Kesehatan

Bagaimana Belas Kasih Membantu Kesehatan Mental

Belas kasih
Belas kasih. @Pexels

Ketika COVID-19 merajalela di seluruh dunia, jutaan dari kita mencari tempat perlindungan. Kita tidak hanya isolasi mandiri di rumah, namun kita juga memasang dinding internal (dinding psikologis) dalam melawan penderitaan yang kita lihat di dunia. Selama lebih dari dua tahun, mudah untuk membenarkan fokus ke dalam daripada fokus ke luar.

Tetapi sebuah studi baru menunjukkan bahwa mengabaikan belas kasih atas nama keselamatan mungkin tidak melindungi kita seperti yang kita harapkan. Mematikan respons belas kasih kita selama pandemi dapat mengancam kesehatan mental kita, dan merusak hubungan sosial yang menopang kesejahteraan kita, demikian temuan dari tim peneliti.

Penelitian ini menunjukkan efek korosif dari menekan naluri kita untuk terhubung dengan orang lain, kata Leah Weiss, anggota fakultas pendiri program pelatihan kultivasi belas kasih Universitas Stanford.

“Ketika kita masuk ke dalam perspektif berbasis rasa takut, didorong oleh kecemasan, kita akan menarik diri dan mengisolasi. Ketika kita menarik diri dan mengisolasi, kita memiliki lebih banyak kecemasan, sehingga mengarah ke lingkaran negatif,” ujar Leah Weiss. “Semuanya meningkatkan kita, dan kemudian ketahanan kita, imunitas kita menurun.”

Bagaimana Mengesampingkan Belas Kasih dapat Menjadi Bumerang

Untuk mengeksplorasi bagaimana sikap terhadap belas kasih memengaruhi kesejahteraan orang selama pandemi, psikolog Universitas Coimbra, Marcela Matos, dan timnya merekrut lebih dari 4.000 orang dari 21 negara, termasuk Brasil, Australia, Arab Saudi, dan Amerika Serikat. Semua peserta menyelesaikan survei online pada musim semi 2020 yang meminta mereka untuk menggambarkan keyakinan mereka tentang belas kasih, serta keadaan psikologis mereka dan kekuatan koneksi sosial mereka.

Tim tersebut secara khusus tertarik pada rasa takut akan belas kasih, yang datang dalam berbagai bentuk, kata Marcela. Beberapa orang takut bahwa merespons dengan penuh kasih akan memicu emosi yang membanjiri mereka, mengancam untuk menyedot mereka ke bawah. Yang lain percaya bahwa menunjukkan belas kasih sama saja dengan menunjukkan kelemahan, atau bahwa orang-orang di sekitar mereka tidak pantas mendapatkan belas kasih.

Ketika orang memegang keyakinan semacam ini, mereka mungkin secara sadar atau tidak sadar menghalangi respons belas kasih mereka sendiri, gagal memperhatikan penderitaan orang lain atau membantu mereka ketika mereka berada dalam krisis.

Ketika tim menganalisis tanggapan survei, mereka menemukan bahwa peserta yang mengungkapkan rasa takut menunjukkan belas kasih untuk diri mereka sendiri atau orang lain cenderung merasa lebih tertekan, cemas, dan stres selama pandemi.

Temuan Marcela konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan efek merusak dari isolasi dan penarikan diri pada kesehatan mental, kata para ahli.

“Isolasi sosial dikaitkan dengan tidak hanya kesepian, kecemasan, dan depresi, tetapi juga peningkatan risiko hipertensi, peradang- an, penurunan kognitif, dan kerentanan terhadap kecanduan,” kata psikolog Australia, Hugh Mackay, penulis “The Kindness Revolution.”

Membalikkan Spiral Isolasi ke Bawah

Di sisi lain, orang yang memilih belas kasih selama situasi stres tampaknya memiliki rasa kesejahteraan yang lebih tahan lama. Program pelatihan yang meningkatkan respons belas kasih orang tampaknya mengurangi rasa takut akan belas kasih selama pandemi, berdasarkan hasil awal dari penelitian Marcela lainnya. Studi lain menunjukkan bahwa pelatihan welas asih mendorong aktivasi sistem saraf parasimpatis , yang menanamkan ketenangan dan membantu kita pulih dari stres.

“Belas kasih adalah motivasi untuk menjadi peduli dan peka terhadap penderitaan,” kata Marcela. “Aktivasi motivasi ini terkait dengan regulator siologis yang sangat penting dari kesejahteraan kita sendiri.

Orang yang berjuang dengan masalah kesehatan mental akibat pandemi juga dapat mencari terapi yang berfokus pada belas kasih (CFT- Compassion-Focused Therapy), yang membantu klien menumbuhkan belas kasih sehingga mereka dapat sembuh dari trauma dan mengembangkan tujuan yang jelas. Dalam sesi CFT, terapis mengingatkan klien tentang kapasitas mereka untuk berbelas kasih, membimbing mereka dalam latihan seperti mengingat saat-saat ketika mereka merawat orang lain atau membantu mereka melalui masa-masa sulit.

Selain itu, terapis yang terampil dapat membantu orang keluar dari perangkap isolasi dengan membantu mereka merasa nyaman dengan berbagai cara untuk menunjukkan belas kasih dan keterhubungan.

“Dalam konteks COVID,” kata Leah Weiss, “semakin takut kita akan kedekatan fisik, mungkin cara berpikirnya adalah, ‘Nah, dengan cara apa Anda dapat terlibat secara virtual?’ Atau, dapatkah Anda mengatur lingkungan di mana ada bantal yang telah Anda posisikan untuk diri sendiri, untuk anak-anak Anda, pada jarak yang Anda tahu baik-baik saja? Karena semakin Anda mengisolasi, pada akhirnya Anda akan semakin tidak tahan.”

Di tingkat sipil dan organisasi, pesan pengendalian pandemi yang menekankan perlindungan seluruh komunitas?misalnya, “Bantu selamatkan kami yang paling rentan. Bersama-sama, kita dapat menghentikan penyebaran virus corona” daripada slogan “Virus Corona Mengancam Kita”?sangat efektif dalam memotivasi orang untuk mematuhi langkah-langkah protokol kesehatan untuk menghentikan penyebaran COVID-19.

Selain memperlambat penyebaran virus, Marcela mengatakan, pesan belas kasih yang berfokus pada komunitas mendorong orang untuk memperhatikan orang lain dengan cara yang menguntungkan semua orang yang terlibat.

Begitu orang menyadari bahwa belas kasih dapat bermanfaat bagi mereka di masa-masa sulit dan juga bermanfaat bagi orang lain, wawasan itu dapat memotivasi mereka untuk keluar dari spiral isolasi.

“Kita dirancang untuk hubungan sosial, untuk komunitas, dan untuk kebaikan serta belas kasih, karena itu adalah jalan menuju keharmonisan dan kerja sama sosial,” kata Hugh Mackay. “Jika Anda dapat menemukan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan orang lain, kecemasan Anda sendiri cenderung mencair.” (epochtimes epaper/ wan)

Lebih banyak artikel Kesehatan, silahkan klik di sini.



VIDEO REKOMENDASI