Site icon NTD Indonesia

Nasihat untuk Milenial untuk Unggul Menghadapi Tantangan Pekerjaan

Looi Qin En (Wikipedia)

Looi Qin En (Wikipedia)

Pada tahun 2014, Looi Qin En bersama 2 rekannya membangun Glints, portal pekerjaan berbasis di Singapura yang menargetkan milenial. Glints bertujuan untuk membantu milenial menemukan pekerjaan, magang, kursus, dan peluang lainnya, serta melakukan apa yang mereka sukai. Bagi para bos milenial ini, mereka punya tujuan dan arah yang jelas tentang apa yang ingin mereka capai.

Glints telah mengumpulkan US$ 2 juta dalam pendanaan Seri A yang dipimpin oleh Gobi Partners dan Golden Equator Capital, Fresco Capital, Wavemaker Partners, Singapore Infocomm Investments, Pix Vine Capital, East Ventures dan Darius Cheung dari 99.co.

Namun tidak seperti para pendiri Glints, tidak setiap anak muda optimis tentang tujuan karirnya di dunia kerja di masa depan, dengan hanya menyandarkan pada apa yang dipelajari di sekolah. Menurut survei menarik yang diprakarsai oleh Glints, mereka menemukan bahwa:

90% dari kaum muda yang disurvei mengatakan bahwa kebutuhan tenaga di masa depan saat mereka akan lulus akan sangat berbeda dari tenaga kerja saat ini. Dan lebih dari separuh responden (56%) percaya bahwa apa yang mereka pelajari di sekolah tidak memadai untuk masa depan.

Sehingga, 82% kaum muda bahkan rela mengorbankan waktu senggang pribadi dan waktu sosial untuk berpartisipasi dalam peluang ini.

Berdasarkan temuan di atas, bagaimana generasi milenial dapat berkembang dalam kebutuhan kerja yang sangat berbeda di masa depan?

Dilansir dari Epoch Times yang mewawancarai Qin En secara eksklusif, Qin En memaparkan hal-hal berikut:

Epoch Times (ET): Berdasarkan interaksi Anda di Glints, dengan para fresh graduate pencari kerja dan juga dari sisi pihak HRD dan Headhunter perusahaan-perusahaan top, apakah generasi millennial saat ini cukup mendapat pendidikan yang memadai di sekolah?

Qin En: Apa yang diajarkan di sekolah kurang memadai, tetapi saya pikir sekolah juga menyadari hal itu dan karenanya menciptakan lebih banyak peluang bagi milenial untuk menyelesaikan pendidikan mereka melalui dunia nyata (magang). Kami melihat banyak upaya dan inisiatif yang dilakukan oleh sekolah, politeknik dan universitas. Contoh kasusnya adalah bagaimana Program Magang Wirausaha Global mengirim para mahasiswa Singapura magang di Silicon Valley, Helsinki, Beijing, Shanghai, Ho Chi Minh dan Jakarta.

ET: Apa saja skill terpenting yang paling dicari oleh pemberi kerja?

Qin En: Ada lusinan keterampilan yang bergantung pada pekerjaan, tetapi yang paling penting adalah agar siswa memiliki banyak akal tanpa henti. Itulah yang saya tekankan kepada semua orang yang saya temui, serta anggota tim saya.

Itu berarti mengatakan pada diri sendiri bahwa apa pun yang terjadi, saya harus mencapai tujuan saya (tanpa henti), dan saya akan menemukan cara dan sarana untuk mencapainya (banyak akal). Saya melihat bahwa mereka yang memiliki banyak akal cenderung berhasil karena pola pikir inilah yang membantu mereka memperoleh keterampilan dan kompetensi.

ET: Apakah menurut Anda nilai-nilai di atas kertas penting dalam dunia saat ini? Apakah menurut Anda ini masih penting di masa depan?

Qin En: Kualifikasi ijazah kurang penting. Tetapi proses pembelajaran untuk mencapai kualifikasi kelulusan itu sangat penting. Peranan sekolah dalam mempersiapkan siswa untuk angkatan kerja masa depan adalah sangat berguna, baik belajar di kelas dan juga magang, proyek, dll, Ini adalah proses yang penting untuk dilalui siswa.

ET: Menurut Anda, seperti apa angkatan kerja di tahun 2020 keatas?

Qin En: Tenaga kerja di tahun 2020 ke atas akan menjadi orang-orang yang bergerak secepat kilat. Kami tidak berbicara tentang perubahan bertahun-tahun, kita berbicara tentang detik dan menit. Dan itu berarti memiliki banyak akal tanpa henti, karena begitu cepatnya perubahan yang terjadi.

ET: Menurut Anda, dapatkah seseorang dilatih untuk menjadi lebih inovatif? Menurut Anda, apakah budaya Singapura kita bisa melahirkan inovasi seperti di negara Barat?

Qin En: Inovasi dapat dilatih, melalui praktik berkelanjutan untuk memecahkan masalah dunia nyata. Jika Anda berpikir tentang inovator terhebat dunia, mereka memecahkan masalah bagi umat manusia.

Mengenai apakah budaya kita melahirkan inovasi, menurut saya ada banyak upaya yang dilakukan oleh banyak kementerian dan lembaga untuk memberikan beasiswa kepada para siswa berprestasi.

Kita sering mengeluh bahwa kita tidak memiliki bakat inovatif, generasi milenial kita tidak berani mengambil risiko atau cukup inovatif, dan kami tidak menghasilkan cukup Steve Jobs, Elon Musks, dan Bill Gates. Tetapi jika teliti lagi, hasil akhir beasiswa diberikan dalam jumlah ratusan kepada siswa terbaik Singapura ini, kita mempunyai orang-orang yang sangat pintar di pemerintahan yang merencanakan taman kami, membuat jalur MRT baru dan membela negara (semuanya adalah peran penting), tetapi sangat sedikit pengusaha dan inovator. Pada saat mereka menyelesaikan ikatan empat hingga enam tahun mereka, ini adalah fase dalam hidup mereka ketika mereka baru saja memulai sebuah keluarga. Melompat menjadi pengusaha atau inovator sudah sulit untuk mereka lakukan. Jadi saya pikir agar budaya kita mengembangkan inovasi, kita benar-benar harus memikirkan kembali bagaimana kita memberi penghargaan dan mendorong siswa terbaik kita dari setiap kelompok. (epochtimes/ch)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI