Tag: beasiswa

  • DOJ Selidiki Kasus Pendanaan Keuangan Harvard

    DOJ Selidiki Kasus Pendanaan Keuangan Harvard

    Departemen Kehakiman AS atau DOJ mencatat bahwa Harvard adalah universitas AS sebagai penerima dana terbanyak dari sumber asing, dengan penyumbang utamanya dari China. DOJ menyebut dana ini terikat syarat tertentu yang membatasi penggunaannya dan mewajibkan Harvard membuat program bantuan keuangan yang memprioritaskan mahasiswa dari negara-negara tertentu.

    DOJ berkata bahwa Harvard diduga memberikan bantuan keuangan kepada mahasiswa asing yang diduga sebagian besar berasal dari China, hingga mengesampingkan warga negara AS.

    DOJ tengah menyelidiki apakah Harvard melanggar Undang-Undang Hak-Hak Sipil terkait diskriminasi asal negara. DOJ menyatakan bahwa setiap pelajar AS memiliki kesempatan yang setara untuk memperoleh beasiswa, hibah, serta jenis bantuan keuangan serta manfaat lainnya.

  • Kisah tentang Bertahan dari Hawa Nafsu

    Kisah tentang Bertahan dari Hawa Nafsu

    Shu adalah seorang penduduk kota Guan An. Dalam perjalanan menuju Beijing untuk ujian beasiswa negara dia singgah di sebuah penginapan yang terlihat paling sederhana di kota Guan An untuk beristirahat, karena uangnya pas-pasan. Pada saat itu hari sudah senja, wanita pemilik penginapan sedang berada di depan pintu menyambutnya dengan tersenyum ramah, dan menyapa tamunya, “Tuan sudah sangat capek melakukan perjalanan, silahkan masuk ke kamar untuk beristirahat!”

    Ketika Shu sudah mau tidur, wanita pemilik penginapan datang ke kamar Shu mengetuk pintu sambil membawa arak dan berkata, “Tuan, saya ingin melewati malam ini ngobrol-ngobrol dengan tuan, apakah tuan bersedia?” Shu setelah mendengar perkataan ini sangat terkejut lalu bertanya, “Ada masalah apa, kenapa tengah malam datang ke kamar saya?” Wanita itu menjawab: ”Ayah saya pedagang sutra di Beijing, memiliki sebuah toko sutra di jalan Haoan. Ayah saya menikahkan saya dengan anak pemilik penginapan ini. Belum lama ini suami saya dan orangtuanya tewas dalam sebuah kecelakaan, namun saya miskin tidak bisa pulang ke rumah ayah saya di Beijing, dan tidak dapat menahan kesepian, oleh sebab itu malam ini saya datang ke kamar tuan.”

    Shu setelah mendengar cerita wanita tersebut dengan lembut berkata, “Saya sangat bersimpati mendengar cerita kamu, tapi saya tidak bisa menemanimu malam ini. Begini saja, setelah saya sampai di Beijing, saya berjanji kepadamu akan pergi mencari ayahmu, supaya dia dapat menjemputmu, terlebih dahulu maafkan saya.” Setelah mendengar perkataan Shu wanita ini merasa malu, membalikkan badan meninggalkan Shu.

    Shu setelah sampai di Beijing pergi mencari toko sutra milik ayah wanita ini, setelah menceritakan keadaan putrinya kepada pemilik toko sutra, ia berkata, “Beberapa hari yang lalu, saya bermimpi bertemu dengan dewa, dewa mengatakan kepada saya putri saya jika tidak bertemu dengan pria terhormat bernama Shu akan terjerumus kedalam dosa, dan berada dalam keadaan bahaya! Dewa mengatakan engkau adalah seorang pria terhormat, ternyata tidak salah!”

    Akhirnya pedagang itu menjemput putrinya pulang ke rumahnya, dan dinikahkan dengan orang lain dan hidup dengan bahagia. Sedangkan Shu berhasil memperoleh beasiswa negara, setelah lulus menjadi pegawai negeri dan dua tahun berikutnya jabatannya di pemerintahan dinaikkan menjadi wali kota. (minghuischool)

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Kasih Sayang di Antara Manusia

    Kasih Sayang di Antara Manusia

    Di sebuah kota kecil, pada siang hari di jalanan terlihat sangat sepi, hanya beberapa orang yang terlihat berjalan. Daun-daun terhembus angin tertunduk membungkuk. Udara panas hembusan angin juga terlihat perlahan belum bisa menghilangkan kegerahan. Di udara yang begitu pengap tersebut, tidak ada pelanggan yang akan datang membeli barang, lelaki pemilik toko ini duduk sambil mengantuk, akhirnya karena tidak tahan tertidur di kursi.

    Dia dibangunkan oleh sebuah suara orang memanggil. Dia melihat seorang pemuda sedang memunculkan kepalanya melalui celah pintu memandang ke dalam. Ketika dia ingin bertanya, pemuda ini sudah menarik kepalanya keluar. Dia memandang ke seluruh penjuru di dalam tokonya dia melihat tidak ada hal-hal yang mencurigakan. Dia kembali ingin membaringkan badannya ke kursi hendak melanjutkan tidurnya, tapi sempat dilihatnya pemuda ini memunculkan kepalanya kembali.

    Pemilik toko lalu bertanya, “Apakah engkau ingin membeli sesuatu?”.

    “Saya, eh saya…” pemuda tersebut tergagap dan terlihat ragu-ragu tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.  Melihat ada sedikit keganjilan, dengan seksama dia memandang pemuda tersebut, meskipun seluruh badannya terlihat sangat lelah, pakaiannya masih terlihat sopan. Dan di punggung belakangnya terlihat tergantung biola berwarna merah menyolok.

    “Ada masalah apa sebenarnya?” sekali ini ketika bertanya dia sengaja melembutkan intonasinya suaranya.

    “Saya, saya adalah seorang pelajar. Ingin mengikuti ujian beasiswa di kota…Lelaki pemilik toko ini segera mengerti maksud pemuda tersebut, “Engkau ingin menanyakan jalan menuju kota benarkah?”

    “Bukan, bukan.” Pemuda ini dengan malu berkata, “Ekonomi di rumah saya sangat tidak baik, papa saya sejak saya masih kecil sudah meninggal, mama sudah bekerja keras, saya ingin memainkan sebuah lagu dengan biola ini….” setelah mengucapkan perkataan ini, pemuda tersebut terlihat seperti menghabiskan seluruh kekuatan dan keberaniannya mengucapkan hal  tersebut.

    Sekarang pemilik toko segera mengerti maksud pemuda tersebut, ketika ingin mengucapkan sesuatu, tiba-tiba dari belakang toko keluar istrinya berkata, “Keluar.. keluar dari sini, manusia seperti kamu sudah sering saya temui. Jelas maksudmu adalah untuk meminta uang, kami disini setiap hari banyak pengemis yang datang, setelah berbohong, pasti ingin menipu uang, jangan harap.” Wanita tersebut dengan galak berkata sambil mengusir pemuda ini. Pemuda ini semakin terlihat grogi, pandangan matanya seperti putus asa.

    Lelaki pemilik toko seperti tidak mendengar istrinya berkata, bangun menarik sebuah kursi dan dengan perlahan berkata kepada pemuda tersebut, “Anakku, duduk di sini, mainkan sebuah lagu untukku.”Lalu dengan tenang berdiri disamping kursi pemuda tersebut, dengan serius melihat kepada pemuda tersebut.

    Gesekan biola mulai terdengar, didalam tokonya seolah-olah adalah air yang mengalir dengan tenang, seperti angin sepoi-sepoi yang sedang berhembus, suaranya sangat merdu, terkadang terdengar samar, terkadang terdengar nyaring, membuatnya seolah-olah terayun-ayun disuasana yang elegan dan anggun.

    Setelah sebuah lagu habis lelaki pemilik toko seperti terpaku disana dia sangat terpesona oleh suara musik yang begitu indah. Lalu dia berjalan menuju laci uang, istrinya segera bergegas berjalan didepannya, menahan suaminya membuka laci uang dan mulai marah lagi, suaminya dengan tidak sabar berkata kepadanya. “Saya percaya kepada anak ini bukan seorang penipu, suara biolanya sangat murni!”

    Setelah beberapa tahun kemudian, seorang dosen musik terkenal, di depan mahasiswanya menceritakan cerita ini. Dia berkata, “Pada saat itu, sebelum saya masuk ke toko tersebut, sudah beberapa toko yang sudah saya kunjungi, tetapi tidak ada seorangpun mendengar saya, bahkan menghina, menertawakan serta mengusir saya, saya sudah kehilangan semangat untuk berjalan lagi.  Manusia pada saat seperti ini, terkadang bisa melakukan hal-hal yang ekstrem. Sebenarnya.. pada siang hari tersebut ketika saya melihat pemilik toko tertidur, didalam pikiran saya melintas sebuah niat yang jahat- saya ingin mencuri uangnya sedikit untuk membeli makanan, karena saya sangat lapar. Tetapi lelaki pemilik toko dengan sangat baik dan tenang menerima saya, dia memberikan saya uang, yang paling penting adalah perkataannya saat itu: “Suara biolanya sangat murni” Seperti sebuah cahaya yang menyinari relung jiwa saya, membersihkan debu-debu di dalam jiwa saya. Hanya sepatah kata yang tak terlupakan ini, dia menarik saya keluar dari tepi jurang yang berbahaya.

    “Benar.” Dia melanjutkan bercerita, “Sebuah jiwa yang dalam kesulitan akan sangat rapuh, pada saat ini, kebaikan adalah sepasang tangan yang hangat, toleransi dan diakui adalah hal yang paling indah, dapat menarik jiwa yang akan terjatuh berdiri kembali,  karena tidak ada sebuah jiwa dan kehidupan yang sukarela dihancurkan.

    Dengan perlahan dia berkata, “Jika ada sebuah jiwa yang berada dalam kerapuhan dan kesulitan, pada saat ini ada sepasang tangan yang hangat yang diulurkan menolongnya, kita jangan lupa sifat dasar kebaikan manusia adalah  seperti sebuah cahaya dan cahaya ini dapat memberi kehangatan kepada jiwa yang memerlukan pertolongan.” (minghuischool)

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI