Tag: covid19

  • Angka Kematian China 2025 Lampaui Masa Pandemi COVID-19

    Angka Kematian China 2025 Lampaui Masa Pandemi COVID-19

    Pertanyaan muncul setelah China merilis angka kematian tahun 2025. Angka tersebut lebih tinggi dibanding saat pandemi COVID-19 dimana seluruh rumah duka tidak lagi sanggup menampung?

    Angka kematian aktual akibat COVID 19 di China tengah dipertanyakan. Data terbaru yang dirilis otoritas menunjukkan tingkat kematian di China tahun 2025 berada di angka lebih dari 8 per seribu orang. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tahun semasa pandemi COVID dimana tercatat konsisten di angka 7 per seribu. Angka kematian 2025 juga lebih tinggi dibanding angka yang tercatat dalam beberapa tahun terakhir.

    Komentator urusan China, Tang Jingyuan, mengatakan angka tersebut tidak relevan karena tidak ada faktor penyebab kematian signifikan pada 2025, seperti pandemi, perang, atau mega bencana alam. Namun China pernah mengalami dua gelombang besar kematian semasa pandemi COVID.

    [Tang Jingyuan, Komentator Urusan China]:

    “Gelombang pertama terjadi pada akhir 2019. Krematorium di China begitu kewalahan sehingga warga harus mengantri untuk mendapat giliran. Beberapa krematorium bahkan terpaksa membakar dua – tiga jenazah sekaligus untuk mengejar antrian. Gelombang kedua terjadi pada akhir 2022 dimana infeksi virus melonjak setelah China melonggarkan lockdown secara drastis. Dan sekali lagi, antrian terlihat di luar krematorium di seluruh China.”

    Tang mengatakan bahwa jika di tahun 2025, krematorium China tidak mampu menampung, itu artinya jumlah kematian sebenarnya selama tahun-tahun COVID jauh lebih tinggi daripada yang dilaporkan.

  • Kematian Para Dokter Disaat Covid-19 Melonjak Lagi di China

    Kematian Para Dokter Disaat Covid-19 Melonjak Lagi di China

    Kami mencermati lonjakan tajam infeksi COVID-19 di China sejak Kamis. CDC China melaporkan bahwa tingkat infeksi COVID-19 mencapai yang tertinggi tahun ini, dengan kasus yang terus meningkat sejak Maret. Dokter di beberapa kota besar memberitahu kami perkembangan yang mengkhawatirkan.

    Beberapa tenaga medis meninggal setelah tertular virus. Perlu dicatat bahwa pemerintah China memiliki riwayat cenderung memangkas data atas kasus infeksi dan kematian COVID-19. Simak selanjutnya.

    Meski angka resmi sering dikritik karena tidak mencerminkan skala sebenarnya, pengakuan langka ini memicu diskusi online. Pengguna media sosial China saling berbagi informasi terkait gejala yang mereka alami seperti demam, sakit tenggorokan parah, bahkan melaporkan peningkatan kasus kematian lokal, meskipun data resmi masih terbatas.

    Seorang warga dari Jilin di timur laut China mengatakan:

    “Akhir-akhir ini, cukup banyak orang meninggal. Ada yang tua, ada yang muda. Ada satu orang tua, dia kelihatananya sangat sehat dan berenergi, tiap hari selalu melihatnya berjalan pagi. Dia akhirnya meninggal bahkan sebelum tiba di rumah sakit.”

    Di China selatan, seorang warga Guangzhou bernama Li mengatakan bahwa ia dan keluarganya telah berulang kali tertular COVID-19. Itu belum seberapa.

    Laporan media online menunjukkan beberapa dokter di wilayah itu telah meninggal, sebagian besar berusia 50-an. Pernyataan resmi menyalahkan kematian itu akibat “kerja berlebihan,” namun tidak memberikan detail.

    NTD tidak dapat memverifikasi secara independen kasus-kasus ini. Seorang dokter memberitahu kami bahwa pihak berwenang mungkin berusaha menutupi informasi.

    “Di Guangzhou ada dokter rumah sakit tingkat atas meninggal. Biro kesehatan mengatakan kami tidak perlu melaporkannya. Cukup fokus pada disinfeksi, pakai masker, dan cuci tangan.

    Ia juga bercerita tentang seorang dokter lansia yang meninggal 2 hari setelah didiagnosis COVID-19 dengan gejala parah.

    Mayoritas pasien di rumah sakitnya menunjukkan gejala pilek dan demam, tetapi banyak yang tidak melakukan swab demi menghemat uang. Rumah sakit juga tidak memberlakukan protokol yang ketat guna menghindari kepanikan social apabila hasil tes menunjukkan seriusnya wabah.

    Menurut CDC China, lonjakan COVID-19 terbaru di negara itu didorong oleh varian baru MB.1.8.1, juga dikenal dengan Nimbus.

  • CDC A.S. Tak Lagi Rekomendasikan Vaksin Covid-19 Untuk Anak-anak dan Ibu Hamil

    CDC A.S. Tak Lagi Rekomendasikan Vaksin Covid-19 Untuk Anak-anak dan Ibu Hamil

    CDC tidak lagi merekomendasikan vaksin Covid19 untuk anak-anak atau ibu hamil. Koresponden NTD Jason Blair melaporkan.

    [Robert F. Kennedy, Jr, Menteri Kesehatan A.S.]:

    “Per hari ini, vaksin COVID untuk anak-anak sehat dan ibu hamil yang sehat telah dihapus dari jadwal imunisasi yang direkomendasikan CDC.”

    Dua minggu setelah laporan bahwa departemen kesehatan akan melakukan tindakan tersebut, Menteri Kesehatan RFK Jr. membuat pengumuman resmi bahwa anak-anak dan ibu hamil telah dihapus dari daftar rekomendasi untuk vaksinasi COVID rutin.

    [dr. Martin Makary, Komisioner FDA]:

    “Tidak ada bukti anak-anak sehat membutuhkannya saat ini dan sebagian besar negara telah berhenti merekomendasikannya.”

    Sebelumnya CDC merekomendasikan vaksin Covid untuk siapa pun yang berusia di atas 6 bulan.

    [Robert F. Kennedy, Jr, Menteri Kesehatan A.S.]:

    “Tahun lalu, pemerintahan Biden mendesak anak-anak yang sehat untuk mendapatkan suntikan Covid lagi meskipun tidak ada data klinis yang mendukung strategi booster berulang pada anak-anak.”

    Saat ini ada tiga vaksin CO 19 yang disetujui untuk digunakan di AS. Ada berbagai pendapat profesional tentang keamanannya bagi ibu hamil dan anak-anak. Minggu lalu, subkomite Senat mengadakan sidang yang mengundang beberapa dokter untuk membahas topik keamanan vaksin.

    “Berapa banyak anak di bawah usia 5 tahun yang meninggal karena Covid?”

    “Sangat, sangat sedikit. Sebenarnya, secara teoritis, anak di bawah usia lima tahun yang sehat, tidak ada.”

    Minggu lalu FDA mengatakan bahwa setiap vaksin COVID-19 baru harus terlebih dahulu melalui uji klinis terkontrol plasebo sebelum mendapatkan persetujuan. Melaporkan di Washington DC, Jason Blair, NTD News.

  • Organisasi Kesehatan Dunia: Varian Covid Baru Sedang ‘Dipantau’

    Organisasi Kesehatan Dunia: Varian Covid Baru Sedang ‘Dipantau’

    Virus korona kembali menjadi berita. Organisasi Kesehatan Dunia telah menetapkan jenis baru sebagai varian yang sedang dipantau. Virus ini juga sedang menunjukkan peningkatannya di China. Berikut laporannya.

    WHO mengatakan varian NB.1.8.1  menimbulkan risiko rendah pada kesehatan masyarakat di tingkat global. Vaksin COVID-19 saat ini diharapkan tetap efektif, baik untuk gejala maupun pada tingkat yang lebih serius.

    Beberapa negara telah melaporkan peningkatan kasus, namun WHO mencatat tidak ada bukti bahwa NB.1.8.1 menyebabkan penyakit yang lebih parah dari varian lain yang saat ini beredar. WHO mendefinisikan varian ini sebagai varian yang “sedang dipantau”.

    Pembaruan ini muncul di tengah laporan peningkatan kasus Covid19 di China. Pasien di sana menggambarkan rasa sakit yang sangat menyengat di tenggorokan, seperti menelan pecahan kaca. Direktur departemen penyakit menular di sebuah rumah sakit Beijing mengatakan kebangkitan Covid19 ini diperkirakan akan mencapai puncaknya akhir bulan ini. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China berkata varian NB.1.8.1 sekarang menjadi jenis yang dominan di negara itu.

    Sejak pandemi dimulai pada 2020, Partai Komunis China telah menghadapi tuduhan penyembunyian data, khususnya mengenai jumlah kematian akibat virus. Covid19 pertama kali muncul di Wuhan, China pada akhir tahun 2019. Pada bulan April, pemerintahan Trump memperbarui situs web Covid19 untuk mencerminkan teori bahwa virus bocor dari Institut Virologi Wuhan.

    Sementara itu, program pemeriksaan bandara CDC telah mendeteksi banyak kasus varian NB.1.8.1 di AS. Catatan menunjukkan pelancong internasional yang tiba di California, Washington, Virginia, dan New York telah dinyatakan positif. Negara bagian lain termasuk Hawaii, Ohio, dan Rhode Island juga telah melaporkan kasus yang tidak terkait dengan pemeriksaan bandara.

  • CDC China: Tingkat Pasien Covid-19 Meningkat Dua Kali Lipat

    CDC China: Tingkat Pasien Covid-19 Meningkat Dua Kali Lipat

    Infeksi Covid19 meningkat di China. Data baru CDC China menunjukkan tingkat infeksi antar pasien di rumah sakit melonjak hampir dua kali lipat dari akhir Maret hingga awal Mei, dari 3% ke 6%, Rezim China memiliki sejarah meremehkan jumlah infeksi dan kematian akibat Covid19.

    Pejabat kesehatan di Beijing juga melaporkan peningkatan aktivitas Covid 19. Seorang dokter di Wuhan memberitahu media pemerintah China bahwa gelombang virus saat ini lebih kebal terhadap imunitas, yang berarti bahwa orang yang pernah terkena Covid sebelumnya atau telah divaksinasi masih dapat terinfeksi ulang. Dua penduduk China berbagi pengalaman mereka dengan NTD. Kami mendistorsi suara mereka untuk melindungi identitas.

    [Warga China]:

    “Banyak orang yang sedang demam saat ini. Saya pergi ke rumah sakit dan melihat banyak orang yang mendapatkan infus karena gejala seperti flu.”

    [Warga China]:

    “Orang-orang terus menerus meninggal sejak tahun lalu hingga tahun ini. Beberapa hari yang lalu, lima atau enam orang meninggal di kota kami.”

    Warga dari berbagai wilayah China memberi tahu kami mereka melihat peningkatan kematian mendadak, termasuk yang berusia di bawah 50 tahun. Mereka berkata isu ini kurang diperhatikan media pemerintah.

  • Covid19 Melonjak Lagi di Daratan China: Laporan Resmi & Lokal

    Covid19 Melonjak Lagi di Daratan China: Laporan Resmi & Lokal

    Laporan lokal berkata banyak orang terinfeksi virus baru-baru ini, dengan gejala demam, batuk, atau sakit tenggorokan. Video menunjukkan rumah sakit penuh sesak di  platform media sosial China. Mereka berkata Covid19 telah beredar secara lokal dalam jumlah rendah sejak pandemi, tetapi baru-baru ini meningkat lagi. Di luar laporan lokal, bahkan badan kesehatan negara bagian teratas mengonfirmasi peningkatan kasus positif Covid 19. Rezim China memiliki sejarah menutupi atau meremehkan tingkat keparahan krisis kesehatan masyarakat.

    Menurut data resmi terbaru China, CO 19 adalah penyebab utama keadaan darurat seperti influenza bulan lalu di seluruh negeri. Laporan resmi juga berkata tren keseluruhan meningkat dan situasi China selatan lebih buruk daripada utara. Seorang ahli medis memberitahu surat kabar China bahwa gelombang Covid 19 ini sebenarnya dimulai pada bulan Maret. Ia memperkirakan tren akan mencapai puncaknya akhir bulan ini.

    Pihak berwenang di Beijing juga mengonfirmasi bahwa kasus Covid 19, termasuk pasien bergejala parah, meningkat dua kali lipat beberapa minggu terakhir. Adalah langkah yang langka bagi ibu kota untuk mengakui krisis kesehatan masyarakat. Kami menghubungi warga China yang tinggal di seluruh negeri untuk mengetahui situasinya. Mereka mengatakan ada peningkatan kasus kematian mendadak di lingkungan sosial mereka, termasuk banyak orang muda hingga setengah baya.

    Beberapa krematorium dan pemakaman umum juga dilaporkan diperluas atas kebutuhan yang meningkat. Dalam beberapa bulan terakhir, banyak pula tokoh elit mapan paruh baya di China telah meninggal dunia setelah lonjakan virus, yang memicu diskusi daring. Penyanyi pop kelas dunia Hong Kong Eason Chan juga dikabarkan terinfeksi Covid19 yang membuat para penggemarnya khawatir.

  • Trump Larang Dana Federal Biayai Penelitian ‘Gain of Function’

    Trump Larang Dana Federal Biayai Penelitian ‘Gain of Function’

    Presiden Trump menandatangani perintah eksekutif hari Senin, melarang semua pendanaan federal untuk penelitian ‘gain of function’ di negara-negara seperti China. Pemerintah memperingatkan China terlibat dalam perlombaan senjata biologis yang mungkin dapat membahayakan warga Amerika. Iris Tao melaporkan.

    Presiden Trump hari Senin menandatangani perintah eksekutif baru yang melarang semua pendanaan federal untuk penelitian gain of function yang berisiko di negara-negara seperti China, di mana pemerintah berkata kurangnya pengawasan yang tepat pada eksperimen berbahaya itu.

    Ini terjadi setelah badan intelijen AS mengatakan bahwa pandemi Covid19 kemungkinan besar berasal dari kebocoran laboratorium di Wuhan, China. Dan Presiden Trump menegaskan bahwa dia adalah penganut teori kebocoran lab, dan berkata larangan itu mungkin dapat mencegah wabah Covid19.

    “Banyak orang percaya bahwa penelitian gain of function adalah salah satu penyebab utama pandemi covid yang melanda kita dalam dekade terakhir.”

    [Presiden Trump]:

    “Ini masalah besar. Seharusnya bisa kita hindari masalah itu.”

    Penelitian gain of function adalah jenis penelitian biomedis, dimana patogen ditingkatkan untuk membuatnya lebih kuat, atau mengubah cara kerjanya. Pemerintah berkata larangan pendanaan baru ini akan melindungi warga Amerika dari kecelakaan lab seperti yang mungkin menyebabkan Covid19  yang menelan korban 20 juta jiwa dan sedikitnya 25 triliun dolar.

    Robert F. Kennedy Jr., menteri kesehatan, berkata banyak penelitian gain of function yang dipindahkan ke luar negeri, misalnya ke Wuhan China. Sementara China sendiri telah berlomba untuk mengembangkan senjata biologisnya.

    [Robert F. Kennedy Jr., Menteri Kesehatan]:

    “Ada perlombaan senjata biologis di seluruh negeri, di seluruh dunia, dan China terlibat dalam pengembangan semua jenis senjata menggunakan AI dan teknologi yang lebih canggih, yang benar-benar menghancurkan.”

    Iris Tao, NTD News.

  • Sekilas Info: Infeksi Flu Burung ke Manusia di China

    Sekilas Info: Infeksi Flu Burung ke Manusia di China

    Otoritas China meningkatkan langkah-langkah untuk melawan flu burung di manusia. Badan kesehatan negara itu mengeluarkan pengumuman baru-baru ini mendorong semua tingkat agen penanganan penyakit di seluruh negeri untuk memonitor berbagai virus yang menyebar.

    Virus yang disebut dalam pengumuman termasuk influenza, Covid-19, DBD, norovirus, cacar monyet, flu burung, dan berbagai penyakit menular lainnya. Pengumuman itu juga meminta CDC lokal untuk memonitor dari dekat, transmisi virus-virus dari hewan ke manusia.

    Awal bulan ini, kota selatan di China meluncurkan rangkaian testing flu burung pertama pada manusia, setelah pengumuman itu. CDC lokal mengumpulkan sampel dari para ahli yang terekspos peternakan ayam dan unggas. NTD sebelumnya telah melaporkan infeksi flu burung pada manusia di China, dari saksi mata, laporan, dan whistleblower dari industri suplai medis. Belakangan, semakin banyak laporan muncul dari platform short video China Douyin, versi China TikTok. Salah satunya berasal dari seseorang yang mengaku sebagai pegawai CDC di kota selatan Shenzhen. Ia berkata semakin banyak kasus manusia yang terinfeksi flu burung di daerahnya. Shenzhen adalah kota metropolis yang berada di sebelah Hong Kong. Seseorang juga berkata ia melihat pasien yang terinfeksi flu burung dikirim ke ruang isolasi. Saksi mata lain juga mengulang pernyataan itu. Salah satu pengguna internet China berkata banyak kota telah membangun pusat isolasi di sebelah jalan tol, yang biasanya jauh dari perumahan penduduk.

  • Missouri Menangkan Gugatan 24M dari China Pada Covid-19

    Missouri Menangkan Gugatan 24M dari China Pada Covid-19

    Jaksa agung dari negara bagian Missouri baru saja memenangkan gugatan hukum senilai 24 milyar dolar pada rezim komunis China. Putusan hari Jumat itu terjadi setelah perwakilan China tidak muncul di pengadilan. Tentang apakah kasus ini, dan apa yang akan terjadi selanjutnya?

    Kasus ini membuat beberapa tuduhan besar, termasuk bahwa rezim China menyebabkan dan memperparah pandemi Covid-19 dengan menutup-nutupi informasi penting di awal. Dan kedua, menghalangi produksi dan ekspor suplai alat-alat medis selama pandemi. Laporan dan saksi mata di gugatan hukum berkata China pertama mengetahui pasien Covid-19 pada musim gugur 2019. Kota Wuhan adalah dimana kasus pertama Covid-19 ditemukan. Menurut para dokter di China, pada November 2019, situasi di China teramat buruk di Wuhan, hingga SMA diliburkan, tetapi akibat sensor ketat di Beijing, Organisasi Kesehatan Dunia tidak mengetahuinya hingga sebulan kemudian.

    Dan saat seluruh dunia masih tidak mengetahui tentang Covid-19, China mengimpor masker medis 16x lebih banyak dari biasanya dari AS, berdasarkan data dari awal tahun 2020. Gugatan hukum menggambarkan tindakan China ini sebagai kampanye agresif untuk menimbun dan memonopoli suplai medis. Sekarang pengadilan telah memutuskan pernyataan itu sebagai valid, bahwa China berhutang pada Missouri lebih dari 24 milyar dolar, termasuk bunga. Data kesehatan negara bagian menunjukkan lebih dari 21 ribu penduduk Missouri meninggal setelah terinfeksi Covid-19 dari 2020 hingga 2021. Itu membuatnya menjadi penyebab kematian terbesar ketiga di Missouri selama waktu itu. Gugatan hukum menargetkan sembilan terdakwa, termasuk Partai Komunis China, badan kesehatan tinggi China, dan Institut Virologi Wuhan, yang dipercaya banyak orang sebagai sumber bocornya virus yang menyebabkan pandemi. Jaksa agung Missouri Andrew Bailey memiliki pesan pada China setelah memenangkan kasus ini, berkata, “Bayarlah, atau kami akan menyita aset dan lahan pertanian.”

    Menurut Departemen Agrikultur Missouri, China menguasai lebih dari 42 ribu hektar tanah pertanian di negara bagian itu hingga Agustus lalu, yang paling banyak dari seluruh negara asing. Saat ini China tidak memiliki tanah di dekat dua instalasi militer Missouri. Kembali ke putusan, meskipun belum jelas bagaimana implementasi putusan ini akan terjadi, Missouri berkata mereka dapat menyita aset China di dalam negara bagian untuk membayar hutang tersebut. Kantor Jaksa agung berkata mereka mungkin akan meminta bantuan pemerintahan Trump kedepannya. Menurut pernyataan di New York Times, jubir Kedubes China di AS tidak mengakui putusan, dan mengancam pembalasan.

  • China Memperingatkan Warganya Akan Infeksi Flu Burung ke Manusia

    China Memperingatkan Warganya Akan Infeksi Flu Burung ke Manusia

    Kota-kota besar di China, termasuk Beijing dan Shanghai, telah memperingatkan warga mereka, bahwa kasus flu burung yang menginfeksi manusia sedang meningkat. Walaupun begitu, CDC China masih belum dapat memberikan detail tentang kekhawatiran kesehatan publik ini.

    Inilah yang dikatakan oleh Beijing Daily, sebuah media surat kabar yang dimiliki oleh negara China. Hari Kamis, surat kabar itu memuat peringatan dari dewan negara China, mengakui bahwa influenza burung dan virus cacar monyet sebagai penyakit yang sedang menyebar dan dapat menular ke manusia. Pengumuman berbunyi, “influenza burung dalam manusia masih tetap dalam tingkat rendah dan tidak merata”. Pengumuman ini juga meminta para pejabat di seluruh negeri untuk, mengutip, memberlakukan pencegahan dini dan kontrol dari epidemi musim semi.

    Lebih jauh lagi, peringatan risiko kesehatan CDC China untuk bulan Januari dan Februari mengindikasikan bahwa influenza A telah terdeteksi di manusia. Namun kedua sumber gagal untuk memberikan detail, seperti dimana kasus telah ditemukan. Laporan terakhir bahkan tidak memberikan data tentang strain flu burung apa yang ditemukan. Mereka hanya mengatakan bahwa infeksi itu disebabkan oleh, tanda kutip, strain lain.

    Amerika Serikat telah lama mengkritik Beijing karena telah menutup-nutupi informasi tentang kesehatan publik, terutama pada pandemi Covid-19.

    Pindah ke Shanghai, seorang pengguna internet China membagikan tampilan pengumuman di media sosial China dua minggu lalu. Pengumuman itu mengindikasikan bahwa pasien perlu memberitahu penyedia layanan kesehatan mereka, jika mereka telah berkontak langsung dengan unggas dalam waktu 10 hari setelah mulai sakit. Otoritas Shanghai baru-baru ini melarang perdagangan unggas hidup, dan berlaku untuk 3 tahun kedepan. Itu adalah untuk, mengutip, menghindari risiko kesehatan publik. Tetapi hanya sedikit informasi yang diberikan. Kami akan tetap melaporkan berita terbaru tentang apa yang sedang terjadi dengan kesehatan publik di China, seiring perkembangan situasi.