Usai masa ASI eksklusif selama 6 bulan, pemberian konsumsi makanan pada bayi akan memasuki masa berikutnya yakni makanan pendamping ASI atau MPASI. Makanan pendamping ini diperlukan karena kebutuhan nutrisi bayi, baik makronutrien maupun mikronutrien tidak dapat terpenuhi hanya oleh ASI. Menurut Sri S. Nasar dalam laman IDAI, periode ini dikenal pula sebagai masa penyapihan (weaning). Masa ini merupakan suatu proses dimulainya pemberian makanan khusus selain ASI secara bertahap baik berupa jenis, jumlah, frekuensi maupun tekstur dan konsistensinya sampai seluruh kebutuhan nutrisi anak dipenuhi oleh makanan.
Masa peralihan yang berlangsung antara 6 hingga 23 bulan ini dapat dianggap sebagai masa rawan. Penelitian menunjukkan Praktek MPASI yang tidak tepat dapat mengakibatkan gizi buruk dan menyebabkan berbagai penyakit hingga kematian anak. Dalam penelitian itu juga, Foluke Adenike Olatona dan kolega menyampaikan bahwa praktik pemberian makanan pendamping yang memadai dan tepat waktu tidak hanya dapat mengatur pertumbuhan dan perkembangan fungsional batita, tetapi tampaknya juga memainkan peranan penting dalam dampak kesehatan, penyakit, risiko kematian, fungsi dan perilaku saraf, dan kualitas hidup di masa dewasa.
Namun demikian, meskipun MPASI adalah hal yang penting, namun pemberian MPASI itu sendiri merupakan proses pembelajaran. Tidak hanya pada bayi namun juga pada si ibu. Karena selain membutuhkan kesabaran juga ketekunan dalam mengaplikasikan dan menerapkannya pada anak, juga perlu memperhatikan konsumsi makanan bergizi untuk seluruh keluarga.
Citra Amelinda, seorang dokter anak, dalam lamannya menyebutkan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat mulai memperkenalkan MPASI pada anak, antara lain:
Jangan memaksa
Apabila bayi menolak makanan yang diberikan, belum tentu dia tidak mau, mungkin karena belum mengenal makanan tersebut. Memperkenalkan makanan baru pada anak tidak cukup 1 atau 2 kali, bisa sampai 10-15 kali mencoba. Selain itu, anak yang harus dipaksa saat makan dapat mengakibatkan anak akan malas makan di kemudian hari.
Suasana yang menyenangkan
Anak memerlukan suasana yang bagus untuk melakukan hal yang disenanginya. Demikian juga dengan makan. Perhatian dan kasih sayang yang cukup dari orangtuanya harus menjadi sikap sehari hari. Bermain bersama atau berada di tempat yang disukainya atau memperkenalkan tekstur makanan bersama-sama, adalah beberapa hal yang dapat dilakukan orangtua untuk mendukung pemberian makan pada anak. Anak yang tidak mendapatkan perhatian orangtuanya cenderung mengharapkan perhatian lebih dari orangtua sehingga akan membuatnya tidak mau makan.
Kerjasama
Keberhasilan pemberian makan pada anak bukan sepenuhnya tergantung pada anak namun juga kerjasama antara orangtua dan anak. Apabila anak tidak mau makan atau melakukan gerakan tutup mulut (GTM) perlu dicari penyebabnya, bisa saja karena anak sedang sakit, terlalu aktif, kelelahan.
Selain itu orangtua juga tidak perlu terlalu kuatir terhadap berat badan anak. Karena kekuatiran orangtua akan dapat berpengaruh pada nafsu makan anak tersebut karena anak juga menjadi tertekan. Emosi dapat memengaruhi asam lambung sehingga proses pencernaan terganggu. Maka, selama anak sehat, ceria, aktif, dan tumbuh sesuai atau kurang sedikit dari KMS, don’t worry too much. (ntdindonesia/averiani)
Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
