Kesehatan

5 Tips untuk Meningkatkan Kesehatan Spiritual Anda

Meningkatkan kesehatan spiritual
Meningkatkan kesehatan spiritual. (Canva Pro)

Hidup menawarkan kita kesempatan tanpa akhir untuk meningkatkan karakter kita, jika kita memiliki keinginan

“Manusia adalah bagian dari keseluruhan yang kita sebut sebagai alam semesta, bagian yang terbatas dalam ruang dan waktu. Dia mengalami dirinya sendiri, pikiran dan perasaannya sebagai sesuatu yang terpisah dari yang lain, semacam delusi optik dari kesadarannya. Khayalan ini adalah semacam penjara bagi kita, membatasi kita pada keinginan pribadi kita serta kasih sayang untuk beberapa orang terdekat kita. Tugas kita adalah harus membebaskan diri kita dari penjara ini dengan memperluas lingkaran kasih sayang kita untuk merangkul semua makhluk hidup dan seluruh alam dalam keindahannya.” – Albert Einstein

Di dunia yang serba cepat saat ini, dengan begitu banyak hal yang mengalihkan perhatian kita, sangat mudah untuk fokus pada dunia luar dan mengabaikan apa yang ada di dalam. Dalam pencarian kita untuk lebih banyak hal, sering kali sepertinya kita mencoba mengisi semacam kehampaan yang tidak dapat kita kenali; yang mungkin saja kehampaan itu adalah kerohanian, itulah sebabnya kehampaan itu sepertinya tidak pernah bisa diisi oleh pengejaran materi atau tidak adanya gangguan.

Penelitian menunjukkan bahwa ketika kita kehilangan kontak dengan diri internal kita, dan terutama ketika kita tidak memiliki hubungan spiritual, maka kesehatan mental dan fisik kita dapat menderita.

Sementara spiritualitas bervariasi antar budaya dan antar individu, ada beberapa kebenaran dasar yang menghubungkan mereka yang memiliki niat lurus, dan prinsip-prinsip ini dapat membimbing kita dalam hidup, sebagai orang baik.

Ketika kita bekerja untuk membina sisi spiritual kita, penelitian menunjukkan bahwa ingatan dan kognisi meningkat, kekebalan meningkat, tekanan darah membaik, hal-hal seperti depresi, stres, dan kecemasan berkurang, kemarahan dan kebencian berkurang, serta risiko penyakit jantung, diabetes, dan kondisi kronis lainnya juga menurun.

Memperkuat sisi spiritual, meningkatkan tingkat kebahagiaan, harapan, optimisme, dan ketenangan internal kita secara keseluruhan. Kita mungkin menemukan makna dan tujuan yang lebih dalam untuk hidup kita. Analisis studi penelitian mengungkapkan bahwa mereka yang lebih spiritual, memiliki hubungan perkawinan yang lebih kuat, melakukan lebih sedikit kejahatan, memiliki tingkat penyalahgunaan zat yang jauh lebih rendah, berprestasi lebih baik di sekolah, dan dengan demikian memiliki dampak positif secara keseluruhan pada orang-orang di sekitar mereka dan masyarakat secara keseluruhan.

Dengan begitu banyak manfaat besar, mari kita lihat beberapa hal sederhana yang dapat kita lakukan untuk memperkuat kesehatan spiritual kita.

Kembangkan Integritas

Menurut kamus American Heritage, integritas adalah “ketaatan teguh pada kode moral atau etika yang ketat,” atau “kualitas atau kondisi menjadi utuh atau tidak terbagi; kelengkapan.”

Integritas adalah melakukan hal yang benar, bahkan ketika tidak ada yang melihat. Tentu saja, melihatnya dari perspektif spiritual, tidak ada yang benar-benar tidak terlihat.

Integritas membutuhkan kejujuran dengan diri sendiri dan orang lain, disiplin diri dan kemauan keras, serta komitmen untuk menjunjung tinggi nilai dan prinsip kita, bahkan jika itu berarti kita kalah sebagai hasilnya. Itu berarti tidak mengambil jalan keluar yang mudah, dan tidak mengutamakan kepentingan diri kita sendiri daripada apa yang benar.

Ada pepatah yang mengatakan, “Tidak ada bantal yang selembut hati nurani yang bersih.” Hati nurani yang bersih hanya datang melalui menjalani kehidupan yang berintegritas, dan nilai penting atas hal itu diketahui oleh generasi yang lebih tua, yang sering terdengar mengatakan, “Alasan saya tidur nyenyak adalah karena saya memiliki hati nurani yang bersih.” Sayangnya, nilai integritas sebagian besar telah hilang di zaman modern, dan sebagai gantinya, fokus pada uang dan keinginan untuk maju, telah menggantikannya. Secara kebetulan, masalah tidur ini adalah hal biasa.

Untuk hidup dengan integritas, penting bagi kita untuk mengidentifikasi nilai-nilai kita, untuk membantu menentukan orang seperti apa kita dan ingin menjadi apa kita ini. Hal ini mencerahkan kompas moral kita. Saat kita berusaha untuk hidup dengan cara ini, karakter kita menjadi lebih berpijak pada kebaikan, di saat yang sama aspek negatif kita melemah dan dihilangkan.

Maafkan dan Lepaskan

Pengampunan adalah bagian integral dari semua ajaran spiritual yang lurus. Misalnya, Yesus berkata, ”Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” Lukas 6:27–28

Ketika kita diperlakukan tidak baik atau dengan cara yang kita anggap tidak adil, kita mungkin merasa dibenarkan dalam kemarahan atau kebencian kita terhadap orang lain. Namun ketika kita membawa hal-hal ini di dalam hati kita, seperti kata pepatah, itu seperti meminum racun, dan memikirkan hal itu akan membahayakan orang lain.

Beberapa tahun yang lalu, saya memiliki rekan kerja yang sering tidak setuju dengan saya. Hal itu menciptakan banyak ketegangan, dan seiring waktu, saya mengembangkan kebencian terhadapnya karena telah mengendalikan dan mencoba memberi tahu saya bagaimana melakukan pekerjaan saya. Saya mendapati diri saya semakin tidak suka pergi bekerja, dan bahkan mempertimbangkan untuk mencari pekerjaan lain.

Lalu suatu hari, tiba-tiba saya memahami satu hal. Saya berpikir: “Ini adalah pekerjaan saya. Saya bisa pergi bekerja dan menjadi sengsara, atau saya bisa pergi bekerja dan bahagia. Itu terserah pada saya.”

Dengan kesadaran ini, saya pergi bekerja keesokan harinya dengan sikap yang berbeda. Saya memaafkan apa yang saya anggap sebagai pelanggaran rekan kerja saya, dan mulai melepaskan kebencian yang saya miliki. Saya menjaga sikap yang menyenangkan dan tidak membiarkan hal-hal kecil mempengaruhi saya, dan sebagai hasilnya, saya entah bagaimana merasa lebih ringan. Hal-hal yang mengganggu saya sekarang tampak sangat tidak penting, hingga bahkan saya sering tidak memperhatikannya kecuali seseorang menunjukkannya.

Hal yang menakjubkan adalah, ketika saya mengubah diri, lingkungan saya berubah. Rekan kerja saya berhenti mencoba memberi tahu saya bagaimana melakukan pekerjaan sepanjang waktu, dan situasi di antara kami menjadi harmonis. Konsekuensi yang tidak disengaja dari mempraktikkan pengampunan dan berusaha mengubah diri sendiri ini tidak hanya menguntungkan saya, tapi juga lingkungan sekitar.

Bertindak Tanpa Pamrih

Altruisme, atau tidak mementingkan diri sendiri, adalah ajaran universal lainnya dalam praktik spiritual yang lurus. Seperti yang dikatakan Buddha, “Hati yang murah hati, ucapan yang baik, dan kehidupan pelayanan serta belas kasih adalah hal-hal yang memperbarui umat manusia.”

Bertindak tanpa pamrih berarti melepaskan keinginan sendiri demi kepentingan orang lain. Itu berarti membantu orang lain karena kebaikan hati Anda, tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Itu berarti menempatkan diri Anda pada posisi orang lain dan memiliki belas kasih sejati.

Sayangnya, dalam masyarakat saat ini, yang sebaliknya dari itu, tidak hanya dipromosikan namun juga sering dipuji dan bahkan dihargai. Tapi kabar baiknya adalah, dengan sedikit introspeksi dan kesadaran, sikap tidak mementingkan diri sendiri dapat dipelajari dan secara bertahap menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari.

Tindakan kebaikan kecil, seperti mendengarkan orang lain tanpa memikirkan apa yang akan kita katakan selanjutnya, membawakan secangkir kopi untuk rekan kerja, atau memotong rumput tetangga yang sudah lanjut usia, adalah cara sederhana yang dapat kita lakukan untuk menempatkan orang lain di atas diri kita sendiri.

Saat kita menjalani hari kita, ada baiknya untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri, “Mengapa saya melakukan ini?” Dengan kata lain, apa motivasi kita yang sebenarnya di balik tindakan kita? Apakah kita mengambil semangkuk sup untuk teman kita yang sakit karena kita tahu betapa menyedihkannya menderita flu dan ingin membantunya merasa lebih baik, atau karena kita ingin mendengar bahwa kita adalah teman yang baik atau betapa pandainya kita memasak? Memeriksa pikiran kita sendiri adalah kuncinya.

Membantu demi menolong, dengan hati yang murni dan tulus, bermanfaat bagi orang lain, dan secara tidak sengaja juga bagi diri kita sendiri. Penelitian telah menunjukkan bahwa perilaku altruistik menyebabkan lebih banyak ketenangan pikiran, menurunkan kadar kortisol, dan bahkan menurunkan risiko penyakit jantung, serta beberapa manfaat lain.

Bersyukur

Di dunia di mana kita dapat memiliki hampir semua yang kita inginkan kapan pun kita menginginkannya, mudah untuk menerima begitu saja dan melupakan pentingnya rasa syukur.

Baru-baru ini, sebuah kejadian terjadi ketika saya sedang mengajari anak saya tentang bersyukur atas apa yang dia miliki dan tidak berharap lebih dan lebih. Suami saya mendengar percakapan kami dan bergabung untuk menekankan apa yang saya katakan. Dia mengejutkan saya ketika dia memberi tahu putra kami: “Setiap hari ketika saya bangun, saya berdoa. Saya tidak meminta apa pun. Saya hanya mengatakan ‘terima kasih,’ bahkan jika itu hanya untuk kedua tangan dan kaki saya yang memungkinkan saya untuk pergi bekerja, atau untuk atap di atas kepala saya.”

Bersyukur atas apa yang kita miliki, tanpa menginginkan atau meminta lebih, bahkan dalam menghadapi kesulitan dan pergumulan, tentu saja merupakan upaya yang berharga.

Penelitian telah menunjukkan bahwa rasa syukur dapat dipupuk. Dengan melakukan hal-hal seperti membuat jurnal rasa syukur, atau merenungkan tiga hal yang kita syukuri di penghujung hari, kita memperkuat otot rasa syukur kita. Kita bahkan bisa belajar untuk bersyukur atas masa-masa sulit.

Leonardo da Vinci berkata: “Hambatan tidak dapat menghancurkan saya. Setiap rintangan menghasilkan tekad yang kuat. Dia yang terpaku pada sebuah bintang tidak akan berubah pikiran.” Kesulitan membantu menguatkan tekad untuk mencapai tujuan kita, dan memperkuat siapa kita. Dan tanpa masa-masa sulit, bagaimana kita tahu kemampuan kita sendiri?

Temukan Pelajarannya

Tidak sehari pun kita tidak menemukan banyak peluang untuk memperbaiki diri. Segala hal terjadi untuk suatu alasan. Meskipun kita mungkin tidak mengerti mengapa sesuatu terjadi, apa yang dapat kita pahami adalah, ada pelajaran yang terkandung di dalamnya.

Saat bekerja dengan rekan kerja saya, saya memiliki kesadaran lain: Hal-hal yang mengganggu saya tentang dia sebenarnya adalah hal-hal yang ada dalam diri saya—dia hanyalah cermin yang mencerminkan apa yang ada dalam diri saya. Pada awalnya, ini bukan sesuatu yang bahkan ingin saya akui pada diri saya sendiri, apalagi orang lain, dan bertanya-tanya apakah saya benar-benar memiliki cara mengendalikan diri saya sendiri.

Saat saya memperhatikan pikiran dan perilaku saya, tentu saja, saya melihat kebenaran yang pahit: Saya juga memiliki cara saya sendiri untuk mengendalikan sesuatu. Ketika saya merenungkan situasi lebih lanjut, saya menemukan bahwa situasinya adalah kesempatan untuk melihat diri saya sendiri dan mempelajari beberapa pelajaran berharga.

Saya juga menyadari bahwa ketika jenis situasi tertentu terus berulang, meskipun mungkin dalam bentuk yang berbeda, hal itu mencoba memberi saya pelajaran. Ketika saya mulai memperhatikan pola dalam hal-hal yang terjadi dalam hidup saya, saya juga belajar bahwa jika sesuatu tentang orang lain mengganggu saya, itu adalah tanda pasti, bahwa saya memiliki hal yang serupa dengan itu dalam beberapa bentuk atau lainnya.

Selama bertahun-tahun, saya telah melihat bahwa pelajaran bagi saya yang paling berharga sebenarnya adalah keluar dari situasi tersulit saya. Meskipun saya tidak menikmati saat-saat yang menyakitkan atau sulit itu, saya melihat bahwa mereka, pada kenyataannya, memiliki tujuan yang penting—pertumbuhan diri. Dan jika saya tidak berusaha untuk meningkatkan bagian dari diri saya itu, situasinya akan terus berulang dalam waktu dan juga skenario yang berbeda.

Ketika putra saya masuk sekolah dasar, saya mulai sering mengobrol dengannya tentang apa yang kami sebut sebagai “pelajaran hidup”. Saya mencoba mengajari tentang pentingnya bersikap baik kepada orang lain tidak peduli bagaimana dia diperlakukan, jujur, bijaksana, sabar, dan berbagi dengan orang lain. Saya juga membuat skenario “bagaimana jika” untuk membuatnya berpikir tentang bagaimana dia dapat menangani berbagai jenis situasi sulit, dan kemudian kami akan mendiskusikan solusi yang mungkin.

Suatu hari, ketika seorang anak lelaki kecil memperlakukannya dengan tidak baik di kelas dua, dia pulang ke rumah dan mengatakan kepada saya bahwa dia tidak bermaksud jahat kepadanya, dan berkata, “Saya pikir ibunya tidak mengajarinya tentang pelajaran hidup.” Ketika putra saya melakukan sesuatu yang salah, saya mencoba membuatnya mengerti mengapa itu salah dan memikirkan bagaimana dia bisa melakukan yang lebih baik di lain waktu.

Harapan saya adalah bahwa pelajaran ini meletakkan dasar bagi putra saya untuk belajar bagaimana merenungkan tindakannya sendiri, melihat apa yang dapat dia pelajari darinya, dan terus berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik.

Dalam pandangan saya, apa yang terjadi dalam hidup dimaksudkan untuk mengajari kita, untuk memperbaiki kesalahan dan mengubah diri kita menjadi lebih baik dengan meningkatkan kesabaran, kejujuran, kebaikan, empati, serta kualitas baik lainnya.

Kesimpulan

Penelitian telah membuktikan, apa yang akal sehat beritahu kita: Memperkuat kesehatan spiritual, adalah baik untuk kesehatan mental maupun fisik. Hal itu meningkatkan karakter moral kita, memperkuat hubungan kita, meningkatkan kinerja kita di sekolah dan di tempat kerja—dan merupakan fondasi penting dari masyarakat yang baik.

Seperti yang dikatakan Rumi: “Kemarin saya pintar, jadi saya ingin mengubah dunia. Hari ini saya bijaksana, jadi saya mengubah diri saya sendiri.” Dengan menerapkan beberapa teknik ini dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat meningkatkan diri kita sendiri, dan secara alami memiliki pengaruh positif pada dunia di sekitar kita. (theepochtimes/jl)

Lebih banyak artikel Kesehatan, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI