Tag: dendam

  • PODCAST Anak yang Pemarah

    PODCAST Anak yang Pemarah

    https://youtu.be/5GeC2_1l51A

    Ada seorang anak lelaki yang mempunyai temperamen yang sangat buruk.  Setiap kali, saat suasana hatinya lagi tidak baik, ia akan mudah emosi, berteriak, membanting barang dan melompat lompat, sikapnya sering tidak bisa dikendalikan.

    PODCAST

    Melihat sikap putranya yang buruk, sang Ayah pun termenung. Ia berpikir keras untuk menemukan cara merubah tempramen keras putranya tersebut.

    Suatu hari, sang Ayah membuat sebuah pagar kayu di pekarangan rumahnya. Setelah selesai membangun pagar tersebut , sang Ayahpun berkata pada putranya:

    “Nak! Ayo kemari! Lihat, Ayah punya mainan baru untukmu! Sebuah palu, dan beberapa buah paku.” 

    “Buat apa palu dan paku-paku ini Yah?” 

    “Begini…. Jadi Ayah punya permainan kecil. Setiap kali kamu marah, Ayah menugaskanmu untuk menumpahkan kekesalanmu disini. Kamu tancapkanlah sebuah paku dengan palu barumu itu keras-keras!”

    Putranya menjadi senang mendengarnya. Ia menganggap permainan itu sangat menarik. Kini, setiap kali marah, ia akan berlari ke halaman rumahnya lalu memaku dengan palunya keras-keras, hingga kekesalannya hilang. Seminggu pertama, begitu banyak paku yang tertancap di pagar kayu tersebut. Namun perlahan tapi pasti, sang Ayah melihat bahwa putranya mulai bisa menahan diri agar tidak marah, bahkan terkadang sering termenung sendiri di pagar kayu tersebut, dengan palu dan paku di tangannya.

    Ayah pun bertanya: “Maukah kamu memberitahu Ayah apa perasaanmu Nak?” 

    “Nggak tahu kenapa Ayah, saya sudah nggak mau marah. Rasanya kok begitu saya sampai disini, marah saya hilang. Dan saya udah nggak mau memaku lagi.” 

    Ayah tersenyum pada putranya. Ia lalu berkata: 

    “Bagus kamu bisa berpikir seperti itu, Nak. Sekarang coba kamu bantu Ayah mencabut paku-paku ini dari pagar kayu kita yah!” 

    Putranya itu menganggukkan kepalanya. Berdua, mereka mencabut paku-paku itu bersama. Ayah lalu menunjukkan pada putranya, lubang yang muncul di bekas-bekas paku yang ditancapkan. 

    “Tahukah kamu Nak. Meskipun paku itu sudah tidak ada, tapi lubang itu selamanya tidak akan hilang. Saat kamu marah, lubang-lubang itu adalah seperti luka yang kamu torehkan pada orang-orang.”

    Putranya itu mengangguk mengerti. Walaupun masih muda, kini ia lebih berhati-hati dalam meluapkan emosinya, dan menjadi jauh lebih baik dalam tingkah lakunya. 

    Sering kali, saat emosi, kita sering lupa dan mudah mengucapkan kata- kata kasar yang bisa menyakiti seseorang dan membekas di ingatannya. Karena itu sebelum mengucapkan sesuatu, pikirkanlah terlebih dahulu baik-baik, sebelum Anda menyesal seumur hidup dan merusak suatu hubungan.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

  • PODCAST Suami Istri yang Selalu Bertengkar

    PODCAST Suami Istri yang Selalu Bertengkar

    Ada sepasang suami istri, yang selalu bertengkar. Hari-hari mereka selalu dipenuhi dengan pertengkaran.

    PODCAST

    Tepat di sebelah rumah mereka, hidup sepasang suami istri lain.

    Kehidupan mereka sangat damai.

    Kadang-kadang memang terdengar suara mereka berargumen, tetapi tidak pernah lama. Yang sering terdengar adalah suara obrolan riang dan tawa yang ceria. 

    Suami istri yang suka bertengkar ini merasa iri sekaligus heran, mengapa tetangga mereka itu selalu hidup rukun.

    Suatu hari si istri berkata suaminya:

    “Hei, lihat tetangga kita itu, mereka tidak pernah bertengkar, pergilah ke sana, coba intip, lihat mengapa mereka bisa hidup begitu damai.”

    Si suami kemudian pergi ke rumah tetangganya.

    Dari jendela, dia melihat, sang istri di rumah itu sedang mengepel lantai, tiba-tiba dia berlari keluar dapur, dan berteriak.

    Tampaknya suara teriakannya terdengar oleh suaminya.

    Si suami berlari ke arah sumber teriakan, dan tanpa sengaja menendang ember di lantai.

    Air di dalam ember itu tumpah semua.

    Suami dari tetangga sebelah yang melihat pemandangan ini, merasa senang.

    Ia merasa yakin sebentar lagi istri tetangganya itu akan mengamuk melihat tumpahan air dari ember.

    Ia sendiri, mungkin akan membalas istrinya dengan perkataan ‘salahmu sendiri menaruh ember sembarangan! Memangnya kakiku punya mata!’

    Namun alangkah terkejutnya ia saat melihat istri tetangganya itu, menepuk suaminya dari belakang, dan berkata,

    “Aduh Abang! Maaf ya bikin kamu menendang ember itu! Saya menaruhnya sembarangan tadi karena saya melihat kecoak! Saya buru-buru kabur!” 

    Suaminya kemudian berkata,

    “Aduh Dik! Maafkan saya. Pekerjaanmu jadi bertambah. Saya tidak hati-hati. Biarkan saya membersihkan semua genangan air ini!” 

    Setelah melihat semua itu, si suami yang selalu bertengkar dengan istrinya ini pun pulang.

    Ia termenung sendirian, memikirkan betapa berbedanya dirinya dengan sikap tetangganya itu terhadap satu sama lain. 

    Istrinya melihat suaminya lalu berkata,

    “Jadi? Kamu sudah ke sebelah? Apa yang kamu lihat?” 

    Sang suami menjawab,

    “Tidak, saya tidak melihat apa-apa, mereka ternyata sedang pergi keluar.” 

    Namun sejak itu, sang suami berusaha merubah dirinya agar menjadi tidak egois lagi, dan selalu memikirkan istrinya terlebih dahulu.

    Sebelum menyalahkan istrinya, ia selalu meminta maaf terlebih dahulu. Istrinya yang selalu bertengkar dengannya, tiba-tiba berubah menjadi penyayang, baik hati, dan tidak egois.

    Ia pun mengerti, kunci dari hidup yang damai adalah dengan mencari ke dalam, bukan keluar. 

    Anda tidak akan bisa merubah orang lain. Yang bisa Anda lakukan hanyalah merubah diri sendiri.

    Dengan merubah diri sendiri, niscaya orang-orang di sekeliling Anda juga akan berubah. 

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

  • PODCAST Balas Dendam Terbaik

    PODCAST Balas Dendam Terbaik

    Di suatu desa, hiduplah dua orang petani, yang satu bernama Manu, dan satunya lagi bernama Diska. 

    PODCAST

    Mereka sama-sama memiliki sawah yang luas. Mereka akan menanam padi dan memanennya di saat yang bersamaan. 

    Tahun demi tahun berlalu.

    Namun seiring berjalannya waktu, hasil panen milik Manu menjadi lebih banyak, dibandingkan hasil panen milik Diska.

    Diska yang merasa iri, akhirnya diam-diam membakar sawah milik Manu.

    Manu pun tidak bisa memanen. Ia terpaksa membayar hutang bibit padi dengan tanah sawahnya, dan harus pergi dari sana.

    Setelah beberapa waktu, Manu akhirnya mengetahui, bahwa orang yang membakar sawahnya adalah Diska. 

    Ia marah dan bersedih, dan terus memikirkan cara untuk membalas dendam.

    Pada suatu hari, Manu berjalan-jalan di pegunungan, dan beristirahat di bawah sebuah pohon jeruk. 

    Ia memetik sebuah jeruk dan memakannya karena kehausan. 

    Ternyata jeruk itu sangat manis! Manu pun membawa pulang bijinya untuk ditanam kembali.

    Terbakar oleh semangat untuk membalas dendam, Manu bekerja giat membudidayakan jeruk tersebut.

    Buah-buah jeruknya pun akhirnya panen, dan terjual laku dengan harga tinggi.

    Manu yang menjadi sangat sibuk, lupa dengan niatnya membalas dendam.

    Setelah beberapa tahun, Manu telah memiliki kebun jeruk yang sangat luas,

    kekayaannya juga telah sangat melimpah.

    Ia akhirnya menjadi sadar. Pembalasan dendam yang terbaik adalah tidak pernah melihat ke belakang, dan terus menjalani hidup yang bahagia tanpa dendam.

    Jangan habiskan waktu untuk meratapi nasib buruk di masa lalu. Gunakanlah waktu yang ada untuk meraih masa depan yang lebih baik, karena itu adalah balas dendam terbaik yang bisa Anda lakukan untuk diri sendiri.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

  • Mengutamakan Etika Daripada Dendam

    Mengutamakan Etika Daripada Dendam

    Dokter terkenal Wan Quan pada masa Dinasti Ming menunjukkan profesionalisme, karakter mulia, dan etika moral terpuji dalam sebuah kisah yang telah diwariskan hingga masa kini. Wan Quan adalah seorang dokter yang dihormati di masa Ming. Ia lahir pada Tahun ke-11 Hongzhi (1498 M) sekarang dinamakan Kabupaten Luotian di Provinsi Hubei.

    Dia tidak hanya sangat terampil dalam ilmu pengobatan, dia bahkan lebih dikagumi karena sikapnya saat mengobati. Dia dikenal sebagai orang yang perhatian dan pemaaf, dan memperlakukan semua pasien secara adil, tidak menaruh dendam atas pertengkaran di masa lalu.

    Di masa muda, Wan pernah berselisih dengan seorang warga desa, Hu Yuanxi. Belakangan, putra Hu yang berusia empat tahun menderita penyakit yang membingungkan, termasuk batuk dan muntah darah. Selama delapan bulan, Hu mencari pengobatan dari berbagai dokter terkemuka, tanpa hasil. Akhirnya, ketika dia kehabisan pilihan, Hu dengan enggan meminta bantuan Wan.

    Hidup dengan prinsip “menyelamatkan nyawa sebagai yang terpenting”, Wan segera pergi tanpa berpikir dua kali untuk melihat putra Hu. Setelah membuat diagnosisnya, Wan memberi tahu Hu bahwa dia bisa mengobati penyakit putranya, tetapi itu akan memakan waktu sekitar satu bulan. Setelah lima dosis obat yang diresepkan Wan, gejala-gejala anak tampak membaik, namun belum sepenuhnya sembuh.

    Namun karena perselisihan masa lalu, Hu curiga bahwa Wan mungkin tidak dengan sepenuh hati memberikan perawatan yang dibutuhkan, dan merasa waktu sebulan terlalu lama. Jadi Hu beralih ke dokter lain, Shao. Namun Wan berkata pada Hu bahwa ia akan tetap merawat anak itu sebelum dokter baru tiba.

    Keluarganya menasehati Wan Quan, “Karena Hu tidak senang denganmu, mengapa tidak tinggalkan saja anak itu”. Wan Quan menjawab, “Hu hanya memiliki satu putra ini. Tidak ada orang lain yang bisa mengobati penyakitnya. Jika saya pergi, ini akan menunda perawatan untuk anaknya. Jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada putranya, meskipun saya mungkin tidak bertanggung jawab, saya masih akan merasa bertanggung jawab”.

    Jadi dia berkata, “Saya harus tinggal di sini untuk melihat bagaimana dokter lainnya mengobati. Jika dia memperlakukannya dengan benar, saya akan pergi; tetapi jika tidak atau tidak tepat, saya akan mencoba yang terbaik untuk menghentikannya. Jika saya tidak bisa menghentikannya, masih belum terlambat bagi saya untuk pergi”.

    Ketika Wan Quan melihat resep Shao, dia tahu itu tidak sesuai untuk anak itu, dan nyawanya dapat berisiko jika dia meminumnya, jadi dia menunjukkan ini dengan sungguh-sungguh. Namun, Shao menolak untuk mendengarkan dan berpegang teguh pada caranya. Hu, yang ada di sana mendengarkan perdebatan itu, juga tidak menerimanya dan memihak Shao. Wan Quan memberi tahu Shao dengan sangat serius, “Saya tidak ada masalah dengan Anda. Saya hanya peduli dengan bocah itu”.

    Mengetahui bahwa tidak ada yang mau menerima nasihatnya, Wan Quan memutuskan untuk pergi. Tapi dia masih sangat khawatir tentang bocah itu. Sebelum pergi, ia menyentuh kepala bocah itu dengan lembut dan berkata kepada ayahnya, “Saya tidak akan memberinya dosis penuh obat baru. Saya akan mulai dari yang kecil. Sangat disayangkan kalau gejalanya kembali. Apa yang nanti akan kamu lakukan?”

    Ilustrasi. Obatan-obatan ala dokter Tiongkok. (freestocks.org | pexel)

    Setelah minum secangkir obat, tak lama gejala anak itu kembali dengan sepenuhnya, persis seperti yang diprediksi oleh Wan Quan. Bocah itu menangis, “Saya lebih suka minum obat dokter Wan Quan. Dokter yang baru sedang mencoba meracuni saya”.

    Hu Yuanxi sangat menyesal dan dengan gelisah pergi untuk meminta bantuan Wan Quan lagi. Wan Quan tidak membiarkan apa yang telah terjadi mengganggunya. Dia berkata pada Hu: “Jika anda mendengarkan saya sebelumnya, ini tidak akan terjadi. Sekarang jika anda benar-benar ingin saya mengobati putra anda, anda harus percaya sepenuhnya kepada saya. Tolong beri saya satu bulan dan saya akan merawatnya”.

    Hu menyerahkan putranya sepenuhnya ke perawatan Wan Quan. Hanya butuh 17 hari bagi bocah itu untuk pulih sepenuhnya. Keluarga Hu sangat berterima kasih kepada Wan Quan. (epochtimes/bud)