Kesehatan

“Emosi Jalanan” Mengarah Pada Gangguan Mental

Emosi jalanan: Sekerumun pejalan kaki lalu lalang di sepanjang jalan umum, pada suatu kesempatan bisa mencuatkan emosi jalanan. (Image:B_Me/pixabay)

“Hei, minggir kau !” teriak seorang pria muda di tengah padatnya arus kend­araan di sebuah jalan di Manhattan.

“Ini jalan umum, Anda tidak lihat apa!” sahut seorang perempuan tengah baya ke arah mobil yang menghalangi jalannya.

Skenario ini mungkin kerap Anda jumpai ketika berkendara di tengah keramaian jalan, namun perilaku orang semacam ini tidak hanya khusus terjadi di antara para pengendara jalan raya, bahkan sering kali juga terjadi di antara sesama pemakai jalan dan pejalan kaki.

Situasi demikian dinamakan “Side­walk rage”, diterjemahkan menjadi “emosi jalanan”, yakni suatu kondisi yang dipicu oleh perilaku seseorang yang menyalahi etiket pergaulan sehingga menimbulkan konflik dalam lingkungan sosial tertentu. Hal ini nyata terjadi, iba­rat virus yang menular. Pada suatu titik ekstrim, luapan amarah seseorang bisa jadi “meledak-ledak” dan mengarah pada sejenis gangguan mental.

Menurut laporan Wall Street Journal, para peneliti telah mempelajari gejala ini dan menyimpulkan bahwa ada beberapa faktor penentu yang menjadi sebab dan akibat terjadinya”emosi jalanan”.

Pada dasarnya semua tindakan berke­naan dengan “emosi jalanan” ini bisa ter­jadi di tempat-tempat umum manapun, tidak hanya di tepi jalan, sementara pelaku penyimpangan itu sendiri menun­jukkan perilaku tak mendasar, bertindak sewenang-wenang, tidak hormat dan cenderung meremehkani orang lain, mis­alnya memberikan tatapan sinis kepada orang lain, berteriak, memaki atau mena­brak orang serta perilaku kasar lainnya.

Pelajar, pejalan kaki, pembeli dan pelancong semuanya bisa saja menunjuk­kan perilaku seperti ini.

Sebuah contoh, bagi pecinta Face­book mungkin Anda bisa coba menelaah. Terdapat lebih dari 11.000 orang men­gatakan bahwa mereka suka pernyataan “Aku tidak suka orang yang berjalan lambat.” Lebih dari 400.000 orang lain­nya menyukai “Tidak suka berada di be­lakang orang yang berjalan lambat.”

Terbukti bahwa “emosi jalanan” bisa berubah menjadi perdebatan sengit – lebih dari 19.000 pengguna Facebook bergabung dalam kelompok “I Secretly Want to Punch Slow Walking People in the Back of the Head/ Saya Ingin Memukul dari belakang orang-orang yang berjalan lambat.”

Berdasarkan laporan Wall Street Jour­nal, “seseorang yang bersikap demikian menunjukkan gejala gangguan mental yang dinamakan “intermittent explosive disorder[1] (IED)”.

Sementara National Institute of Men­tal Health pada tahun 2006 melaporkan bahwa “mendorong, mendesak atau mel­ontarkan seruan sangat mungkin meru­pakan gejala dari kondisi tersebut, yang “ditandai dengan tahap-tahap kemarahan yang tidak beralasan” dan sekitar 16 juta warga Amerika telah terinfeksi wabah ini.

IED bisa sangat berbahaya. Penderita yang mengalami gangguan ini sangat mungkin melakukan tindakan penye-rangan fisik dan perampasan harta milik orang lain, menyebabkan luka dan keru­sakan materi.”

Sebagin besar dari merekai memiliki risiko tinggi terserang depresi, mudah ge­lisah, mengonsumsi obat-obat terlarang atau alkohol.

Beberapa peneliti kasus “emosi jalan­an” dan IED menemukan bahwa kunci untuk mendapatkan pemahaman dan penyelesaian atas fenomena ini adalah mendefinisikan faktor pemicu amarah dan menemukan cara bagaimana me­nyikapi kemarahan orang-orang ini.

Kami sedang mencoba untuk mema­hami apa yang membuat orang-orang ini marah dan seperti apakah pengalaman mereka,” ujar Jerry Deffenbacher, se­orang profesor dari Universitas Negeri Colorado dan seorang pakar psikolog. “Bagi mereka yang menganggap ke­marahan adalah persoalan pribadi, kami sedang mencoba mengembangkan dan mengevaluasi cara-cara guna menolong mereka.” (mimili/epochtimes/mil/may)

[1] Intermittent Explosive Disorder (IED): gangguan perilaku yang timbul dari ekspresi berlebihan atas kemarahan, sampai pada titik dimana kemarahan tidak lagi terkontrol dan tidak sesuai dengan proporsi situasi yang sedang di­hadapi