Tag: batu

  • Mitos-Sejarah: Terbentuknya Langit dan Bumi

    Mitos-Sejarah: Terbentuknya Langit dan Bumi

    Dahulu, di waktu sangat lampau—bukan di dunia sebelum dimulainya waktu, namun di waktu sebelum dimulainya dunia—tidak ada apapun di alam semesta ini kecuali satu entitas berbentuk telur yang maha besar.

    Didalam “telur” tersebut, kekuatan yang berlawanan dari yin dan yang bercampur aduk; sungguh sesuatu yang kacau. Namun seiring berjalannya waktu, interaksi serta energi diantara bermacam substansi tersebut perlahan-lahan membentuk sebuah makhluk—seorang raksasa yang berbulu dan bertanduk, bernama Pan Gu.

    Selama 18.000 tahun, Pan Gu (pan goo) tidur dan bertumbuh. Suatu hari, tiba-tiba dia terbangun. Dia membuka matanya, namun hanya dapat melihat kegelapan total. Dia menajamkan telinganya, namun tidak dapat mendengar apapun. Pan Gu menemukan keadaan disekelilingnya yang suram, sangat mengganggu.

    Telur yang Luar Biasa

    Kebingungan, Pan Gu lalu menyulap keluar sebuah kapak dan mengayunkannya ke arah telur tadi. Telur itu terbelah menjadi dua bagian dengan suara menggelegar. Perlahan-lahan, yin dan yang mulai terpisah. Semua yang gelap dan berat turun dan membentuk bumi. Dan sisanya, ringan dan terang, naik dan membentuk langit.

    Namun Pan Gu merasa cemas kalau-kalau kedua bagian itu akan menyatu lagi, jadi dia berdiri diantara keduanya supaya mereka terus terpisah. Dengan berlalunya waktu, langit naik sejauh 10 kaki di atas dirinya, Bumi menebal sejauh sepuluh kaki di bawahnya, dan Pan Gu sendiri tumbuh setinggi 10 kaki untuk mengikuti jarak pisahan yang semakin bertambah dan untuk dapat tetap menahan kedua bagian tersebut.

    Itu adalah pekerjaan yang lengang dan berat. Kerja keras ini, bertahan dilakukan sang raksasa selama enam juta lima ratus tujuh puluh ribu tahun, atau 18.000 tahun lagi, sampai dia yakin bahwa kedua alam tersebut akhirnya stabil. Dan dengan sebuah tumbukan keras, Pan Gu membaringkan diri dan mati.

    Sebuah Pengorbanan Terakhir

    Ketika Pan Gu yang lelah terjatuh, sebuah perubahan ajaib terjadi: nafas terakhirnya berubah menjadi angin dan awan; suaranya berubah menjadi guntur; mata kirinya berubah terang menjadi matahari dan mata kanannya menjadi rembulan; rambut dan janggutnya berubah menjadi bintang-bintang di Bima Sakti; anggota badan, kedua tangan dan kakinya berubah menjadi gunung-gunung besar dan darah yang mengalir di pembuluh darahnya berubah menjadi aliran sungai; dagingnya berubah menjadi tanah yang subur, tulangnya berubah menjadi batu mulia dan mineral; gigi dan kukunya menjadi logam-logam; bulu di kulitnya berubah menjadi berbagai tanaman; dan keringat akibat kerja kerasnya jatuh sebagai air hujan untuk dunia fana.

    Ada yang berkata bahwa roh Pan Gu tidak pernah mati namun berubah menjadi manusia, kemudian cerita ini menjadi kepercayaan orang Tiongkok kuno bahwa manusia adalah jiwa dari segala materi.

    Pan Gu mengorbankan hidupnya untuk menciptakan dunia dan mengorbankan tubuhnya untuk memperkaya serta mempercantik dunia ini. Sekarang langit dihiasi oleh badan langit yang bermandikan cahaya, bumi, dipenuhi oleh gunung-gunung dan sungai-sungai besar serta flora dan fauna yang beragam. Dan Pan Gu, sang dewa raksasa yang berasal dari sebutir telur, tidak ada, namun dapat ditemukan dimana saja. (shenyun)

    Tiongkok kuno adalah sebuah negeri dimana para dewa dan manusia hidup berdampingan dan menciptakan sebuah kebudayaan yang terinspirasi oleh dewata. Maka hal itu telah menjadikan sejarah dan mitologi Tiongkok dahulu semuanya saling jalin menjalin. Serial “Mitos-Sejarah” kita yang baru memperkenalkan kepada Anda karakter-karakter utama dari legenda Tiongkok yang luar biasa.

    Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Cara Keluar dari Kesulitan

    Cara Keluar dari Kesulitan

    Pada suatu hari seekor keledai milik seorang petani, karena tidak berhati-hati terjatuh kedalam sebuah sumur tua, petani telah memikirkan segala cara untuk menolong keledai tersebut, tetapi setelah beberapa jam tidak mendapat akal untuk menolong keledai tersebut, keledai didalam sumur menangis menahan rasa sakit. Terakhir, petani tersebut memutuskan akan menyerah, dia berpikir keledai ini sudah tua, tidak layak mengeluarkan tenaga dan waktu untuk menolongnya lagi, tetapi bagaimanapun, sumur ini harus ditutup, agar tidak jatuh korban lagi.

    Oleh sebab itu petani menyuruh para tetangganya membantunya menimbun tanah kedalam sumur sebagai kuburan untuk keledai tersebut, supaya dia tidak tambah menderita. Para tetangga petani semuanya membawa cangkul, mulai mencangkul tanah ditimbun kedalam sumur tua. Ketika keledai ini menyadari keadaan yang dihadapinya, pada awalnya dia menangis lebih sedih lagi. Tetapi tanpa diduga sebentar kemudian keledai ini mulai menjadi tenang, sama sekali tidak mengeluarkan suara lagi.

    Petani merasa heran lalu menjulurkan kepalanya kedalam sumur memandang, pemandangan didepan matanya membuat dia sangat terkejut; ketika tanah yang mereka timbun terjatuh diatas punggung keledai, reaksi keledai yang menakjubkan membuat orang sangat terkejut dia mengibaskan tanah dipunggungnya sehingga terjatuh disatu sisi, lalu dia berdiri diatas timbunan tanah tersebut!

    Dengan demikian, keledai terus mengibas tanah yang dilemparkan orang kedalam sumur dan terus berpijak naik ke atas. Akhirnya keledai ini sudah bisa naik keatas sumur, dihadapan kerumunan orang yang memandangnya semua bertepuk tangan atas keberhasilannya!

    Seperti keadaan keledai, didalam perjalanan hidup ini, terkadang kita juga bisa terjatuh kedalam “sumur tua”, kita akan ditimbun oleh berbagai macam tanah dan debu diatas tubuh kita, jika ingin keluar dari “sumur tua” ini kita harus mempunyai kiat yang ampuh yaitu, membuang segala kotoran dan debu diatas tubuh kita, kemudian berdiri dan berjalan keatas!

    Sebenarnya, berbagai kesulitan yang kita hadapi didalam kehidupan ini adalah “tanah-kotoran” diatas tubuh kita; Namun, dari perspektif lain, mereka juga merupakan blok batu loncatan, selama kita bertekun dan dengan tekad untuk melepaskan, kemudian berdiri, meskipun terjatuh ke dalam sumur yang terdalam, kita juga dapat menyelamatkan diri.

    Jika kita bisa menghadapi kesulitan dengan sikap tenang dan lapang dada, kekuatan tersembunyi dalam jiwa kita akan muncul membantu kita mengatasi masalah. 

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    

    VIDEO REKOMENDASI

  • Kisah Kuno tentang Kebijaksanaan: Sebuah Batu Di Jalan

    Kisah Kuno tentang Kebijaksanaan: Sebuah Batu Di Jalan

    Alkisah ada seorang hartawan pria yang tinggal di sebuah kastil indah di dekat sebuah desa. Dia mencintai orang-orang yang tinggal di desa, dan dia mencoba membantu mereka.

    Dia menanam pohon yang indah di dekat rumah mereka, dan membuat piknik untuk anak-anak mereka, dan setiap Natal dia memberi mereka pohon Natal. Tetapi orang-orang itu tidak suka bekerja. Mereka sangat tidak bahagia, karena mereka juga tidak bisa kaya—seperti teman mereka di kastil.

    Suatu hari, pria kaya itu bangun di pagi buta dan meletakkan sebuah batu besar di jalan yang melewati rumahnya. Kemudian dia bersembunyi di balik pagar dan menunggu untuk melihat apa yang akan terjadi.

    Tiba-tiba, seorang pria miskin datang dengan mengendarai seekor sapi. Dia mengumpat karena batu itu menghalangi jalannya, dia berjalan melewatinya, dan melanjutkan jalannya. Kemudian seorang petani datang, dalam perjalanan ke pabrik. Dia juga mengeluh karena batu itu ada di sana; tapi dia juga melewatinya dan melanjutkan perjalanannya. Hari berlalu. Setiap yang datang mengeluh karena batu itu tergeletak di jalan, tetapi tidak ada yang menyentuhnya.

    Akhirnya, tepat menjelang malam, seorang anak tukang giling lewat. Dia adalah seorang pekerja keras, dan sangat lelah, karena sejak pagi dia sibuk bekerja di pabrik. Namun dia berkata dalam hati, “Hari hampir gelap; seseorang mungkin jatuh di atas batu ini di malam hari, dan mungkin terluka parah. Aku akan memindahkannya dari jalan.”

    Jadi dia menarik batu berat itu. Sulit untuk digerakkan, tetapi dia berusaha menarik, mendorong, dan mengangkatnya sampai akhirnya dia berhasil menggeser batu itu. Secara mengejutkan, dia menemukan sebuah tas tergeletak di bawah batu. Dia mengangkat tas tersebut. Tas itu berat, di dalamnya penuh dengan emas. Di atas tas tertulis, “Emas ini milik orang yang memindahkan batu!”

    Anak laki-laki itu pulang dengan hati gembira, dan orang kaya itu kembali ke istananya. Dia sungguh senang, karena telah menemukan seseorang yang tidak takut untuk melakukan hal-hal berat. (eva/theepochtimes)

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.


    VIDEO REKOMENDASI

  • Batu yang Dapat Meramal Masa Depan

    Batu yang Dapat Meramal Masa Depan

    Sejarah manusia telah memiliki tradisi panjang dengan batu prasejarah.

    Banyak kebudayaan memiliki kisah tentang batu yang akan menjadi pertanda perubahan besar dalam perjalanan sejarah, atau mengandung suatu ramalan. Ada pula batu lain yang diidentifikasi melalui catatan sejarah yang dikaitkan dengan ramalan peristiwa manusia. Beberapa batu tersebut secara “tidak sengaja” mendarat di bumi, dan berberapa lainnya ditemukan secara kebetulan. Berikut beberapa contoh yang dimaksud.

    Bagaimana Sphinx di Mesir Melakukan Perubahan Pemerintahan

    Sphinx, berdiri di atas Dataran Tinggi Giza di Kairo, Mesir, dianggap sebagai salah satu patung paling terkenal di dunia. Asal muasalnya masih menjadi misteri hingga saat ini. Beberapa arkeolog berpendapat bahwa itu diciptakan oleh orang Mesir kuno pada masa pemerintahan Khafre (2558–2532 SM), sementara beberapa yang lain berpendapat bahwa Sphinx diciptakan antara 10.000 dan 800.000 tahun yang lalu.

    Bagian dari Sphinx pernah terkubur dalam pasir; saat itu, hanya kepalanya saja yang terlihat di atas permukaan. Upaya penggalian pertama yang terdokumentasi adalah sekitar tahun 1400 SM, dan seluruh prosesnya diukir pada sebuah prasasti. Prasasti ini dikenal sebagai Prasasti Mimpi, dan diletakan di antara kaki depan Sphinx oleh firaun Mesir kuno Thutmose IV pada 1401 SM, tahun pertama pemerintahannya.

    Sphinx di Dataran Tinggi Giza di Kairo, Mesir
    Sphinx di Dataran Tinggi Giza di Kairo, Mesir. (Credit: Minghui)

    Thutmose IV adalah putra Amenhotep II dan awalnya bukan penerus tahta yang dipilih. Menurut tulisan di prasasti, suatu hari ketika Thutmose sedang berburu, dia merasa lelah dan beristirahat di bawah bayang-bayang kepala Sphinx (karena saat itu tubuh bagian bawah masih terkubur dalam pasir). Dia segera tertidur dan bermimpi.

    Dalam mimpi itu, Re-Harakhte, dewa matahari yang mengambil wujud Sphinx, berbicara kepadanya seperti seorang ayah pada putranya. Dia berjanji untuk memberikan Thutmose jabatan raja jika dia mau membersihkan pasir yang menyelimuti monumen itu. Thutmose melakukan apa yang diperintahkan dalam mimpinya, dan benar saja, dia naik takhta Mesir sebagai Thutmose IV pada Dinasti ke-18.

    Meteor yang Meramalkan Akhir Dinasti Qin

    Menurut Catatan Sejarawan Agung-Riwayat Qin Shi Huang, sebuah meteor besar jatuh di Dongjun, prefektur timur Dinasti Qin, pada tahun 211 SM. Yang lebih mengejutkan adalah kata-kata yang terukir di batu meteor yang berbunyi: “Kaisar Pertama akan mati dan tanahnya akan terbagi.”

    “Kaisar Pertama” merujuk pada Qin Shi Huang, yang setelah mendengar hal itu, menjadi sangat marah dan memerintahkan agar meteor itu segera dibakar.

    Tidak lama kemudian, ketika Qin Shi Huang sedang dalam tur inspeksi, seorang pria memegang sepotong batu giok berdiri di jalur perwira utama kaisar.

    Pria itu berkata, “Tolong berikan ini pada Hao Chi Jun (Dewa Air). Tahun ini, naga leluhur akan mati.”

    “Naga leluhur” juga merupakan rujukan untuk Qin Shi Huang. Tanpa penjelasan lebih lanjut, pria itu pun menghilang tanpa jejak.

    Ketika seorang pejabat menteri kekaisaran memeriksa batu giok itu, ternyata itu adalah bagian yang sama ketika Qin Shi Huang secara tanpa sengaja menjatuhkannya ke dalam sungai delapan tahun silam. Namun Qin Shi Huang tidak mengindahkan peringatan pria itu; dia berpikir bahwa saat itu sudah memasuki akhir musim gugur, masa berlaku untuk ramalan itu tidak banyak lagi.

    Pada bulan Juli tahun berikutnya, Qin Shi Huang ternyata memang meninggal karena sakit saat melakukan tur inspeksi lain. Dinasti Qin, yang diharapkan Qin Shi Huang akan bertahan selamanya, runtuh beberapa tahun kemudian pada tahun 206 SM.

    Meteor yang meramalkan nasib Qin Shi Huang
    Meteor yang meramalkan nasib Qin Shi Huang. (Credit: Minghui)

    Budaya tradisional Tiongkok menghormati konsep interaksi antara langit dan manusia, sebuah pandangan yang melihat peristiwa besar di dunia manusia sebagai reaksi terhadap perubahan alam semesta.

    Misalnya, jatuhnya meteor umumnya ditafsirkan sebagai pertanda buruk oleh para astronom kekaisaran. Menurut catatan sejarah, hujan meteor terjadi sebelum kematian Zhou Yu (175-210 M), seorang jenderal militer terkenal dan ahli strategi yang bertugas di bawah panglima perang Sun Ce dan adiknya Sun Quan di akhir dinasti Han Timur di Tiongkok. Sebelum Zhuge Liang meninggal, sebuah meteor jatuh pada malam sebelumnya. Zhuge Liang (181-234 M) diakui sebagai ahli strategi paling ulung di zaman itu. Sebelum kematiannya, Zhuge Liang dilaporkan sedang meratap, “Hidup dan mati ditentukan oleh takdir. Saya tidak bisa menghindari bencana ini.”

    Terjadi hujan meteor langka pada tanggal 8 Maret 1976, di Jilin, Tiongkok, dan tiga petinggi Tiongkok meninggal tahun itu. Mereka adalah Mao Zedong, pendiri RRT dan ketua Partai Komunis Tiongkok (PKT); Zhou Enlai, Perdana Menteri RRT; dan Zhu De, salah satu dari sepuluh perwira Tentara Pembebasan Rakyat dan ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional.

    Pada tanggal 28 Juli tahun yang sama, gempa bumi dahsyat terjadi di Tangshan, menewaskan sedikitnya 240.000 orang.

    Batu Babi-Mendengkur yang Memberi Peringatan

    “Batu Babi-Mendengkur” terletak jauh di pegunungan Taihang di Linzhou, Provinsi Henan. Batu keunguan ini memiliki tinggi tiga meter, lebar tiga meter, tebal dua meter, dan menempati ruang sekitar empat meter kubik.

    Di lihat dari depan, dengan jelas terlihat batu ini memiliki dua mata, mirip dengan mata babi, dengan satu mata tertutup lainnya terbuka. Tambahkan wajah babi ke batu ini dengan tekstur warnanya, maka batu ini mirip dengan seekor babi.

    Batu Babi-Mendengkur terletak di Gunung Taihang, Provinsi Henan
    Batu Babi-Mendengkur terletak di Gunung Taihang, Provinsi Henan. (Credit: Minghui)

    Apa yang mistis darinya bukanlah penampilannya yang seperti babi, tetapi fakta bahwa batu itu akan mendengkur atau menangis sebelum terjadinya suatu peristiwa besar. Menurut penduduk setempat, batu itu menjerit sebelum tentara Manchu memasuki Shanhai Pass pada tahun 1644, dan sebelum Aliansi Delapan Negara menginvasi Tiongkok utara pada tahun 1900. Batu itu terus mendengkur selama lebih dari sebulan sebelum Jepang menginvasi Tiongkok pada tahun 1937. Batu itu juga menjerit kencang sebelum Partai Komunis Tiongkok mengambil alih kekuasaan pada tahun 1949, sebelum Revolusi Kebudayaan yang merusak pada tahun 1966, gempa bumi besar di Tangshan pada tahun 1976, dan sebelum wabah SARS pada tahun 2003. Nada jeritannya bervariasi dari tinggi ke rendah.

    Para peneliti mencoba merekam dengkurannya di tempat, tetapi tidak dapat mengambil apa pun terlepas dari perangkat yang mereka gunakan. Sampai saat ini, fenomena aneh tersebut masih menjadi misteri bagi ilmu pengetahuan.

    Batu Babi-Mendengkur telah menangis dari waktu ke waktu dalam beberapa tahun terakhir, dan para tetua setempat percaya bahwa ini adalah indikasi dari peristiwa besar lainnya yang akan datang.

    Batu Karakter Tersembunyi di Guizhou

    Pada bulan Juni 2002, Wang Guofu, seorang sekretaris Partai desa pada saat itu, tersandung batu besar selama proyek pembersihan. Batu itu memiliki panjang tujuh meter dan tinggi tiga meter, dengan enam karakter yang terlihat jelas di atas permukaan: “Partai Komunis Tiongkok akan Musnah.”

    Setiap karakter berukuran sekitar satu kaki persegi, dengan karakter untuk “musnah” lebih besar dari yang lain. Situs penemuan batu tersebut terisolasi dan tak tersentuh manusia selama berabad-abad.

    Pakar geologi dari Universitas Guizhou menyimpulkan setelah penyelidikan yang cermat bahwa batu itu terbentuk secara alami sekitar 270 juta tahun yang lalu, tanpa tanda-tanda manipulasi manusia. Itu adalah bagian dari batu yang jatuh dari tebing Lembah Sungai Lanma 500 tahun yang lalu dan pecah menjadi dua bagian. Karakter “Partai Komunis Tiongkok akan Musnah” tercetak di permukaan yang terungkap setelah pecah.

    Tiket masuk ke Taman Nasional Kecamatan Zhangbu di Kabupaten Pingtang, Provinsi Guizhou, terdapat gambar batu tersebut.
    Tiket masuk ke Taman Nasional Kecamatan Zhangbu di Kabupaten Pingtang, Provinsi Guizhou, terdapat gambar batu tersebut. (Credit: Minghui)

    Selama 71 tahun terakhir, Partai Komunis Tiongkok telah memerintah Tiongkok dengan kekerasan, penipuan, dan penindasan yang kejam, hingga menyebabkan kematian 80 juta jiwa melalui berbagai gerakan politiknya. PKT mengajarkan filosofi perjuangan dan ateisme yang bertentangan dengan langit, bumi, alam, dan kemanusiaan, dan menghancurkan sepenuhnya budaya tradisional Tiongkok dan nilai-nilai universal. Ini telah mengubah Tiongkok menjadi masyarakat yang bangkrut secara moral. Mungkinkah ini merupakan pertanda bahwa Langit akan membasmi Partai Komunis Tiongkok pada akhirnya?

    Prasasti yang Menunjukkan Jalan Menuju Keselamatan

    Liu Bowen (1311-1375), seorang bijak terkenal dari Dinasti Ming, pernah menggambarkan sebuah ramalan dalam Prasasti Monumen Gunung Taibai-nya. Prasasti yang berisi ramalan tersebut muncul selama gempa bumi, dan isi ramalan itu mulai beredar di antara orang-orang dalam beberapa tahun terakhir, atas keterkaitannya terhadap pandemi COVID-19 yang saat ini tengah melanda dunia.

    Prasasti itu tidak hanya meramalkan pandemi besar ini, tetapi juga memberi petunjuk kepada orang-orang tentang bagaimana tetap selamat.

    Prasasti Liu Bowen menunjukkan bahwa malapetaka akan terjadi pada “tahun Gengzi”, dimana 2020 adalah tahun seperti itu.

    “Jika anda bertanya kapan kutukan ini berkobar, September, Oktober akan memasuki hawar (musim penyakit menular),” kata dua baris ramalan.

    Dalam ramalan itu, Liu juga mencantumkan sepuluh tragedi yang akan terjadi tahun ini, berbicara tentang “mayat yang ditinggalkan membusuk, Jalan Babi ke Tikus penuh dengan tragedi.”

    Awal tahun 2020 adalah akhir dari Tahun Babi dan awal dari Tahun Tikus.

    Ia juga secara akurat menunjukkan asal mula dan penyebaran wabah dalam daftar sepuluh tragedinya: “Huguang menghadapi bencana yang ketiga; Di seluruh Tiongkok, tangisan segera terdengar.”

    Huguang mengacu pada wilayah Tiongkok yang mencakup Wuhan, Hubei.

    Di akhir prasasti, Liu Bowen memberi tahu orang-orang bahwa hanya mereka yang merangkul kebaikan-lah yang dapat terselamatkan.

    Epilog

    Virus korona yang mematikan (virus PKT) sekarang menyerang umat manusia dengan mutasi yang cepat dan implikasi yang menghancurkan. Dewa telah menawarkan kepada manusia bimbingan berharga dari zaman kuno untuk tetap baik dan lurus, dan memperingatkan orang-orang tentang bencana ketika moralitas manusia memburuk ke tingkat yang berbahaya.

    Ramalan Liu Bowen dan Batu Karakter Tersembunyi mengirimkan pesan yang jelas kepada kita untuk menjauh dari Partai Komunis Tiongkok pada saat kritis dalam sejarah ini, dan membedakan mana yang baik dan yang jahat. Mungkin hal ini adalah hal yang bijaksana untuk diingat, karena jika kisah-kisah ini memiliki bukti, pesan dari batu-batu ini lebih sering tepat ketimbang keliru. (minghui.org)

    Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • PODCAST Batu di Tengah Jalan

    PODCAST Batu di Tengah Jalan

    Di zaman kuno, hiduplah seorang raja yang sangat mencintai rakyatnya.

    Suatu hari, raja ini penasaran, dia ingin tahu apakah masih ada rakyatnya yang peduli pada orang lain.

    Jadi raja memerintahkan pengawal istana untuk menaruh sebongkah batu besar di tengah jalan, yang cukup mengganggu bagi siapa saja yang melewati jalan.

    PODCAST

    Setelah menaruh batu, raja dan pengawalnya bersembunyi di semak-semak. Mereka diam-diam memperhatikan orang-orang yang lewat.

    Banyak orang yang lewat, mulai dari pedagang, nelayan, hingga bangsawan, namun tidak ada satupun yang mau memindahkan batu tersebut. Kebanyakan lewat sambil marah-marah, mengeluh, atau menyalahkan raja, karena tidak mengurus jalanan dengan baik.

    Kemudian, ada seorang petani yang sedang membawa sayuran, melewati jalan tersebut. Saat melihat batu besar di tengah jalan, dia berpikir bahwa batu itu pasti akan mengganggu semua orang yang menggunakan jalan tersebut.

    Jadi dia meletakkan sayurnya, dan kemudian dengan susah payah mendorong batu tersebut ke pinggir jalan. Batu itu cukup besar, jadi dia memerlukan waktu cukup lama, hingga akhirnya berhasil menyingkirkan batu tersebut.

    Setelah batu itu disingkirkan, betapa terkejutnya si petani melihat ada sebuah tas kecil tergeletak di tengah jalan, tepat di bawah batu itu tadi berada.

    Dia memungutnya dan menemukan kepingan koin emas, beserta sebuah catatan dari sang raja, cacatan itu berbunyi: “Ini adalah hadiah bagi orang yang mau perduli dengan orang lain.”

    Dari semak-semak, raja melihat semua kejadian itu, dalam hatinya dia merasa lega, karena ternyata, masih ada rakyatnya yang mau peduli pada orang lain.

    Lakukanlah kebaikan saat Anda memiliki kesempatan untuk melakukannya. Karena seringkali, melakukan kebaikan untuk orang lain, adalah sama dengan melakukan kebaikan untuk diri sendiri.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Saksikan video kami:

    Youtube ☛ www.youtube.com/ntdkehidupan
    Dailymotion ☛ www.dailymotion.com/ntdkehidupan
    Facebook ☛ https://web.facebook.com/ntdkehidupan​
    Terhubung dengan kami di Twitter ☛ twitter.com/indonesia_ntd
    Youmaker ☛ https://www.youmaker.com/c/ntdkehidupan

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

    VIDEO REKOMENDASI

  • PODCAST Nilai dari Sebuah Batu

    PODCAST Nilai dari Sebuah Batu

    Suatu hari, seorang anak laki-laki bertanya kepada ayahnya tentang nilai dari hidupnya. Alih-alih menjawab, sang Ayah justru mengeluarkan sebuah batu yang terlihat unik, dan menyuruh putranya membawa batu tersebut dan menjualnya di pasar.

    PODCAST

    Ayahnya berpesan pada anaknya:
    “Nak, jika ada yang bertanya berapa harganya, angkat saja dua jarimu dan jangan katakan apa-apa ya, lalu bawa pulang lagi batu itu kesini. Apakah kamu mengerti?”

    Anak itu pun mengangguk.

    Di pasar, ia bertemu dengan seorang wanita. Wanita ini memperhatikan batu unik di tangan anak ini, lalu bertanya:
    “Hai bocah, batu yang kamu pegang itu kelihatannya bagus. Berapa harganya? Saya ingin memakainya untuk hiasan di kebun saya!”

    Sang anak tidak mengatakan apa-apa, dan hanya mengangkat dua jarinya.
    Wanita itu lalu berkata:
    “Oh, dua puluh ribu rupiah ya, boleh juga, baiklah, saya beli.”

    Tapi anak itu pun segera kabur dari hadapan si wanita. Ia lari pulang ke rumah, dan memberitahu Ayahnya bahwa ada seorang wanita ingin membeli batu itu dengan harga dua puluh ribu rupiah.

    Ayah pun berkata lagi:
    “Sekarang, coba kamu bawa batu itu ke museum, dan jika ada yang ingin membelinya, jangan ucapkan sepatah katapun, cukup angkat dua jarimu!”

    Anak itu kemudian pergi ke museum. Disana, ada seorang pria yang ingin membeli batu itu. Anak itu tidak mengatakan sepatah katapun dan hanya mengacungkan dua jari. Pria itu lalu berkata,
    “Dua juta? Boleh, saya beli, batu itu akan menjadi koleksi yang bagus di museum ini.”

    Anak itu terkejut dan berlari pulang, lalu dia memberitahu ayahnya bahwa seorang pria ingin membeli batu itu seharga dua juta rupiah!
    Ayahnya kemudian berkata:
    “Nah, terakhir Ayah ingin kamu membawa batu itu ke toko batu-batu berharga. Tunjukkan batu itu, dan jika ada yang menanyakan harganya, jangan ucapkan sepatah katapun, cukup angkat dua jari!”

    Anak itu kemudian pergi ke toko batu berharga. Dia menunjukkan batu itu kepada pemiliknya. Pemilik toko berkata:
    “Wah Nak, dimana kamu menemukan batu ini? Ini adalah salah satu batu paling langka di dunia, saya harus memilikinya. Berapa kamu mau menjualnya?”

    Anak itu tidak berkata apa-apa, dan hanya mengangkat dua jarinya.

    “Dua ratus juta, baiklah, itu harga yang pantas untuk sebuah batu langka. Saya beli.”

    Sang Anak sangat terkejut, dia lalu berlari ke rumah menemui Ayahnya lagi.
    Dia menjelaskan bahwa ada yang ingin membeli batu itu seharga dua ratus juta rupiah.

    Kini Ayahnya tersenyum, lalu berkata: “Nah Nak, apakah kamu sudah tahu nilai hidupmu sekarang?”

    Setiap orang itu unik, dan memiliki nilai yang luar biasa dalam dirinya sendiri, asalkan ia mampu dan ditempatkan di posisi yang tepat. Kita dapat memilih sendiri hendak menempatkan diri di sekeliling orang-orang yang menganggap kita senilai dua puluh ribu rupiah, atau dua ratus juta rupiah. Pilihlah hal itu dengan bijak, karena itu akan membuat perbedaan besar dalam hidup kita. Seperti sebuah ungkapan bahasa Inggris: The Right Man on The Right Place.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

  • PODCAST Keburukan Bisa Menular

    PODCAST Keburukan Bisa Menular

    Ada seorang pengusaha sukses yang sedang bersiap untuk berangkat ke kantornya. Saat membuka pintu mobilnya, ada seekor anjing liar datang dan menggigit kakinya.

    PODCAST

    Pengusaha ini kesakitan dan menjadi sangat marah, dia mengambil batu dan melemparkannya ke arah anjing liar tersebut. Namun anjing itu sudah berlari sangat jauh, dan batu yang dilemparkan si pengusaha, luput dari sasaran.

    Sepanjang perjalanan ke kantor, pengusaha ini masih terus menyimpan kemarahannya. Saat tiba di kantor, dia melihat seorang manajer yang bajunya kurang rapi, jadi dia menegurnya, dan karena di dalam hatinya masih ada kemarahan, dia kemudian melampiaskan kemarahannya kepada si manajer.

    “Anda ini seorang manajer, bagaimana bisa Anda memakai pakaian yang tidak rapi seperti ini? Apa jadinya jika ada tamu perusahaan yang datang, melihat manajer di sini, bahkan memakai baju yang rapi saja tidak bisa. Terlebih lagi, bagaimana jika hal itu ditiru oleh semua bawahan Anda? Anda bisa menjadi penyebab kehancuran perusahaan ini!”

    Si manajer yang dimarahi itu, merasa kesal dan marah, lalu kemudian dia juga memarahi supervisor yang ada di sana dan berkata:

    “Hei Supervisor, tahukah kamu bahwa menjadi manajer itu sangat berat? Kamu yang berbuat salah, kamu yang tidak becus kerja, namun malah saya yang harus bertanggung jawab kepada atasan. Kalau sampai nanti saya menemukan kamu berbuat salah lagi, saya akan memecatmu!”

    Supervisor yang ikut terkena dampak kemarahan, merasa bingung dan merasa tidak bersalah, sehingga dia juga ikut menjadi marah dan memarahi stafnya.

    Demikianlah kemarahan itu terus saja menyebar dan akhirnya sampailah pada si pesuruh kantor.

    Karena sudah tidak ada karyawan lain yang bisa dimarahi oleh si pesuruh kantor, dia lalu memendam kemarahan itu di hatinya.

    Malam harinya ketika pulang ke rumah, istrinya agak terlambat menyiapkan makan malam, jadi saat itu dia menjadi kesal, lalu melampiaskan kemarahannya kepada istrinya dan berkata:

    “Tahukah kamu! Seharian saya keluar, bukan untuk bersenang-senang, saya bekerja keras sampai lelah, untuk mencari nafkah, agar kita bisa makan!

    Istrinya yang mendengar hal ini menjadi tersinggung, namun tidak berani membalas suaminya yang terlihat sangat marah. Akhirnya ia melampiaskannya pada anaknya yang sedang duduk menonton televisi.

    “Haduh nak! Setiap hari kerjanya hanya menonton TV dan bukannya rajin belajar, mau jadi apa kamu kalau sudah besar nanti?”

    Si anak kesal, kemudian pergi keluar rumah, di luar dia berjalan sambil memendam kemarahannya, dia melihat ada seekor anjing liar yang sedang berjalan.

    Anak ini lalu mengambil sebuah batu, dan melemparkannya ke anjing tersebut dengan penuh kemarahan.

    Ternyata anjing liar itu adalah anjing liar yang sama, yang menggigit kaki si kepala perusahaan di pagi hari.

    Sama seperti segalanya di dunia ini, keburukan juga bisa menular, oleh karena itulah, dunia ini sangat memerlukan apa yang disebut kesabaran dan ketabahan. Hanya dengan menjadi sabar dan tabah, barulah kita bisa membantu memutus rantai keburukan, dan membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik lagi.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

  • Orang yang Tak Pernah Puas

    Orang yang Tak Pernah Puas

    Dahulu ada pemotong batu yang bekerja keras sepanjang hari. Dia akan memotong batu untuk kemudian digunakan untuk tujuan konstruksi. Setelah bekerja keras untuk sebagian besar hidupnya, dia merasa tidak puas. Suatu hari, dia melihat seorang pejabat pemerintah duduk di atas kereta yang ditarik oleh kuda-kuda yang bagus. Dia merasakan keinginan yang mendalam untuk berada dalam kenyamanan seperti itu dan memiliki kekuasaan.

    Seorang biksu Tao tiba-tiba datang dan membuat pemotong batu itu terkejut, dan mengatakan kepada tukang batu itu bahwa ia akan memenuhi keinginannya untuk menjadi berkuasa, yang oleh pemotong batu itu dijawab bahwa ia ingin menjadi yang paling berkuasa: seorang pejabat. “Baiklah, mari kita lihat dulu kehidupan dia”, kata biksu itu, dan membawanya ke dalam kereta. Mereka tidak bisa dilihat orang, tetapi mereka mendengar pejabat itu mengeluh tentang panasnya matahari, dan betapa panasnya di dalam kereta, tampak wajah pejabat itu bercucuran keringat sambil mengipas-ngipas.

    Pemotong batu memandang ke atas dan melihat matahari dengan segala kemuliaan dan berkata kepada biksu itu bahwa dia ingin menjadi matahari, karena tidak ada yang lebih kuat dari matahari, bukan? “Baiklah”, kata biksu itu, dan membawa pemotong batu itu ke arah matahari. Butuh beberapa waktu untuk sampai di sana, tetapi ketika mereka sampai, beberapa awan telah berkumpul di sekitar matahari, menghalangi sinarnya. Matahari tidak bahagia, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.

    Pemotong batu itu terheran-heran melihat awan, dan memandang ke biksu itu serta berkata ia ingin menjadi awan yang begitu kuat sehingga bisa menghalangi seluruh cahaya matahari. “Baiklah”, kata biksu itu, tetapi segera setelah dia mengatakan itu, embusan angin kencang muncul, dan meniup pergi awan itu. Pemotong batu itu tercengang. Awan, yang dia pikir sangat kuat, baru saja diterbangkan oleh angin seolah-olah itu bukan apa-apa. Dia segera memikirkannya dan memutuskan.

    Dia memberi tahu biksu itu bahwa dia ingin menjadi angin. “Baiklah”, kata biksu itu, dan dia bertanya kembali apakah itu pilihan terakhir sang pemotong batu. “Ya, pasti, angin tidak mempedulikan siapa pun. Itu yang paling kuat dan bisa menerbangkan apa pun yang menghalanginya”, jawab pemotong batu itu. Ini yang aku inginkan. “Tetapi lihatlah di sana ke batu-batu karang itu”, kata biksu itu, “angin tidak dapat meniupnya pergi”.

    Melihat batu itu, sang pemotong batu itu menggaruk kepalanya dengan heran dan menjawab bahwa ini tidak mungkin. “Sangat kuat, namun batu itu tetap kokoh”, pikirnya. Dia memandangi biksu itu dan memberitahunya bahwa untuk terakhir kalinya, dia ingin menjadi batu. Maka biksu itu turun ke tanah dan membiarkannya menyentuh batu itu dan merasakan kekuatannya. “Ya, ya, sangat kuat”, katanya. Tapi kemudian, dia mendengar suara menghantam batu di sisi lain. Segera, batu itu pecah dan jatuh ke tanah dalam potongan-potongan kecil. Karena ketakutan, pemotong batu itu berbalik, dan apa yang dia lihat adalah dirinya sendiri, sang tukang batu yang dapat menghancurkan batu.

    Panggilan dunia

    Sepanjang hidup kita mengembara, mengikuti panggilan dunia untuk menjadi lebih kaya, membangun kehidupan dengan kekuasaan, status, nasib baik, keturunan yang baik. Tapi di mana ini akan membawa kita, pada akhirnya? Apakah anda berpikir bahwa semua jutawan menjumpai kematian mereka sepenuhnya puas dengan kehidupan yang mereka jalani? Kita belajar keras, bekerja keras, mengumpulkan kekayaan; kita mengejar posisi kekuasaan dalam komunitas, dan berusaha keras untuk membangun pengaruh kita; tetapi pada akhirnya, apakah kita puas? Apakah kita melakukan hal yang benar? Apakah ini tujuan kita ditempatkan di Bumi ini?

    Sebagian besar dari kita mengalami sakit di dalam tubuh, kelelahan pikiran, kita tidak memiliki kesabaran untuk beristirahat, ketenangan untuk hanya duduk dan melihat matahari dipantulkan ombak. Kita baru introspeksi ketika terpaksa, seperti saat sudah berada di tempat tidur rumah sakit, atau di saat-saat kehilangan segalanya. Tetapi pada saat itu, seringkali sudah terlambat. Sebenarnya tidak pernah terlambat.

    Panggilan alam

    Para filsuf Tao percaya bahwa cara yang benar untuk menjalani kehidupan adalah mengikuti jalannya alam. Nah, apa jalannya alam? Salah satu aspek mengikuti jalannya alam adalah menganggap remeh materi. Tidak terikat pada ketenaran, kekayaan, dan puas dengan nasib anda, sebanyak apa pun itu. Menjalani hidup dengan wajar, dan tidak menentangnya.

    Para penganut Tao percaya bahwa satu-satunya hal yang benar-benar dapat anda ubah adalah diri anda sendiri. Ini akan menjadi seruan bagi para pejuang keadilan sosial yang memfokuskan upaya untuk mengubah dunia tetapi gagal untuk mencari ke dalam diri dan menolak untuk melakukannya pada diri mereka sendiri. Ketika anda melakukan ini, yaitu meningkatkan diri sendiri dan mencapai keadaan tanpa niat, sisanya akan berada pada tempatnya.

    Seperti pada cerita diatas, semuanya memiliki tempatnya masing-masing di alam semesta. Itu termasuk pemotong batu, batu, awan, dan anda. Pandangan untuk mengejar impian, hasrat, dan kebahagiaan anda adalah bertentangan dengan konsep Tao untuk melepaskan pengejaran dan mencapai kedamaian batin. (visiontimes/bud)

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

  • Kisah Tukang Batu dan Permintaannya

    Kisah Tukang Batu dan Permintaannya

    Pada suatu masa, hiduplah seorang tukang batu, yang akan pergi ke gunung besar setiap hari, memahat dan memotong lempengan-lempengan batu untuk dijual. Dia adalah pekerja yang sangat hati-hati dan memiliki banyak pelanggan. Sudah lama dia menjalani hidupnya dengan bahagia dan puas.

    Suatu hari, ketika mendaki ke gunung yang tinggi untuk mengambil batu, dia bertemu dengan roh sakti di atas gunung. Roh itu mengatakan bahwa apapun yang dia minta akan dikabulkan. Tukang batu merasa bingung dan tidak meminta apa-apa, namun roh itu terus mengikutinya.

    Keesokan harinya, dia mengantarkan pesanan lempengan batu ke rumah seorang kaya, ketika melihat rumah orang kaya itu begitu megah, dia berpikir di dalam hati. “Andaikan saya menjadi orang kaya dan memiliki rumah yang megah, saya pasti akan senang sekali.” Tiba-tiba dia mendengar suara di telinganya: “Permintaanmu dikalbulkan.”

    Tukang batu terkejut mendengar suara itu, dan melihat ke sekeliling, tidak ada seorangpun dan tidak ada apapun yang terjadi. Dia segera pulang ke rumah.

    Betapa terkejutnya dia, ketika melihat rumahnya telah berubah menjadi istana yang besar dan megah. Dia sangat senang, dan tinggal di rumah tersebut dengan penuh sukacita.

    Suatu hari, dia melihat rombongan iring-iringan raja yang melewati rumahnya, dia melihat kereta kuda mewah dengan iringan banyak sekali pelayan yang siap melayani, serta banyak prajurit yang siap melindungi sang raja. Dalam hatinya, dia berpikir, “Andaikan saya menjadi seorang raja, saya pasti akan merasa senang.” Tiba-tiba saja dia mendengar suara lagi di telinganya: “Permintaanmu akan dikabulkan.” Dan dia melihat di dalam rumahnya, ada banyak sekali pelayan dan prajurit yang siap diperintah olehnya, hatinya merasa senang.

    Suatu hari ketika dia berjalan-jalan cukup lama di luar istananya, dia merasa kepanasan, dia melihat kulitnya menjadi gelap terbakar matahari, dia berpikir, “Hebat sekali matahari ini, dia sangat berkuasa, andai saya menjadi matahari…” Sebuah suara terdengar di telinganya: “Permintaanmu akan dikabulkan.” Dan kini, dia menjadi matahari.

    Dia bersinar kemana-mana, namun kemudian dia menyadari, bahwa sinarnya bisa terhalang oleh awan di bawahnya, dia kemudian berpikir dalam hati, “Andai saya menjadi awan…,” lalu sebuah suara terdengar lagi: “Permintaanmu akan dikabulkan.” Dan kini dia menjadi awan.

    Dia sangat kuat, dia bisa menghalangi sinar matahari, dia juga menurunkan banyak hujan badai, yang bisa membuat lautan bergelora, serta menumbangkan banyak pepohonan.

    Namun kemudian, dia melihat bahwa, tidak peduli betapa kuat hujan badai yang dibuatnya, ada batu-batu besar yang akan diam tidak bergeming. Batu-batu itu sangat kokoh, jadi dia berpikir, “Andai saya menjadi batu besar….,” lalu sebuah suara terdengar: “Permintaanmu akan dikabulkan.” Dan, dia menjadi batu besar.

    Dia diam tegak dengan kokoh, tidak ada apapun yang mampu mendorongnya, dia merasa sangat senang dan bangga.

    Namun suatu hari, dia mendengar ada suara kecil di bawahnya, dan setiap kali suara itu timbul, seluruh tubuhnya akan bergetar, dia melihat dan menemukan bahwa ada seorang tukang batu di bawahnya, yang sedang memahat bagian tubuhnya, untuk diambil sepotong-sepotong.

    Dia berpikir, “Andai saya menjadi tukang batu….,” sebuah suara terdengar: “Permintaanmu akan dikabulkan.” Dan dia kembali menjadi tukang batu.

    Sejak itu, dia kembali menjadi tukang batu yang akan rajin bekerja setiap hari, yang merasa puas dan bahagia dengan keadaannya.

    Dia bahagia dan tidak memiliki keinginan lagi untuk menjadi lebih besar atau lebih kuat dari yang lain. (moral26stories/an)

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

    https://youtu.be/wiKkkPOJ_R8
  • PODCAST Menghasilkan Karya Terbaik

    PODCAST Menghasilkan Karya Terbaik

    Di jaman yang sangat lampau, ada seorang pemuda yang bermimpi untuk bisa membuat suatu karya besar yang akan disukai banyak orang. Namun ia merasa ragu karena keadaannya yang sangat miskin. Memikirkan hal itu, wajahnya pun terlihat murung setiap hari.

    PODCAST

    Suatu hari, pemuda ini sedang menyusun kayu bakar di depan rumahnya dengan wajahnya yang murung seperti biasa. Seorang pertapa yang berjalan melewati rumahnya, terkejut melihat wajah pemuda itu yang begitu murung.

    “Hai anak muda, mengapa wajahmu begitu murung?”

    Pemuda itu terkejut mendengar sapaan si pertapa. Ia pun lalu menjawab:

    “Oh… tidak apa-apa. Saya memang selalu murung.”

    “Mengapa kamu murung? Apakah ada yang bisa saya bantu?”

    “Sebenarnya saya memiliki impian besar untuk membuat suatu karya besar yang bisa berguna untuk semua orang. Huhhh,,,Tapi saya tidak tahu bagaimana mewujudkannya karena sangat miskin. Saya tidak memiliki apa-apa.”

    Pertapa ini pun lalu melihat ke sekeliling rumah si pemuda. Ia kemudian berkata:

    “Sebenarnya kamu sudah memiliki apa yang kamu butuhkan, Nak.” 

    Ia lalu memungut sepotong kulit lembu yang tergeletak di lantai rumah, lalu memotong sedikit akar rambat dari tanaman yang ada di halaman rumah si pemuda.

    Si pemuda merasa bingung dan tidak paham akan maksud si pertapa. Ia bertanya: 

    “Hahh,,,Apa ini? Barang apa yang bisa dibuat dari kedua bahan ini, yang nantinya akan berguna bagi banyak orang?” 

    Pertapa itu hanya tersenyum lalu berkata:

    “Kamu akan menemukan jawabannya nanti.”  

    Pertapa itu pun kemudian pergi. Si pemuda menganggap pertapa ini hanya iseng, jadi dia pun melupakan pertemuan ini. 

    Bertahun-tahun berlalu. Suatu hari si pemuda sedang berjalan memanggul barang di pundaknya. Untuk mengurangi rasa sakit di pundaknya akibat gesekan, ia pun menaruh selembar kulit lembu disana.

    Tiba-tiba ia berjalan menginjak beberapa kerikil yang amat tajam yang membuatnya mengaduh, karena di zaman itu, orang berjalan hanya dengan bertelanjang kaki. 

    Pemuda itu pun duduk sejenak memeriksa kakinya. Ia pun memutar otak. Ia berpikir, jika kulit lembu bisa melindungi pundaknya dari gesekan, seharusnya kulit lembu itu pun bisa digunakan untuk melindungi kakinya. 

    Ia pun memotong sebagian kulit lembu di pundaknya. Ia berpikir bagaimana untuk mengikatkan kulit lembu itu di kakinya, dan matanya tertuju pada akar rambat pepohonan yang ada disana. 

    Ia menaruh potongan kulit lembu di kakinya, lalu mengikatnya dengan akar rambat. Saat itulah, si pemuda ini berhasil menciptakan sebuah penemuan baru yang sangat berguna untuk seluruh penduduk di desanya, yaitu alas kaki. 

    Kisah ini mengajarkan, bahwa sesungguhnya kita sudah memiliki semua yang kita butuhkan untuk menggapai impian. Namun seringkali kita meremehkan segala potongan-potongan kecil dalam hidup kita dan menilainya tidak penting. Jika kita mampu merangkaikan semua potongan-potongan itu bersama, maka sebuah jalan yang menuju ke impian kita akan terlihat.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu