Presiden Taiwan membatalkan rencana lawatannya ke Afrika dan menuding China menekan negara-negara yang tercakup dalam rute penerbangannya agar memblokir jalurnya. Presiden Lai Ching Te membatalkan kunjungannya ke Eswatini minggu ini setelah beberapa negara Afrika secara mendadak menolak ijin pesawatnya melintasi wilayah udara mereka. Berikut pernyataan resmi dari kantor kepresidenan Taiwan.
[Pang Meng An, Sekretaris Jenderal Kantor Kepresidenan Taiwan]:
“Perilaku koersif seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya di komunitas internasional. Memaksa negara ketiga untuk mengubah keputusan kedaulatan mereka tidak hanya mengganggu keselamatan penerbangan dan melanggar aturan internasional, tetapi juga merupakan bentuk campur tangan terbuka terhadap urusan internal negara lain. Hal ini merusak status quo kawasan dan terlebih lagi melukai perasaan rakyat Taiwan.”
Taiwan berkata Seychelles, Mauritius, dan Madagaskar mencabut izin terbang tanpa peringatan. Taiwan menduga ini terjadi karena tekanan dari China berupa sanksi ekonomi termasuk pembatalan penghapusan hutang, mengingat ketiga negara tersebut berhutang besar kepada China atas proyek infrastruktur dan perdagangan.
Eswatini adalah satu dari 12 negara yang masih menjalin hubungan resmi dengan Taiwan. Meski gagal hadir di acara perayaan kerajaan di sana, Presiden Lai menegaskan bahwa tindakan otoriter China justru menunjukkan ancaman bagi stabilitas global, dan Taiwan tidak akan membiarkan dirinya terisolasi.
Pemerintah China belum memberikan tanggapan apapun selain tetap mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya. Di saat yang sama, Pemimpin partai komunis China Xi Jinping justru memperkuat pengaruhnya di Afrika dengan menyatakan kesiapan Beijing membantu negara-negara Afrika menghadapi dampak konflik di Timur Tengah.
