Sebagai orang tua, tentunya kita mencintai anak-anak kita, tetapi seberapa banyak diantara kita yang benar-benar mengetahui cara yang tepat menunjukkan rasa sayang kita? Apakah cara terbaik untuk membesarkan anak-anak kita? Apakah kualitas terbaik yang dapat kita berikan supaya dipelajari oleh anak-anak kita agar mereka tumbuh berkembang di dunia yang kacau ini?
Sebagai orangtua, kita bisa menyamakan diri kita dengan akar sebuah pohon, sedangkan anak kita ibarat buahnya. Masalah apa pun yang terjadi pada buah dapat ditelusuri dari akarnya, karena anak-anak seringkali meniru dari orang tua mereka.
Laozi berkata dalam Tao Te Ching:
“Pemimpin terbaik adalah mereka yang hampir tidak diperhatikan orang keberadaannya. Terbaik berikutnya adalah pemimpin yang dicintai dan dipuji. Selanjutnya, adalah pemimpin yang ditakuti. Yang terburuk adalah pemimpin yang dibenci.”
Bisakah kita menggunakan pepatah Tao ini untuk melihat diri kita? Kita masuk dalam kategori orang tua yang mana? Apakah kita memberi anak-anak kita kebebasan terbesar yang dibutuhkan untuk terus menumbuhkan semangat mereka, sehingga mereka dapat menjaga diri mereka sendiri dan siap menjalani kehidupan sebagai orang dewasa kelak? Atau apakah kita memanjakan anak-anak kita, sehingga mereka berterima kasih, namun terlalu bergantung kepada kita? Apakah kita terlalu memaksa hingga terasa tidak masuk akal, menyebabkan anak-anak kita takut dan menarik diri dari kita? Atau apakah kita lemah atau kejam, menyebabkan mereka membenci kita?
Tipe keempat: Orang tua yang pemarah
Ada sebuah blog di douban.com yang dimulai sekitar 10 tahun lalu dengan judul Parents are Terrible (Orang tua itu mengerikan). Sebagian besar anggotanya mengatakan bahwa mereka membenci orang tua mereka karena mengendalikan dan menggunakan kekerasan pada mereka.
Saat ini, jumlah blogger telah mencapai lebih dari 100.000 orang. Beberapa posting, terlihat cukup mengejutkan dan menakutkan.
Melalui tulisan itu, Anda akan melihat individu-individu yang sedang meneriakkan perasaannya untuk berbagi rasa sakit karena dijelek-jelekkan; tumbuh dewasa dengan dikelilingi oleh kekerasan, kemarahan, dan pelecehan; atau menderita oleh tindakan, yang dianggap sebagai pengendalian atau campur tangan. Mereka telah ditindas oleh orang-orang yang seharusnya menjadi wali dan panutan yang penuh kasih dan dihormati.
Nona Xin salah satu contohnya. Orangtuanya, yang mengharapkan seorang anak laki-laki, tak henti-hentinya memarahi dan mempermalukan adik perempuannya dan dirinya, sehingga mereka merasa bahwa semua yang mereka lakukan salah. Mencapai keberhasilan secara akademis tidak memberi mereka kebahagiaan; masa kecil mereka terbentuk dari kumpulan argumen dan perjuangan tanpa akhir untuk mendapatkan kendali.
“Saya berusia 33 tahun dan sudah bercerai. Saya mewarisi sifat keras ibu saya; ketika saya marah, saya akhirnya melampiaskannya pada putri saya,” kata Xin.
Pelecehan emosional dan fisik pada usia dini diketahui memberikan trauma yang sangat besar pada anak-anak — masing-masing individu mungkin memiliki reaksi berbeda — beberapa menjadi pendiam dan beberapa menjadi kejam; tetapi hampir selalu memiliki bekas luka dari psikologi negatif, seperti harga diri yang rendah, rasa mengasihani diri sendiri, dan keyakinan akan inferioritas diri. Mereka lebih mungkin untuk melanjutkan siklus trauma di masa dewasa, melalui hubungan penuh kekerasan.
Tipe ketiga: Orang tua yang mendominasi
Beberapa orangtua berusaha untuk memahat anak-anak mereka sesuai rancangan yang telah mereka bentuk dan melakukan pengendalian yang ketat atas mereka.
Seorang wanita berbagi pengalamannya yang tumbuh dengan orangtua seperti itu. Dia patuh sepanjang hidupnya. Di sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas, orangtuanya telah memilihkan mata pelajaran untuknya, dan ketika dia lulus, mereka memberi tahunya pekerjaan apa yang harus diambil.
“Selama 20 tahun, saya seperti boneka; Saya selalu mendengarkan orangtua saya dan telah melakukan apa pun yang mereka inginkan. Saya kehilangan kemampuan untuk berpikir secara mandiri karena saya terbiasa mematuhi dan menyenangkan orang lain — saya tidak pernah mengembangkan keberanian untuk mengatakan tidak,” katanya.
Ini adalah fenomena umum dalam keluarga Tiongkok, bila orangtua memaksakan pandangan mereka pada anak-anak. “Mengapa kamu tidak mendengarkan orangtuamu; kami benar!” “Sayapmu terlalu kuat dan kamu tidak mendengarkan orang tuamu!” — kata-kata seperti itu sering terdengar. Orang tua sering kali terlalu protektif dan melakukan segalanya untuk anak-anak mereka. Maka ketika anak-anak kemudian dihadapkan secara mandiri dunia nyata, mereka akan menganggapnya sebagai tempat yang pahit dan menakutkan.
Tipe pertama dan kedua: Mereka yang mengasuh dengan baik
Orang tua terbaik dikatakan membiarkan anak-anak mereka tumbuh. Liang Qichao memiliki sembilan anak. Dia menganggap masing-masing dari mereka sebagai individu yang sangat baik. Masing-masing telah diperlakukan sama dan telah dididik tanpa otoritas. Mereka telah diberikan kebebasan dan pilihan mereka atas nasihat apa yang harus diikuti.
Ketika seorang anak perempuannya mencoba memilih mempelajari mata pelajaran profesional, ayahnya melihat bahwa dia tidak tertarik pada biologi — mata pelajaran pilihannya — berkata: “Apa pun mata pelajaran yang kamu pilih, yang penting adalah kamu menyukainya. Apa yang saya sarankan mungkin bukan yang cocok untuk kamu. Kamu harus menimbang segalanya dan memutuskan sendiri. Kamu tidak perlu mendengarkan saya.”
Selama satu abad terakhir, banyak orang tua yang akhirnya memanipulasi status dan pengalaman mereka, dan menindas anak-anak mereka, lupa bahwa membangun rasa hormat adalah inti dari memberi pengaruh dan mendidik orang lain secara positif.
Betapa hebatnya jika setiap individu dikagumi karena keunikannya; jika setiap anak diberikan ruang untuk bermimpi dengan bebas dan mencapai potensi penuh mereka. (nspirement/sia/feb)
Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini
VIDEO REKOMENDASI

