Penyakit Alzheimer adalah penyakit otak yang menyebabkan penurunan daya ingat, menurunnya kemampuan berpikir dan berbicara, serta perubahan perilaku. Penyakit ini bisa memburuk seiring waktu sehingga membuat penderitanya tidak mampu lagi melakukan pekerjaan sehari-hari. Berapapun banyak uang yang dikumpulkan selagi muda, menjadi tidak berarti karena penyakit ini.
Seperti kata pepatah: “Penyakit berasal dari makanan.” Banyak kondisi kronis yang berkaitan erat dengan pola makan, dan penelitian yang sedang berkembang menyoroti hubungan penting dengan kesehatan kognitif. Sebuah penelitian jangka panjang baru-baru ini menemukan bahwa orang yang secara konsisten memiliki pola makan yang tidak sehat tidak hanya mengalami peningkatan peradangan sistemik, tetapi juga risiko penyakit Alzheimer meningkat secara signifikan.
Penting untuk dipahami bahwa demensia tidak sama dengan penyakit Alzheimer, meskipun keduanya terkait. Demensia umumnya merupakan penurunan kemampuan mental, sedangkan Alzheimer adalah penyakit yang menyebabkan penurunan ini. Penyakit Alzheimer adalah penyebab paling umum dari demensia, memengaruhi 60-80% kasus menurut Layanan Kesehatan Nasional Inggris. Memahami hubungan antara pola makan dan peradangan merupakan langkah yang menentukan untuk menjaga kesehatan otak anda.
Bukti: Pola makan yang buruk meningkatkan risiko penyakit Alzheimer
Pola makan yang tinggi faktor inflamasi dapat menyebabkan peradangan sistemik kronis tingkat rendah di seluruh tubuh. Sebuah penelitian komprehensif yang diterbitkan dalam jurnal Alzheimer’s & Dementia, yang diikuti hampir 1.500 peserta selama lebih dari dua dekade, menemukan korelasi langsung. Analisis data mengungkapkan bahwa mereka yang memiliki skor Indeks Peradangan Diet (DII) tertinggi memiliki risiko 88 persen lebih tinggi terkena penyakit Alzheimer dibandingkan dengan mereka yang memiliki skor terendah.
DII mengukur potensi peradangan keseluruhan dari pola makan seseorang berdasarkan kombinasi nutrisi dan makanan. Bukti ini menyoroti bagaimana pilihan makanan merupakan faktor penting yang dapat dimodifikasi dalam mencegah penurunan kognitif.
Mengenali Makanan Pro-Inflamasi
Beberapa artikel PubMed mendefinisikan “pro-inflamasi” sebagai segala sesuatu yang memicu peradangan, sebuah respons imun alami terhadap cedera atau infeksi yang melibatkan pelepasan zat-zat seperti protein (sitokin) dan hormon (prostaglandin), yang membantu proses penyembuhan. Kedengarannya seperti proses yang positif. Namun, sinyal pro-inflamasi yang berlebihan atau tidak seimbang dapat menyebabkan peradangan dan penyakit kronis.
Penelitian terkini telah mengaitkan pola makan pro-inflamasi dengan berbagai kondisi, termasuk obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular. Menurut DII, kategori makanan dan minuman berikut dianggap pro-inflamasi dan harus dikonsumsi dengan bijak:

- Daging merah: Daging umum seperti babi, sapi, dan domba
- Daging olahan: Makanan seperti sosis, ham, bacon, dan daging asap.
- Gula dan makanan olahan (UPF/ultra processed food): Makanan ini dapat mengganggu mikrobioma usus. Ini termasuk karbohidrat sederhana seperti nasi putih, produk tepung putih (seperti roti, donat, biskuit dan kue olahan), dan minuman tinggi gula.
- Lemak trans: Contohnya termasuk makanan yang dipanggang dengan margarin, serta krimer non-susu. Minyak terhidrogenasi termasuk dalam kategori ini.
- Makanan yang digoreng: Penggorengan dengan suhu tinggi, terutama ketika minyak biji-bijian digunakan kembali berulang kali, menghasilkan asam lemak jenuh.
- Alkohol
Meningkatkan kekebalan tubuh dengan makanan anti-inflamasi
Untuk mengurangi peradangan dan melindungi fungsi kognitif, tingkatkan asupan kelompok makanan anti-inflamasi berikut:

- Buah dan sayur: Targetkan 5–7 porsi buah dan sayur dengan warna berbeda setiap hari, termasuk setidaknya 500 gram sayuran. Sayuran berwarna gelap seperti kubis, kangkung, dan brokoli kaya akan antioksidan dan zat anti-inflamasi. Buah beri (blueberry, stroberi, ceri) sangat bermanfaat karena kandungan polifenol dan flavonoidnya yang tinggi.
- Tingkatkan serat dan biji-bijian utuh: Gabungkan lebih banyak makanan kaya serat, seperti produk kedelai dan biji-bijian utuh (beras merah, oat, buckwheat, beras hitam, dan barley). Usahakan menjadikan biji-bijian utuh sepertiga hingga setengah dari asupan makanan pokok harian anda untuk memperlambat penyerapan glukosa dan mengurangi inflamasi.
- Asam lemak omega-3: Meskipun daging merah bersifat pro-inflamasi, daging putih (ikan, udang, ayam, dan bebek) umumnya dianggap anti-inflamasi. Disarankan untuk mengonsumsi makanan laut setidaknya dua hingga tiga kali seminggu karena kandungan Omega-3-nya yang kaya. Kacang-kacangan dan biji-bijian juga merupakan sumber Omega-3 harian yang sangat baik.
- Rempah-rempah dan herbal: Gabungkan kunyit, jahe, bawang putih, rosemary, dan kayu manis ke dalam masakan anda. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa bumbu-bumbu ini memiliki efek anti-inflamasi dan anti-alergi.
Faktor Lain yang juga Penting:
Pola makan sangat penting, tetapi mengatasi peradangan kronis untuk pencegahan Alzheimer paling baik dicapai melalui pendekatan gaya hidup yang komprehensif:

- Olahraga: Usahakan untuk melakukan olahraga aerobik sedang selama 30 menit setiap hari. Aktivitas fisik merupakan alat yang ampuh untuk meningkatkan kekebalan tubuh.
- Tidur: Mempertahankan pola tidur yang teratur sangatlah penting.
- Manajemen stres: Stres kronis meningkatkan produksi sitokin inflamasi dalam tubuh. Mempraktikkan mindfulness, menjaga koneksi sosial, dan menumbuhkan pandangan optimis dapat membantu mengendalikan respons ini.
- Mengontrol berat badan: Obesitas mengganggu sistem hormonal dan kekebalan tubuh, sehingga secara signifikan memperburuk peradangan kronis. Menjaga berat badan dan indeks massa tubuh (IMT) yang sehat melalui pola makan seimbang dan olahraga merupakan langkah pencegahan utama.
- Hilangkan kebiasaan tidak sehat: Merokok dan konsumsi alkohol berlebihan merupakan pemicu utama peradangan. Hilangkan kebiasaan-kebiasaan ini dan lakukan pemeriksaan fisik rutin untuk memantau kondisi kesehatan anda secara keseluruhan.
Kendalikan kesehatan kognitif anda
Mencegah penyakit Alzheimer bukanlah tentang menemukan satu obat ajaib. Namun, ada obat-obatan baru yang pertama kali secara langsung menargetkan akar penyebab biologis Alzheimer, plak amiloid, yaitu penumpukan gumpalan protein di sekitar saraf di otak. Obat-obatan baru ini memiliki efek samping dan memerlukan pemantauan medis yang sangat ketat. Untuk membantu diri sendiri mencapai hasil terbaik, kuncinya adalah membuat pilihan harian yang mengendalikan peradangan kronis — akselerator diam-diam dari penurunan kognitif.

Gaya hidup modern telah memperkenalkan kebiasaan makan yang secara aktif mengancam kesehatan otak kita. Dengan sengaja mengalihkan piring anda dari sumber pro-inflamasi dan beralih ke sumber anti-inflamasi, anda melakukan tindakan penting perlindungan saraf.
Pada akhirnya, otak yang sehat dibangun di atas konsistensi. Kombinasikan kekuatan pola makan anti-inflamasi dengan faktor gaya hidup yang mendukung — olahraga teratur, tidur yang cukup, dan manajemen stres yang efektif — untuk menciptakan lingkungan yang tangguh di mana tubuh anda dapat pulih dan pikiran anda dapat berkembang. Sendok garpu anda adalah alat anda untuk pencegahan. Dengan menerapkan gaya hidup anti-inflamasi hari ini, anda secara aktif mengendalikan vitalitas kognitif jangka panjang anda, membantu mencegah Alzheimer.
