Kesehatan

Fakta Tentang Minuman Olahraga

Minum @Canva Pro
Minum @Canva Pro

Minuman olahraga telah menjadi sahabat utama bagi atlet berkinerja tinggi.

Menawarkan berbagai pilihan rasa yang menggoda? seperti “arctic blitz” dan “mountain berry blast, warna yang menarik dan vitamin tambahan, minuman ini dirancang untuk mengembalikan kondisi tubuh setelah aktivitas fisik yang berat.

Tetapi apakah minuman olahraga efektif? Apakah tubuh kita benar-benar membutuhkannya untuk bekerja dengan baik? Apakah minuman ini aman untuk diminum seperti yang dikatakan oleh produsennya dan iklannya?

Keajaiban Air dengan Gula dan Garam

Efektivitas minuman olahraga didasarkan pada terobosan penemuan bahwa campuran sodium dan potassium dalam air dapat mengoptimalkan penyerapan cairan di dalam usus, memungkinkan cairan tubuh diisi ulang dengan cepat.

Penemuan ini tidak hanya penting dalam bidang olahraga tetapi juga dalam pengobatan kondisi kesehatan yang serius.

Pada tahun 1980, ketika diare adalah penyebab utama kematian bayi dengan sekitar 4,6 juta kematian per tahun, penggunaan oralit yang berisi campuran gula dan garam yang ditambahkan ke air memungkinkan rehidrasi oral (melalui mulut), menyelamatkan nyawa banyak anak yang kehilangan elektrolit pada tingkat yang membahayakan.

sports-drinks-wikimedia-commons
Contoh oralit yang tersedia secara komersial, kiri dari Nepal dan kanan dari Peru. (Gambar: James Heilman, MD dari Wikimedia Creative Commons)

Ini membuka pintu bagi perusahaan komersial untuk memasarkan air asin manis sebagai produk baru yang dirancang untuk memungkinkan atlet memulihkan air dan elektrolit yang hilang dengan cepat melalui keringat.

Konsumsi minuman olahraga didukung oleh organisasi olahraga dengan alasan bahwa dehidrasi dapat mengganggu kinerja dan elektrolit dalam minuman rehidrasi sangat penting, dan konsumsi minuman olahraga segera menyebar luas. 

Apakah dehidrasi menghambat kinerja fisik?

Pada tahun 1996, American College of Sports Medicine (ACSM) mulai mempromosikan konsep bahwa atlet harus minum “sebanyak yang dapat ditoleransi”. Bersama dengan pernyataan populer “jangan menunggu sampai anda merasa haus”, menetapkan pedoman untuk hidrasi yang tepat bagi atlet selama berolahraga.

Sayangnya, ini mengakibatkan banyak atlet mengalami efek overhidrasi dengan minuman olahraga atau air, yang sering menyebabkan kondisi yang disebut “hiponatremia terkait latihan” (EAH) – masalah neurologis karena jumlah air yang berlebihan dalam tubuh – dan penyakit terkait pada otak – kerusakan pada otak.

Ketika jumlah kasus EAH mulai meningkat, beberapa mengakibatkan kematian, masalah ini menjadi perhatian publik, mendorong komunitas kedokteran olahraga global untuk mengevaluasi kembali anjuran minum berlebih.

Saat mempelajari hubungan antara dehidrasi dan performa fisik, para peneliti tidak menemukan korelasi antara tingkat dehidrasi dan waktu penyelesaian atlet triatlon pada lari maraton, dan terlebih lagi, beberapa atlet yang mencatat waktu tercepat termasuk diantara mereka yang paling banyak kehilangan air.

Berbeda dengan apa yang dipromosikan oleh ACSM pada tahun 1996, sekarang ada bukti bahwa tingkat dehidrasi ringan tidak mengganggu kinerja atlet, dan bahwa baik prehidrasi maupun hidrasi selama latihan tidak diperlukan bagi tubuh untuk mempertahankan hidrasi yang memadai, bahkan selama latihan yang berkepanjangan dalam kondisi lingkungan yang panas.

Mengandalkan isyarat tubuh daripada saran dari luar

Sebagai salah satu mekanisme yang digunakan oleh organisme kita untuk menjaga keseimbangan, rasa haus dipicu ketika tubuh mendeteksi kekurangan cairan atau peningkatan konsentrasi osmolit, seperti sodium.

Mengabaikan konsep sebelumnya yang menganggap rasa haus sebagai indikator yang tidak dapat diandalkan, Mitchell Rosner, MD, seorang spesialis ginjal di Fakultas Kedokteran Universitas Virginia, merekomendasikan untuk menggunakan rasa haus kita sebagai panduan: “Jika anda minum saat haus, anda tidak akan menjadi hiponatremia (kondisi kekurangan sodium didalam darah yang dapat membahayakan jiwa) dan anda tidak akan menderita dehidrasi yang signifikan.”

Penelitian telah menemukan bahwa selama berolahraga, konsumsi cairan harus didasarkan pada rasa haus, dan asupan elektrolit tidak selalu diperlukan. (Gambar: Monstera dari Pexels)

Mengejutkan bahwa peran penting yang dimainkan oleh rasa haus dalam keseimbangan tubuh sudah diketahui pada tahun 1991. Tapi mengapa temuan ini diabaikan dan mengapa overhidrasi malah dipromosikan? Penelitian telah menyimpulkan bahwa kepentingan komersial yang menunda pengakuan informasi ini.

Bagaimana dengan air biasa?

Dalam hal hidrasi, air biasa adalah pelepas dahaga universal. Tidak menawarkan tambahan kalori, gula, kafein, atau aditif lainnya, ini adalah bentuk hidrasi paling murni.

Penelitian menunjukkan air melakukan tugasnya dengan baik atau lebih baik daripada pesaingnya seperti minuman olahraga, teh, dan soda.

Minuman olahraga terutama terdiri dari karbohidrat, elektrolit dan air. Jika dikonsumsi tanpa melakukan olahraga yang lama atau intens setidaknya selama 60 menit maka kalori akan terakumulasi, bukannnya terbakar.

Menurut Harvard T.H. Chan School of Public Health, minuman olahraga menyumbang sekitar 26% dari total asupan minuman berpemanis gula pada remaja. Jadi, tanpa adanya aktivitas fisik yang kuat, konsumsi minuman ini dalam jumlah besar dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan, diabetes tipe 2 dan karies gigi, serta kondisi lainnya.

Pedoman ACSM saat ini tidak mempromosikan overhidrasi, tetapi tetap menganggap minuman olahraga lebih baik daripada air. Dalam meninjau pernyataan ACSM, Dr. Michael Greger, MD, FACLM, menemukan bahwa Gatorade Sports Science Institute dan The Coca-Cola Company termasuk diantara organisasi utama yang memberikan dukungan finansial untuk laporan ACSM.

Sementara minuman olahraga dapat meningkatkan stamina dan kinerja untuk individu dan atlet yang aktif, penggunaannya tidak diperlukan untuk fungsi tubuh yang normal.

Sebaiknya kita menerima saran eksternal dengan hati-hati, dan lebih percaya pada kebijaksanaan bawaan yang dimiliki tubuh kita.(visiontimes)

Lebih banyak artikel Kesehatan, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI