Setelah mengambil jas saya dari binatu beberapa hari lalu untuk di-dry clean, saya menyadari jika saya sedang membawa pulang aroma dari substansi kimia dry clean. Sebenarnya, apakah dry clean benar-benar aman?
Disarikan dari berbagai sumber, bahan pelarut yang biasa dipakai untuk dry cleaning, yaitu perchloroethylene (PERC) memang dapat menghilangkan noda dan kotoran pada pakaian tanpa menggunakan air. Biasanya, bahan ini digunakan untuk mencuci kain sutra, organdi, wol, leather (kulit), dan bahan lain yang cukup sulit dibersihkan secara konvensional. PERC adalah cairan tidak berwarna yang mudah terbakar dengan aroma manis seperti eter. PERC juga disebut perkloroetilena, tetrachloroethylene, tetrachloroethylene, PCE.
Bagaimana Saya Terkena Paparan PERC?
Anda bisa terkena paparan PERC jika men-dry-clean pakaian, karena pakaian tersebut akan melepaskan sejumlah kecil perkloroetilena ke udara setelah di-dry-clean. Anda juga bisa terkena paparannya jika menggunakan produk yang mengandung PERC, seperti pelapis kain, penghapus noda, semir sepatu, dan pembersih kayu. Mereka yang bekerja di perusahaan dry cleaning, pencucian logam, produksi bahan kimia, pelapisan karet, atau fasilitas tekstil juga memiliki risiko tertinggi.
PERC juga dapat menyebabkan kerusakan ginjal dan liver, serta gangguan sistem saraf. Bahkan, menurut Badan Perlindungan Lingkungan Amerika, PERC bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker). Di negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa, zat PERC sudah dilarang sejak tahun 2006. Kanker yang disebabkan larutan PERC adalah kanker darah, kanker esofagus, kandung kemih, dan kanker kelenjar getah bening (limfoma). Senyawa PERC akan tetap tertinggal di baju setelah proses dry clean selesai. Kemudian, zat tersebut menempel di kulit atau terhirup saat bernapas dan masuk ke paru hingga aliran darah.
Jadi bagaimana amannya? Tentu lebih baik mencuci pakaian sendiri di rumah atau menggunakan jasa laundry biasa (yang mencuci dengan air dan detergen). (NTDIndonesia/chr)
