Site icon NTD Indonesia

Sekutu AS di Asia Khawatir Sumber Daya AS Teralihkan ke Perang Iran

AS berada di posisi sulit antara Timur Tengah dan China ketika Israel melancarkan serangan baru ke Iran. Sekutu AS di Asia menyatakan kekhawatirannya, tentang apakah perang di Iran akan mengalihkan sumber daya AS yang dibutuhkan untuk menghadapi China. Seorang anggota parlemen di Taiwan mendesak Washington untuk mengalihkan fokusnya kembali ke kawasan Asia-Pasifik.

[Chen Kuan-Ting, Anggota Parlemen DPP Taiwan]:

“Kami harap operasi di Iran akan berlangsung cepat dan terbatas, dan sumber daya militer AS dapat segera dialihkan kembali ke Asia.”

Chen menyatakan kekuatirannya bahwa rezim China dapat meningkatkan pelecehan pada Taiwan saat AS berfokus ke Timur Tengah. Kekhawatiran serupa muncul di kalangan anggota parlemen Jepang, yang bertemu hari Senin untuk membahas serangan AS-Israel pada Iran. Seorang politisi memberitahu Reuters bahwa kekuatiran muncul tentang bagaimana pertahanan Asia Timur jika Washington mengalihkan aset militer yang ditempatkan disana ke Timur Tengah. Ia juga berkata Tokyo telah meminta jaminan dari Washington tentang hal ini.

Saat ini sekitar 40% kapal perang AS yang siap beroperasi ditempatkan di Timur Tengah. Kapal induk yang ditempatkan di Asia sedang menjalani perawatan. Brian Clark seorang mantan pejabat pertahanan AS berkata Angkatan Laut AS kekurangan sumber daya dan jika perang di Timur Tengah berlarut-larut, AS dapat mengurangi sumber dayanya di Asia untuk memperkuat operasi melawan Iran.

Sementara perang di Iran juga menguras amunisi AS. Beberapa ahli berkata serangan AS ke Iran dapat membendung China dengan melemahkan dua sekutu Beijing: Iran dan Venezuela. Namun yang lain berpendapat semakin lama perang di Iran berlangsung, semakin banyak keuntungan yang diperoleh Beijing.

Dan di Taiwan, seorang diplomat AS berpangkat tinggi mengunjungi pulau itu hari Senin dan Selasa. Casey Mace mewakili AS sebagai pejabat senior AS untuk pertemuan APEC, yang akan diadakan akhir tahun ini di China. Beijing telah menolak mengizinkan Taiwan berpartisipasi sebagai negara berdaulat, dan selalu memblokir atau membatasi partisipasinya di banyak konferensi internasional lainnya.