Selama bertahun-tahun, merokok adalah hal biasa yang dilakukan seperti halnya minum secangkir kopi sambil membaca koran di pagi hari. Berdasarkan statistik Biro Referensi Penduduk, sebanyak 42 persen warga Amerika adalah perokok di era 1960-an. Hal ini terlihat seperti perilaku sosial yang normal; orang-orang tidak hanya merokok di luar ruangan, namun mereka melakukannya di mana saja mulai dari rumah sampai ke maskapai penerbangan.
Generasi saat ini hampir tidak terpikat dengan kebiasaan merokok, karena semakin banyak informasi yang menunjukkan risiko kesehatan terkait rokok.
Namun, masih ada jutaan warga Amerika yang merokok secara rutin. Biro Referensi Penduduk menyebutkan bahwa persentase perokok turun hingga 50 persen tetapi masih jauh di atas yang seharusnya.
Ketika para dokter mengamati dampak rokok terhadap tubuh orang-orang di seluruh Amerika Serikat, hal ini merupakan fenomena yang cukup menyeramkan.
Banyak orang mengetahui bahwa merokok berdampak buruk terhadap kesehatan, tetapi mereka tidak memikirkan secara spesifik. Berikut adalah apa yang sungguh-sungguh terjadi – tidak hanya menimbulkan bau di pakaian anda, tetapi khususnya berdampak negatif pada paru-paru anda – semakin lama anda melanjutkan kebiasaan tersebut.
Saluran Udara Anda Menjadi Sempit
Sangat mungkin adalah, anda bertemu dengan seorang perokok lama yang sering batuk-batuk dan berhenti lebih awal pada saat melakukan latihan rutinnya karena terengah-engah.
Banyak orang mengganggap hal ini disebabkan karena mereka sering merokok atau hanya tengah sakit. Keduanya mungkin benar, namun alasan utama mengapa banyak perokok mengalami kesulitan bernapas adalah jauh lebih menakutkan.
Asap mengembang dan mengiritasi jaringan paru-paru para perokok, yang mempersempit saluran udara dan akhirnya merusak jaringan dari waktu ke waktu. Saluran udara bias tersumbat sehingga menarik napas dalam-dalam hampir tidak mungkin, dan jaringan parut dapat diproduksi saat paru-paru menjadi rusak dan meradang.
Hal ini menyebabkan pernapasan menjadi semakin berat semakin lama anda merokok – dan berkontribusi pada semakin banyaknya penyakit yag dapat muncul seiring perjalanan waktu.

Anda Lebih Sering Sakit
Tidak ada seorangpun yang menikmati kondisi yang kurang sehat. Namun bagi perokok, hal tersebut menjadi rutinitas; semakin sering anda merokok semakin besar kemungkinan anda terserang pilek, virus, atau penyakit serius lainnya dan bertahan lama seperti pneumonia atau bronkitis.
Ada penjelasan ilmiah di balik semua ini. Ini bukan hanya korelasi semu antara merokok dan penyakit.
Setiap kali anda merokok, paru-paru anda menghasilkan lendir ekstra untuk membentuk penghalang sebagai pelindung. Semua orang menghasilkan lendir, tetapi penumpukan berlebih di paru-paru anda akan memaksa anda untuk lebih sering batuk – dan penumpukan lendir rentan terhadap infeksi, yang mengarah pada semakin banyak penyakit. Semakin sering tubuh anda harus melawan penyakit-penyakit ini, semakin lemah tubuh anda. Akhirnya, tubuh seorang perokok rutin harus berjuang melawan pilek dan infeksi saluran pernapasan.
Hal ini menimbulkan masalah ganda. Tidak hanya kelebihan lendir yang menyebabkan infeksi, tetapi asap yang dihirup dari setiap rokok mempercepat penuaan paru-paru anda. Hasilnya? Akan menjadi lebih sulit dan lebih sulit bagi paru-paru anda untuk melawan infeksi sendirian, sehingga setiap penyakit menjadi sebuah masalah besar.
Tidaklah menyenangkan jika terkena demam, tetapi perokok aktif tidak hanya sekadar terkena demam. Setiap hirupan bisa menjadi radang paru-paru, yang semakin mahal dan semakin menyakitkan seiring bertambahnya usia.
Paru-Paru Anda Menjadi Semakin Kotor
Setiap orang pernah melihat tumpukan abu rokok di tanah, tetapi sedikit yang memikirkan apa yang terjadi pada bagian dalam tubuh anda.
Seseorang yang sehat memiliki pelengkap kecil seperti rambut mikroskopis di paru-paru mereka yang disebut silia yang berfungsi sebagai sapu untuk menjaga paru-paru tetap bersih dan saluran udara terbuka.
Namun, segera setelah anda menghisap rokok pertama, silia ini berhenti bekerja secara efektif – dan seiring waktu, asap rokok dapat merusaknya secara permanen dan bahkan menyebabkannya hilang.
Hasilnya mudah diketahui; semakin lama anda merokok, semakin kotor paru-paru anda tanpa ada yang membersihkannya. Ini berkontribusi pada risiko infeksi dan meninggalkan debu dan lendir di paru-paru yang menumpuk dari waktu ke waktu.
Berita baiknya adalah mereka yang berhenti merokok dapat melihat peningkatan kesehatan paru-paru marginal dari waktu ke waktu, dan hal itu termasuk peningkatan khasiat silia. Menurut Dr. Norman Edelman, penasihat ilmiah senior untuk American Lung Association, silia mulai tumbuh kembali di bagian dalam paru-paru anda segera setelah anda berhenti merokok. Dan begitu mereka tumbuh lagi – dan mulai berfungsi dengan benar – paru-paru anda mulai dapat membersihkan diri kembali dan risiko terkena penyakit menurun.

Merokok Memperbesar Risiko Terkena Kanker Paru
Kemungkinan anda sudah pernah mendengar tentang hal ini. Ketika harapan hidup manusia telah meningkat, mereka yang perokok tetap stagnan; anda dua puluh kali lebih rentan terkena kanker paru-paru jika anda merokok secara teratur daripada jika anda tidak merokok.
Diperkirakan enam persen dari keseluruhan populasi di Amerika Serikat berisiko terkena kanker paru-paru dalam hidup mereka, tetapi meneliti risiko merokok dari data statistik yang ada – memberikan gambaran yang mengerikan.
Kurang dari satu persen non-perokok dalam sebuah penelitian di Eropa terkena kanker paru-paru, tetapi jumlahnya meroket untuk perokok: 5,5 persen dari mantan perokok pria dan 2,6 persen dari mantan perokok wanita mendapati diri mereka dalam risiko, sementara 15,9 persen perokok pria dan 9,5 persen perokok wanita semuanya mendapat diagnosis menderita kanker paru. Untuk perokok berat saat ini, dikategorikan sebagai mereka yang merokok lebih dari lima batang sehari, satu dari empat pria dan satu dari lima wanita terdiagnosis penyakit mematikan tersebut.
Lalu bagaimana situasi di Indonesia? Pada Mei 2016, direktur pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Lily Sriwahyuni Sulistyowati pernah mengutarakan bahwa jumlah perokok di Indonesia tahun itu adalah 90 juta orang, dengan demikian menduduki ranking pertama sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar di dunia, disusul oleh Rusia dan Tiongkok. Padahal pada 2009, statistik mencatat 65 juta perokok di Indonesia (alias Indonesia di urutan ketiga). Beliau menambahkan, “Bisa dibilang Indonesia itu juara merokok.”
Pada November 2018, Guru Besar FKKM Universitas Gajah Mada, Prof. Yayi Suryo Prabandari, M. Si., PhD., menyebutkan jumlah perokok di Indonesia cenderung meningkat setiap tahunnya dan Riskesdas 2018 menunjukkan statistik mengkhawatirkan dari jumlah perokok diatas 15 tahun (usia produktif) adalah 33,8%. (theepochtimes/catherine bolton/vca/kar)
