Tag: kim jong un

  • Korea Utara Menarik Diri dari Iran, Jaga Ruang Diplomatik dengan AS

    Korea Utara Menarik Diri dari Iran, Jaga Ruang Diplomatik dengan AS

    Korea Utara menarik diri dari sekutu lamanya  Iran, dan tetap tetap membuka pintu bagi Amerika Serikat. Itu menurut anggota parlemen Korea Selatan selama pengarahan pada hari Senin oleh badan intelijen negara tersebut.

    Badan Intelijen Nasional Korea Selatan atau NIS, mengatakan Pyongyang belum mengirim senjata atau pasokan ke Iran sejak perang dimulai akhir Februari dan tetap bungkam setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan udara.

    Korea Utara juga tidak mengucapkan selamat pada putra Khamenei setelah diangkat jadi pemimpin baru Iran. Saat China dan Rusia telah berulang kali bicara tentang konflik tersebut, Pyongyang baru mengeluarkan dua pernyataan, dan menghindari kritik langsung pada Presiden AS Donald Trump.

    NIS percaya bahwa pengekangan ini disengaja, untuk menjaga ruang diplomatik menjelang pertemuan puncak antara Presiden China Xi Jinping dan Trump pada bulan Mei. Pada saat yang sama, intelijen Korea Selatan mengatakan perang telah menambah tekanan pada perekonomian Korea Utara, memaksa Pyongyang untuk mencari dukungan di luar Iran. Park Sun-Won adalah anggota komite intelijen Parlemen Korea Selatan.

    “Korea Utara juga menghadapi kesulitan ekonomi yang signifikan akibat perang di Timur Tengah. Mereka mengalami kemunduran dalam mengamankan pasokan industri, kenaikan harga, dan melonjaknya nilai tukar. Di tengah situasi ini, mereka melakukan langkah-langkah untuk mengamankan tambahan minyak dari Rusia.”

    Para pejabat intelijen mengatakan komentar Kim Jong-un baru-baru ini tentang menjalin hubungan baik dengan AS menunjukkan langkah diperhitungkan Pyongyang untuk berdialog dengan Washington setelah konflik Timur Tengah mereda.

  • Korea Utara Janjikan Lebih Banyak Senjata Nuklir

    Korea Utara Janjikan Lebih Banyak Senjata Nuklir

    Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un mengatakan hari Kamis bahwa ia akan memperluas persenjataan nuklir negara itu dan mengembangkan rudal balistik antarbenua lebih kuat yang dapat diluncurkan di bawah air. Ia juga mengumumkan rencana mengembangkan rudal jarak pendek yang mampu menyerang Korea Selatan.

    Kim menyampaikan pernyataan tersebut setelah parade militer di Pyongyang hari Rabu. Parade menampilkan tank dan unit lapis baja, infanteri mekanis, dan divisi penyerangan api, termasuk kelompok yang dilaporkan terkait dengan penempatan dalam perang Ukraina.

  • Trump Disambut Kaisar Naruhito di Jepang

    Trump Disambut Kaisar Naruhito di Jepang

    Presiden Trump menerima sambutan meriah oleh Kaisar Jepang Naruhiro pada hari Senin. Trump tiba di Istana Kekaisaran tak lama setelah mendarat di Tokyo, perhentian kedua dalam tur Asia-nya pada hari Selasa. Trump juga akan bertemu dengan Perdana Menteri Jepang yang baru terpilih Sanae Takaichi. Pertemuan ini penting bagi Takaichi, yang ingin meredakan ketegangan perdagangan.

    Trump telah lama mengkritik Jepang karena melarang mobil Amerika masuk ke pasarnya. Kini Jepang melontarkan gagasan untuk membeli armada truk Ford F-150 untuk inspeksi jalan dan infrastruktur.

    Jepang adalah salah satu sekutu terdekat Amerika dan negara berteknologi paling maju di Asia.

    Sementara itu, Trump mengatakan ia terbuka untuk memperpanjang kunjungannya ke Asia guna bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, namun para pejabat Korea Selatan skeptis terhadap pertemuan semacam itu.

  • PM China Li Qiang Kunjungi Parade Militer Korut, Tunjukkan Dukungan Lawan AS

    PM China Li Qiang Kunjungi Parade Militer Korut, Tunjukkan Dukungan Lawan AS

    Para pejabat tinggi dari China, Rusia, dan Vietnam berada di Korea Utara pada hari Kamis. Sebuah parade militer akan diadakan di Pyongyang untuk memperingati ulang tahun ke 80 partai yang berkuasa.

    Delegasi Rusia dipimpin oleh Dmitry Medvedev, sekutu dekat Presiden Putin. Ketua Partai Komunis Vietnam dan Presiden Laos juga hadir. China telah mengirimkan pejabat tertinggi keduanya, Perdana Menteri Li Qiang, perdana menteri China pertama yang mengunjungi Korea Utara dalam 16 tahun. Meski Xi Jinping tidak hadir, para analis berkata kunjungan China tetap menunjukkan itikad baiknya pada Korea Utara.

    [Jiang Feng, Analis Urusan China NTD]:

    “Partisipasi China dalam peringatan penting Korea Utara mengikuti suatu pola. Pada 2015, di ulang tahun ke 70 partai buruh yang berkuasa, anggota komite politbiro saat itu Liu Yunshan hadir. Ia menduduki peringkat kelima dalam partai. Pada tahun 2010, Zhou Yongkang, pejabat senior komite tetap yang hadir. Tahun ini, China mengirim Perdana Menteri Li Qiang, yang juga anggota komite tetap, sama dengan sebelumnya. Namun yang berbeda adalah Li adalah perdana menteri, kepala pemerintahan dan pejabat nomor dua China. Dalam hal pangkat partai dan fungsi pemerintahan, ini menandai peningkatan jelas dalam tingkat delegasi. Bagi Korea Utara, prioritas utama adalah ekonomi. Sanksi selama bertahun-tahun telah menyebabkan kekurangan pangan, krisis energi, dan tekanan fiskal. Sebagai perdana menteri, Li diharapkan membawa bantuan ekonomi yang dipandang sebagai paket hadiah tepat waktu dari Beijing.”

    Menurut laporan China, Korea Utara tidak bertindak sendiri, namun mendapat dukungan dari negara-negara seperti China dan Rusia. Laporan menunjukkan Pyongyang menggunakan parade ini sebagai arena unjuk kekuatan dan diplomasi, menempatkan AS dalam posisi yang pasif.

    [Jiang Feng, Analis Urusan China NTD]:

    “Tujuan China menggunakan kartu Korea Utara ini lebih efektif, menjadikannya alat strategis melawan AS dengan kemungkinan pertemuan Xi-Trump di KTT Apec. China mengirim pesan yang jelas ke Washington. Anda tidak bisa menyelesaikan masalah Semenanjung Korea tanpa Beijing. Jika AS ingin kerjasama dengan China, AS harus mengalah terkait Taiwan, kontrol ekspor teknologi tinggi dan tarif.”

    Presiden Trump dijadwalkan menghadiri KTT Apec di Korea Selatan pada akhir Oktober, dimana ia diperkirakan akan bertemu langsung dengan pemimpin China Xi Jinping. Namun Dubes AS untuk China, David Purdue mengatakan awal bulan ini pertemuan Xi-Trump tidak mungkin terjadi hingga tahun depan.

    Menurut media Korea Selatan, parade militer Korea Utara diperkirakan akan dihadiri ribuan peserta. Negara ini telah lama menggunakan parade besar untuk memamerkan senjata-senjata baru. Para analis berkata kesempatan ini dapat digunakan Kim Jong-un untuk memamerkan senjata rahasianya, rudal balistik antarbenua hwasong 20, yang dilaporkan mampu mencapai daratan AS.  

  • Mengapa pendekatan ‘Seni Bernegosiasi’ Trump Tidak Berefek di China?

    Mengapa pendekatan ‘Seni Bernegosiasi’ Trump Tidak Berefek di China?

    Perdana Menteri India Modi dan kunjungan pertamanya ke China dalam tujuh tahun membuat gebrakan, bukan hanya karena foto-fotonya tersenyum bersama Xi Jinping dan Vladimir Putin. Presiden Trump ikut berkomentar, membidik China dan apa yang disebutnya poros kejahatan. Apa strategi Trump pada India, dan mengapa strategi ini tampaknya tidak berlaku saat menyangkut rezim komunis China? Mari kita bahas.

    Pada KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai minggu ini, Perdana Menteri India Narendra Modi terlihat berbincang hangat dengan pemimpin rezim China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Kemudian, ia juga terlihat menyambut pemimpin Korea Utara Kim Jong-un bersama Putin.

    Hari Jumat, Presiden Trump berkomentar, “Sepertinya kita telah kehilangan India dan Rusia ke China yang dalam dan gelap.”  

    Saat perundingan perdagangan AS-India terhenti, Trump menganggap India sebagai negara yang ekonominya mati. Mulai 27 Agustus, AS memberlakukan tarif 50% atas impor India, yang mencakup tarif 25% pembelian minyak Rusia oleh India. AS menganggap pembelian minyak ini membantu mendanai perang Rusia di Ukraina, namun India menolak dan berkata bahwa China-lah pembeli minyak Rusia terbesar.

    Sementara itu, pemerintahan Trump memecah keheningan diplomatik selama setahun dengan Pakistan dan menandatangani kesepakatan pengembangan minyak baru dengan Islamabad. Langkah itu juga membuat India frustasi.

    Beberapa analis berkata strategi Trump telah membuat India lebih dekat dengan China, namun seorang analis urusan China Alan Zeng melihatnya secara berbeda. Ia yakin ini adalah strategi untuk memulihkan industri manufaktur dan dominasi ekonomi Amerika.

    [Alan Zeng, Analis Urusan China]:

    “Sanksi AS terhadap India telah memicu frustrasi di New Delhi. New Delhi menyebut tindakan tersebut tidak adil. Mengapa, mereka bertanya, Washington bersikap begitu keras terhadap India sementara tidak melibatkan Beijing? Ada alasan yang lebih mendalam atas tindakan Trump. Sanksi tersebut bukan hanya hukuman atas pembelian minyak dan senjata Rusia oleh India. Trump mungkin juga ingin mencegah bisnis Amerika yang keluar dari China pindah ke India. Secara khusus, mereka mungkin ingin mencegah perusahaan seperti Apple mengalihkan manufaktur skala besar ke India, dan ingin mengembalikannya ke Amerika Serikat. Tentu saja, ia tidak bisa mengatakannya dengan lantang. Trump punya strategi kebijakan, banyak dari itu adalah membawa kembali rantai pasokan penting ke Amerika. Dari perspektif ini, tekanan Trump pada India dapat dilihat sebagai bagian dari manuver geopolitik yang lebih luas. Sanksi India lebih dari sekedar reaksi pada perdagangannya dengan Rusia, tapi adalah rencana jangka panjang Trump untuk menghidupkan kembali ekonomi industri Amerika.”

    Hubungan AS-India juga didasarkan pada hubungan antara kedua pemimpin negara tersebut. Mantan penasihat keamanan nasional John Bolton berkata ikatan pribadi yang dulu erat antara Trump dan Modi kini telah putus. Trump secara terbuka mengklaim berjasa meredakan ketegangan militer antara India dan Pakistan pada bulan Mei. Sebagai tanggapan, Pakistan menominasikan Trump untuk Hadiah Nobel Perdamaian, tetapi Modi menolak gagasan bahwa Trump memainkan peran mediasi apa pun, bersikeras bahwa India harus menyelesaikan konflik tersebut sendiri.

    Sebelum kunjungannya ke China, Modi singgah di Jepang, dimana ia mengatakan pada media lokal bahwa India dan AS telah berteman di masa lalu dan akan terus berteman di masa depan.

    Minggu ini di Beijing, pemerintah China mengadakan parade militer besar-besaran, dimana Xi berdiri bersama Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Parada ini menunjukkan persatuan dari musuh-musuh utama Amerika, dimana Presiden Trump mengunggah postingan di media sosial, berkata: “Sampaikan salam hangat saya pada Vladimir Putin dan Kim Jong-un saat kalian berkonspirasi melawan Amerika Serikat.”

    Ini adalah salah satu dari sedikit serangan langsung Trump pada China dan sekutunya, yang disebut Trump sebagai poros kejahatan. Ini adalah perubahan penting, mengingat ia sering menyebut Xi Jinping sebagai teman baik.

    [Alan Zeng, Analis Urusan China]:

    “Trump tampaknya telah memahami PKC lebih baik dari waktu ke waktu, terutama selama negosiasi perdagangan yang melibatkan Menteri Keuangan Scott Bessent dan Menteri Perdagangan Howard Lutnick, dan menyaksikan parade militer China baru-baru ini di Beijing. Pengalaman-pengalaman ini membantu Trump memahami bahwa PKC bukan hanya tokoh yang buruk, tapi juga lawan yang tangguh dan tak kenal kompromi. Tapi Trump juga menyadari kenyataan pahit, bahwa AS tak bisa melepaskan diri dari China dalam semalam. Kedua negara ini sangat terjerat secara ekonomi, baik itu modal, rantai pasokan, maupun investasi. Jadi pemisahan diri secara tiba-tiba tidaklah mungkin. Penarikan strategis modal dan manufaktur Amerika dari China membutuhkan waktu.”

    Saat ini, gencatan senjata tarif AS-China telah diperpanjang hingga November, namun ketegangan tetap tinggi dengan berlanjutnya perdebatan mengenai fentanil, tanah jarang, kedelai dan kapas. Trump telah berhasil bernegosiasi dengan Uni Eropa, Inggris dan Jepang, namun mengapa pendekatan yang sama tidak berhasil dengan China?

    [Alan Zeng, Analis Urusan China]:

    “Tampaknya Presiden Trump tidak sepenuhnya memahami Xi Jinping. Trump selalu menggunakan taktik negosiasi bisnis dalam diplomasi dan geopolitik. Ia sering memberikan tekanan, lalu sedikit mengalah, berharap pihak lain akan mengalah dan berkompromi. Namun, hal ini tidak akan berhasil dengan Xi Jinping dan PKC. Secara fundamental, PKC berbeda dari entitas bisnis pada umumnya, atau bahkan bangsa rasional yang mengejar keuntungan ekonomi. Bagi PKC, kelangsungan hidup partai lebih penting dari apapun, bahkan kesejahteraan ekonomi negara. Ketika Trump memaksakan kekerasan dengan harapan kompromi, PKC tidak akan menyerah. Rezim tahu mereka bisa membebankan rasa sakit dan penderitaan apa pun pada rakyat China. Seperti pepatah Tiongkok kuno, bukan saya yang makan rumput, tetapi rakyat saya yang makan. Ini adalah ciri inti dari rezim otoriter seperti China. Rezim ini tidak memikirkan kepentingan nasional negara, namun memikirkan kekuatan dan kelangsungan hidupnya sendiri. Itulah sesuatu yang tidak akan pernah dikompromikan oleh PKC.”

    Menurut Menteri Keuangan AS Bessent, putaran perundingan perdagangan tingkat tinggi berikutnya dapat terjadi paling cepat di akhir Oktober atau awal November.

  • Parade Militer China Peringati Kemenangan atas Jepang, Putin dan Kim Jong-un Akan Hadir

    Parade Militer China Peringati Kemenangan atas Jepang, Putin dan Kim Jong-un Akan Hadir

    Saat aliansi Barat meningkatkan kewaspadaan atas aktivitas militer China di Indo-Pasifik, pasukan China justru dikabarkan akan berparade di Beijing Rabu depan. Parade ini menandai peringatan 80 tahun kemenangan China dalam perang China-Jepang kedua. Hari Kamis, China merilis daftar pemimpin asing yang akan menghadiri parade mendatang. Di posisi teratas adalah Vladimir Putin dari Rusia, dan Kim Jong-un dari Korea Utara. Peserta lainnya termasuk pejabat dari Iran, Belarus, dan beberapa negara Asia. Bahkan para pemimpin dari Indonesia dan Malaysia, yang memiliki sengketa maritim dengan China, diperkirakan akan hadir. Totalnya ada 26 pemimpin asing yang akan hadir.

    Namun, para analis mencatat bahwa dukungan China terhadap invasi Rusia ke Ukraina mungkin membuat banyak negara Barat bersitegang. Sejauh ini, hanya Slowakia yang telah mengonfirmasi kehadiran. Saat ditanyai tentang ketidahadiran para pemimpin Eropa, Kemenlu China berkata kontribusi banyak negara Eropa dalam perang China-Jepang Kedua akan selalu dikenang.

    Namun menilik sejarah, peran Partai Komunis China dalam perang tersebut sebenarnya sangat terbatas. Jepang secara resmi menginvasi China pada tahun 1937 dan menyerah pada tahun 1945. Saat itu, China diperintah oleh Republik China, yang sekarang berpusat di Taiwan. Militernya bertempur sebagai kekuatan utama dan menerima penyerahan resmi Jepang. Partai Komunis saat itu hanyalah milisi kecil, dan baru berkuasa kemudian setelah mengalahkan Republik China.

    Kembali ke masa kini, Taiwan telah melarang pejabat maupun mantan pejabat untuk menghadiri acara terkait perang apapun yang diselenggarakan PKC. Seorang jubir Taiwan juga menampik peran Partai Komunis dalam memerangi Jepang.

    Sementara itu, media Jepang mengatakan Tokyo telah memperingatkan negara lain melalui kedutaan besarnya, mengatakan bahwa parade militer China sangat berfokus pada isu-isu sejarah masa lalu dan membawa pesan-pesan anti Jepang yang kuat. Mereka menyarankan para pemimpin untuk berpikir dengan cermat sebelum hadir.

    Jika dilihat lebih luas, para anggota parlemen dan analis politik AS telah menggambarkan China, Korea Utara, Rusia, dan Iran sebagai poros kejahatan baru. Kini, beberapa cendekiawan Barat menyebut mereka sebagai poros pergolakan, merujuk pada peran mereka dalam konflik global.