Ada seorang Kakek tua yang memiliki sebuah perahu besar yang sangat mahal. Karena itu merupakan harta termahal yang dimilikinya, si Kakek sangat bangga pada perahu itu.
PODCAST
Suatu hari, tiba-tiba hujan besar turun disertai angin badai. Kakek tua yang ingat bahwa perahunya itu hanya ditambatkan di dermaga dengan seutas tali tipis, buru-buru pergi melihatnya.
Namun sayang sekali, perahu itu ternyata sudah dihantam ombak dan badai, sehingga talinya putus. Kakek tua duduk menangis melihat perahunya yang mahal perlahan menghilang ditelan ombak.
Sesampainya di rumah, putra tertuanya kaget melihat wajah Ayahnya yang murung, lalu bertanya:
“Ayah, apa yang terjadi? Mengapa Ayah menangis?”
Kakek menceritakan perihal perahunya yang hilang ditelan ombak badai.
Namun putra pertamanya itu hanya tertawa, lalu berkata:
“Wah, Ayah beruntung! Ayah tahu tidak, kemarin sebenarnya perahu itu sudah terjual! Orang itu melihat perahu Ayah, dan langsung menawar dengan harga tinggi. Karena hanya saya dan adik yang ada di dermaga, jadi kami terima saja tawarannya. Saya tahu Ayah pasti tidak akan menolak, karena jumlah uang yang dia tawarkan sangat besar! Jadi, perahu itu sudah bukan milik kita lagi Yah!”
Si Kakek terkejut mendengar perkataan putranya. Namun, menyadari bahwa perahu yang ditelan ombak itu bukan lagi miliknya, hatinya lega dan ia berhenti menangis.
Namun tiba-tiba putra kedua si Kakek datang, dan ia berkata dengan cemas:
“Kak…. orang kemarin kan… baru membayar uang mukanya saja. Kalau sekarang perahu itu hilang… mustahil rasanya dia mau melunasi sisa pembayarannya! Malah, mungkin kita akan disuruh mengembalikan uang muka yang sudah dibayarkan!”
Setelah mendengar hal ini, si Kakek tua kembali menangis meratap.
Akhirnya, putra kedua berinisiatif menelepon si pembeli dan menjelaskan duduk permasalahannya. Ternyata, si pembeli adalah orang kaya yang sangat ramah. Ia merasa kasihan pada si Kakek tua. Ia berkata, ia akan tetap membayar lunas sisa harga kapal telah ia janjikan untuk beli tempo hari.
Setelah mendengarnya, mereka semua merasa lega, dan si Kakek tua juga berhenti menangis.
Ini adalah sifat manusia yang rumit. Hanya dengan sekejap mata, manusia dengan cepat berubah dari bahagia, ke khawatir, ke sedih, dan kembali lagi ke bahagia. Dengan menyadari bahwa dalam hidup ini kita pasti akan mengalami kehilangan dan perolehan, dan bahwa semua hal di dunia ini adalah tidak abadi, maka kita akan mendapatkan kebahagiaan yang sejati.
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Dengarkan Podcast kami:
Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu


