Ada seorang peternak yang memiliki beberapa ekor ayam dan domba yang dipelihara di kandang terpisah. Setiap kali si peternak masuk ke kandang ayam, para domba bisa mendengar ayam-ayam itu berteriak-teriak dengan berisiknya.
Para domba merasa heran dan geli dengan perilaku ayam- ayam tersebut. Mereka merasa para ayam tidak tahu aturan. Hingga suatu hari, ada seekor ayam yang lepas dari kandangnya dan kesasar ke kandang domba.
Domba pun bertanya pada si ayam.
PODCAST
“Hey kalian para ayam, kenapa saat si peternak masuk ke kandang kalian, kalian akan mengamuk berteriak-teriak dengan berisiknya? Lihatlah kami para domba, kami dengan tenang dan anggun menghadapi si peternak, tidak perlu mengamuk. Tidak seperti kalian, kami para domba terus menjaga wibawa kami.”
Ayam pun melihat ke domba dengan sinisnya. Ia berkata,
“Hei, kawanku Domba. Saat si peternak kemari, dia kan hanya mencukur bulu wol mu. Kamu tahu apa yang peternak lakukan saat datang ke kandang kami? Dia akan menguliti salah satu dari kami untuk daging kami!”
Sangat mudah untuk menjadi berani ketika tidak ada bahaya. Jangan membandingkan dua hal yang berbeda tanpa memahami kondisi yang sesungguhnya.
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Suatu ketika ada seorang gembala yang memiliki 20 ekor domba. Setiap pagi ia membawa domba-dombanya merumput,….. sebelum mengunci mereka kembali di dalam kandang sore harinya.
Pada suatu hari saat membawa para dombanya ke padang rumput, ia melihat ada seekor domba liar yang bergabung. Ia merasa senang karena dombanya kini bertambah, menjadi 21 ekor.
Semuanya terlihat baik-baik saja sampai keesokan harinya, saat sang gembala menghitung domba-dombanya, ia bingung mendapati jumlah dombanya kembali ke angka 20. Ia memeriksa pagar dan gembok jika ada bagian yang rusak, namun semuanya terlihat normal. Ia pun menoleh ke para dombanya dan menanyai mereka.
PODCAST
“Apakah kalian tahu, bagaimana satu ekor domba menghilang dari sini? Apakah sesuatu terjadi di sini di malam hari?”
Semua domba menggelengkan kepala mereka, mengatakan tidak.
Gembala tidak dapat menemukan penyebabnya. Namun keesokan harinya, dombanya berkurang lagi jumlahnya menjadi 19 ekor, dan 18 ekor, dan 17 ekor… dan seterusnya. Sang gembala tidak habis pikir. Ia terus menanyai para dombanya, namun mereka semua berkata tidak tahu. Ia merasa sangat sedih dan berpikir mungkin ini adalah nasib buruknya.
Hingga beberapa hari kemudian, jumlah dombanya hanya tinggal dua ekor. Dengan lesu ia berpikir bahwa pasti esok harinya, dombanya hanya tinggal seekor. Saat mengunci mereka di dalam kandang, salah satu dari dua ekor domba yang tersisa berteriak padanya.
“Gembala! Jangan tinggalkan aku sendirian!”
Sang gembala kaget mendengar ini. Matanya silih berganti memandang dua ekor dombanya yang tersisa.
“Sebenarnya…. Serigala inilah yang menjadi biang kerok, dia telah memakan semua teman-temanku!”
“Serigala? Serigala apa?”
Tepat saat itu, salah satu domba menyingkapkan bulu domba yang dikenakannya, menampakkan wujud asli serigalanya, lalu menyerang si domba terakhir. Gembala segera bergerak cepat, dia masuk ke kandang dan memukuli si serigala dengan tongkatnya hingga serigala itu tak bergerak lagi.
Kini, barulah si gembala mengerti apa yang terjadi. Ia pun mendekati dombanya yang terakhir dan bertanya,
“Jadi, serigala itu yang selama ini memakan teman-temanmu?”
“Betul… dia akan memakan seekor domba setiap malam.”
“Apakah kamu dan domba-domba lain sudah tahu tentang hal ini dari hari pertama?”
“Ya…. kami semua melihat bagaimana dia memakan seekor domba di hari pertama.”
“Lalu, kenapa tidak ada yang mengatakan hal itu kepada saya?”
“Ka… karena… kami semua sangat ketakutan, malam itu, serigala itu berkata, bahwa jika ada yang mengungkap penyamarannya, dia akan memangsa si pelapor. Tapi…. Tapi …. ternyata hanya tinggal saya seekor, saya akhirnya mengumpulkan keberanian saya untuk berbicara, karena toh jika saya tidak bicara, pada akhirnya saya akan dimangsa juga!”
Sang gembala terdiam dan termenung, sambil memeluk dombanya yang ketakutan itu. Ia berkata,
“Serigala tetaplah serigala, walaupun ia berbulu domba. Seandainya saja kamu berani bicara sejak hari pertama, keadaannya tentu akan berbeda sama sekali. Sadarkah kamu kalau aku pasti akan mengusir serigala itu begitu dia ketahuan? Sehingga ia tidak akan bisa memangsa siapapun yang melaporkannya!”
Ada banyak kesempatan dalam hidup di mana ‘Keberanian Kecil’ dapat membuat ‘Perbedaan Besar’, namun seperti domba itu, kebanyakan dari kita sering tak acuh, diam tak berani bersuara, sampai masalah itu juga berdampak kepada diri kita. Kita harus belajar untuk berani angkat bicara, saat melihat suatu kejahatan terjadi.
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Di sebuah desa, ada seorang pria yang bekerja sebagai tukang roti. Roti-roti yang dibuatnya sangat enak sehingga selalu habis terjual setiap harinya.
PODCAST
Setiap hari si tukang roti selalu membeli satu kilogram mentega dari seorang peternak.
Dan sebaliknya si peternak juga membeli persediaan roti dari pria tersebut, dan akhirnya mereka pun saling berlangganan setiap harinya.
Suatu hari, setelah membeli satu kilogram mentega dari si peternak, si tukang roti merasa ragu akan berat mentega yang dibelinya, karena mentega itu terlihat kecil. Ia pun mengambil timbangan, lalu menaruh menteganya disana. Alangkah marahnya saat ia melihat bahwa berat mentega itu ternyata tidak sampai satu kilogram.
Ia segera mengadukan si peternak ke pengadilan.
Di pengadilan, hakim bertanya pada si peternak: “Peternak, apakah sebelum dijual, kamu menimbang mentegamu terlebih dahulu?”
Si peternak menjawab: “Maaf yang Mulia, peralatan saya tidak lengkap, saya tidak punya timbangan.”
“Kalau begitu, bagaimana kamu bisa yakin mentega yang kamu jual memang betul satu kilogram?”
Peternak tersebut menjelaskan: “Saya memang tidak punya timbangan, tapi setiap hari, saya membeli satu kilogram roti dari si tukang roti. Kemudian dengan menggunakan sebatang kayu, saya menaruh roti itu di satu sisi, dan mentega di sisi lainnya, saya terus menambah menteganya sampai keduanya seimbang. Jadi, saya yakin sekali bahwa mentega yang saya jual itu memang satu kilogram, Pak Hakim.”
Setelah mendengar penjelasan si peternak, muka si tukang roti menjadi merah padam. Akhirnya ia mengaku pada Hakim, bahwa ia-lah yang menimbang roti kurang dari satu kilogram untuk dijual kepada si peternak, agar mendapatkan untung lebih banyak.
Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana saja. Biasakanlah untuk selalu bersikap jujur dimanapun Anda berada. Jika Anda tidak jujur, cepat atau lambat, Anda akan mendapatkan buah pahit dari ketidakjujuran tersebut.
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.