Dapat dikatakan bahwa di balik banyak orang sukses terdapat individu atau tim yang berkontribusi pada kesuksesan mereka. Misalnya, seorang suami yang sukses mungkin memiliki istri yang terampil dalam mengelola keluarga dan urusan rumah tangga. Seorang aktor yang sukses mungkin memiliki staf di belakang panggung yang bekerja keras. Banyak siswa yang sukses mungkin memiliki orang tua yang bekerja tanpa lelah setiap hari untuk menjaga mereka tetap berada di jalur yang benar. Berikut adalah sebuah cerita yang mengajarkan anak-anak untuk menghargai rasa syukur dan tumbuh menjadi individu yang sukses.
Seorang pemuda dengan nilai yang sangat baik melamar posisi manajer di sebuah perusahaan besar. Dia lolos wawancara pertama. Direktur melakukan wawancara terakhir. Untuk mengambil keputusan, ia mengajukan serangkaian pertanyaan kepada pemuda itu. Dari resume-nya, direktur melihat bahwa pemuda itu secara konsisten unggul secara akademis dari sekolah menengah hingga sekolah pascasarjana, tanpa terputus.
Direktur bertanya: “Apakah anda pernah menerima beasiswa di sekolah?” Pemuda itu menjawab: “Tidak.” Direktur bertanya: “Apakah ayah anda membayar uang kuliah anda?” Pemuda itu menjawab: “Ayah saya meninggal ketika saya berusia satu tahun. Ibu saya yang membayar uang kuliah saya.” Direktur bertanya: “Jadi ibumu bekerja di sebuah perusahaan?” Pemuda itu menjawab: “Ibu saya mencuci pakaian untuk orang lain.”
Direktur meminta pemuda itu untuk menunjukkan tangannya. Ia mengulurkan sepasang tangan yang bersih dan putih. Direktur bertanya: “Pernahkah kamu membantu ibumu mencuci pakaian?” Pemuda itu menjawab: “Tidak pernah! Ibu saya selalu ingin saya belajar lebih giat. Lagipula, ia mencuci pakaian lebih cepat daripada saya.” Direktur berkata: “Saya punya permintaan. Pulanglah hari ini dan cucilah tangan ibumu sekali. Temui saya besok pagi.”
Pemuda itu merasa yakin dengan peluangnya. Ia pulang dengan gembira dan memberi tahu ibunya bahwa ia ingin mencuci tangannya. Terkejut dan tersentuh, ibunya mengulurkan tangannya. Saat ia mencuci tangan ibunya, air mata mengalir. Untuk pertama kalinya, ia menyadari tangan ibunya dipenuhi kapalan, dan terdapat luka yang terasa sakit saat disentuh air.
Ia menyadari bahwa tangan-tangan yang terkelupas dan terluka itu telah mencuci pakaian setiap hari untuk membayar uang kuliahnya. Tangan ibunya adalah harga kelulusannya. Setelah mencuci tangan ibunya, ia diam-diam mencuci semua pakaian yang tersisa. Malam itu, ibu dan anak itu berbicara lama.
Keesokan paginya, ia kembali menemui direktur. Direktur melihat matanya yang bengkak dan bertanya: “Bisakah kau ceritakan apa yang kau lakukan kemarin?” Pemuda itu menjawab: “Setelah mencuci tangan ibu, saya menyelesaikan cuciannya.” Direktur mendesak: “Ceritakan bagaimana perasaanmu.” Pemuda itu berkata: “Pertama, saya belajar rasa syukur. Tanpa ibu, saya tidak akan berada di sini hari ini. Kedua, saya belajar bahwa dengan bekerja bersamanya, saya bisa memahami kesulitannya. Ketiga, saya menyadari betapa berharganya kasih sayang keluarga.”
Direktur berkata: “Saya ingin mempekerjakan seseorang yang tahu rasa syukur, yang memahami kesulitan orang lain, dan yang tidak menjadikan uang sebagai prioritas hidup. Kau diterima.”
Pemuda itu bekerja dengan tekun dan mendapatkan dukungan dari rekan-rekannya. Berkat kerja keras seluruh staf, bisnis perusahaan tumbuh secara signifikan.
Jika seorang anak dimanjakan sejak usia muda dan diajari untuk selalu memikirkan diri sendiri dan menjadi acuh tak acuh terhadap kerja keras orang tuanya, maka di tempat kerja, mereka akan mengharapkan rekan kerja untuk mematuhi mereka. Sebagai seorang manajer, ia tidak akan memahami kesulitan karyawannya dan akan mengeluh tentang segala hal. Orang seperti itu mungkin mendapatkan nilai bagus dan menikmati kejayaan sementara, tetapi di masyarakat, ia mungkin tidak mencapai hal-hal besar, yang menyebabkan kegagalan dan ketidakbahagiaan. Apakah orang tua seperti itu menyayangi anak mereka, atau malah menjerumuskannya?
Anda mungkin memberi anak anda rumah besar, makanan enak, les ini-itu, dan TV layar lebar. Mungkin bijaksana untuk mempertimbangkan, ketika anda merapikan taman, biarkan anak anda mencabut rumput liar di bawah terik matahari. Setelah makan, biarkan anak anda mencuci piring. Bukan karena anda tidak mau membayar gaji pembantu, tetapi karena anda benar-benar menyayangi anak anda dan ingin menanamkan etos kerja yang baik, rasa tanggung jawab untuk membantu orang lain, dan rasa harga diri sebagai anggota keluarga. Beri tahu anak anda bahwa, meskipun orang tuanya berpenghasilan baik, mereka perlu menghindari rasa malas dan sebaliknya belajar untuk bersyukur. Orang tua ini dapat disamakan dengan ibu yang mencuci pakaian. Anak harus diajarkan untuk belajar bersyukur.
