Banyak yang beranggapan menikah adalah tujuan akhir dari suatu hubungan. Sayangnya, tidak semua hubungan berlanjut hingga ke pernikahan. Namun jangan terlalu terpuruk, karena menikah bukan pertandingan yang harus dimenangkan atau prestasi yyang harus dicapai. Menikah lebih pada komitmen dan kesiapan dua belah pihak untuk menuju babak baru dalam kehidupan. Jadi menikah bukanlah akhir, melainkan sebuah awal.
Namun, tidak bisa disalahkan jika banyak yang beranggapan demikian. Karena semasa kecil, banyak dongeng-dongeng yang umumnya “berakhir” dengan pernikahan, seperti pada kisah Cinderella, Putri Salju, Putri Tidur, dan lain sebagainya. Akhirnya secara tidak sadar kisah yang terekam dalam memori adalah menikah sebagai “akhir dari sebuah cerita.”
Oleh karena itu, ada beberapa hubungan yang memaksakan tetap menikah dengan berbagai alasan yang akhirnya malah menjerumuskan mereka karena mengabaikan hal-hal penting yang harusnya lebih dipertimbangkan. Berikut alasan-alasan yang sebaiknya dihindari saat memutuskan akan menikah.
Menikah karena Usia
Menikah bukan ajang pembuktian pada orang lain. Saat usia mendekati angka 30, banyak para lajang mulai merasakan adanya target dari orang-orang di sekitarnya meski kadang tidak diungkapkan. Di kota-kota besar mungkin angkanya dapat berbeda, namun tuntutannya kurang lebih sama. Memang tidak mudah ketika selalu dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan “kapan akan menikah?” saat belum siap atau bahkan belum memiliki tambatan hati.
Namun menikah bukan sekedar mengejar target usia atau menunjukkan jika telah “laku.” Menikah lebih pada kesiapan untuk berbagi rasa dengan orang lain, kesiapan untuk saling memberi (atau menerima) pada pasangan. Ketika menikah karena lingkungan, percayalah tidak akan berhenti disini. Di kemudian hari setelah menikah akan dihadapkan lagi dengan pertanyaan yang berbeda “kapan punya momongan,” kemudian dilanjutkan “kapan punya adik,” dan seterusnya.
Menikah karena Menyenangkan Orang Lain
Melakukan kebaikan untuk menyenangkan orang lain, mungkin bisa dilakukan untuk hal-hal lain kecuali pernikahan. Untuk sebuah komitmen seumur hidup, terus menerus berusaha menyenangkan orang lain tanpa merasakan timbal balik mungkin akan terasa sangat melelahkan.
Mungkin orang lain merasa dia sangat cocok atau mungkin ada tuntutan dari keluarga untuk segera menikah, namun cobalah tanyakan pada perasaan diri sendiri. Jika masih merasakan keragu-raguan, sebaiknya jangan diabaikan. Alih-alih mengabaikan, cobalah untuk melihat kembali hal-hal apa yang membuat ragu, mengapa meragukannya, mengapa sedari awal memilih dia, mengapa selama ini bertahan.
Ketika jawaban telah ditemukan, jadikan hal-hal baik ini sebagai pegangan yang kuat. Karena mungkin hal-hal ini dapat menjadi pengingat saat terjadi pergesekan-pergesekan di kemudian hari. Saat akhirnya memutuskan untuk menikah, pernikahan yang terjadi sudah bukan “menyenangkan orang lain” lagi, namun karena telah meyakininya.
Sebaliknya jika keragu-raguan masih terus bersarang, akan lebih baik jika menundanya hingga merasa yakin. Namun, jika keragu-raguan semakin lama semakin dalam, mungkin sudah waktunya untuk mengakhirinya. Lebih baik sakit saat ini daripada gagal saat menikah nanti. Karena dalam pernikahan akan banyak masalah-masalah lain yang harus dihadapi dan dipecahkan bersama-sama.
Menikah karena Mencari Pelarian
Menikah bukan ajang perlombaan. Belum menikah bukan berarti kalah. Di lain sisi, menikah juga bukan menghindari rasa sepi atau pelarian dari persoalan hidup terutama persoalan yang terjadi di dalam keluarga. Saat menikah, seseorang tidak hanya menikah dengan pasangannya, namun juga menikah dengan keluarga besar beserta problematika yang mengiringinya. Maka, jangan terkejut jika kemudian bertemu dengan persoalan “baru” dari keluarga pasangan. Ingat bahwa menikah adalah pilihan hidup yang harus dipertanggungjawabkan. Tidak hanya untuk dua orang (suami dan istri), namun juga untuk anak-anak, kelak.
Menikah juga bukan untuk mencari solusi kebahagiaan. Jika membayangkan kebahagiaan akan dialami setelah menikah, mungkin tidak sepenuhnya benar. Bahagia karena telah menikah, mungkin benar. Namun mempertahankan sebuah pernikahan agar tetap bahagia, itu adalah masalah yang bebeda. Kebahagiaan bukan hadiah, namun perlu dipupuk dan diperjuangkan. Banyak hal-hal baru yang harus dipelajari, toleransi, kesediaan menerima, dan aspek-aspek lain yang akan ditemui selama di perjalanan pernikahan.
Ketiga alasan ini kurang tepat jika dipakai seseorang untuk memutuskan menikah, karena pernikahan bukan ajang perlombaan. Ini bukan berarti menyarankan seseorang untuk tidak menikah, namun menikah dengan keyakinan agar mencapai pernikahan yang dicita-citakan. (ntdindonesia/averiani)
Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
