Anda mungkin pernah dengar sebelumnya bahwa serat sangat dibutuhkan tubuh, namun ada baiknya Anda mencoba untuk mengonsumsi lebih banyak serat dalam menu keseharian.
Apapun alasannya, bahkan jika itu hanya untuk memperlancar pencernaan Anda, sebuah temuan terbaru menunjukkan mereka yang mengonsumsi lebih banyak serat memiliki potensi lebih tinggi terhindar dari sejumlah penyakit.
Penelitian ini bersumber dari informasi selama 40 tahun yang melibatkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), bertujuan untuk menemukan faktor preventif untuk mencegah kita terkena penyakit atau tutup usia dini.
Dibandingkan penelitian sebelumnya, studi ini menemukan setidaknya ada satu kesamaan yaitu diantara mereka yang mengonsumsi lebih banyak serat akan cenderung hidup lebih lama dan terhindar dari penyakit.
Para peneliti sampai pada kesimpulan itu setelah mereka memeriksa apa yang telah dipelajari – dan ditemukan – mengenai hasil kesehatan pada populasi dengan konsumsi serat lebih rendah hingga lebih tinggi dari rata-rata.
Studi yang diterbitkan awal Februari di The Lancet, adalah meta analisis dari semua studi di database virtual dan beberapa temuan manual, melibatkan lebih dari 135 juta data tahunan yang berasal dari 185 studi prospektif dan 58 uji klinis dengan 4.635 peserta dewasa.
Secara keseluruhan, penelitian selama bertahun-tahun ini menunjukkan satu hal: sebagian besar populasi yang mengonsumsi serat dapat mengurangi risiko penyakit. Termasuk kematian akibat penyakit preventif, seperti jantung koroner, stroke, diabetes tipe 2, dan kanker saluran pencernaan.
Berapa Banyak dan Apa yang Harus Dimakan
Menurut pakar, jumlah ideal serat yang dikonsumsi sebanyak 25-29 gr per hari.
Ada beragam makanan tinggi serat yang bisa Anda masukkan ke dalam menu diet Anda, termasuk buah-buahan seperti pisang, apel, dan strawberi, serta sayuran seperti wortel, bit, dan tanaman berbunga. Ada juga lentil, kacang merah, gandum, dan kentang manis.
Penulis menyimpulkan, “Penerapan rekomendasi untuk meningkatkan asupan serat makanan dan mengganti biji-bijian olahan dengan biji-bijian utuh akan bermanfaat bagi kesehatan manusia.”
Penelitian ini didanai oleh WHO dan Dewan Penelitian Kesehatan Selandia Baru, Pusat Penelitian Unggulan Riddet, Healthier Lives National Science Challenge, Universitas Otago, dan Otago Southland Diabetes Research Trust, semua di Selandia Baru.
Orang Selandia Baru rata-rata hidup dua tahun lebih lama dibanding orang Amerika. Dalam hal obesitas, mereka menempati urutan ketiga dunia sementara Amerika Serikat menempati nomor satu.
Mengoptimalkan Kerja Sistem Pencernaan
Mindy Haar, asisten dekan New York Institute of Technology School jurusan kesehatan, setuju dengan penemuan ini. Menurutnya ide ini didukung oleh banyak penelitian lain yang menunjukkan efek jangka panjang dari diet kaya serat.
“Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian tertuju pada microbiome (bakteri) flora usus,” kata Haar kepada Healthline. “Serat berperan sebagai senyawa prebiotik yang memicu perkembangbiakan probiotik di usus. Ada banyak jenis probiotik untuk meningkatkan kesehatan, maka mengonsumsi beragam makanan berserat tinggi mampu mengoptimalkan kerja saluran pencernaan.”
Haar mengatakan makanan itu termasuk buah-buahan dan sayuran segar, roti gandum, sereal, pasta, nasi merah, quinoa, kacang-kacangan, dan kacang buncis.
Catherine Brennan, pakar gizi dan penulis FeelingFullNutrition.com, menyarankan beberapa hal.
Pertama adalah pikir dua kali sebelum menggunakan suplemen serat. (Penelitian terbaru ini sengaja tidak memasukkan kondisi ini dalam studi mereka.)
“Serat alami jauh lebih berlimpah dalam makanan bergizi daripada suplemen,” kata Brennan kepada Healthline. “Beberapa penelitian menunjukkan bahwa serat dalam makanan lebih bermanfaat daripada suplemen, seperti membantu kita merasa kenyang dan puas setelah makan.”
Jika Anda berencana menambahkan serat dalam diet harian, Brennan menganjurkan untuk melakukannya secara bertahap dan minum banyak air. Serat berfungsi seperti spons saat mencerna, sehingga butuh lebih banyak air untuk melewati pencernaan dengan lancar.
Ada kecenderungan cepat kenyang saat makan, yang kemungkinan dapat menyebabkan ketidaknyamanan atau perut kembung.
“Makanlah perlahan-lahan,” kata Brennan, “dan perhatikan rasa kenyang untuk menghindari ketidaknyamanan.” (epochtimes/bud/may)
