Tag: kotoran

  • Mengapa Orang Di Seluruh Dunia Melepas Sepatu Di Rumah?

    Mengapa Orang Di Seluruh Dunia Melepas Sepatu Di Rumah?

    Mengenakan sepatu di rumah seseorang bisa menjadi tanda penghormatan atau penghinaan tergantung pada budayanya. 

    Ini karena merupakan kebiasaan bagi orang-orang untuk melepas sepatu mereka ketika memasuki kediaman pribadi, tetapi mungkin tidak selalu tepat untuk melakukannya.

    Dari mana asal kebiasaan melepas sepatu?

    Kebiasaan melepas sepatu saat memasuki rumah sudah ada sejak zaman dahulu dan masih berlanjut hingga saat ini. Di banyak budaya, seperti Jepang dan Korea, ada aturan khusus yang menentukan bagaimana Anda harus bersikap dengan alas kaki Anda di rumah orang lain.

    Misalnya, sebagian rumah di Jepang mempunyai tempat penyimpanan sepatu di dekat pintu masuk; mereka juga menyediakan sandal untuk tamu yang memilih untuk melepas alas kaki luar ruangan mereka sebelum menginjak tikar di dalam pintu.

    Kebiasaan Jepang melepas sepatu sebelum memasuki rumah dimulai sekitar periode Heian pada 794-1192 M. Itu dimulai di kelas atas pada zaman itu dan akhirnya menyebar ke kelas lain.

    Mengapa orang melepas sepatu mereka di Jerman

    Di Jerman orang juga melepas sepatu mereka. Menurut etiket Jerman, para tamu melepas sepatu mereka sebelum memasuki rumah. Hal ini terutama penting ketika memasuki rumah seseorang di daerah pedesaan karena lantainya sering terbuat dari tanah.

    Juga dianggap tidak sopan bagi orang untuk tidak melepas sepatu atau memakai alas kaki kotor di dalam ruangan karena dapat membawa kotoran dan puing-puing ke dalam rumah.

    Bagaimana mengetahui kapan harus melepas sepatu Anda?

    Pertanyaan sebenarnya adalah apakah pantas melepas sepatu Anda saat memasuki rumah orang lain jika Anda berkunjung dari negara lain yang bukan merupakan kebiasaan.

    Ada beberapa negara yang menganggap melepas alas kaki di dalam ruangan tidak sopan, sementara negara lain menganggap mengenakan sepatu tidak sopan.

    Di Jepang, kebiasaannya adalah melepas sepatu sebelum memasuki rumah karena mereka memakai sandal di dalam ruangan.

    Budaya Unik Tanpa sepatu di rumah Korea

    Di Korea, alasan utama orang melepas sepatu adalah karena sistem pemanasnya yang unik, ondol . Ini sangat mempengaruhi budaya Korea dan memunculkan gaya hidup duduk di lantai, tidur di lantai, dan menghabiskan waktu luang umum di lantai.

    Di negara-negara barat, terutama di AS, mereka umumnya memanaskan rumah dengan menggunakan tungku gas atau listrik.

    Di Eropa, khususnya Jerman, penghangat lantai sangat umum dan sama seperti di Korea karena sistem pemanas lantai ondol, orang umumnya melepas sepatu di rumah untuk menjaga lantai tetap bersih dan higienis.

    Apa lantai yang ideal untuk berjalan tanpa alas kaki?

    Banyak orang bertanya-tanya apakah berjalan tanpa alas kaki di rumah ramah kesehatan atau tidak. Itu sangat tergantung pada bahan lantai di rumah Anda, iklim, dan suhu.

    Pakar lantai merekomendasikan bahan alas kaki berikut untuk rumah Anda sendiri:

    1. Kayu asli

    Adalah lantai terbaik jika Anda berniat berjalan tanpa alas kaki di rumah Anda sendiri karena kayu cenderung menjadi konduktor termal yang sangat buruk, terutama yang berkaitan dengan dingin. Ini membuat kayu nyaman hangat di bawah kaki dibandingkan dengan ubin atau beton.

    2. Parket

    Dikatakan lebih hangat dari kayu. Bisa meniru tampilan kayu dan memiliki sensasi kenyal yang lembut.

    3. Vinyl 

    Berada skala harga murah tetapi tetap menawarkan nuansa nyaman di bawah kaki.

    Seseorang harus berhati-hati dan hormat ketika mengunjungi tempat baru. Ada banyak tradisi yang berbeda, dengan lebih perhatian serta bertanya dahulu dapat mencegah ketidaknyamanan, karena itu penting untuk menghormati tradisi ? terutama ketika Anda diundang ke rumah seseorang. (nspirement)

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini

    VIDEO REKOMENDASI

  • Menjaga Rumah dari Kerusakan Akibat Air Hujan

    Menjaga Rumah dari Kerusakan Akibat Air Hujan

    Berada di sepanjang garis khatulistiwa, membuat Indonesia memiliki iklim tropis. Wilayah negara dengan iklim tropis biasanya memperoleh sinar matahari di sepanjang waktu. Ini yang membuat Indonesia hanya memiliki dua musim, yaitu musim penghujan dan kemarau.

    Meski belakangan kedua musim itu sangat bervariasi dari satu tempat ke tempat lain karena dipengaruhi oleh pola angin monsun yang berbeda, namun tetap saja, dalam satu tahun pasti kita akan melewati satu siklus dimana akan turun hujan berhari-hari.

    Jika sedang tiba di musim penghujan dan kondisi rumah sedang tidak baik, tentunya akan menyebabkan hal-hal yang tidak menyenangkan. Masalahnya terkadang, kerusakan-kerusakan kecil tidak disadari sebelumnya oleh pemilik rumah, sampai terjadi masalah besar.

    Kerusakan seperti masalah bocor atau rembes, umumnya baru diketahui saat musim penghujan tiba. Masalah bocor yang tidak segera diperbaiki umumnya akan merambat ke masalah lainnya.

    Maka cara terbaik untuk mengatasi kerusakan akibat air hujan, dengan melakukan pencegahan sebelumnya. Ada 2 hal utama yang dapat kita lakukan:

    Berikan perkuatan pada area eksterior rumah

    Pertama, bagian atap

    “Tugas” utama atap adalah melindungi rumah Anda. Maka, pemeriksaan utama Anda dimulai dari atap. Jika Anda memiliki atap dak beton, lakukan perlindungan secara berkala. Anda dapat melapisinya dengan lapisan waterprofing.

    Jika penutup atap Anda menggunakan genteng atau sirap, periksa atap Anda secara berkala untuk mencari genteng atau sirap yang rusak, longgar, atau turun. Anda juga dapat memeriksa plafon atau dinding rumah Anda, apakah ada noda kecoklatan di sana.

    Jika pada musim penghujan lalu sudah ada kebocoran halus, umumnya air tetap akan meninggalkan bekas di plafon atau dinding.

    Kedua, bagian dinding luar

    Dinding terluar yang langsung terekspos oleh matahari dan hujan, cukup riskan menyebabkan terjadi perembesan ke dalam.

    Mungkin Anda tidak menyadari jika kerusakan pada dinding interior rumah seperti cat mengelupas, wallpaper lembab, atau cat berubah warna, memiliki berbagai kemungkinan termasuk dari rembesnya air hujan.

    Air hujan masuk melalui lubang di dinding. Periksa dinding eksterior Anda secara berkala. Gunakan cat waterprofing untuk melapisi dinding terluar yang langsung terekspos matahari dan hujan.

    Cek drainase rumah

    Pertama, talang

    Pastikan semua saluran air di bagian atap bersih dari kotoran. Tergantung dari rumah masing-masing, jika rumah Anda dikelilingi oleh pepohonan, kemungkinan besar atap Anda akan penuh dengan daun-daun kering. Lakukan pembersihan secara berkala.

    Daun-daun dapat menyumbat air turun melalui pipa talang tegak. Akibatnya, air hujan tergenang di talang dan menyebabkan bocor karena air hujan akan turun melalui celah-celah lainnya.

    Anda juga dapat menutup talang atap dengan penutup yang terbuat dari semacam jaring untuk menjaga dedaunan masuk ke dalam talang.

    Kedua, talang tegak

    Hampir sama dengan talang atap, saluran di pipa talang tegak ini juga harus bersih dari kotoran. Pipa talang tegak yang tersumbat, akan menyebabkan air hujan balik ke atap dan air hujan mencari jalan dari celah-celah lainnya.

    Pastikan air yang melalui talang tegak ini diterima oleh bak kontrol dan langsung dialirkan ke riol kota. Jumlah talang tegak bergantung dari besaran atap rumah Anda. Umumnya perencana telah membuat kisaran jumlahnya yang disesuaikan dengan luasan atap Anda.

    Tentu saja, kerusakan bangunan akibat kebocoran air tidak terbatas dari air hujan saja. Pipa air bersih yang bocor atau dinding yang berhubungan dengan area basah tidak menggunakan tasram juga dapat menyebabkan kerusakan.

    Selain itu, setiap bahan bangunan memiliki “masa hidup” yang berbeda-beda. Terkadang kita sudah berusaha melapisi dinding terluar dengan cat waterprofing, namun masih terjadi perembesan.

    Kemungkinan ada beberapa bagian batu bata yang sudah lapuk, sehingga tidak berfungsi secara maksimal. Namun setidaknya, Anda telah melakukan perlindungan yang cukup pada rumah Anda.

    Memastikan atap, dinding luar, dan drainase berfungsi sebagaimana mestinya, adalah tugas kita sebagai penghuni rumah. (ntdindonesia/averiani)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini

    VIDEO REKOMENDASI

  • Buddha Emas

    Buddha Emas

    Pada musim gugur tahun 1988, saya bersama suami saya mendapat undangan seminar di Hongkong, karena ini adalah perjalanan kami yang pertama kali ke Asia, kami memutuskan memperpanjang perjalanan kami, berkunjung ke Thailand.

    Setelah tiba di Bangkok, kami memutuskan mengunjungi beberapa candi terkenal, didampingi tour guide serta supir, kami mengunjungi beberapa candi yang kecil dan besar, candi-candi ini terlihat sangat megah.  Ada sebuah candi yang disebut candi Buddha Emas, tetap meninggalkan kesan yang tak terhapus dalam ingatan saya.

    Candi ini terletak ditempat yang tidak terlalu luas hanya sekitar 30 meter persegi. Ketika kami masuk kedalam candi ini, didepan kami terlihat sebuah patung Buddha yang terbuat dari emas murni yang tingginya 10 meter. Ketika saya mendongakkan kepala memandang ke patung Buddha yang berwajah welas asih dan megah, didalam hati timbul rasa haru yang tidak dapat saya jelaskan.

    Ketika semua wisatawan sibuk berfoto atau memandang patung Buddha emas dengan terheran-heran, saya memandang ke kotak kaca disamping saya disana tertulis sejarah patung Buddha yang yang mengharukan.

    Di tahun 1957, karena pemerintah Thailand memutuskan akan membangun jalan raya di Bangkok, jalan tersebut melewati sebuah candi, oleh sebab itu candi tersebut harus dipindahkan, lalu para bhiksu didalam candi bersiap-siap memindahkan patung buddha yang terbuat dari tanah, tetapi patung buddha yang satu ini sangat besar dan sangat berat, oleh sebab itu ketika dalam pembongkaran, ternyata ada beberapa bagian yang retak, yang lebih parah adalah pada saat itu hujan turun dengan deras, bhiksu tua yang memindahkan patung ini supaya tidak terjadi kerusakan parah, memutuskan sementara diletakkan ditempat semula lalu mengambil kain terpal menutupi patung supaya tidak kena hujan.

    Pada malam tersebut, bhiksu tua membawa senter memeriksa patung Buddha yang ditutup kain terpal apakah tersiram hujan, ketika lampu senternya masuk kedalam kain terpal, dia melihat sebuah cahaya yang terang, bhiksu tua dengan lebih teliti memeriksa, dia curiga didalam patung Buddha tanah tersebut mengandung sesuatu. Dia kembali ke kuil mengambil martil dan pahat, dengan hati-hati dia mulai memahat permukaan tanah pada patung Ketika dia menyingkirkan lapisan tanah yang pertama, dia sangat terkejut menemukan benda berkilauan. Bhiksu tua mempercepat gerakannya. Setelah beberapa jam bekerja keras, akhirnya bentuk asli Buddha Emas terpampang dihadapannya.

    Menurut sejarah, ratusan tahun lalu ketika pasukan Birma menyerang Thailand (dulu kerajaan Ayutthaya), pada saat itu para bhiksu setelah mengetahui penyerangan tersebut, untuk melindungi patung Buddha Emas ini mereka sengaja melapis patung tersebut dengan lapisan tanah, supaya patung berharga ini tidak dijarah oleh pasukan Birma, dikatakan pada saat itu semua bhiksu didalam vihara dibunuh oleh pasukan Birma, tetapi untungnya patung yang berharga ini masih utuh, patung itu tetap berada di antara reruntuhan Ayutthaya tanpa menarik banyak perhatian.

    Ketika dalam perjalanan pulang ke Amerika, didalam pikiran saya selalu teringat, sebenarnya kita juga sama dengan patung buddha tanah tersebut, karena takut, kita tanpa sadar melapisi diri kita dengan semacam lapisan debu yang tebal, sedangkan “emas murni” adalah diri sejati kita. Dari kecil terbentuk konsep di tengah manusia biasa yang menutupi diri kita yang sejati, sekarang yang harus kita lakukan adalah seperti bhiksu tua tersebut mengambil sebuah martil dan pahat, meluruhkan kotoran duniawi, kembali ke esensi sejati kita.(dajiyuan)

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    

    VIDEO REKOMENDASI

  • Cara Keluar dari Kesulitan

    Cara Keluar dari Kesulitan

    Pada suatu hari seekor keledai milik seorang petani, karena tidak berhati-hati terjatuh kedalam sebuah sumur tua, petani telah memikirkan segala cara untuk menolong keledai tersebut, tetapi setelah beberapa jam tidak mendapat akal untuk menolong keledai tersebut, keledai didalam sumur menangis menahan rasa sakit. Terakhir, petani tersebut memutuskan akan menyerah, dia berpikir keledai ini sudah tua, tidak layak mengeluarkan tenaga dan waktu untuk menolongnya lagi, tetapi bagaimanapun, sumur ini harus ditutup, agar tidak jatuh korban lagi.

    Oleh sebab itu petani menyuruh para tetangganya membantunya menimbun tanah kedalam sumur sebagai kuburan untuk keledai tersebut, supaya dia tidak tambah menderita. Para tetangga petani semuanya membawa cangkul, mulai mencangkul tanah ditimbun kedalam sumur tua. Ketika keledai ini menyadari keadaan yang dihadapinya, pada awalnya dia menangis lebih sedih lagi. Tetapi tanpa diduga sebentar kemudian keledai ini mulai menjadi tenang, sama sekali tidak mengeluarkan suara lagi.

    Petani merasa heran lalu menjulurkan kepalanya kedalam sumur memandang, pemandangan didepan matanya membuat dia sangat terkejut; ketika tanah yang mereka timbun terjatuh diatas punggung keledai, reaksi keledai yang menakjubkan membuat orang sangat terkejut dia mengibaskan tanah dipunggungnya sehingga terjatuh disatu sisi, lalu dia berdiri diatas timbunan tanah tersebut!

    Dengan demikian, keledai terus mengibas tanah yang dilemparkan orang kedalam sumur dan terus berpijak naik ke atas. Akhirnya keledai ini sudah bisa naik keatas sumur, dihadapan kerumunan orang yang memandangnya semua bertepuk tangan atas keberhasilannya!

    Seperti keadaan keledai, didalam perjalanan hidup ini, terkadang kita juga bisa terjatuh kedalam “sumur tua”, kita akan ditimbun oleh berbagai macam tanah dan debu diatas tubuh kita, jika ingin keluar dari “sumur tua” ini kita harus mempunyai kiat yang ampuh yaitu, membuang segala kotoran dan debu diatas tubuh kita, kemudian berdiri dan berjalan keatas!

    Sebenarnya, berbagai kesulitan yang kita hadapi didalam kehidupan ini adalah “tanah-kotoran” diatas tubuh kita; Namun, dari perspektif lain, mereka juga merupakan blok batu loncatan, selama kita bertekun dan dengan tekad untuk melepaskan, kemudian berdiri, meskipun terjatuh ke dalam sumur yang terdalam, kita juga dapat menyelamatkan diri.

    Jika kita bisa menghadapi kesulitan dengan sikap tenang dan lapang dada, kekuatan tersembunyi dalam jiwa kita akan muncul membantu kita mengatasi masalah. 

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    

    VIDEO REKOMENDASI

  • PODCAST Lebah dan Lalat

    PODCAST Lebah dan Lalat

    Tahukah Anda, apa perbedaan seekor lebah dengan seekor lalat?

    Lebah selalu mencari bunga, suka mencari hal-hal yang indah, wangi dan manis, seperti madu.

    Lebah mampu menemukan bunga di antara kotoran.

    PODCAST

    Tahukah Anda, apa perbedaan seekor lebah dengan seekor lalat?

    Lebah selalu mencari bunga, suka mencari hal-hal yang indah, wangi dan manis, seperti madu.

    Lebah mampu menemukan bunga di antara kotoran.

    Sementara lalat, selalu mencari kotoran, senang mencari sampah kotor yang berbau busuk.

    Lalat mampu menemukan sampah di antara kumpulan bunga.

    Lebah tidak tertarik pada kotoran, hanya tertarik pada harum dan indahnya bunga. Alhasil lebah kaya akan madu.

    Sedangkan lalat, tidak tertarik pada bunga, hanya tertarik pada bau busuk yang ditimbulkan sampah dan kotoran. Alhasil lalat kaya akan kuman penyakit.

    Lalu, mengapa ada orang yang menjadi jahat dan ada orang menjadi baik?

    Orang jahat tidak tertarik pada hal-hal yang baik, sebaliknya justru suka pada hal-hal yang jahat dan menyakiti. Bagaikan seekor lalat, orang-orang jahat suka menjadi manusia negatif, yang suka mencari-cari kesalahan di antara kemajuan dan keberhasilan. Suka mencari hal-hal yang bisa dicela, di antara hal yang layak untuk dipuji.

    Sementara orang baik, adalah orang yang tidak tertarik akan hal-hal buruk. Orang baik suka pada hal-hal yang indah dan menyenangkan. Bagaikan seekor lebah, orang baik suka mencari kebaikan di antara keburukan orang lain. Suka menemukan hal yang dapat dipuji, di antara hal-hal yang bisa dicela.

    Jadilah seperti lebah yang menghasilkan madu, agar orang-orang di sekeliling kita juga akan ikut mencicipi manisnya. Namun jangan kita menjadi seperti lalat, yang membawa kuman penyakit dan selalu dihindari oleh semua orang.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Saksikan video kami:

    Youtube ☛ www.youtube.com/ntdkehidupan
    Dailymotion ☛ www.dailymotion.com/ntdkehidupan
    Facebook ☛ https://web.facebook.com/ntdkehidupan​
    Terhubung dengan kami di Twitter ☛ twitter.com/indonesia_ntd
    Youmaker ☛ https://www.youmaker.com/c/ntdkehidupan

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

    VIDEO REKOMENDASI