China menyatakan akan melepas hak Istimewa negara berkembang di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Perubahan ini berlaku untuk negosiasi yang sedang berjalan maupun yang akan datang, tidak berlaku untuk perjanjian yang telah ada, meskipun China masih mengklaim statusnya sebagai negara berkembang.
Hal ini disampaikan Perdana Menteri China Selasa lalu. Apa saja hak istimewa tersebut? Negara berkembang diberi kelonggaran waktu untuk melaksanakan perjanjian dagang, menerima bantuan teknis dari luar negeri, dan dikecualikan dari aturan-aturan yang wajib dipatuhi negara-negara kaya. China telah diuntungkan dari hak istimewa ini sejak bergabung dengan WTO. Meski telah menjadi ekonomi terbesar kedua dunia, pendapatan per kapitanya mendekati Thailand dan Meksiko.
Presiden Trump telah mengkritik klaim China atas status negara berkembang. Washington terus mendesak China agar melepas sebagian dari hak istimewa ini. Komisi Eropa menyambut baik langkah China, namun menegaskan bahwa China harus berhenti mengklaim status negara berkembang sesuai perjanjian yang ada. Tang Jingyuan, pakar urusan China berkata Beijing memberi signal untuk meredakan ketegangan dengan AS. Menurutnya, langkah Beijing mungkin disebabkan keuntungan yang ditawarkan tidak sama seperti dulu.
[Tang Jingyuan, analis urusan China],
“Bagi rezim Komunis China, perlakuan khusus WTO telah kehilangan banyak nilainya, terutama setelah Trump melangkahi WTO melancarkan tarif dan tindakan tegas terhadap China.
Tang menilai langkah ini bukanlah kerugian besar bagi Beijing, apalagi jika itu membantu meredakan ketegangan dengan Barat disaat ekonomi China mengalami kemerosotan.
