Kesehatan

Pengaruh Tidur Pada Otak dan Tubuh

Seiring waktu, kurang tidur menghasilkan beberapa efek negatif pada tubuh. (Image: pixabay)

Banyak orang mengorbankan waktu tidur mereka untuk bekerja lembur atau berpesta sepanjang malam. Seiring waktu, kurang tidur menghasilkan beberapa efek negatif pada tubuh. Studi terbaru menunjukkan bahwa kurang tidur pada dasarnya dapat mematikan produksi protein otak tertentu yang mempengaruhi daya ingat.

Efek pada otak

Ketika seseorang mengantuk, ada dua hal terpicu? “tekanan tidur” yang terus-menerus mengingatkan kita bahwa sudah waktunya untuk beristirahat dan “waktu internal” yang mengirimkan sinyal bahwa waktu untuk tidur telah tiba. Sebuah studi terbaru oleh Sara B. Noya dari Institut Farmakologi dan Toksikologi di Universitas Zurich bersama rekan-rekannya, melakukan percobaan untuk mendeteksi efek kurang tidur pada tikus. Para peneliti menemukan bahwa waktu internal pada tikus mengatur perintah yang mengarah pada pembentukan protein. Saat tikus tertidur, produksi protein akan terpicu.

“Pada dua waktu puncak dalam 24 jam sehari, tepat sebelum bangun dan tidur, neuron di area otak yang berhubungan dengan kognitif, mengemas sebuah stasiun penentu waktu pensinyalan sel dengan transkrip-transkrip tersebut? Perintah ‘waktu tidur’ cenderung berhubungan dengan protein-protein yang mengatur pembentukan protein lain, sedangkan instruksi ‘waktu bangun’ adalah untuk protein-protein yang terkait dengan fungsi sinaps. Molekul-molekul yang tersimpan ini mengatur sesi penyegaran sinapsis yang cepat selama masa tidur. Tikus yang tidak memiliki gen jam penting tidak menunjukkan waktu-waktu puncak ini, ”menurut Scientific American.


Para peneliti menemukan bahwa meskipun neuron dalam otak tikus masih menghasilkan perintah untuk pembentukan protein, tidak ada protein yang dibentuk jika hewan tersebut tidak tidur. (Image: pixabay )

Ketika tikus-tikus tersebut mengikuti siklus tidur-bangun mereka yang biasa, produksi protein memuncak selama senja dan fajar. Pada tikus yang kurang tidur, perintah tetap dihasilkan. Namun, hal itu tidak mengarah pada pembentukan protein. Dengan demikian, para peneliti menyimpulkan bahwa tidur adalah komponen penting dari proses pembentukan protein yang memastikan sinapsis dilakukan secara optimal. Hasil penelitian dapat membantu dalam memahami bagaimana otak kita mengkonsolidasikan ingatan selama tidur, sambil juga membuka kemungkinan meningkatkan ingatan serta kognisi manusia.

Tidur dan berat badan

Kurang tidur dapat berkontribusi pada penambahan berat badan. Sebuah studi oleh Northwestern University Feinberg School of Medicine menunjukkan bahwa orang yang kurang tidur memiliki peningkatan ketajaman sensasi akan aroma dari sistem penciuman, sehingga merusak fungsinya yang tepat. Dalam studi tersebut, para peneliti membagi 29 orang berusia antara 18 dan 40 tahun menjadi dua kelompok. Satu kelompok diperbolehkan tidur cukup selama sebulan sementara yang lain dibatasi hanya empat jam. Semua jenis makanan disediakan untuk para peserta. Setelah sebulan, pola tidur kelompok-kelompok itu berubah. Para peneliti menemukan bahwa preferensi makanan kelompok berubah sebagai akibat dari perubahan pola tidur. “Setelah kurang tidur, mereka makan makanan dengan kepadatan energi yang lebih tinggi (lebih banyak kalori per gram) seperti donat, kue cokelat, dan keripik kentang,” kata Thorsten Kahnt, penulis senior studi tersebut, dalam sebuah pernyataan (Medical Daily).


Kelompok yang kurang tidur, cenderung memakan makanan yang padat energi, seperti donat. (Gambar: pixabay)

Ketika darah mereka diuji, tim menemukan bahwa orang yang kurang tidur memiliki tingkat senyawa endocannabinoid yang lebih tinggi yang disebut 2OG. Hal ini menyebabkan gangguan komunikasi antara daerah-daerah otak yang tugasnya berhubungan dengan konsumsi makanan. Jadi jika Anda bertanya-tanya mengapa Anda sering merasa lapar akhir-akhir ini, dan mendapat peningkatan berat badan yang serius, Anda mungkin perlu bertanya pada diri sendiri, apakah Anda cukup tidur. (visiontimes/jul/may)