Ada seorang anak lelaki yang mempunyai temperamen yang sangat buruk. Setiap kali, saat suasana hatinya lagi tidak baik, ia akan mudah emosi, berteriak, membanting barang dan melompat lompat, sikapnya sering tidak bisa dikendalikan.
PODCAST
Melihat sikap putranya yang buruk, sang Ayah pun termenung. Ia berpikir keras untuk menemukan cara merubah tempramen keras putranya tersebut.
Suatu hari, sang Ayah membuat sebuah pagar kayu di pekarangan rumahnya. Setelah selesai membangun pagar tersebut , sang Ayahpun berkata pada putranya:
“Nak! Ayo kemari! Lihat, Ayah punya mainan baru untukmu! Sebuah palu, dan beberapa buah paku.”
“Buat apa palu dan paku-paku ini Yah?”
“Begini…. Jadi Ayah punya permainan kecil. Setiap kali kamu marah, Ayah menugaskanmu untuk menumpahkan kekesalanmu disini. Kamu tancapkanlah sebuah paku dengan palu barumu itu keras-keras!”
Putranya menjadi senang mendengarnya. Ia menganggap permainan itu sangat menarik. Kini, setiap kali marah, ia akan berlari ke halaman rumahnya lalu memaku dengan palunya keras-keras, hingga kekesalannya hilang. Seminggu pertama, begitu banyak paku yang tertancap di pagar kayu tersebut. Namun perlahan tapi pasti, sang Ayah melihat bahwa putranya mulai bisa menahan diri agar tidak marah, bahkan terkadang sering termenung sendiri di pagar kayu tersebut, dengan palu dan paku di tangannya.
Ayah pun bertanya: “Maukah kamu memberitahu Ayah apa perasaanmu Nak?”
“Nggak tahu kenapa Ayah, saya sudah nggak mau marah. Rasanya kok begitu saya sampai disini, marah saya hilang. Dan saya udah nggak mau memaku lagi.”
Ayah tersenyum pada putranya. Ia lalu berkata:
“Bagus kamu bisa berpikir seperti itu, Nak. Sekarang coba kamu bantu Ayah mencabut paku-paku ini dari pagar kayu kita yah!”
Putranya itu menganggukkan kepalanya. Berdua, mereka mencabut paku-paku itu bersama. Ayah lalu menunjukkan pada putranya, lubang yang muncul di bekas-bekas paku yang ditancapkan.
“Tahukah kamu Nak. Meskipun paku itu sudah tidak ada, tapi lubang itu selamanya tidak akan hilang. Saat kamu marah, lubang-lubang itu adalah seperti luka yang kamu torehkan pada orang-orang.”
Putranya itu mengangguk mengerti. Walaupun masih muda, kini ia lebih berhati-hati dalam meluapkan emosinya, dan menjadi jauh lebih baik dalam tingkah lakunya.
Sering kali, saat emosi, kita sering lupa dan mudah mengucapkan kata- kata kasar yang bisa menyakiti seseorang dan membekas di ingatannya. Karena itu sebelum mengucapkan sesuatu, pikirkanlah terlebih dahulu baik-baik, sebelum Anda menyesal seumur hidup dan merusak suatu hubungan.
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Dengarkan Podcast kami:
Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu




