Kesehatan

Kelor: Apa Manfaat ‘Tanaman Ajaib’ Ini Bagi Anda?

Kelor
Kelor. (Getty Images)

Salah satu makanan paling padat nutrisi di dunia menawarkan harapan terhadap diabetes, malnutrisi, dan bahkan COVID-19

Jika Anda ingin mengontrol gula darah, Anda mungkin pernah mendengar tentang makanan super “baru” yang disebut kelor, suplemen sehat untuk dikonsumsi sendiri atau ditambahkan ke smoothie dan menu sayur. Disebut sebagai “tanaman ajaib” oleh beberapa orang, kelor tersedia dalam bentuk bubuk, kapsul dan permen karet, serta teh.

Kaya akan vitamin, protein, dan asam amino, kelor adalah tanaman kuno dan suplemen makanan yang ampuh?sedemikian rupa sehingga para peneliti mencari potensinya untuk mencegah malnutrisi.

Di dunia Barat, kelor (Moringa oleifera) sering dipromosikan sebagai suplemen untuk membantu pasien diabetes tipe-2.

“Ini juga menurunkan gula darah dan tekanan darah karena tinggi serat dan protein,” Dr. Ahmet Ergin, seorang ahli endokrinologi dan pendiri Sugarmds.com, mengatakan kepada The Epoch Times.

Dia mengatakan vitamin, protein, dan asam amino alami dari tanaman adalah sumber manfaatnya. Salah satu tanaman paling padat nutrisi yang pernah ada, kelor kaya akan vitamin A, B, C, D, E, dan K, serta kalsium, zat besi, kalium, magnesium, mangan, dan seng.

Bagi masyarakat yang belum familiar dengan kelor, cara termudah untuk menggunakannya adalah dalam bentuk bubuk, ditambahkan ke smoothie, salad, atau sup, kata Dr. Ahmet.

“Makanan bisa menjadi obat jika dikonsumsi dengan benar,” ujarnya.

“Kami juga menggunakan obat-obatan, tapi menurut saya penggunaan sumber alami sangat membantu dalam hal jumlah obat yang mereka perlukan. Dengan pelatihan yang tepat, makanan yang tepat, dan suplemen yang tepat, hasilnya akan sangat baik.”

Meskipun kelor mungkin merupakan hal baru bagi banyak orang, namun masyarakat telah mengandalkan khasiat penyembuhannya selama berabad-abad di daerah berkembang dan tropis. Orang-orang di Asia dan tempat lain di mana kelor tumbuh subur sering menggunakan daun pahitnya dalam semur, casserole, sup, dan salad.

Beberapa ahli nutrisi percaya bahwa kelor mempunyai potensi untuk membantu meringankan kekurangan gizi secara global dan juga memberikan manfaat besar bagi kesehatan dan kekayaan di negara-negara miskin.

Apa itu Kelor?

Kelor berasal dari India, pohon yang meranggas ini juga dikenal sebagai limaran, moringga, pohon horseradish (dari bentuk akarnya yang mirip tanaman horseradish), pohon drumstick (dari bentuk rumah benihnya yang panjang dan ramping), dan pohon lobak, dan lain sebagainya. Tanaman ini kini juga tumbuh subur di daerah tropis Afrika Barat, Asia, Australia, Amerika Selatan, dan Amerika Tengah.

Menurut tinjauan sekelompok peneliti internasional yang mengamati kumpulan penelitian tentang kelor, tanaman tersebut mengandung:

  • Jumlah vitamin C lebih tinggi dibandingkan jeruk.
  • Konsentrasi vitamin A lebih tinggi dibandingkan wortel.
  • Kandungan kalsium lebih tinggi dibandingkan susu.
  • Lebih banyak potasium dibandingkan pisang.
  • Zat besi sembilan kali lebih banyak dibandingkan bayam.
  • Serat empat kali lebih banyak dibandingkan oat.

Kepadatan nutrisinya adalah alasan mengapa kelor disebut sebagai “tumpah ruah hidup” dalam sebuah buku tentang tanaman Afrika yang diterbitkan oleh National Academies of Science, Engineering, and Medicine (NASEM).

Dengan konsentrasi beta-karoten yang tinggi (empat kali lipat jumlah wortel, menurut NASEM), kelor sangat ideal untuk digunakan dalam program yang bertujuan untuk mengakhiri kekurangan vitamin A di negara-negara berkembang, kata kelompok tersebut.

Kelor juga mengandung lebih banyak asam amino dibandingkan kebanyakan tanaman lainnya. Menurut organisasi Trees for Life, analisis nutrisi menunjukkan bah[1]wa daun kelor mengandung semua asam amino esensial, yang tidak biasa ditemukan pada sumber tanaman.

Para peneliti di India menyebut kelor sebagai “tanaman ajaib” setelah meninjau penelitian dan hak patennya 10 tahun. Dalam tinjauan penelitian pada tahun 2021 mengenai pentingnya nutrisi dan potensi terapi kelor, mereka menemukan bahwa tanaman ini dapat memberikan manfaat besar bagi kesehatan dan kekayaan negara-negara berkembang.

“Komponen asli kelor dapat mengobati penyakit manusia dan berkontribusi terhadap kesehatan secara keseluruhan,” tulis mereka. “Hal ini dapat mengarah pada erkembangan ekonomi yang luar biasa jika industri dan peneliti memanfaatkan potensinya untuk menghasilkan makanan super bergizi tinggi dan aplikasi terapeutik dengan melakukan penelitian lebih lanjut untuk menguatkan penelitian sebelumnya.”

Berpotensi Menyehatkan Masyarakat Miskin, Melawan COVID-19

Organisasi Trees for Life didirikan pada tahun 1980an untuk membantu penduduk desa di India dalam menanam pohon buah-buahan. Pendiri dan presidennya, Balbir Mathur, belajar dari seorang praktisi pengobatan tradisional India bahwa daun kelor dapat mencegah 300 penyakit. Setelah mempelajari klaim ini, Balbir menyimpulkan, “semakin banyak kita mempelajarinya, semakin terlihat bahwa pohon Moringa oleifera benar-benar memberikan keajaiban.”

Penelitian terhadap kelor sebagai solusi terhadap masalah malnutrisi dimulai dengan sungguh-sungguh pada awal tahun 2000an. Menulis di jurnal Trees for Life pada 2005, Jed W. Fahey, yang memiliki gelar doktor di bidang sains, bahkan memperingatkan agar tidak memandang kelor sebagai obat mujarab.

“Meskipun antusiasme yang ada saat ini tampaknya bisa dibenarkan, penting untuk memisahkan bukti ilmiah yang kuat dari anekdot,” tulisnya.

Setahun kemudian, penulis di NASEM pada 2006 menegaskan bahwa “di seluruh Afrika, kelor dapat segera dimasukkan ke dalam program untuk mengatasi penderitaan akibat kekurangan gizi.”

Mereka juga menulis, “Dilaporkan oleh CWS [Church World Service] bahwa tiga sendok bubuk daun kelor (sekitar 25 gram) mengandung 300 persen kebutuhan vita[1]min A harian balita, serta 42 persen protein, 125 persen kalsium, 71 persen zat besi, dan 22 persen vitamin C.”

Balbir kemudian menulis pada 2008, bahwa kelor memiliki “potensi untuk memberikan nutrisi yang dibutuhkan untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit serta menyelamatkan populasi.” Penelitian sejak saat itu menunjukkan bahwa Balbir punya alasan kuat untuk bersikap optimis.

Tinjauan tahun 2020 mengenai aplikasi nutrisi dan farmasi kelor dalam pengobatan konvensional dan tradisional Asia menyimpulkan bahwa kelor?selain manfaatnya dalam memerangi malnutrisi?“[dapat memberi] efek yang mendukung melawan penyakit COVID-19.”

Karena merupakan ramuan yang pahit, praktik pengobatan tradisional Tiongkok mendukung penggunaan kelor “untuk menghilangkan panas dan detoksifikasi, membersihkan infeksi pada tahap awal, serta untuk mendinginkan darah dan menghilangkan stasis darah dengan cepat pada tahap pertengahan dan akhir,” tulis peneliti.

Meskipun mereka tidak merekomendasikan protokol tertentu, para penulis menulis bahwa kelor mungkin dapat dikombinasikan dengan pengobatan Barat untuk mengobati COVID-19.

Baru-baru ini, sebuah tinjauan pada tahun 2023 mengamati penggunaan kelor di Afrika Selatan sebagai “food fortificant” yang melengkapi pola makan anak-anak. Mengingat bahwa kekurangan gizi pada masa kanak-kanak sedang meningkat di Afrika Selatan, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients menemukan bahwa meskipun nilai gizi kelor tinggi dan mudah didapat, kelor bukanlah makanan populer di negara tersebut. Para penulis merekomendasikan untuk meningkatkan penampilan dan rasa makanan yang diperkaya kelor untuk meningkatkan “penerimaan konsumen.”

“Penelitian dapat dilakukan dengan menambahkan lebih dari satu jenis makanan untuk menutupi warna [hijau terang] dan meningkatkan rasa” kelor, tulis mereka.

“Makanan pendamping yang disiapkan di rumah yang sesuai dengan penambahan [bubuk daun kelor] harus diidentifikasi untuk populasi sasaran.” (susan C. olmstead/the epoch times/aus)

Lebih banyak artikel Kesehatan, silahkan klik di sini

Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

VIDEO REKOMENDASI