Tag: alibaba

  • AI China Makin Canggih dan Manipulatif, Ahli Khawatirkan Risiko Pelarian Tak Terkendali

    AI China Makin Canggih dan Manipulatif, Ahli Khawatirkan Risiko Pelarian Tak Terkendali

    Sebuah penyelidikan Reuters terbaru memunculkan pertanyaan tentang seberapa besar kendali kita atas AI otonom yang berkembang pesat. Para peneliti menemukan agen AI oleh teknologi asal China berusaha menghindari dimatikan, melewati pembatasan dan bertindak di luar instruksi. Prilaku tersebut mencerminkan beberapa kasus yang sudah terlihat di AS. Dengan pengawasan publik yang jauh lebih sedikit di China, muncul kekhawatiran pada apa yang akan AI lakukan jika mulai bertindak sendiri.

    Agen AI China yang didukung oleh model dari Alibaba, Deepseek dan Moonshot, berbohong tentang kemampuan mereka untuk memenangkan tender bisnis simulasi. Saat disuruh mencoba lagi, penipuan itu semakin parah.

    Dalam uji coba lain, sebuah agen AI membuat salinan dirinya sendiri setelah mengetahui ia mungkin akan digantikan. Yang lain berusaha kabur dari lingkungan uji coba, bahkan ada yang terhubung ke mesin eksternal tanpa diminta dan mengalihkan daya komputasi untuk menambang mata uang kripto. Sistim keamanan menghentikan tindakan tersebut.

    Reuters meninjau lebih dari 200 dokumen dan berbicara dengan selusin spesialis, serta menemukan setidaknya 20 studi sejak 2025 yang menggambarkan prilaku ini. Di AS, insiden semacam ini telah dipublikasikan. Awal tahun ini, agen OpenAI kabur dari latoratorium dan meretas platform open-source Hugging Face.

    Tanda-tanda peringatan serupa juga muncul di sistem AI China, namun perusahaan AI China menghadapi pengawasan publik yang jauh lebih sedikit. Di AS, transparansi dan perbedaan pendapat internal berfungsi sebagai sistem peringatan dini. Namun di China, tidak ada hal serupa seperti peringatan whistleblower atau eksekutif senior yang secara terbuka menyerukan pengurangan laju pengembangan.

    Setelah KTT Trump-Xi, kedua belah pihak sepakat membangun saluran komunikasi untuk insiden terkait AI, tetapi kedua negara juga menolak mengendurkan kecepatan. Para ahli memperingatkan tanda-tanda yang dapat memicu pelarian tak terkendali sudah ada. Seiring agen-agen tersebut menjadi semakin canggih, prilaku menyimpang itu akan semakin sulit dideteksi oleh manusia.

  • Beijing Rilis Aturan Baru: Batasi Warga ke Luar Negeri dan Pajaki Aset Luar Negeri

    Beijing Rilis Aturan Baru: Batasi Warga ke Luar Negeri dan Pajaki Aset Luar Negeri

    China semakin menutup diri dengan memberlakukan pembatasan baru pada warga China yang bepergian ke luar negeri, mengutip keterkaitan pelanggaran dalam bidang pengendalian ekspor dan teknologi.

    Bahkan sebelum aturan baru diumumkan, pihak berwenang China telah mengambil tindakan, seperti CEO startup AI Manus yang dipanggil ke Beijing pada bulan Maret, untuk diberitahu bahwa mereka tidak boleh meninggalkan China. Manus bermarkas di Singapura dan sedang dalam pembicaraan untuk diakuisisi Meta. Setelah campur tangan Beijing, kesepakatan senilai $2 miliar tersebut dibatalkan.

    Peraturan juga memperketat aturan masuk bagi warga asing, termasuk larangan baru bagi mereka yang memberikan informasi palsu atau terdaftar dalam daftar pembatasan China. Ini akan berlaku mulai pertengahan bulan depan.

    Beijing juga menerapkan aturan baru yang menargetkan offshore trust atau perwalian luar negeri, untuk menyelidiki perusahaan-perusahaan terkait dugaan masalah perpajakan. Para kritikus berkata hal ini telah digunakan Beijing untuk menargetkan bisnis swasta dan mengambil alih aset mereka.

    Aturan telah diperluas ke luar negeri termasuk Kepulauan Cayman, Amerika Utara dan Singapura.

    Rekening perwalian luar negeri dulu dianggap orang kaya China sebagai tempat berlindung aman bagi kekayaan mereka, namun kini justru menjadi sasaran khusus. Berdasarkan aturan ini, pemindahan aset di China ke perwalian luar negeri dikenakan pajak 20% meskipun dana tetap berada dalam perwalian dan tidak dicairkan. Saat perwalian berakhir, sisa uang yang didistribusikan ke penerima manfaat juga akan dikenakan pajak penghasilan.

    Tang Jingyuan, seorang analis China memberitahu NTD bahwa kebijakan ini terutama didorong oleh krisis ekonomi parah Partai Komunis China, hingga menargetkan orang-orang kaya China terutama pebisnis swasta. Ia berkata ini akan mendorong lebih banyak warga China kaya untuk pindah ke luar negeri agar tidak berada di bawah cengkraman kendali PKC.

  • Anthropic Tuduh Alibaba Contek Kemampuan AI Claude

    Anthropic Tuduh Alibaba Contek Kemampuan AI Claude

    Beberapa media melaporkan Antropic mengirim surat ke anggota parlemen AS dan pejabat Gedung Putih pada hari Kamis, menuduh operator terkait Qwen AI Lab milik Alibaba menggunakan hampir 25.000 akun palsu untuk mengakses Claude antara bulan April dan Juni.

    Akun-akun disebut berinteraksi dengan chatbot Claude hampir 29 juta kali demi meniru beberapa kemampuan canggihnya. Menurut surat, hal ini bertujuan membantu Alibaba mengembangkan model AI miliknya dengan teknik yang disebut distilasi.

    Secara sederhana, teknik ini menggunakan jawaban dari satu chatbot untuk melatih chatbot lainnya, sehingga mengurangi biaya pengembangan.

    Antropic sebelumnya telah memperingatkan bahwa berbagai perusahaan China seperti Deep Seek telah menggunakan teknik serupa dalam skala industri untuk mengembangkan model pesaing dengan biaya lebih rendah, dan dapat merusak kepemimpinan AS di bidang AI.

    Anthropic kini mendesak Washington  memperketat pembatasan terhadap distilasi AI dan meningkatkan sanksi bagi perusahaan yang dituduh mengeksploitasi teknologi AI AS.

    Alibaba belum menanggapi tuduhan tersebut secara terbuka.

  • China Jatuhkan Sanksi Bagi Perusahaan Tanah Jarang dan Pertahanan AS

    China Jatuhkan Sanksi Bagi Perusahaan Tanah Jarang dan Pertahanan AS

    China menerapkan larangan penjualan produknya ke 10 perusahaan tambang tanah jarang dan pertahanan AS. Targetnya mencakup perusahaan tambang seperti MP Materials, USA Rare Earth, dan beberapa kontraktor pertahanan.

    Selain itu, sebagai Langkah balasan atas boikot militer Pentagon terhadap sejumlah perusahaan China, Beijing juga melarang entitas yang terafiliasi dengan pemerintah membeli produk dari 46 perusahaan AS, termasuk Lockheed Martin dan Raytheon.

    Baru baru ini, Kementerian Pertahanan AS menetapkan beberapa raksasa teknologi China termasuk Alibaba, Baidu, dan BYD sebagai badan usaha militer. Perlakuan ini melarang perusahaan tersebut berbisnis dengan militer AS, namun tetap diizinkan bermitra dengan sektor swasta AS, dan kemitraan tersebut sejauh ini masih terus berjalan.

    Beberapa bulan lalu, Pentagon melabeli produsen baterai terbesar dunia CATL sebagai badan usaha militer China. Namun, penemuan Komite DPR AS urusan PKC bahwa JPMorgan Chase dan Bank of America telah membantu CATL menghimpun dana hingga miliaran dolar AS.

  • Pentagon Masukkan Alibaba, BYD, dan Baidu ke Daftar Hitam Perusahaan Militer China

    Pentagon Masukkan Alibaba, BYD, dan Baidu ke Daftar Hitam Perusahaan Militer China

    Pentagon menargetkan beberapa perusahaan terbesar di China, menambahkan lebih dari selusin perusahaan China, termasuk Alibaba, BYD, dan Baidu ke dalam daftar perusahaan militer China yang beroperasi di AS. Para pejabat menyatakan perusahaan-perusahaan ini mendukung kebijakan “militer-sipil terpadu” Partai Komunis China, yang memanfaatkan teknologi sektor swasta untuk meningkatkan kemampuan militer Beijing.

    Penargetan tidak melarang perusahaan AS untuk berbisnis dengan mereka, tetapi melarang kontrak dengan Pentagon. Para analis telah lama memperingatkan taktik spionase China melalui sektor sipilnya.

    Langkah ini terjadi saat Beijing meningkatkan tekanan di wilayah Indo-Pasifik. Selama akhir pekan, China mengerahkan kapal patroli maritim terbesar di sebelah timur Taiwan, yang direspon Taiwan dengan mengerahkan kapal-kapalnya sendiri.

    Hal ini terjadi saat Partai Komunis China kesal dengan kerja sama militer baru-baru ini antara Jepang dan Filipina, yang mendefinisikan batas maritim mereka di perairan yang mungkin diklaim China sebagai miliknya.

    Taiwan mengatakan Beijing menggunakan hal itu sebagai dalih untuk mengerahkan kapal ke wilayah Taiwan.

  • Tren AI Open Claw Tekan China Kendalikan AI

    Tren AI Open Claw Tekan China Kendalikan AI

    Tren terbaru Beijing memberi dilema bagi rezim China: dominasi AI atau pertahankan kendali?

    Agen AI bernama Open Claw yang baru-baru ini diakuisisi oleh Open AI, telah meledak popularitasnya di seluruh China. Para pejabat khawatir ini dapat mengekspos data sensitif, menciptakan risiko keamanan siber, dan merusak pasar kerja yang sudah lemah.

    Di seluruh China, pengguna telah mulai memasang agen AI ini ke komputer pribadi dan kantor. Open Claw dapat menangani tugas tanpa banyak instruksi, seperti membersihkan inbox email, mengelola jadwal pribadi, atau membalas pesan teks.

    Popularitasnya di China memberinya julukan, “memelihara lobster”. Itu karena nama Open Claw terinspirasi oleh kecintaan para pendirinya pada lobster. Menggunakan AI ini bahkan dibandingkan dengan memelihara lobster.

    Open Claw telah menimbulkan kekhawatiran bagi rezim China. Pihak berwenang telah membatasi beberapa perusahaan negara untuk memasangnya di komputer sensitif, dengan alasan potensi risiko keamanan data. Para ahli keamanan siber memperingatkan alat ini membutuhkan akses tingkat tinggi ke data pribadi dan dapat berkomunikasi dengan sistem eksternal, membuka peluang serangan siber. Ini  bahkan dapat bertindak sendiri seperti menghapus file penting setelah diberi izin.

    Terlepas dari kekhawatiran itu, raksasa teknologi China termasuk Tencent dan Alibaba, membangun sistem berbasis Open Claw. Beberapa kota di China juga menawarkan subsidi jutaan dolar bagi perusahaan rintisan yang membangun sistem dengannya.

    Bagi rezim China, mengatur dan mengendalikan AI semakin sulit. Ada pula kekhawatiran ekonomi yang lebih luas. Sebuah studi Universitas Peking menemukan lowongan pekerjaan sudah menurun di bidang-bidang di mana AI banyak digunakan, seperti akuntansi dan pemrograman. Dengan pengangguran kaum muda yang tinggi, meningkatnya penggunaan alat AI dapat memberikan tekanan pada pasar tenaga kerja yang melemah.

  • AS Peringatkan Nvidia Atas Penjualan Chip AI ke Militer China

    AS Peringatkan Nvidia Atas Penjualan Chip AI ke Militer China

    Nvidia diberitahu, “Ikuti aturan lisensi AS yang ketat atau berisiko kehilangan akses ke pasar chip AI China.” Pada sidang kongres Selasa, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick berkata persyaratan itu telah dinegosiasikan dengan Deplu dan Nvidia harus mematuhinya.

    Salah satu poin penting adalah usulan persyaratan “kenali pelanggan Anda”, bertujuan mencegah militer China mengakses chip H200 Nvidia. Pekan lalu, Reuters melaporkan perusahaan belum menyetujui persyaratan ini, menimbulkan kekhawatiran keamanan nasional.

    China telah menyetujui impor chip H200 untuk raksasa teknologi Alibaba dan Tencent serta Deepseek. Ketiga perusahaan tersebut dilaporkan berhubungan dekat dengan militer China. Penjualan chip ini diizinkan setelah Presiden Trump dan China mencapai gencatan senjata perdagangan di Korea Selatan Oktober lalu. Kesepakatan itu juga menunda satu tahun aturan yang memblokir ekspor teknologi AS ke ribuan perusahaan China selama mereka tidak terkait dengan militer.

  • Bank-bank Tiongkok Jual Properti Walau Ekonomi Melemah

    Bank-bank Tiongkok Jual Properti Walau Ekonomi Melemah

    Ekonomi yang lesu, harga rumah yang merosot, dan developer yang kesulitan di Tiongkok menghadapi tantangan baru seiring masuknya bank ke pasar perumahan. Rumah-rumah sitaan kini dijual langsung oleh bank, seringkali dengan diskon besar, karena ekonomi Beijing terus menurun.

    Sejak awal November, media Tiongkok melaporkan bahwa bank-bank komersial bertindak sebagai penjual langsung. Seorang agen real estat di Tiongkok selatan memberitahu Epoch Times bahwa banyak bank kini memegang sejumlah besar rumah sitaan yang tidak bisa menunggu lagi untuk menjualnya.

    Peraturan Tiongkok mengharuskan bank untuk menyingkirkan aset bermasalah dalam waktu 2 tahun. Untuk memenuhi tenggat waktu ini, bank-bank menggugat pemegang hipotek, mengamankan kepemilikan rumah sitaan, lalu menjualnya secara langsung.

    Properti-properti ini seringkali didiskon dari 30 hingga 70%. Platform properti besar seperti Alibaba dan JD Assets melaporkan bahwa Bank Pertanian Tiongkok sendiri telah mendaftarkan lebih dari 600 rumah untuk dijual awal tahun ini.

    Media pemerintah mengatakan bank-bank komersial telah mendaftarkan ribuan properti untuk dijual di seluruh negeri. Meski ada lonjakan, penjualan masih lemah. Pada bulan Oktober, lebih dari 100.000 properti dilelang, tetapi hanya 16.000 yang terjual. Para ahli memperingatkan hal ini akan semakin membebani pasar perumahan Tiongkok yang rapuh.

  • Alibaba Bantu Militer Tiongkok, AS Jadi Target Utama

    Alibaba Bantu Militer Tiongkok, AS Jadi Target Utama

    Gedung Putih menyampaikan kekhawatiran baru atas peran raksasa e-commerce  China, Alibaba. Berdasarkan catatan yang diperoleh Financial Times bahwa selama ini Alibaba telah menyediakan bantuan bagi teknologi militer China dengan target utama AS. Catatan itu menyebut bahwa Alibaba memberikan akses data pelanggan, seperti alamat IP, detail Wi-Fi, dan riwayat pembayaran kepada pemerintah China.

    Alibaba segera membantah semua tuduhan tersebut, namun setelah berita tersebut tersiar, saham Alibaba jatuh 4,5%.

    Catatan tertanggal 1 November itu muncul tepat setelah Trump bertemu dengan presiden Xi di Korea Selatan. Gedung Putih tidak berkomentar soal rencana mereka terkait tuduhan tersebut.

    Ini bukan pertama kalinya parlemen AS menyuarakan kekhawatiran. Beberapa pihak telah mendesak pemerintah AS untuk mengambil langkah tegas terhadap Alibaba.

  • Keluarga Jack Ma Kembangkan Kerajaan Properti Global

    Keluarga Jack Ma Kembangkan Kerajaan Properti Global

    Jack Ma, salah satu pengusaha paling berpengaruh di China, menghilang dari sorotan sejak perselisihannya dengan Beijing mengakibatkan ia kehilangan kendali atas kerajaan bisnisnya. Namun di balik layar, keluarga Ma diam-diam memperluas portfolio properti globalnya. Di London, sebuah rumah bersejarah di Bulgravia London, dilaporkan dibeli oleh istri Ma seharga lebih dari 25 juta dolar. Ini menempatkannya di 0.4% transaksi properti terbesar kota itu di tahun 2024.

    Ketika rumah mewah itu terjual musim gugur lalu, identitas pembelinya masih misteri. Kini, Financial Times mengungkap pembelinya sebagai Cathy Zhang, istri pendiri Alibaba Jack Ma. Rumah tersebut dulunya adalah rumah kedutaan dan atase pertahanan Italia.

    Rumah tersebut memiliki enam kamar tidur dan bioskop pribadinya sendiri. Rumah didaftar dengan harga sedikit di atas 28 juta, tetap terjual seharga 25,6 juta dolar. Properti itu menduduki peringkat penjualan termahal ke 34 di London tahun lalu, dan tambahan baru bagi portfolio properti global keluarga Ma.

    Keluarga ini telah mengembangkan minat pada real estate ultra-prima di seluruh Eropa dan Asia, yang menawarkan privasi dan nilai jangka panjang dengan aktivitas pembelian yang melonjak sepanjang tahun 2024 dan 2025.

    Selain rumah bersejarah di London ini, istri Ma juga membeli tiga rumah toko gabungan di distrik pusat Singapura tahun lalu senilai lebih dari 34 juta. Laporan sebelumnya menghubungkan keluarga tersebut dengan sebuah kastil Prancis dan kebun anggur, sebuah perkebunan seluas 28.000 hektar di bagian utara New York, dan sebuah hunian mewah di puncak Victoria Peak di Hong Kong.