Berikut adalah cerita legenda putri dari Raja Miao Zhuang, yaitu putri Miao Shan, yang berhasil kultivasi menjadi Bodhisattva Avalokitesvara (Guan Yin / Kwan Im), dikutip dari catatan literatur Dinasti Qing. Dengan sakral dijadikan sebagai referensi.
Bab 7: Demi meluluhkan hati Sang Ayah, bersumpah menjalani Kultivasi sebagai budak
Dalam sekejap, sejak dia sedang memasak di dapur, tak terasa satu tahun telah berlalu. Raja Miao Zhuang juga sering memanggil Yong Lian sang pelayan istana yang mengawasinya untuk ditanyai. Sayangnya Yong Lian telah sehati dengan sang putri, dan keduanya telah memiliki kedekatan satu sama lain, tentu saja dia melindunginya dengan segala cara, mana mau mengatakan hal buruk tentangnya. Ketika Raja Miao Zhuang mendengar ini, walau dalam hati tidak setuju, tetapi ketika dia melihat bahwa dia mampu bekerja begitu keras tanpa rasa dendam, dia mau tidak mau harus mengagumi ketekunannya dan hanya bisa menghela napas. Dia juga tahu bahwa harapan terakhirnya tidak akan menjadi kenyataan lagi, tetapi masih tetap tidak bisa memecahkannya, dengan memanfaatkan Festival Lentera, saat istana didekorasi penuh dengan lentera, dan kedua kakak putri memasuki istana untuk merayakannya, sang Raja pun meminta mereka untuk menasihati dan coba meyakinkannya, lihat bagaimana hasilnya! Ini juga tidak lebih hal terbaik yang bisa dilakukan oleh seorang manusia.
Kedua putri setelah menerima perintah, langsung pergi ke kamar tidur Putri Miao Shan. Antar kakak beradik saling bertemu, tentu saja banyak yang dibicarakan, kemudian secara bertahap juga membicarakan hal utama. Putri Miao Shan tidak menunggu sampai kedua kakaknya membuka mulut, dan berkata terlebih dahulu: “Adinda tahu semua tentang niat baik kedua kakak. Hanya saja adinda sudah mengambil keputusan dan tidak bisa berubah di tengah jalan. Jika kedua kakak sangat sayang dengan adinda, demi saudara kandung sendiri, adinda hanya ingin mohon bantu tambahkan kata-kata baik di depan ayahanda Raja, berharap ayahanda Raja akan memenuhi keinginan adinda yang sudah lama, yakni mengalokasikan sebuah kuil untuk adinda sebagai tempat kultivasi Buddhis, adinda akan sangat berterima kasih. Pahala [GongDe] ini setinggi pagoda tujuh tingkat, adinda berharap kedua kakak akan mewujudkannya.”
Miao Yin dan Miao Yuan, melihat apa yang dia katakan, tahu jelas tidak bisa membujuk untuk menyadarkannya, banyak bicara juga tidak ada gunanya, jadi mereka mengucapkan beberapa kata basa-basi, mengucapkan selamat tinggal, keluar untuk bertemu dengan Raja Miao Zhuang, dan menceritakan semuanya.
Di akhir Putri Miao Yin malah membujuk Raja Miao Zhuang: “Menurut pendapat ananda, adik ketiga sudah tidak akan berubah pikiran lagi. Bagaimanapun juga dia adalah putri kandung ayahanda Raja, daripada membuatnya bekerja di dapur dan menderita, akan lebih baik untuk memenuhi keinginannya, serius membiarkannya menjadi biksuni. Mungkin saja dia memiliki akar kebajikan, dan akan mencapai buah sejati di masa depan? Jika bisa memperoleh Dao [pencerahan], bagi ayahanda Raja sedikit banyak juga ada manfaatnya. “
Putri kedua Miao Yuan, juga mencoba membujuknya dari samping, Raja Miao Zhuang mau tidak mau akhirnya berubah pikiran, menggeleng-gelengkan kepalanya, menghela napas panjang, dan kemudian mengatakan sesuatu. Sungguh tepat:
Ketulusan bisa untuk menilai karakter, emas batu juga bisa terbelah.
Konon setelah Raja Miao Zhuang mendengar penjelasan dari kedua putri Miao Yin dan Miao Yuan, tanpa sadar menghela napas panjang dan berkata: “Anakku! Kalian hanya berpikir bahwa ayahanda benar-benar tega membuat adik ketiga menderita, tetapi kalian tidak tahu bahwa ayah punya kerisauan hati yang lain. Awalnya memang ingin membuatnya menderita siksaan, meninggalkan niatnya untuk berkultivasi, memilihkan seorang menantu Raja yang baik, dan berbagi kegembiraan kemuliaan. Tak disangka tekadnya ternyata begitu teguh, sama sekali tidak goyah, ini juga hal yang tidak ada jalan keluarnya. Berbicara tentang adik ketiga kalian, sepertinya dia ditakdirkan untuk menjalani kultivasi. Dia sudah vegetarian sejak masih kecil, perkataan serta tindakannya sedikit banyak membawa hal-hal Buddhis, orang-orang bilang itu adalah akar kebajikan, mungkin saja dia punya. Yang paling misterius adalah orang tua aneh saat perayaan tiga hari, dengan beberapa syair Buddha telah menghentikan tangisannya, dan syair Buddha yang ditinggalkan oleh Louna Fulu sebelum dia melarikan diri, dengan empat kata “Miao Shan Guan Yin”: semua ini sepertinya ada hubungannya dengan itu, dan sekarang setelah dipikir-pikir memang semuanya ada pada dirinya, atau dia sebenarnya memiliki harapan untuk berhasil dalam kultivasi dan memperoleh buah sejati, ini juga tidak ada yang tahu.
“Sekarang kita tidak bisa memaksanya mengubah tekad teguhnya, hanya bisa membiarkan dia melakukannya. Di luar kota, di bawah kaki gunung Yemo, ada sebuah kuil bernama Jinguangming, dulunya memang ada seorang biksu kepala biara di sana. Namun setelahnya, karena ada harimau muncul di pegunungan, sering keluar menimbulkan bahaya, ada seorang biksu kuil itu, yang tidak berhati-hati hingga dimakan oleh harimau tersebut, membuat para biksu di situ ketakutan, niat ciut bukan main, tidak ada yang berani tinggal di kuil itu lagi, mereka kabur ke tempat lain untuk mencari perlindungan, dan kuil Jinguangming ini pun terlantar begitu saja. Di kemudian hari, semua biksu pengembara yang melaluinya, semuanya juga akan mengabaikannya dan pergi. Pertama karena di kuil tidak ada yang menyambut menyediakan tempat dan makanan, tidak bisa istirahat. Kedua, takut dicelakai oleh harimau, jadi tidak berani tinggal. Setelahnya itu menjadi kebiasaan, terlantar sampai sekarang, dan sudah sepuluh tahun lamanya masih saja tidak ada pengikut Dharma di sana, padahal bahaya harimaunya sudah lama tiada. Sekarang Miao Shan menginginkan tempat untuk mengabdikan hidupnya, kuil Jinguangming ini sungguh adalah tempat yang sangat tepat. Aku akan memerintahkan orang untuk memperbaikinya terlebih dulu, dan setelah pekerjaan selesai, aku akan memilih hari baik untuk mengantarnya ke kuil.”
Setelah mendengarkan ini, Miao Yin dan Miao Yuan, barulah memahami alasan mengapa Raja Miao Zhuang sebelumnya memerintahkan Miao Shan untuk menyirami taman dan mengirimnya bekerja di dapur. Segera semuanya ikut merayakan perayaan hari itu, tidak memikirkan masalah itu lagi.
Keesokan harinya, Raja Miao Zhuang memang mengeluarkan perintah untuk mengalokasikan dana dari bendahara negara, menunjuk menteri untuk mengawasi, dan merekrut pekerja untuk membangun Kuil Jinguangming. Pada saat itu, Putri Miao Shan sedang memasak di dapur dan tidak tahu apa-apa tentang hal itu, namun pelayan istana Yong Lian adalah orang pertama yang mendengar berita itu, dan tidak bisa menahan kegembiraannya, dia menari kegirangan sampai ke kamar tidur Putri Miao Shan, menerobos masuk sambil berteriak: “Putri Ketiga, peristiwa bahagia telah tiba,” teriaknya, yang membuat Putri Miao Shan terkejut bukan main. Karena saat itu dia sedang duduk meditasi dengan Hening di hadapan Sang Buddha, memejamkan mata dan memfokuskan pikirannya, melakukan latihan Vipassana. Tiba-tiba mendengar Yong Lian berteriak, telah mengacaukan jiwa dan pikirannya, ditambah mendengar dua kata “peristiwa bahagia”, terdengar sangat janggal di telinga. Dia membuka matanya dan menatap erat Yong Lian dan berkata: “Peristiwa bahagia apa? Sampai harus membuat keributan seperti itu! Kalau bukan saya, roh sudah pasti keluar dari tubuh gara-gara kamu, ada hal apa? Cepatlah ceritakan dari awal.”
Yong Lian juga merasa bahwa dia ceroboh, jadi dia mengakui kesalahannya sambil tertawa: “Saya seperti ini karena saya terlalu gembira, barulah berani seperti ini. Tidak sengaja telah menakuti sang putri, sungguh merupakan dosa besar. Tapi kejadian ini sungguh tidak terduga! Sekarang saya tidak bicarakan, Putri Ketiga, anda adalah orang yang sangat cerdas, terlahir dengan sembilan lubang tubuh dan pikiran yang luar biasa, hal ini biarlah anda coba terka dulu, apakah bisa atau tidak?”
Putri Miao Shan juga tersenyum ketika mendengar ini dan berkata: “Kamu ini setan cerdas, kamu sangat pintar, paling jago aneh-aneh, lagi pula saya tidak memiliki kemampuan untuk meramalkan masa depan, bagaimana saya bisa menebak apa yang ada di hatimu? Kamu tidak mau kasih tahu juga tidak apa-apa, untungnya saya juga cerdik; ingin tahu persoalan ini, namun juga bisa menghemat energi!”
Yong Lian melihat bahwa dia akan menutup matanya dan bermeditasi lagi, maka dia pun berkata: “Saya katakan, saya katakan! Ternyata setelah putri tertua dan putri kedua mencoba membujuk Tuanku, Beliau pun mengetahui bahwa Anda putri ketiga bertekad teguh, dan tidak akan lagi menghalangi keinginan anda, mengizinkan putri ketiga mengabdikan hidup untuk Buddha. Sesuai dengan permintaan kedua putri, Kuil Jinguangming di kaki Gunung Yemo di luar kota diberikan kepada sang putri sebagai tempat kultivasi agama Buddha.”
“Putri Ketiga, menurut anda bukankah ini adalah peristiwa bahagia yang sangat besar?”
Putri Miao Shan setelah mendengar ini, juga ikut senang, tetapi khawatir kata-kata dia kurang bisa diandalkan, jadi berkata: “Yong Lian, kamu mengarang kebohongan ini untuk menghibur saya, tapi saya kurang percaya.”
Yong Lian berkata dengan tidak sabar: “Putri yang baik! Saya telah melayani anda selama bertahun-tahun, tetapi pernahkah saya menipu anda? Apa yang terjadi sekarang benar-benar sekali. Sekarang telah disewa pengrajin untuk memperbaiki Kuil Jinguangming, bahkan telah mengutus menantu tertua Raja sebagai menteri pengawas! Putriku yang baik, jika anda masih tidak percaya pada saya, saya bersedia sumpah demi Langit.”
Putri Miao Shan begitu mendengar penjelasannya, tahu bahwa perkataan Yong Lian barusan, sepenuhnya adalah benar, tak terelakkan kegembiraan terpancar di wajahnya, melakukan Heshi di depan dada dan berkata: “Biar bagaimana pun ayahanda Raja adalah orang baik hati, kali ini dia benar-benar mendukung tekad saya, bahkan memulai proyek pembangunan besar-besaran, merenovasi Kuil Jinguangming, pahala [GongDe] ini, sungguh tidak kecil, pasti akan mendapatkan balasan di masa depan!
Yong Lian kembali menyela: “Tentang hal ini, sebenarnya merupakan kabar baik: hanya saja ketika Putri Ketiga nantinya pergi ke Kuil Jinguangming untuk berkultivasi, sebaiknya mengundang beberapa pemburu untuk tinggal di sekitar sana.”
Putri Miao Shan bertanya, “Kenapa begitu? Apa hubungan antara pemburu dengan berkultivasi?”
Yong Lian menjawab, “Putri mungkin tidak tahu, Kuil Jinguangming itu dulunya dihuni oleh para biarawan, namun kemudian karena adanya harimau liar di gunung Yemo, yang sering memangsa para biarawan, mereka pun terpaksa meninggalkannya, sampai sekarang menjadi kuil terbengkalai. Jika Putri pergi ke sana, ketika harimau liar itu muncul kembali, bagaimana baiknya?”
Putri Miao Shan mendengarnya, sama sekali tidak terkejut, namun tersenyum dan berkata: “Itu tidak masalah. Harimau adalah raja gunung. Mereka memiliki kecerdasan spiritual, itulah sebabnya Sang Buddha pernah menahbiskannya sebagai Yaksha Penjaga Gunung. Yang mereka mangsa, semuanya adalah orang-orang yang telah melakukan banyak dosa, orang-orang yang telah kehilangan prinsip sebagai manusia, dalam pandangan harimau, mereka hanya dianggap binatang ternak, sama sekali bukan berwujud manusia, oleh karena itu mereka datang untuk mengisi perutnya. Jika harimau melihat bahwa kita adalah berwujud manusia, mereka sama sekali tidak berani makan, apalagi orang seperti saya yang mengabdi pada Sang Buddha, dan berkultivasi dengan sepenuh hati ini?”
Yong Lian setelah mendengarnya, tanpa sadar tertawa sambil bertepuk tangan: “Putri, anda keliru kali ini! Dari dulu yang tinggal di Kuil Jinguangming, semuanya adalah para biksu, yang juga adalah pengikut Buddha, ada yang hidup sederhana diet vegetarian, ada yang melafal sutra memberi penghormatan pada Buddha, namun hasilnya masih banyak di antara mereka yang menjadi mangsa harimau. Jangan bilang para biksu ini tidak berwujud manusia? Ataukah mungkin itu adalah tindakan dari Yaksha Penjaga Gunung, yang matanya kelilipan debu, lalu tidak sengaja memangsa mereka? Ini adalah misteri yang sulit dipecahkan.”
Putri Miao Shan setelah mendengar perkataan ini, tanpa sadar tertawa terbahak-bahak: “Yong Lian, kamu termasuk sangat cerdas, namun makna ajaran Buddha ini, masa kamu tidak dapat memahaminya? Apakah kamu pikir hanya dengan menjalani vegan, melafal nama Buddha setiap hari, sudah boleh dihitung berkultivasi, lantas berhasil memperoleh buah sejati? Biar saya berikan sebuah perumpamaan untukmu. Bayangkan ada seorang manusia, yang menjalani vegan, melafal nama Buddha, tetapi di sisi lain, dia malah terlibat dalam perbuatan dosa seperti perzinahan, pencurian, pembunuhan, dan pembakaran, yang akhirnya menghasilkan berbagai macam karma jahat, menurut kamu apakah orang seperti ini bisa dianggap sebagai pengikut Buddha? Bisakah berhasil kultivasi memperoleh buah sejati? Dalam pandangan Yaksha Penjaga Gunung, apakah akan berwujud sebagai manusia?”
“Selain itu meskipun di permukaan para biksu dianggap sebagai pengikut Buddha, meskipun mereka yang sepenuh hati menjalani kultivasi, angkanya tidak sedikit, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa ada juga pengikut palsu dan orang yang memiliki niat tidak murni di antara mereka. Ketika orang awam melakukan dosa, nilai dosanya adalah 5, tetapi ketika seorang pengikut Buddha melakukan dosa, maka harus menambahnya satu kali lipat menjadi 10, ini adalah arti sebenarnya dari perkataan ‘mengetahui Fa tapi melanggarnya, dosa ditambah 1 kali lipat’. Para biksu yang menjadi korban harimau, pasti memiliki akar dosa mereka sendiri, atau mungkin ini adalah akibat dari perbuatan dosa di kehidupan sebelumnya, jika tidak demikian mereka pasti tidak akan mengalami bencana iblis ini. Lagi pula datangnya ancaman iblis dari luar, semuanya adalah hasil perbuatan kita sendiri, jika memiliki tekad yang teguh, maka ancaman iblis dari luar tidak akan datang menyentuh anda. Jadi di Pegunungan Yemo, meskipun ada harimau, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Harimau adalah harimau, kita adalah praktisi kultivasi, keduanya sama sekali tidak ada hubungannya, jadi anda tidak perlu khawatir.”
Yong Lian setelah mendengar penjelasan ini, hati tampaknya merasa lega, dia mengangguk setuju dan berkata, “Kalau begitu, saya dengan senang hati bersedia mengikuti Putri Ketiga untuk berkultivasi di biara, agar terhindar dari semua penderitaan duniawi dan bencana reinkarnasi.”
Putri Miao Shan melanjutkan, “Niatmu sangatlah mulia, tetapi perkara kultivasi ini, apakah semudah itu? Saat ini, mungkin kamu sangat termotivasi dan tanpa ragu-ragu. Tetapi bagaimana di masa depan jika kamu mengalami rintangan ingin mundur, atau berubah pikiran, semua upaya dan pengorbanan jadi sia-sia, tetap seperti awal tidak memperoleh Dao [pencerahan], jadi buat apa repot-repot? Segala hal perlu konsistensi awal hingga akhir, kamu ingin berkultivasi, apakah kamu memiliki tekad kuat yang tak tergoyahkan dari awal hingga akhir?”
Yong Lian menjawab, “Ya, saya ada! Saya telah melayani Putri selama bertahun-tahun, apakah Putri masih belum mengenal sifat saya? Jika masih ragu, saya akan mengucapkan sumpah untuk anda.” Kemudian dia benar-benar berlutut menghadap ke luar dan berkata: “Kaisar langit di atas dan Permaisuri Bumi di bawah, semua dewa yang sedang berlalu, menjadi saksi tekad saya. Saya Yong Lian, sekarang bersumpah untuk berkultivasi, jika ada pikiran yang tidak tulus, atau berpaling di tengah jalan, saya siap disambar petir dibakar api.” Setelah mengucapkan sumpah itu, dia mengetukan dahi ke lantai tiga kali, kemudian berdiri kembali.
Melihat Yong Lian begitu tulus, Putri Miao Shan dalam hati merasa sangat senang karena memiliki seorang rekan dalam perjalanan kultivasi Bersih Murninya. Perkataan ini sungguh benar:
Kultivasi Bersih Murni tidaklah sulit, tapi Pilihan Orang Berhati Tulus.

