Tag: takwa

  • PODCAST Pelajaran Dari Kemiskinan

    PODCAST Pelajaran Dari Kemiskinan

    https://youtu.be/K2ghiuYrAqw

    Ada sepasang suami istri yang rajin bekerja. Sejak awal pernikahan, mereka berdua selalu bekerja keras.

    PODCAST

    Mereka selalu berhemat dan sangat menghargai semua yang mereka miliki.

    Berkat usaha keras, akhirnya mereka menjadi keluarga yang kaya raya. Setahun kemudian, mereka dikaruniai seorang putra.

    Mereka sangat menyayangi putra mereka, dan segala permintaan putranya itu selalu dipenuhi.

    Namun putra mereka ini memiliki sifat yang buruk, dia sangat suka menghambur-hamburkan uang orangtuanya, dan tidak menghargai apapun yang telah ia miliki.

    Melihat sifat buruk putranya itu, membuat mereka bingung,

    Mereka khawatir akan masa depan putranya, lalu kemudian meminta nasehat pada seorang guru bijak.

    Guru bijak mengucapkan beberapa perkataan kepada mereka, lalu mereka berterima kasih dan pamit pulang.

    Malam itu, rumah mereka dimasuki sekelompok pencuri, seluruh hartanya habis tercuri.

    Tiba-tiba saja mereka menjadi keluarga miskin.

    Mereka terpaksa menjual rumah mewah serta pakaian mahalnya untuk bisa membeli makanan, dan akhirnya, uang hasil penjualan rumah dan pakaian mereka itupun habis.

    Sejak hari itu, mereka harus bekerja keras lagi setiap hari,

    Dan kini putra mereka juga harus mulai bekerja, mulai memakan makanan yang sederhana, mengenakan pakaian yang sederhana, serta tinggal di rumah yang sederhana juga.

    Perlahan-lahan, karena harus bekerja keras, kini putra mereka benar-benar menggunakan uang di tangannya dengan penuh perhitungan.

    Sifat menghambur-hamburkan uangnya pun hilang.

    Sebetulnya tidak pernah ada pencuri yang mencuri harta keluarga tersebut.

    Pasangan itu hanya menyembunyikan harta mereka.

    Melihat putra mereka sudah berubah, sedikit demi sedikit sambil terus bekerja, mereka mengeluarkan kembali harta yang mereka simpan, hingga akhirnya mereka kembali menjadi keluarga yang kaya raya.

    Putra mereka tidak pernah menyadari hal ini.

    Kali ini dengan kekayaan yang sama, akhirnya putra mereka pun berubah menjadi orang yang cermat dan tidak suka menghambur-hamburkan uang.

    Satu kenyataan unik di dunia ini, yaitu, kita baru bisa benar-benar menghargai suatu hal sepenuhnya, hanya setelah kita pernah merasakan kehilangan hal tersebut. 

    Kita harus sadar dan jangan sampai terlena, segala yang kita miliki, bisa hilang kapan saja. Karena itu, hargailah semua yang Anda miliki saat ini.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

  • PODCAST Kisah Hakim yang Adil

    PODCAST Kisah Hakim yang Adil

    https://youtu.be/Vf8nqsCOEjc

    Ada dua orang pria yang hidup bertetangga. Yang satu adalah petani, yang satu adalah pebisnis.

    PODCAST

    Suatu hari, si petani merasa bahwa dia memerlukan lebih banyak air untuk sawahnya, Jadi dia membeli sumur milik si pebisnis.

    Transaksinya sukses, dan sumur itu kini menjadi milik si petani.

    Namun saat si petani hendak menimba air dari sumurnya, si pebisnis berteriak: 

    “Hei kamu tidak boleh mengambil air dari sini!” 

    Si petani menjawab: 

    “Tapi, saya sudah membeli sumur ini, sumur ini resmi telah menjadi milik saya.”

    Pebisnis:

    “Yang kamu beli hanyalah sumur, bukan air di dalamnya, jadi kamu tidak berhak mengambil air dari sana!”

    Mereka berdua terus berdebat, dan akhirnya mereka membawa masalah tersebut ke pengadilan.

    Di hadapan hakim, si pebisnis berkata: 

    “Yang petani ini beli hanya sumur, dan bukan air di dalamnya, jadi dia tidak berhak mengambil air di dalamnya.”

    Setelah menimbang sebentar, hakim berkata: 

    “Hmmm… yang kamu katakan cukup masuk akal, baiklah, petani, kamu tidak boleh mengambil air lagi di sumur itu.”

    Si petani terkejut, dan si pebisnis tertawa senang karena merasa menang.

    Namun kemudian hakim berkata lagi:

    “Nah pebisnis, karena air itu adalah milikmu, dan sumur itu adalah milik si petani, jadi kamu harus mengambil semua air di dalamnya, jika tidak, kamu harus terus membayar uang sewa atas sumur yang kamu gunakan untuk menyimpan air, pada si petani!”

    Si pebisnis terkejut, lalu kemudian dia mengakui kesalahannya, dan meminta maaf pada si petani. 

    Jangan pernah berbuat curang, karena cepat atau lambat, kita pasti harus membayar atas kecurangan yang pernah kita lakukan!

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

  • PODCAST Kisah Tukang Cukur yang Ateis

    PODCAST Kisah Tukang Cukur yang Ateis

    https://youtu.be/VvNkQv6aR2s

    Suatu hari di sebuah salon, seorang tukang cukur sedang memotong rambut konsumennya. 

    PODCAST

    Tukang cukur ini pun mengajak konsumennya mengobrol.
    Tukang cukur: “Tuan, tahukah Anda, bahwa Tuhan itu tidak ada.”

    Konsumen: “Tuhan itu ada, bagaimana mungkin kamu bilang Tuhan tidak ada?”

    Tukang cukur: “Jika Tuhan memang ada, lalu mengapa ada begitu banyak orang yang sakit dan menderita di dunia ini?”

    Si konsumen tidak berkata apa-apa lagi.

    Si tukang cukur merasa senang, dia merasa telah berhasil memenangkan argumen kali ini.

    Tiba-tiba di luar jendela, lewatlah seorang gelandangan dengan janggut dan rambut yang panjang, kotor dan tidak terawat.

    Si konsumen lalu berkata kepada si tukang cukur: 

    “Hei,.. tahukah kamu, tukang cukur itu tidak ada, jika tidak percaya, lihatlah gelandangan dengan rambut dan janggut yang tidak terawat itu, karena tukang cukur tidak ada, maka rambut dan janggutnya tidak terawat.”

    Si tukang cukur berkata sambil tertawa:

    “Hahaha, Anda ini bagaimana? Bukan tukang cukur tidak ada. Si gelandangan itu saja yang tidak mau datang ke salon untuk diurus rambutnya.” 

    Konsumen itu pun berkata: 

    “Tepat sekali, itu yang saya maksud. Bukan Tuhan tidak ada, namun si manusianya sendiri yang tidak mau mendekatkan diri kepada Tuhan, dan tidak sungguh-sungguh mengikuti ajaranNya, karena itulah banyak yang kemudian mengalami masalah di dunia ini.”

    Tuhan itu ada, namun manusia sendirilah yang menjauh dari Tuhan.

    Tuhan itu maha adil, semua makhluk adalah CiptaanNya, dan semua adalah sama di mata Tuhan.

    Tuhan itu maha pengasih, namun karena manusia telah berbuat dosa, karena itu terciptalah segala kemalangan dan penyakit.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

  • PODCAST Kisah seorang Koki Muda dengan Resep Terbaiknya

    PODCAST Kisah seorang Koki Muda dengan Resep Terbaiknya

    https://youtu.be/MyaI1DjyIE0

    Ada seorang koki muda, dia baru saja lulus sekolah masak, Dan kini dia mulai menjadi koki restoran.

    PODCAST

    Dia memasak dan menggunakan resep terbaiknya untuk memasak masakan terenak.

    Namun dia menerima keluhan dari konsumennya, yang berkata bahwa masakannya kurang asin.

    Kemudian koki ini menambah garam pada masakannya, namun kini dia menerima keluhan dari konsumen yang berkata bahwa masakannya kurang manis dan terlalu asin.

    Jadi selanjutnya dia menambah gula dan mengurangi garam dalam masakannya.

    Kemudian dia menerima keluhan lagi, kali ini konsumennya mengatakan bahwa masakannya terlalu manis.

    Begitulah seterusnya, dia terus menerima keluhan atas rasa masakannya,
    dan setiap kali dia mengubah takaran bumbu masakannya, dia selalu menerima keluhan baru.

    Pada akhirnya, sambil mempertimbangan keluhan dari konsumennya, dan instingnya sebagai koki, ia pun membakukan sebuah resep dan takaran bumbu terbaiknya untuk memasak, dan tidak mengubahnya lagi.

    Satu dua keluhan masih tetap ada, namun yang memuji bahwa masakannya enak juga ada dalam jumlah banyak.

    Seperti itulah hidup, setiap orang memiliki selera dan kriteria yang berbeda-beda, tidak mungkin kita bisa memenuhi keinginan semua orang.

    Mau mendengar dan menerima kritikan adalah baik, namun kita tetap harus ingat, tidak mungkin kita bisa memuaskan keinginan semua orang.

    Di sisi lain, kita harus siap menerima, sebaik apapun yang kita lakukan, kita masih mungkin akan menerima kritikan.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

  • PODCAST Kisah Emosional Sepasang Suami Istri

    PODCAST Kisah Emosional Sepasang Suami Istri

    Ada sepasang suami istri yang telah lama menikah. Awalnya pernikahan mereka sangat bahagia. Namun setelah beberapa tahun,
    mereka menjadi sering bertengkar.

    PODCAST

    Suatu hari, tepat sebelum ulang tahun pernikahan mereka.

    Mereka memutuskan untuk berdamai, dan kembali menjalani kehidupan yang bahagia sebagai suami istri.

    Di pagi hari, Raju sang suami telah mengirimkan istrinya seikat bunga mawar yang indah.

    Sang istri tersenyum dan menjalani harinya dengan perasaan senang. 

    Namun, menjelang malam hari, Raju tak kunjung pulang. 

    Istrinya yang telah menunggu di rumah untuk makan malam, merasa kesal.

    Saat itulah, tiba-tiba telepon berdering:

    “Selamat malam, ini dari kepolisian. Apakah benar ini rumah Bapak Raju?”

    “Iya betul. Saya istrinya. Ada apa Pak?” tanya istri Raju dengan was-was.

    “Maaf Bu, kami terpaksa menyampaikan berita buruk. Bapak Raju mengalami kecelakaan saat turun dari bus, dan saat hendak ditolong, ia telah meninggal. Kami menemukan identitasnya di dalam dompetnya. Apakah Anda bisa datang ke rumah sakit untuk melakukan identifikasi?” 

    Telepon pun ditutup.

    Sang istri merasa terguncang. Ia tidak mempercayai apa yang telah terjadi.

    Baru saja ia berharap ia akan bisa memperbaiki pernikahannya, menjalani kesempatan kedua.

    Walaupun ia sadar banyak pertengkaran dengan suaminya terjadi atas keegoisannya, namun ia terlalu sombong untuk meminta maaf. Tapi sekarang, hendak meminta maaf pun sudah tidak ada kesempatan.

    Ia tahu ia harus ke rumah sakit, namun kakinya seperti goyah. Ia pun terpuruk di lantai menangis tersedu-sedu. 

    Namun alangkah kagetnya ia saat pintu rumah tiba-tiba terbuka, dan muncullah wajah suaminya yang kelelahan. 

    “R….r….. Raju….?” 

    Sang suami tak kalah kagetnya melihat istrinya yang bersimbah air mata dan terpuruk di lantai. 

    “Istriku… ada apa dengan dirimu?” 

    Istri Raju merasa seperti dalam mimpi. Ia segera berdiri dan memeluk suaminya. 

    “Sssttttt, sudah, jangan menangis lagi. Maafkan saya ya telat pulang ke rumah, kamu pasti cemas. Sebenarnya tadi saya lama di jalan karena dompet saya dicuri orang. Saya pergi ke kantor polisi dan membuat laporan akan kejadian ini, dan ternyata hal itu cukup memakan waktu…” 

    Tidak ada yang bisa menjamin, bahwa kita masih memiliki kesempatan untuk saling bertemu esok hari. Hargailah takdir pertemuan Anda dengan orang-orang di sekitar Anda, dan jalani hidup Anda bersama orang-orang yang Anda kasihi semaksimal mungkin.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

  • PODCAST Sepasang Suami Istri dan Jendela yang Kotor

    PODCAST Sepasang Suami Istri dan Jendela yang Kotor

    https://youtu.be/WA-V58qoG1M

    Sepasang suami istri baru saja pindah ke rumah baru. Suatu pagi mereka melihat ke luar jendela, Dan menemukan bahwa pakaian yang dijemur tetangganya, kotor semua.

    PODCAST

    Si istri berkata kepada suaminya: “Hei, sayang, lihatlah, pakaian yang dijemur tetangga kita kotor semua.”

    Si suami melihat ke luar jendela dan berkata: “Benar juga ya, mengapa mereka tidak mencuci bersih pakaian-pakaian itu ya?”

    Keesokan paginya, si istri berkata lagi: “Lihatlah, pakaian kotor-kotor itu,  apakah mereka tidak punya sabun cuci?”

    Si suami berkata: “Bisa jadi.”

    Di pagi ketiga, si istri berkata: “Ya ampun, pakaian-pakaian itu kotor sekali, sepertinya mereka tidak tahu bagaimana cara mencuci yang benar.”

    Kali ini si suami hanya diam saja dan tidak berkata apa-apa.

    Keesokan paginya, si istri terkejut melihat pakaian-pakaian yang dijemur tetangganya, semuanya bersih, dia berkata: “Wah, pakaian-pakaian itu bersih, akhirnya tetangga kita belajar bagaimana mencuci pakaian dengan benar!”

    Si suami berkata dengan kikuk: “Mmm.. sayang, hari ini saya bangun pagi-pagi sekali, dan membersihkan jendela rumah kita.”

    Terkadang ketika kita melihat suatu masalah, masalah itu sebetulnya bukan berada di luar, namun berada di dalam diri kita sendiri.

    Terkadang, adalah cara pandang kita yang kurang tepat, yang membuat segala yang di luar, tampak buruk.

    Karena itu, jangan lupa untuk juga mengintrospeksi diri, ketika menemui masalah.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

  • PODCAST Pebisnis dan Sebuah Cek

    PODCAST Pebisnis dan Sebuah Cek

    https://youtu.be/y9fI6MQFjO4

    Ada seorang pebisnis yang bisnisnya baru saja jatuh. Modalnya hampir habis, bisnisnya lesu, dan dia putus asa.

    PODCAST

    Saat itu dia sedang duduk di kursi taman, meratapi nasibnya.

    Tiba-tiba datang seorang pria tua dan duduk di sampingnya. Pria tua itu berkata: “Hei, nak, kenapa wajahmu tampak begitu sedih?”

    Pebisnis itu kemudian menceritakan masalahnya.

    Pria tua tersebut kemudian berkata: “Saya akan membantumu!”

    Dia lalu mengeluarkan selembar buku cek dan menulis sesuatu di sana.

    Kemudian dia menyerahkan selembar cek senilai 1 juta dolar,

    lengkap dengan tanda tangan dan satu nama, Warren Buffet.

    Pebisnis ini sangat terkejut! Warren Buffet adalah salah satu orang terkaya di dunia.

    Pria tua tadi kemudian berkata: “Ambillah dan selesaikanlah masalahmu, kamu bisa menemui saya lagi di sini tahun depan untuk mengembalikannya.”

    Dan pria tua itu pun pergi begitu saja.

    Si pebisnis mengamati cek di tangannya dan berpikir, ia harus bangkit! Cek ini adalah bukti bahwa bisnisnya tidak akan mati. Ia akan menggunakan cek itu, saat benar-benar dibutuhkan.

    Akhirnya dengan modalnya yang tersisa sangat sedikit, ia kembali berbisnis, kali ini dengan kepercayaan diri yang tinggi. Ia lebih berani mengambil resiko, lebih bersemangat, dan lebih berani dalam bernegosiasi.

    Setelah beberapa bulan, hutang-hutangnya lunas, dan bisnisnya menjadi jauh lebih besar.

    Satu tahun berlalu, dan ia kembali ke taman itu, duduk di tempat yang sama, menanti-nanti si pria tua dengan perasaan penuh terima kasih. Setelah menunggu beberapa hari, akhirnya ia berhasil menemukan si pria tua sedang duduk di bangku taman.

    Belum sempat ia bicara, seorang wanita berseragam suster rumah sakit datang berlari menghampirinya.

    “Huhh,,,aduh Pak! Bapak duduk sendirian disini, tidak sedang membuat masalah, kan?”

    Si pebisnis terkejut mendengarnya. Dia bertanya pada suster tersebut apa maksudnya.

    “Kakek ini, pasien saya di rumah sakit jiwa. Ia seringkali lari dari pengawasan saya saat berjalan-jalan di taman ini, berkeliling dan memberitahu orang-orang bahwa dia adalah Warren Buffet. Eh, ia tidak menipu Bapak, kan?”

    Si pebisnis tertegun diam. Setelah menyadari apa yang terjadi, ia pun tertawa. Jadi selama ini, cek yang dipegangnya, cek yang telah memberinya semangat dan keyakinan, adalah cek palsu!

    Bukan hanya uang, namun kepercayaan diri, semangat, dan keberanian mengambil resiko, adalah modal dasar yang diperlukan, untuk menggapai sukses.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

  • PODCAST Kisah Nelayan Tua yang Jelek

    PODCAST Kisah Nelayan Tua yang Jelek

    Saya memiliki rumah yang lokasinya tepat di seberang sebuah rumah sakit besar. Saya menjadikan rumah saya sebagai penginapan.

    PODCAST

    Banyak pasien yang datang dari luar kota untuk berobat. Dan keluarga para pasien sering menginap di rumah saya.

    Suatu malam, ada seseorang mengetuk pintu. Ternyata itu adalah seorang pria tua.

    Di bawah cahaya lampu, saya bisa melihat kalau wajahnya agak aneh.

    Dia berkata: “Selamat malam, saya ada jadwal berobat besok pagi, bolehkah saya menginap malam ini di tempat Anda? Saya sudah mendatangi beberapa tempat, namun mereka semua menolak saya, mungkin karena wajah saya. Tidak masalah jika saya tidur di kursi beranda depan.”

    Saya menyanggupi permintaannya. Saya pun memintanya duduk di beranda, dan kami bercakap-cakap sebentar, karena saya ingin mengetahui tentang kisahnya. 

    Ternyata ia adalah seorang nelayan dari pesisir pantai. Ia menderita penyakit kulit hingga wajahnya tampak aneh. Ia menjadi nelayan untuk menghidupi istrinya yang lumpuh, dan ketiga anak mereka.

    Namun si nelayan tidak tampak bersedih. Ia bahkan berkata, bahwa ia bersyukur ia masih bisa bekerja. 

    Keesokan harinya, sebelum berangkat ke rumah sakit, ia hendak membayar biaya penginapan, namun saya menolaknya. Saya berkata bahwa saya hanya menyewakan kamar, dan bukan kursi beranda. Ia pun membungkuk berterima kasih dan bertanya: “Apakah saya boleh menginap disini lain kali?” 

    Saya mengangguk. 

    Minggu depannya, ia datang kembali, kali ini mengetuk pintu rumah saya dengan beberapa ekor ikan segar di tangannya. Ia berkata bahwa ia baru saja menangkap ikan-ikan tersebut, dan hendak memberikannya pada saya sebagai tanda terima kasih. 

    Kejadian itu berulang selama beberapa minggu berikutnya, selama terapi pengobatannya di rumah sakit. Setiap datang, ia selalu membawa buah tangan berupa ikan-ikan segar, dan tanpa terasa, kami telah menjadi sangat akrab.

    Suatu hari, ia pamit untuk pulang dan berkata bahwa terapi pengobatannya telah selesai. Saya melepasnya dengan berat hati, dan merasa kehilangan seorang teman yang berhati emas. 

    Hari demi hari berlalu. Pada suatu hari, saya mengunjungi rumah teman saya yang memiliki kebun bunga yang sangat indah. 

    Di beranda rumahnya, saya melihat bunga yang sangat cantik, di dalam pot besi karatan yang sangat jelek. 

    Saya bertanya padanya:  “Mengapa bungamu yang sangat cantik ini ditanam di pot yang sangat jelek?” 

    Teman saya melihat bunga tersebut, dan tertawa: 

    “Ooo, pot itu? Haaa… memang jelek ya! Kebetulan saya kehabisan pot. Pot itu hanya sementara, saya berencana menanam bunga itu langsung di taman bunga saya. Tenang saja, pot kan cuma kulit luar! Yang penting, kecantikan bunga itu akan bersinar dimanapun ia ditanam! Kamu tahu filosofi itu, kan? 

    Saya tertegun sejenak mendengar kata-kata bijaknya. Setelah berpikir sejenak, saya tersenyum dan berkata:

    “Ya, saya tahu! Bunga cantik itu adalah persis seperti teman saya, si nelayan!” 

    Jiwa yang cantik tidak akan pupus auranya walaupun berada didalam tubuh yang kurang indah. Jiwa yang indah akan bersinar dimana pun ia berada, dan pada waktunya nanti, jiwa tersebut akan dipindahkan dari pot yang jelek ke Taman Tuhan yang indah. 

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

  • PODCAST Kekuatan Hati Nurani dan Akal Sehat

    PODCAST Kekuatan Hati Nurani dan Akal Sehat

    https://youtu.be/ujY-BzyozJ8

    Ada seorang guru spiritual yang sangat terkenal. Dia memiliki banyak murid dan sangat dihormati banyak orang.

    PODCAST

    Suatu hari, ada seorang muridnya yang penasaran akan karakter asli guru tersebut, dan memanggil seorang pembaca wajah, untuk membaca wajah sang guru. Sang guru pun mengijinkannya.

    Si pembaca wajah berkata: 

    “Bentuk wajah orang ini, menandakan dia serakah. Bentuk kepala orang ini, menandakan dia jahat.”

    Murid-murid sang guru menjadi marah, dan ingin mengusir si pembaca wajah.

    Namun sang guru menahan mereka, dan mempersilahkan sang pembaca wajah untuk meneruskan.

    Si pembaca wajah berkata: “Dilihat dari bentuk hidungnya, orang ini kikir. Dilihat dari bentuk bibirnya, orang ini suka berbohong.”

    Sang guru kemudian berterima kasih, dan pembaca wajah itu pun pergi.

    Murid-muridnya merasa heran, mengapa sang guru tidak marah, dan malah mengucapkan terima kasih.

    Jadi seorang murid bertanya: “Guru, dia mengatakan hal-hal buruk tentang anda, mengapa guru diam saja? Saya sendiri sudah menjadi murid guru bertahun-tahun, dan semua yang dikatakan pembaca wajah itu adalah bohong, saya tidak pernah melihat satu kali pun, guru bersifat atau melakukan seperti yang dia katakan.”

    Sang guru kemudian berkata: “Apa yang dikatakan pembaca wajah itu, semuanya adalah benar, sifat asli saya memang adalah seperti itu. Namun, si pembaca wajah itu tidak bisa membaca satu hal, bahwa selain sifat asli, seorang manusia memiliki hati nurani dan akal sehat. Saya memang aslinya bersifat buruk, namun dengan hati nurani dan akal sehat yang saya miliki, saya bisa mengendalikan semua sifat buruk itu.”

    Tidak ada seorangpun yang sempurna. Semua orang sangat mungkin memiliki sifat yang buruk, namun setiap orang juga memiliki hati nurani dan akal sehat, serta menggunakan keduanya untuk mengekang sifat-sifat buruknya.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

  • PODCAST Kisah Penebang Pohon dan Kapaknya

    PODCAST Kisah Penebang Pohon dan Kapaknya

    Ada seorang penebang pohon yang sangat terampil menebang pohon. Dia bekerja pada seorang bos besar, dan bekerja dengan sangat giat.

    PODCAST

    Di hari pertama, ia berhasil menebang 30 pohon.

    Di hari kedua, ia hanya berhasil menebang 29 pohon.

    Di hari ketiga, ia hanya berhasil menebang 28 pohon.

    Bosnya merasa heran dan bertanya: “Mengapa jumlah pohon yang kamu tebang, semakin hari semakin sedikit?”

    Penebang itu menjawab: “Entahlah bos, saya sudah berusaha sekuat tenaga. Baiklah, besok saya akan bekerja lebih giat lagi.”

    Namun keesokan harinya, si penebang hanya berhasil menebang 27 pohon.

    Dan begitulah, jumlah pohon yang berhasil ia tebang dalam sehari,
    semakin lama semakin sedikit.

    Si penebang pohon merasa mungkin ia sudah tua dan kehilangan tenaganya.

    Namun suatu hari si bos bertanya kepadanya: “Kapan terakhir kali kamu mengasah kapakmu?”

    Si penebang menjawab: “Mengasah kapak? Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya mengasah kapak saya, saya terlalu sibuk menebang pohon.”

    Kehidupan kita juga mungkin serupa, seringkali kita terlalu sibuk, hingga lupa bahwa kita perlu mengintrospeksi diri. 

    Tidak ada yang salah dengan bekerja keras, namun kita juga perlu waktu untuk menenangkan diri, mengasah diri, dan membuat diri kita tumbuh. 

    Jangan lupa gunakan waktu untuk kebaikan diri sendiri, karena jika tidak, bisa saja kita akan menjadi tumpul, dan kehilangan kemampuan kita.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.