar lagi.

Hingga esok paginya, mereka berpisah dan melanjutkan perjalanan masing-masing. Keberadaan suku Gala itu, tidak diketahui lagi kelanjutannya, di sisi lain Maha Guru Miao Shan dan kedua muridnya, terus berjalan ke utara, pagi berjalan malam beristirahat, selama beberapa hari berturut-turut, aman tanpa terjadi masalah.

Dalam sehari ketiganya terus berjalan dari pagi hingga malam, tanpa berhenti sekalipun, mereka telah melihat puncak Gunung Sumeru dari kejauhan. Harapan semua orang semakin mendekat, keberanian mereka semakin bertambah, dan perjalanan mereka semakin cepat. Jarak yang biasanya mereka tempuh 50 Li dalam sehari, sekarang tak disangka bisa berjalan hingga 70 Li tanpa merasa lelah.

Mereka telah berjalan hingga sampai juga di kaki Gunung Sumeru. Namun, gunung Sumeru ini, bukan saja tinggi menjulang ke langit, tetapi juga sangat luas, terdapat 72 puncak gunung dengan ukuran berbeda, yang saling terhubung, naik turun seperti naga yang berenang. Meskipun Maha Guru Miao Shan dan kedua muridnya telah mencapai kaki gunung, namun mereka tidak tahu mana yang disebut Puncak Teratai Salju. Bila harus mengunjungi setiap puncak gunung, itu sangatlah tidak masuk akal, jika tidak berhasil menemukan Teratai Salju, selamanya tidak akan tahu di mana letak puncak itu, sehingga perjalanan mereka akan sia-sia. Di sekitar puncak gunung dalam radius 10 Li, tidak ada pemukiman atau penduduk desa yang bisa mereka tanyai. Situasi ini membuat mereka bingung dan ragu untuk melanjutkan.

Setelah berdiskusi sejenak, Yong Lian tiba-tiba mengungkapkan ide yang menarik: “Puncak Teratai Salju ini, karena adalah puncak utama Gunung Sumeru yang terkenal, pasti sangat tinggi dan besar, berbeda dari yang lain. Kita tidak perlu peduli apakah itu benar atau tidak, hanya perlu memilih puncak gunung yang tinggi besar untuk dikunjungi. Anggap saja kita salah, siapa tahu karena ketulusan hati kita, Teratai Salju akan merasakannya, juga akan menampakkan diri membimbing kita.”

Dalam keadaan tanpa pilihan, mereka terpaksa untuk mengikuti saran Yong Lian. Hasilnya, mereka mulai membandingkan ketinggian dan ukuran puncak gunung satu per satu, dan mereka menemukan bahwa puncak ketiga yang agak condong ke kiri adalah yang tertinggi dan terbesar di antaranya, mereka pun setuju untuk menjadikannya sebagai tujuan, bersama-sama melanjutkan perjalanan menuju puncak tersebut. Setibanya di lereng gunung, mereka dengan susah payah menemukan sebuah jalur kecil yang menuju ke atas, dan Yong Lian mengarahkan gajah putih untuk melewati jalur tersebut.

Tidak disangka, gajah putih yang biasanya sangat jinak, hari ini malah tiba-tiba menjadi keras kepala, menolak untuk bergerak. Yong Lian melihat bahwa tunggangan itu tidak mau bergerak, dia pun berkata: “Ini aneh, mungkinkah gajah putih tidak makan cukup hari ini, sehingga tidak mau bergerak maju?”

Maka dia pun mengeluarkan sepotong mantou dari tas buntelannya dan mencoba memberikannya kepada gajah. Namun gajah putih tetap tidak mau makan, tetap berdiri, bergerak pun tidak. Ini membuat Yong Lian menjadi frustrasi dan marah: “Binatang jahat, kenapa kamu berkelakuan aneh seperti ini, mau dipukul? Jika tidak mau bergerak lagi, saya akan memberimu sebuah pukulan biar kamu rasakan!”

Ketika gajah putih mendengar kata-kata itu, dia pun memalingkan kepalanya ke arah Yong Lian, menghela napas panjang seolah-olah berkata kepada Yong Lian: “Aroma di sana tidak benar, pasti ada makhluk aneh bersembunyi di sana, sangat berbahaya, tidak boleh masuk ke sana!”

Yong Lian meskipun terkenal cerdas, namun tetap saja tidak dapat menerka maksud gajah tersebut, dan hanya terus marah-marah. Melihat situasi tersebut, Maha Guru Miao Shan pun turun dari punggung gajah, dan membelai belalainya sambil berkata: “Gajah putih, kau memiliki kepekaan spiritual. Sejak kamu menyelamatkan nyawa saya di Gunung Jinlun, menemani saya mengunjungi gunung ini, sepanjang perjalanan kamu juga telah menelan banyak penderitaan, di sini di depan gunung ini, mengapa kamu tiba-tiba menunjukkan sifat liar?”

Setelah mendengar itu, gajah putih menggelengkan kepala beberapa kali, menunjukkan bahwa itu tidak benar.

Maha Guru Miao Shan melanjutkan, “Jika begitu, alasan kamu tidak mau melanjutkan perjalanan. Mungkinkah karena gunung ini bukanlah Puncak Teratai Salju?”

Gajah putih menggeleng-gelengkan kepala lagi, tetapi sayang di lehernya tumbuh tulang sepanjang 3 inci, tidak dapat menjelaskan alasan keengganannya untuk maju, dengan jelas menceritakan semua, hanya bisa menggelengkan kepala, yang membuat Maha Guru Miao Shan kebingungan.

Bagaimanapun kita harus memberikan klarifikasi di sini. Apakah gunung ini benar-benar Puncak Teratai Salju? Gajah putih itu pada dasarnya adalah binatang, bagaimana mungkin dia bisa tahu? Alasan dia tidak mau masuk ke dalam gunung, hanya karena ia mencium semacam bau amis yang menyengat, yang sangat mengganggu hidungnya, menunjukkan bahwa di dalam gunung ini pasti ada sesuatu yang aneh, bahkan merupakan makhluk yang paling ditakuti dalam hidupnya, yakni ular panjang. Karena itu adalah musuh bebuyutannya, tentu ia bisa mengenali bau tersebut dengan sangat jelas.

Dalam hierarki binatang liar, meskipun gajah memiliki sifat yang sangat jinak, mereka juga memiliki kulit yang tebal dan daging yang kuat, bertenaga besar, serta kemampuan pertahanan yang sangat baik, baik itu harimau maupun macan juga tidak ditakuti. Namun mereka hanya takut pada dua hal: pertama tikus, yang dapat merayap masuk ke hidung mereka dan memakan otak mereka; kedua ular panjang, yang dapat melilit tubuh mereka dan membuat mereka tidak bisa bergerak, bahkan hingga kematian. Ini sebabnya gajah memiliki kemampuan khusus untuk merasakan aroma dari dua makhluk tersebut, sekali cium langsung tahu.

Tentu saja, gajah putih sudah mencium aroma amis yang tidak sedap tersebut, namun Maha Guru Miao Shan dan kedua muridnya mengapa sama sekali tidak menciumnya? Hal ini karena penciuman hewan jauh lebih tajam daripada manusia, sehingga tiga orang tersebut masih belum menyadari kehadiran bau tersebut.

Pada saat itu Maha Guru Miao Shan dengan lembut memberikan nasihat kepada gajah putih, mengingatkannya bahwa memulai sesuatu tanpa menyelesaikannya, gagal karena sebuah kebocoran adalah hal yang sangat disesalkan, apakah berhasil memperoleh buah sejati atau tidak, juga hanya bergantung pada satu pikiran ini.

Gajah putih tampaknya memahami maksudnya, mengangguk seperti mengatakan: “Saya tidak mau jalan sama sekali bukan karena malas, tetapi karena di depan ada bahaya, takut itu akan membahayakan Anda. Namun karena Tuan sangat ingin pergi, saya juga tidak bisa banyak menolak lagi.”

Maha Guru Miao Shan sangat senang melihat gajah putih mengangguk setuju untuk melanjutkan perjalanan, dia pun naik kembali ke punggung gajah, gajah putih itu kemudian mulai bergerak perlahan-lahan mengikuti jalur gunung itu.

Setelah perjalanan sejauh lima hingga tujuh Li, angin sepoi-sepoi yang melintas membawa aroma yang amis busuk, sangat menusuk hidung dan membuat orang yang menghirup merasa mual. Maha Guru Miao Shan merasa aneh, jadi dia meminta Yong Lian dan pengasuh untuk berhenti, dia sendiri turun dari punggung gajah, untuk melihat kondisi gajah putih, tiba-tiba angin aneh bertiup keras dari atas, membuat pepohonan bergoyang dan pasir terbang ke segala arah, bahkan menyebabkan mata mereka sulit untuk terbuka. Di belakang angin, aroma amis busuk sulit dibendung.

Maha Guru Miao Shan memandang ke arah angin, dan melihat seekor ular piton besar muncul dari hutan di depan mereka. Miao Shan segera berseru: “Bahaya! Ular besar datang. Kita harus segera menghindar!” Pada saat itu, pengasuh dan Yong Lian juga melihatnya, mereka semua berteriak ketakutan, dan bersama-sama mereka berlari cepat menuju jalan kecil di samping.

Maha Guru Miao Shan dan kedua muridnya melarikan diri sejauh beberapa langkah, ketika tidak terlihat ada gerakan, mereka melihat ke belakang, terlihat ular piton itu menarik gajah putih menjauh, mereka semua berkata: “Kasihan, kasihan! Gajah ini telah mengantar kita sampai di sini, tetapi tak disangka jatuh ke tangan binatang jahat itu, benar-benar disayangkan!”

Mereka mengalami berbagai rintangan lain di sepanjang perjalanan, tetapi tidak akan diperinci di sini.

Pagi ini, tiga orang itu kembali melanjutkan perjalanan, berturut-turut mereka telah berjalan selama tiga hari penuh, sebelum akhirnya mencapai setengah dari gunung tersebut. Setelah melewati pertengahan gunung, pemandangan sekitarnya berubah drastis. Ketika berjalan naik dari kaki gunung, meskipun udara pegunungan terasa lebih dingin daripada dataran rendah, tapi masih belum sampai membuat tangan dan kaki membeku. Kali ini, ketika mereka melewati pertengahan gunung, setiap langkah terasa semakin dingin. Salju di puncak gunung ketika diterpa angin turun ke bawah, saat terkena wajah terasa diiris oleh pisau; di tempat-tempat yang basah, air membeku membentuk lapisan es yang sulit dilewati dan licin. Di sepanjang jalan selain pepohonan pinus yang tahan dingin, sulit menemukan pohon biasa, ingin mencari buah-buahan untuk mengisi perut, juga masih belum ketemu-ketemu.

Yong Lian melihat situasi ini, diam-diam menggerutu, perutnya mulai lapar, tubuhnya juga kedinginan, Jika terus kedinginan seperti ini, apakah tidak akan membuat seluruh darah di tubuh membeku, harus bagaimana baiknya? Bahkan pengasuh pun melihat situasi ini dengan ekspresi wajah yang cemas, tetapi hanya Maha Guru Miao Shan yang dengan tulus hati fokus melangkah, seperti layaknya batu, walau berjalan telanjang kaki, namun dia tidak merasa derita sedikit pun.

Setelah berjalan sepanjang hari, barulah terlihat dua pohon kastanya, dengan bulu-bulu tumbuh di atasnya. Yong Lian kemudian pergi dan memukul jatuh beberapa biji kastanya itu, lalu dengan kaki dia menginjaknya kemudian dibagi untuk dimakan bersama, tak disangka itu bisa mengenyangkan perut. Aneh sekali, begitu perut kenyang, rasa dingin di badan langsung berkurang banyak, semangat juga membaik. Dengan begitu mereka pun kemudian melanjutkan perjalanan lagi, saat langit mulai gelap, mereka mencari sebuah gua batu untuk bermalam.

Sepanjang malam itu, dinginnya sangat menusuk orang, Yong Lian benar-benar tidak tahan lagi, terus-menerus mengeluh kedinginan. Pengasuh juga berkata: “Angin ini dinginnya betul-betul menusuk tulang, membuat orang sulit bertahan, sebaiknya kita kumpulkan beberapa ranting, nyalakan api untuk menghangatkan tubuh, barulah kita semua bisa merasa baikan!”

Maha Guru Miao Shan berkata: “Kalian berhenti mencari masalah, tengah malam di pegunungan dari mana ada api? Meskipun kita dapat menyalakan api dengan mengetuk batu, cahaya api itu pasti akan menarik perhatian hewan liar di gunung, jika mereka mendekati api, tidakkah itu akan menimbulkan bencana bagi kita? Oleh karena itu kita tidak boleh melakukannya. Selain itu jika kita ingin mencapai Dao [pencerahan], kita harus tulus dengan keyakinan dan berspesialisasi tunggal. Ketika jiwa dan semangat menyatu, semakin banyak penderitaan yang kita alami secara fisik, semakin kuat pula jiwa dan semangat kita, semakin banyak kita merasakan rasa sakit, itu adalah dorongan untuk memperkuat diri. Setelah melewati ribuan pantangan dan ratusan rintangan, jiwa dan semangat kita akan menjadi semakin kuat menyatu sepenuhnya, tidak akan terpisah selamanya, saat itu barulah kita bisa mencapai Dao [pencerahan]. Setelah mencapai Dao [pencerahan], tubuh akan dicampakkan, jiwa dan semangat ini berubah menjadi diri kita yang lain, dunia besar pun dapat dikelilingi tanpa hambatan, memiliki kemampuan supernormal yang sangat besar, tanpa batas. Kita bertiga, jika ingin memperoleh buah sejati, segala penderitaan kedinginan dan rasa lapar, sudah seharusnya diterima. Jika hanya ini saja kita tidak bisa bertahan, bagaimana mungkin ada harapan memperoleh buah sejati? Kita telah melewati penderitaan yang tidak sedikit, seperti membangun sebuah pagoda, hanya kurang satu paku penutup, apakah kalian benar-benar akan menyerah setelah melakukan begitu banyak usaha?”

Ucapan tersebut membuat pengasuh dan Yong Lian merasa tercerahkan hatinya, rasa dingin pun berkurang banyak, mereka pun duduk bermeditasi memasuki kondisi Ding, setelah melewati malam, mereka melanjutkan perjalanan keesokan harinya, demikianlah mereka kembali berjalan selama tiga hari lagi.

Hari itu saat mereka sedang berjalan, tiba-tiba terlihat sebuah gerbang batu, dengan 2 aksara “sheng jing (batas kemenangan)” di atasnya.

Maha Guru Miao Shan berkata: “Bagus, bagus! Kita telah sampai di gerbang batu ini, pasti ada tempat atau kuil untuk berkultivasi Sejati.”

Maka ketiganya pun masuk melalui gerbang batu itu dengan tiga langkah satu sujud, setelah melanjutkan perjalanan sekitar satu Li, terlihat di atas tebing ada sebuah ruang batu yang sangat besar, dalam ruang batu itu duduk bersila seorang sesepuh tua beralis panjang, yang penuh kasih dan berwajah mulia.

Maha Guru Miao Shan berkata kepada kedua muridnya: “Entah ini adalah perwujudan Sang Buddha sendiri, atau jika bukan, karena berkultivasi sendirian di sini, beliau pasti adalah seorang Gaoren [petapa tingkat tinggi] yang telah memperoleh Dao [pencerahan]. Kita seharusnya kowtow memohon petunjuk dari beliau untuk menuntun kita keluar dari kebingungan ini!”

Kedua muridnya juga setuju, maka ketiganya bersama-sama masuk ke dalam ruang batu tersebut, lalu berlutut memberi hormat. Maha Guru Miao Shan berkata: “Buddha Hidup di atas, hamba Miao Shan bersama rekan dua orang, datang dari Kerajaan Xīnglín ke sini untuk melakukan perjalanan spiritual, kami memohon petunjuk dan bimbingan ilahi, untuk menuntun kami melewati kebingungan ini. Kami telah berjalan hingga ke tempat ini, bisa bertemu dengan Buddha Hidup, mungkin ini sudah jodoh, kami mengharapkan Buddha Hidup memberikan belas kasih, menunjukkan jalan yang benar, agar bisa kembali ke jalan lurus, kami akan sangat bersyukur atas anugerah ini.”

Setelah mendengar kata-kata itu, Tetua Beralis Panjang akhirnya membuka matanya, melihat ke arah tiga orang itu dan berkata, “Shanzai, shanzai! Sungguh luar biasa kalian bertiga menempuh perjalanan yang menderita ini pantang mundur, datang dari sangat jauh ke sini, ini sudah terhitung ada jodoh [yuan]. Tetapi saya harus bertanya pada anda, setelah anda meninggalkan segala kehormatan, mengabdi pada ajaran Buddha, bertekad penuh menjalani kultivasi, apakah anda tahu tujuan utama kultivasi Bersih Murni dalam aliran Buddha? Dan setelah berhasil kultivasi memperoleh buah sejati, apa yang menjadi keinginan hati anda? Silakan ceritakan satu per satu.”

Maha Guru Miao Shan berkata: “Mengawali dengan melapor pada Sang Buddha Hidup, tujuan utama dari kultivasi Bersih Murni dalam aliran Buddha, dasarnya adalah bagaimana menjaga perilaku manusia di dunia, sama sekali tidak ada niat keuntungan pribadi sedikit pun. Ini sebabnya Sang Buddha melewati ratusan bencana, semata-mata untuk menghapus rintangan malapetaka manusia di dunia. Mengenai niat hati hamba, jika suatu saat nanti dapat melepaskan diri dari siklus kelahiran kembali, bersumpah akan mengarungi sepuluh penjuru Tri Loka, menyelamatkan semua makhluk yang menderita, agar manusia di dunia kembali ke kesadaran Lurus [Sambodhi]. Entah tekad hamba ini, apakah masih sesuai dengan tujuan utama aliran Buddha?”

Tetua Beralis Panjang mengangguk-angguk seraya berkata: “Biar bagaimana pun ada beberapa latar belakang yang terungkap. Tetapi anda harus tahu, semua orang yang berkultivasi Sejati, ada tahap tertentu dalam memperoleh Dao [pencerahan], ini juga tidak bisa terlepas dari satu aksara jodoh [yuan]. Meskipun kalian kali ini telah mengalami banyak derita kesulitan, berhasil sampai ke tempat ini, tetapi menurut pandangan saya, tempat untuk memperoleh Dao [pencerahan], sama sekali bukan di sini.”

Maha Guru Miao Shan kembali berbicara sambil memberi hormat: “Memperoleh bimbingan dari Sang Buddha Hidup, adalah sebuah berkah besar, tetapi hamba semua datang ke Gunung Sumeru ini, juga ada alasannya. Karena pada masa lalu di Kerajaan Xinglin, ada seorang kultivator asal Gunung Duobao bernama Louna Fulu, yang pernah berkata bahwa ‘Untuk memperoleh buah sejati, harus mendapatkan teratai putih di tempat ini, barulah dapat memperoleh Dao [pencerahan],’ inilah sebabnya kami khusus datang berkunjung ke sini.”

Tetua Beralis Panjang mengangguk sambil tersenyum: “Ternyata dialah yang menyebarkan cerita tersebut di sana. Namun jika dia tidak mengatakan demikian, kalian juga tidak akan datang ke tempat ini, dan bencana iblis di sepanjang jalan juga tidak akan dilewati semua, jika tidak berhasil melewati semua bencana iblis ini, maka tidak akan memperoleh Dao [pencerahan], hal ini juga pastinya tidak mudah.”

Maha Guru Miao Shan berkata, “Mungkin saja Louna Fulu sengaja memberi petunjuk kepada hamba semua untuk datang ke sini mengunjungi Sang Buddha Hidup, agar membimbing kami menuju kesadaran Lurus [Sambodhi]!”

Tetua Beralis Panjang berkata: “Dijelaskan secara singkat, hukum jodoh [yuan] itu eksis, ingin menghindarinya juga tidak bisa. Sekarang biarkan saya jelaskan secara sederhana kepada anda! Tubuh asal anda sebelumnya adalah perahu kasih, yang memiliki tujuan untuk menyelamatkan dunia dari penderitaan, ini sebabnya bereinkarnasi memasuki dunia, terlahir di Kerajaan Xinglin, barulah ada akar demikian, sekarang masanya hampir tiba, tidak lama lagi akan memperoleh Dao [pencerahan]. Teratai putih di tempat ini, awalnya memang ada, tetapi sekarang ada orang sudah membantu anda memindahkannya ke Gunung Potalaka di Laut Selatan dijadikan Takhta Teratai, untuk digunakan anda di masa depan. Hutan bambu ungu di sana adalah tanah suci [jingtu] milik anda, di sini sama sekali tidak berjodoh [yuanfen] dengan anda. Mengenai tempat di mana transformasi akan terjadi, itu masih akan terjadi di kuil Jinguangming Gunung Yemo di Kerajaan Xinglin. Ini karena melalui transformasi anda, orang-orang awam yang bodoh akan tergerak, dalam arus besar bersama-sama masuk ke dalam pintu Buddha, melepaskan diri dari segala penderitaan. Mengenai mereka berdua, takdir [yinyuan] mereka belum tiba, masih harus menjalani kultivasi penderitaan beberapa waktu, tetapi pada akhirnya juga akan memperoleh buah Bodhi.

Maha Guru Miao Shan berkata: “Hamba sangat berterima kasih atas bimbingannya. Berkenan kiranya memberi tahu nama Dharma Sang Buddha Hidup, agar hamba dapat memberikan penghormatan.”

Tetua Beralis Panjang berkata: “Ini tidak perlu, suatu saat nanti anda akan mengetahuinya sendiri. Namun saya masih punya sebuah pusaka sebagai hadiah untuk anda.” Berkata demikian dari balik jubahnya dikeluarkan sebuah botol bening dari giok putih, diberikannya kepada Maha Guru Miao Shan sambil berkata: “Silakan anda bawa botol ini pulang dan jagalah dengan baik, ketika terlihat ada air di dalam botol, dan dari air itu tumbuh ranting pohon willow, itu adalah tanda bahwa hari anda memperoleh Dao [pencerahan] telah tiba. Harus ingat, harus ingat! Tidak boleh tinggal di sini lebih lama, sekarang kalian sudah boleh pergi.”

Maha Guru Miao Shan menerima botol bening dari batu giok putih itu, memberi hormat sebagai terima kasih sekali lagi, lalu bersama dua orang lainnya meninggalkan gerbang “sheng jing (batas kemenangan)”, dan terus menuruni gunung. Mereka berjalan sepanjang hari dan beristirahat di malam hari, dan di gunung tidak ada kejadian tak terduga yang terjadi.

Setelah keluar dari mulut lembah, Maha Guru Miao Shan berkata kepada kedua orang lainnya: “Kali ini kita harus berhenti melangkah di jalan sesat lagi, agar tidak mengundang rintangan iblis lagi.” Maka mereka pun memusatkan jiwa pikiran, mengidentifikasi arah tujuan, langsung berangkat menuju barat.

Di perjalanan sama sekali tidak ada kejadian, ketika ada yang perlu dibicarakan dibahas panjang lebar; ketika tidak ada hanya dibahas singkat, hanya berjalan dan berjalan terus, dan pada suatu hari mereka telah sampai di kaki Gunung Yemo di Kerajaan Xinglin.

Ketika para penduduk melihat kelompok Maha Guru telah kembali dari perjalanan ke gunung, mereka semua tua-muda datang untuk menyambut, penuh sorak sorai kegembiraan. Sebelumnya sudah ada yang melapor ke Kuil Jinguangming, sehingga semua biksuni tua maupun muda, mengenakan jubah Kasaya mereka, memukul lonceng menabuh genderang, berbaris rapi di lereng gunung, dan menyambut Maha Guru serta mengiringnya hingga masuk ke dalam kuil.

Maha Guru Miao Shan duduk tenang di ruang meditasi, para biksuni datang untuk menghadap memberi hormat dan bertanya-tanya, Maha Guru Miao Shan tak terhindarkan menceritakan peristiwa perjalanan mereka dari awal hingga akhir kepada semuanya, semua orang senang bukan main mendengarnya, tanpa henti melafalkan nama Buddha. Maha Guru Miao Shan sendiri kemudian mengeluarkan botol bening dari giok putih, dan meletakkannya di atas meja altar di depan Buddha. Para biksuni tahu bahwa itu adalah barang pusaka, hanya menanti ada air muncul di dalam guci itu, ranting pohon willow tumbuh, tanda bahwa Maha Guru akan menjadi Buddha.

Memang sebuah berkah, saat Maha Guru bercerita, banyak orang yang datang untuk mendengarkan. Di antara mereka, ada tua dan muda, di antaranya ada seorang bocah laki-laki, yang bernama Shen Ying, dia sangat cerdas sejak lahir, hanya saja nakal bukan main, sepanjang hari hanya main-main saja dengan orang lain, orang-orang yang lebih tua sering kali langsung mengusirnya.

Dia sangat menikmati cerita yang diceritakan oleh Maha Guru, dan juga gatal ingin bermain-main sebentar. Namun ketika dia mendengar bahwa botol bening dari giok putih itu akan sendirinya ada air, akan sendirinya tumbuh ranting pohon willow, dia pun merasa sedikit ragu, dalam hati berpikir: “Hanya botol kosong seperti itu, jika tidak ada yang menuanginya atau menancapkan ranting pohon willow ke dalamnya, adalah tidak mungkin tumbuh dengan sendirinya.” Dia pun langsung timbul ide brilian, niat jahil untuk membuat lelucon dengan Maha Guru Miao Shan. Namun karena ruangan dipenuhi orang banyak pada saat itu, tidak bisa langsung turun tangan, maka dia pun terpaksa untuk pergi.

Meskipun dia menyimpan niat seperti itu, bagaimana mungkin dia melepaskan tangan begitu saja? Meski orang lain tidak mengetahui niat pikirannya, namun di ruang meditasi, setiap hari orang berkunjung tanpa henti, malam hari pintu sudah ditutup, orang luar bagaimana bisa masuk ke dalam? Meskipun Shen Ying memikirkan berbagai cara, akhirnya dia tidak bisa melaksanakan niatnya.

Waktu berlalu dengan cepat, dalam sekejap mata beberapa bulan telah berlalu. Suatu hari, Shen Ying tiba-tiba memiliki rencana jahat. Dia menyiapkan sekendi air jernih dan sebuah ranting pohon willow, lalu menyembunyikannya di tempat terpencil, setelah itu dia pergi sendirian ke gudang kayu, memukul batu untuk membuat api, dan menyalakan sekam kayu. Api yang tak kenal ampun berkobar dengan kerasnya, dan ketika para biksuni di kuil mendengar bahwa gudang kayu sedang terbakar, mereka panik ketakutan dan semuanya berlari ke belakang untuk membantu mengambil air memadamkan api. Di ruang meditasi, bahkan bayangan manusia pun tidak ada. Maka Shen Ying pun memanfaatkan kesempatan ini, dia mengambil barang-barang yang sudah disiapkan sebelumnya, pergi ke ruang meditasi, dengan semangat melompat ke atas meja altar, menuangkan air dari kendi ke dalam botol bening itu, menancapkan ranting pohon willow ke dalamnya, membersihkan jejak kakinya di atas meja altar, lalu segera keluar dari sana tergesa-gesa.

Kala itu, penduduk di kaki gunung juga mendengar kabar kebakaran dan berbondong-bondong datang, untuk membantu memadamkan api, lalu lalang, dalam keadaan yang kacau balau seperti itu, tidak seorang pun memperhatikan tindakan Shen Ying, dan lebih-lebih tidak ada yang berpikir bahwa api yang ganas itu disebabkan oleh bocah ini. Ketika mereka melihat Shen Ying membawa sebuah kendi air, mereka bahkan mengira bahwa dia datang untuk membantu memadamkan api!

Namun Shen Ying itu malah dalam hatinya berpikir: “Sekarang air di dalam botol giok putih itu sudah dituangkan, ranting pohon willow sudah dimasukkan, sesuai kata-kata Maha Guru, ketika semua ini terjadi, itu berarti hari bertransformasi menjadi Buddha.”

“Dengan begini saya telah mempersiapkan kejutan palsu, tunggu besok dia tidak bertransformasi menjadi Buddha, maka saya bisa membuat lelucon besar dengannya, kala itu lihat dia masih akan berkata apa?”

Untungnya kebakaran terdeteksi cepat, dan banyak orang yang membantu, sehingga api bisa dipadamkan dalam waktu singkat dan tidak menjadi bencana besar. Setelah keributan tersebut mereda, hari sudah menjelang senja. Setelah semua orang selesai makan malam, dan membersihkan diri, masing-masing kembali ke ruang meditasi untuk melakukan meditasi. Di tengah kesibukan tersebut, tidak ada yang memperhatikan botol bening dari giok putih di atas meja altar, ini sebabnya meskipun Shen Ying sibuk seharian, namun tidak ada yang menyadari keberadaannya pada hari itu.

Malam itu berlalu tanpa peristiwa, ketika pagi hari tiba, semua orang pun bangun, biksuni yang bertugas membersihkan kuil segera bangkit dan mulai membersihkan setiap sudut. Ketika Xing Kong, salah satu biksuni yang bertugas di aula utama, sedang membersihkan meja altar, tiba-tiba melihat ranting pohon willow di dalam botol bening itu, dia mendekat untuk melihat dengan seksama, dan benar saja botol itu penuh dengan air jernih. Dia gembira bukan main, dan meninggalkan sapuannya, lalu berlari keluar dari aula. Kebetulan Yong Lian membawa buket bunga segar untuk persembahan, dan keduanya pun bertabrakan keras.

Ingin tahu peristiwa selanjutnya seperti apa, nantikanlah jawaban di bab selanjutnya.

(Bersambung)