Fokus

Perebutan Air China-India: Bendungan Raksasa Tibet Picu Krisis di Perbatasan

Beijing berencana membangun bendungan besar di Tibet, di perbatasan China-India, yang dikhawatirkan akan mengurangi aliran air di sungai utama India. Terkait hal ini, India sedang berupaya mempercepat pembangunan bendungannya sendiri untuk memitigasi dampaknya, namun penduduk setempat khawatir hal itu akan menghancurkan cara hidup mereka.

Lokasi perebutan air di India ini terjepit di antara China, Bhutan, dan Myanmar. Baik Beijing maupun Delhi sama-sama berencana untuk membangun bendungan besar yang saling bersaing, di sungai yang mengalir dari gletser Tibet yang melintasi kedua negara.

Di sisi India, penduduk desa melawan, mengatakan bendungan akan menghancurkan cara hidup mereka. Saat perusahaan pembangkit listrik tenaga air terbesar India memindahkan peralatan survei ke lokasi ini Mei lalu, penduduk merusak mesin-mesin tersebut dan menghancurkan jembatan.

India telah bergegas untuk mempercepat pembangunan bendungannya sejak China mengumumkan pembangunan bendungan mereka sendiri pada bulan Desember. Bendungan raksasa di Tibet itu akan dibangun di lokasi tepat sebelum perbatasan India.

Kepala negara bagian India di sepanjang perbatasan memperingatkan bahwa dua sungai besar di India dapat mengering secara signifikan jika bendungan China dibangun. China dapat secara sepihak menyimpan air atau justru melepaskannya secara tiba-tiba, yang dapat menghancurkan wilayah hilir di India. Selain itu, mata pencaharian jutaan orang di India bergantung pada sungai.

Jika bendungan di sisi India dibangun, diharapkan ini akan dapat menjadi cadangan air di musim kemarau dan waduk untuk menahan kelebihan air yang tiba-tiba dari China.

Namun bagi penduduk desa, proyek bendungan adalah ancaman hidup, karena menganggu mata pencaharian mereka, yang hidup dari perkebunan jeruk di perbukitan dan lembah yang dialiri sungai.

Dua sumber yang mengetahui masalah ini berkata setidaknya 16 desa kemungkinan akan hilang akibat area penyimpanan bendungan, yang secara langsung berdampak pada sekitar 10,000 orang. Para tokoh masyarakat berkata lebih dari 100,000 orang akan terdampak secara keseluruhan.