Mendekati 76 tahun berkuasanya Partai Komunis Tiongkok, diaspora Tiongkok di AS dan di seluruh dunia melakukan aksi protes menentang rezim tirani yang kejam. Simak kisah mereka dan apa yang mereka perjuangkan.
Tiongkok Adalah milik rakyat. Akhiri PKT, Kebebasan untuk rakyat.
Ini adalah ibu kota AS, Washington DC. Aktivis pro-demokrasi Tiongkok dari seluruh Amerika berkumpul untuk mengatakan kepada dunia bahwa 1 Oktober bukanlah hari nasional mereka, tetapi hari berkabung bagi seluruh rakyat Tiongkok. Selama masa senyap, puluhan juta nyawa telah meninggal di bawah tirani PKT. Mulai dari kampanye politik kekerasan dan bencana kelaparan besar hingga pembantaian Tiananmen dan pandemi COVID-19, para demonstran beraksi di depan kedutaan Tiongkok, Capitol Hill, dan Gedung Putih.
Generasi muda pun turut serta dalam gerakan anti-PKT, membangkitkan kesadaran akan taktik rezim PKT.
[Wu Xiao Juan, Aktivis Pro-Demokrasi]:
“Di satu sisi, PKT mempertahankan pemerintahan otoriter melalui penindasan. Di sisi lain, ia menggunakan taktik front persatuan untuk menipu dan memecah belah kita.”
Beralih ke Kanada, sejumlah warga asal Taiwan, Hong Kong, Tibet, Uighur, dari berbagai latar belakang juga mengadakan demonstrasi anti-PKT di depan konsulat Tiongkok.
PKT berbohong, rakyat mati.
Falun Gong, sebuah disiplin spiritual yang berasal dari Tiongkok, telah dianiaya oleh PKT selama lebih dari 25 tahun. Kelompok hak asasi internasional melaporkan bahwa rezim tersebut bahkan mencuri organ dari tahanan praktisi demi keuntungan besar.
[Alan Keung, Ketua Parlemen HK, Kelompok Pro-Demokrasi]:
“PKT memperdagangkan organ hidup dan terus menangkap para pembangkang yang menentangnya. Ini merupakan ancaman terbesar yang telah ditimbulkan oleh totaliterisme terhadap peradaban manusia generasi saat ini.”
Warga Tiongkok di Jerman dan Belanda juga turut menyerukan diakhirinya kediktatoran Partai Komunis Tiongkok.
