Fokus

Laporan: Mata-mata China di Universitas Stanford

Para siswa Universitas Stanford menyuarakan keberatan atas ancaman yang datang dari rezim komunis China. Surat kabar milik kampus, The Stanford Review, menuduh rezim PKC menyelipkan mata-mata ke dalam kampus, dan mendesak para siswa untuk membocorkan properti intelektual kampus.

Surat kabar itu mengatakan telah mewawancarai lebih dari puluhan orang, termasuk profesor, mahasiswa, dan anggota fakultas hingga pakar China yang ahli spionase. Setelah hampir setahun penyelidikan, surat kabar itu menarik kesimpulan. Partai Komunis China sedang mengatur apa yang digambarkan sebagai jaringan perkumpulan intelijen di Stanford, dengan menggunakan strategi yang tidak biasa.  

Laporan itu mengatakan mata-mata PKC menugaskan warga sipil yang bersimpati pada rezim untuk mengumpulkan intelijen, melampaui jangkauan mata-mata tradisional.

Laporan juga menemukan PKC mengumpulkan berbagai informasi, termasuk rincian proyek penelitian kampus dan alur kerja lab hingga perangkat lunak dan metodologi.

Para ahli Stanford mengatakan bahwa itu adalah secara diam-diam mencuri rahasia di balik inovasi AS. Kedutaan Besar China di Washington membantah tuduhan tersebut. Michelle Steel, mantan anggota kongres California, dalam wawancara baru-baru ini dengan Fox News, mengatakan..

[Michelle Park Steel, Mantan Anggota Kongres]:

“Universitas tidak berhasil menemukan apa yang telah dicuri. Jadi mereka harus berlatih, mereka harus bekerja sama tidak hanya dengan departemen pendidikan, mereka harus melapor ke Departemen Pertahanan. Kami menemukan bahwa semua universitas ini mendapatkan uang dari China. Jadi, China berusaha memengaruhi atau mencuri dan mereka adalah pencuri dan peretas terbesar ke akses komputer kita dan segalanya.”

Berikut adalah insiden yang terjadi di kampus Stanford antara seorang pria China bernama Charles Chin dan seorang mahasiswa Stanford bernama Anna. Keduanya adalah nama samaran.

Anna adalah seorang mahasiswi yang melakukan penelitian sensitif tentang China. Charles Chin mendekati Anna di media sosial dengan menyamar sebagai mahasiswa Stanford. Tak lama, Chen membujuk Anna untuk berkunjung ke Beijing dan menawarkan untuk menanggung biayanya. Ia juga menyarankan Anna untuk menggunakan WeChat, aplikasi yang dipantau oleh rezim PKC.

Menariknya, Chin juga mengetahui segala informasi pribadi tentang Anna yang tidak pernah diungkapkan Anna. Disitulah Anna kemudian meminta bantuan para ahli yang paham dalam spionase PKC.

Mereka memberitahu Anna bahwa kemungkinan besar Chin adalah mata-mata PKC dan ini bukan kasus pertama Chin.

Selama bertahun-tahun, agen-agen PKC telah mendekati banyak siswa Stanford dengan tipu daya serupa menggunakan identitas palsu yang berbeda. Sasarannya utama adalah mahasiswi yang belajar tentang China.

Menanggapi kasus ini, pihak berwenang Stanford meluncurkan investigasi dan menghubungi para penegak hukum. Koresponden kami berada di lapangan untuk bertanya pada orang-orang bagaimana hal ini sebaiknya ditangani.

[James Dill, Siswa Intern]:

“Mengingat Stanford memiliki banyak siswa asing dari China, mereka perlu memeriksa siswa-siswa dengan cermat sebelum merekrut mereka untuk proyek sensitif atau penelitian yang, dapat dijadikan senjata atau diperas kembali ke China.”

[Sachin Kumar, Engineer Data]:

“Saya pikir memberitahukan hal itu kepada staf jelas merupakan langkah yang baik sehingga mereka dapat terus mengawasinya. Memberitahukan kepada siswa seperti apa yang mungkin terjadi.”

Masalahnya tidak sesederhana itu. Surat kabar berkata sebagian besar orang yang diwawancara bersedia bicara dengan syarat identitas mereka dirahasiakan, karena takut pembalasan dari PKC dan komunitas Stanford sendiri.

China telah meningkatkan kampanye penindasan transnasionalnya terhadap para pengkritiknya di luar negeri. Terlebih lagi, beberapa pihak menunjuk pada kucuran dana sebesar 64 juta USD yang diterima Stanford dari rezim PKC. Saksi-saksi lain berkata mereka khawatir dicap rasis jika mereka menegur orang-orang China yang mencurigakan. Investigasi tersebut dilakukan sebulan setelah Komite Khusus DPR tentang PKC mengirim surat kepada presiden Stanford.

Pihak penyidik telah menanyakan tentang ancaman yang ditimbulkan oleh China terkait penelitian sensitif yang dilakukan sekolah tersebut. Sejauh ini pihak kampus belum memberikan jawaban.