Surplus perdagangan China tahun 2025 mencapai rekor tertinggi, hampir 1,2 triliun dolar. China merilis data itu pada hari Rabu. Sementara ekspor China ke AS turun 20%, terutama karena tarif Presiden Trump.
Upaya China melakukan diversifikasi di luar AS membuahkan hasil, karena ekspor ke pasar non-AS meningkat pesat. Para produsen telah berupaya membangun skala global dan melawan tekanan perdagangan dari pemerintahan Trump. Mereka mengalihkan fokus ke Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin, melindungi perekonomian dari tarif AS.
Namun Beijing akan menghadapi banyak tantangan lain tahun ini, seiring meningkatkan kekhawatiran global tentang praktik perdagangan dan kelebihan kapasitas China. Para ekonom memperkirakan China akan terus mendapatkan pangsa pasar global, didukung oleh berbagai perusahaan China yang mendirikan pusat produksi di luar negeri untuk melawan tarif AS dan Uni Eropa, serta permintaan kuat pada chip kelas bawah dan elektronik lainnya.
Di sisi lain Beijing masih menghadapi masalah di pasar properti dan permintaan domestik yang lemah.
Negara-negara Eropa menentang masuknya barang-barang China dengan harga dumping. Uni Eropa juga menargetkan kendaraan listrik dari China. Berdasarkan aturan baru, produsen mobil China harus membatasi jumlah mobil listrik yang diekspor ke Eropa serta menyepakati harga minimum, atau menghadapi tarif.
Agustus lalu, Uni Eropa mengenakan bea anti-dumping hampir 30% pada impor kertas dekorasi China, yang digunakan dalam desain interior, konstruksi dan industri lainnya. Penyelidikan menemukan impor dari China dijual dengan harga dumping, yang merugikan persaingan di seluruh Eropa.

